Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Tuduhan


__ADS_3

Kai keluar dari rumah Edward dan berjalan ke arah mobilnya. Wajahnya terlihat merah padam karena menahan amarah yang siap untuk diledakan.


"Kai, jangan sakiti istrimu!" Nino menahan tangan Kai untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Nino benar. Jangan sakiti Alula!" Alden menimpali.


Kai menatap tajam kedua sahabatnya secara bergantian. Ia segera menarik kerah kemeja Nino.


"Kau tidak merasakan apa yang ku rasakan! Ayahku hampir dibunuh olehnya!!" Teriak Kai.


"Aku hanya tidak ingin kau menyesal di kemudian hari!" Nino memberanikan diri menasehati sahabatnya yang ia kenal pemarah itu.


"Menyesal apa maksudmu? Aku memang mencintainya, tetapi yang dia celakakan adalah ayahku!!!" Kai terlihat semakin berapi-api.


"Kai lepaskan Nino!" Alden mencoba menjauhkan tangan Kai dari kemeja Nino.


Kai pun melepaskan Nino dengan kasar hingga tubuh sahabatnya itu tersungkur ke lantai.


"Kalian jangan ikut campur urusanku! Aku sudah berbaik hati tidak memenjarakan wanita itu!!"


"Kai, sebaiknya kau selidiki lebih lanjut," Alden berupaya untuk mendinginkan amarah Kai yang tengah memuncak.


"Selidiki apa? Kau tidak lihat tadi? Semua bukti mengarah kepada dia. Dan dia pun mempunyai alasan mengapa ia tega melakukan itu," Kai semakin naik pitam mendengar nasehat Alden.


"Tapi-" Nino mencoba memberikan argumennya lagi.


"Jika kau mengeluarkan sepatah kata lagi, akan ku habisi kau!" Kai menatap Nino dengan berang. Nino dan Alden pun langsung terdiam dan tak mengeluarkan sepatah kata pun lagi. Kai masuk ke dalam mobilnya dan berlalu meninggalkan rumah Edward.


"Dia sedang tidak mampu berpikir dengan jernih. Emosi sedang menguasai dirinya," ucap Nino kepada Alden.


"Aku khawatir kepada Alula," keluh Alden.


"Kau tenang saja ! Kai mencintai Alula. Aku harap dia masih memiliki belas kasih," Nino menenangkan kekhawatiran Alden.


"Lebih baik kita datang langsung ke tempat kejadian perkara kemarin," Nino memberikan ide. Alden pun mengangguk. Mereka berdua segera pergi untuk sampai di tempat kejadian ketika William dicelakai.


****


Kai sampai di rumah William dan Sofia. Kai pulang ke rumah orang tuanya, karena Alula ada di sana dan untuk melihat bagaimana keadaan ibunya. Nafasnya naik turun menahan amarah yang sedang bergejolak.


Kai segera masuk dengan tergesa-gesa ke dalam rumah.


"Dimana dia?" Tanya Kai kepada bi Esther, asisten pribadi di rumah orang tuanya.


"Dia siapa tuan?" Bi Esther tampak tidak paham dengan pertanyaan Kai, yang ia tahu adalah pria yang ada di hadapannya ini sedang marah besar. Bi Esther memang mengetahui segala hal tentang Kai, karena ia sudah belasan tahun bekerja di keluarga Allen.


Kai tidak menjawab pertanyaan dari bi Esther.


"Nona Alula ada di kamar nyonya, tuan," kata bi Esther dengan raut wajah khawatir.

__ADS_1


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kai segera naik ke lantai 2 dan berjalan menuju kamar Sofia. Ketika ia membuka pintu, Kai melihat ibunya tengah terbaring di atas ranjang dan Alula sedang terduduk. Wajahnya tampak sangat khawatir. Ya, Alula khawatir akan keadaan William dan Sofia. Akan tetapi, Kai menyalah artikan raut wajah istrinya itu.


"Pasti dia khawatir kejahatannya terbongkar," batin Kai dengan tangan terkepal.


"Sayang, kau sudah pulang? Bagaimana keadaan Daddy?" Alula menyentuh lengan suaminya.


Kai tidak menjawab, ia menatap wajah istrinya dengan penuh kebencian.


"Sayang?" Panggil Alula saat pertanyaannya tidak mendapatkan sahutan dari Kai.


"Lepaskan tangan kotormu itu dari tubuhku!" Desis Kai tajam.


"Ada apa denganmu?" Alula kaget suaminya berkata seperti itu kepadanya.


"Kai, ada apa sayang?" Sofia berusaha membangunkan tubuhnya yang masih sempoyongan ketika mendengar Kai berteriak kepada Alula.


"Tidak ada apa-apa. Mommy istirahatlah kembali!" Jawab Kai dengan lembut. Sofia pun mengangguk dan membaringkan tubuhnya kembali.


Kai segera menarik tangan Alula kasar dan membawanya ke kamar miliknya.


"Kai, tanganku sakit!" Alula mengelus tangannya begitu tangan Kai terlepas.


"Itu tidak seberapa dengan yang kau lakukan kepada ayahku!!!" Teriak Kai. Suaranya begitu melengking di telinga Alula.


"Apa maksudmu?" Alula masih belum mengerti.


Kai berjalan mendekati tubuh Alula dengan tatapan bengis. Tatapan Kai seolah seperti singa yang akan memakan hasil buruannya. Alula pun memundurkan langkahnya hingga membentur tembok.


"Mengapa kau mencelakai ayahku?" Kai berbisik tajam di telinga Alula.


"Mencelakai apa maksudmu?"


"Kau tidak perlu berpura-pura lagi!!" Lagi-lagi Kai berteriak.


"Kau yang menusuk Daddy kan? Mengakulah!"


"Kau gila? Mengapa kau menuduhku seperti itu? Untuk apa aku melakukannya?" Alula menangis mendengar tuduhan suaminya itu.


"Semua buktinya sudah jelas. Kau orang yang terakhir bertemu dengan Daddy sebelum polisi menemukannya dalam keadaan terluka," Kai semakin meradang.


"Aku tidak melakukan semua itu. Kau salah paham denganku," Alula menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menangis mendengar tuduhan keji dari suaminya.


"Salah paham?" Kai tersenyum sinis.


"Daddy mengajakku bertemu untuk membahas mengenai pernikahan kita-"


"Dan Daddy tetap tidak merestui kita. Maka dari itu kau menusuknya. Bukan begitu?" Kai memotong pembicaraan Alula.


"Tidak. Daddy merestui hubungan kita. Daddy menyuruhku untuk bersamamu sampai kita tua," Alula menangis sesenggukan.

__ADS_1


"Sampai tua? Kau jangan bermimpi! Aku tidak akan bersama dengan seorang wanita yang picik seperti kau. Dan kau tidak usah membohongiku, Daddy tidak merestui hubungan kita. Daddy malah menyuruhku untuk menanda tangani sebuah surat perceraian."


"Aku tidak berbohong. Daddy memang merestui hubungan kita. Setelah aku berbicara dengannya. Aku pulang dan naik bus," Alula menyanggah tuduhan suaminya.


"Jangan harap aku percaya padamu!" Kai mengapit pipi Alula dengan kasar. Alula menghempas tangan Kai dari pipinya.


Kai memundurkan langkahnya.


"Percayalah padaku! Aku tidak melakukan hal keji seperti itu!" Alula berusaha menggapai tangan Kai.


"Diamlah kau wanita keji !!!" Kai melempar sebuah vas bunga kaca ke arah tembok. Alula berteriak kaget ketika Kai melempar