
Pagi-pagi sekali Kai menjemput Alula dan Jasper ke rumah Chelsea. Kai sungguh sangat rindu dengan anak dan juga istrinya.
"Sayang, papa rindu!" Kai menciumi semua wajah Jasper tanpa tersisa.
"Sayang, kau hanya ditinggal semalam bukan setahun," keluh Alula saat melihat Kai begitu posesif pada putranya.
"Semalam bagiku terasa sangat lama. Aku benar-benar tidak bisa tidur. Aku memikirkanmu dan anak kita. Aku tidak bisa jauh dari kalian," Kai menatap penuh cinta kepada wajah Alula.
"Kau tidak merindukanku?" Tanya Kai dengan mimik wajah yang kecewa.
"Sayang, aku juga merindukanmu," balas Alula.
"Benarkah? Kau merindukanku?" Tanya Kai memastikan.
"Tentu saja. Mengapa kau ini seperti anak ABG saja?" Alula mencubit gemas pipi suaminya.
"Ya, apa salahnya merindukan anak istri sendiri? Atau kau ingin aku merindukan wanita lain?" Kai tampak menggoda Alula.
"Rindukan saja wanita lain sana! Aku akan membawa Jasper jauh darimu jika kau merindukan wanita lain!" Alula merenggut kesal.
"Sayang, aku kan hanya bercanda! Mana mungkin aku merindukan wanita lain? Aku hanya akan merindukanmu," Kai langsung siaga satu.
Sementara itu, Beverly dan Chelsea hanya menggelengkan kepalanya mendengar obrolan yang mereka rasa sangat tidak bermanfaat itu.
"Kai, kau memang tidak setengah setengah ya jika menjadi sesuatu?" Sindir Beverly yang sedari tadi mendengarkan obrolan mereka.
"Maksudmu?" Kai tampak tidak mengerti.
"Ya, kau sekarang jadi budak cinta level maksimal," jawab Beverly.
"Tidak apa-apa. Kan aku jadi budak cinta dari istriku bukan orang lain," jawab Kai tidak mau kalah.
"Kai, mengapa kau menjadi sangat menggelikan seperti ini sih?" Ledek Chelsea sembari menahan tawa. Ia sungguh tidak akan lupa, bagaimana angkuh dan egoisnya seorang Kaivan Allen saat SMA.
"Memangnya kenapa? Apa ada yang salah?" Tanya Kai kepada Chelsea dan Beverly.
"Sudahlah, aku dan Jasper pulang duluan ya?" Alula berpamitan dan menghentikan perdebatan mereka.
"Iya, Al. Jangan lupa nanti siang ya?" Chelsea mengingatkan.
"Iya, aku tidak akan lupa," Alula memeluk Chelsea dan Beverly bergantian.
Sementara itu Beverly tampak menunggu kedatangan Henry untuk menjemputnya.
"Sayang, memangnya nanti siang ada acara apa?" Tanya Kai saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Nanti aku, Beverly dan Chelsea akan mencari kain untuk baju bridesmaid kami," jawab Alula dengan antusias.
"Sayang, kita baru saja akan pulang. Masa kau harus pergi lagi," Kai tampak tidak terima mendengar Alula akan pergi lagi.
"Sayang, ini akhir pekan. Tolong jaga Jasper ya? Lagi pula, aku tidak lama. Lagi pula kan ini tidak sering, hanya sekali. Ya?" Alula membujuk Kai.
"Lalu bagaimana dengan ASI Jasper?"
"Aku kan bisa memompanya, lagi pula tidak akan lama. Ya?"
"Baiklah kalau begitu. Aku akan menjaga Jasper," Kai menghembuskan nafasnya pelan. Lalu ia segera melajukan mobilnya menuju rumah kedua orang tuanya.
****
Beverly saat ini masih menunggu kedatangan Henry untuk menjemputnya.
"Mengapa kau sangat lama?" Beverly berkacak pinggang di hadapan Henry yang baru turun dari mobilnya.
"Maafkan aku! Tadi aku masih tidur," jawab Henry dengan jujur.
__ADS_1
"Mengapa kau ini sangat tidak romantis sekali? Berbohong sedikit dong, misal aku lama karena mengemudikan mobilku dengan pelan, karena aku terlalu merindukanmu," jawab Beverly berandai-andai.
"Untung apa aku berbohong? Kan aku memang baru bangun tidur," Henry menolak.
"Ah, kau ini tidak romantis!" Gerutu Beverly lagi.
"Yang penting kan aku sudah mencintaimu. Itu sudah cukup," jawab Henry.
"Ya sudah, ayo cepat kita pulang!" Beverly menepuk pantat suaminya.
Sementara Chelsea yang melihat hanya tertawa tawa akan kelakuan calon-calon kakak iparnya.
"Chel, aku pulang dulu ya? Sampai bertemu nanti siang!" Beverly memeluk Chelsea sebelum pulang.
"Sampai bertemu nanti, Bev. Hati hati di jalan!" Chelsea melambaikan tangan, Beverly dan Henry pun segera masuk ke dalam mobil.
"Henry?" Panggil Beverly saat mereka berada di dalam mobil.
"Apa?" Jawab Henry akan tetapi matanya masih fokus memperhatikan jalanan.
"Aku ingin sesuatu," Beverly mengelus perutnya yang mulai membesar.
"Kau ingin apa lagi? Kemarin aku kena sabetan sapu nenek tetangga kita karena mengambil strawberry di kebun miliknya," Henry mengingat kejadian di mana ia mengambil strawberry milik tetangganya. Henry sudah membujuk Beverly agar mereka membeli saja, tetapi Beverly tidak mau. Henry sudah meminta izin kepada suami dari si pemilik strawberry, tetapi tiba-tiba nenek yang terkenal sangat galak ke luar dari rumah dan membawa sapu.
"Henry, bayimu ingin mengacak ngacak rambut omnya!" Beverly berkata dengan riang.
"Rambut omnya? Maksudmu Cleon?" Tanya Henry memastikan.
"Iya. Bayimu ingin memgacak-ngacak rambut omnya."
"Bayiku atau ibunya?" Henry menyipitkan matanya.
"Tentu saja bayinya masa ibunya. Kau ini aneh sekali!" Beverly menepuk pelan bahu suaminya.
"Baiklah. Kita pergi ke rumah papa," Henry langsung membelokan mobilnya ke pekarangan rumah kedua orang tuanya.
"Cleon?" Panggil Henry kepada adiknya.
"Kak? Kau ke mari?" Cleon masih mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang ada di tangannya. Tampak Cleon tengah bertelanjang dada karena baru saja selesai mandi.
"Iya. Emm Cleon? Kakak boleh meminta sesuatu padamu?" Henry bertanya dengan was was.
"Iya, kak? Kau meminta apa?" Cleon menghentikan aktifitasnya yang sedang mengeringkan rambutnya.
"Beverly sedang mengidam ingin mengacak ngacak rambutmu. Apakah boleh?" Henry meminta izin.
"Ah, Henry sepertinya tidak jadi saja," Beverly memutuskan.
"Lho? Kenapa?" Tanya Henry dengan wajah yang berbinar. Dari lubuk hatinya, ia sungguh sangat keberatan karena Henry takut Beverly masih menyukai adiknya.
"Rambut Cleon basah begitu. Aku tidak mau," Beverly menolak.
"Ya sudah kalau begitu, ayo kita pulang!" Ajak Henry kepada istrinya.
"Emm, Henry? Aku ingin sesuatu yang lain saja!" Beverly tampak berfikir.
"Jangan yang aneh-aneh!" Henry memperingatkan.
"Aku ingin kau mencabut uban nenek kemarin yang memukulmu dengan sapu!" Pinta Beverly.
"Ya ampun, Bev! Jangan lagi!" Henry memejamkan matanya.
****
Siang ini, Alula akan meninggalkan Jasper untuk berbelanja kain dengan kedua sahabatnya.
__ADS_1
"Sayang, sama papa dulu ya?" Alula berpamitan kepada Jasper yang tengah di gendong oleh Kai.
"Sayang, pergilah! Aku akan menjaga Jasper dengan baik!" Kai berbicara dengan lantang.
"Benar kau bisa diandalkan?" Alula tampak tidak percaya.
"Tentu saja, dia putraku. Pasti akan menurut denganku," Kai berkata dengan mantap.
"Ya, tentu saja ini putramu!"
"Maksudku, karena aku papanya jadi aku pasti bisa menjinakan Jasper."
"Kau pikir anakku buaya yang harus di jinakkan?" Semprot Alula kepada suaminya.
"Kai, diamlah! Kau sungguh mencari gara gara," Alden tersenyum sembari memakan cemilan yang ada di tangannya.
"Cepatlah pergi, sayang! Nanti kalian kehabisan kain!" Suruh Kai kepada Alula.
"Kau tidak berbasa basi ingin mengantarku?" Alula menautkan alisnya geram.
"Sayang, kan tadi kau berkata akan diantar oleh Leo. Makanya aku tidak menawarkan."
"Baiklah, kalau begitu. Aku pergi! Ini botol susunya ya?" Alula menyimpan dua botol yang sudah ia isi dengan ASI miliknya.
"Jas, mama pergi dulu!" Alula mencium Jasper penuh kasih sayang.
"Aku tidak di cium?" Tanya Kai sembari menyodorkan wajahnya.
"Baiklah," Alula mencium cepat pipi suaminya, kemudian ia segera berlalu meninggalkan Kai, Jasper dan Alden.
"Kai, kau seperti bocah saja!" Ledek Alden.
"Ayo kita pergi ke kamar om Nino!" Alden memangku Jasper dan berjalan ke kamar tamu.
"Hallo om Nino, ini Jasper!" Alden mengecilkan suaranya.
Nino tidak menjawab.
"Om? Ini Jasper datang!" Alden menyimpan Jasper di perut Nino.
"Jasper sudah pulang?" Tanya Nino sembari mengambil Jasper ke dalam pelukannya.
Alden dan Kai pun tersenyum saat melihat Nino tersenyum. Sejak kemarin malam, Nino memang mengurung diri di kamar.
"Kau tidak ingin datang ke nikahan Odelia yang di gelar hari ini?" Tanya Alden.
"Kau ingin aku menghancurkan pestanya?" Tanya Nino dengan menaikan satu sudut bibirnya ke atas.
"Sudahlah, No! Mengapa kau begitu mellow? Biasanya juga kau tidak pernah memakai hati," cebik Alden.
"Kau pun tahu Odelia siapa. Bagaimana aku tidak memakai hati?"
"Lupakanlah Odelia!" Kai menepuk pelan bahu Nino.
"Aku butuh wanita sekarang. Wanita yang bisa aku permainkan!" Nino tersenyum sinis.
Kai dan Alden hanya menggelengkan kepalanya pelan mendengar ucapan Nino.
"Kau ikut tidak? Aku dan Kai akan membawa Jasper jalan jalan ke luar? Kita akan makan ke cafe," tawar Alden kepada Nino.
"Tidak, aku di rumah saja."
"Baiklah, kalau begitu. Aku dan Kai pergi dulu. Kami akan membawa Jasper jalan jalan," Alden mengambil Jasper dari tangan Nino. Kemudian mereka segera ke luar untuk berangkat menuju cafe yang tak jauh dari kediaman William.
Oh iya, ini cover author diganti sama pihak NT nih. Terus author ingin bertanya kepada para readers. Novel mengenai khusus Nino (yang di dalamnya ada kisah Alden juga) apa baiknya di lanjut di sini atau judul baru ya? Jika di buat di sini mungkin di tulisnya season 2 ya, tapi jika membuka judul baru mungkin biar kelihatan lebih fresh. Mohon untuk di jawab ya readers. Sertakan pendapat kalian. Terima kasih. šš
__ADS_1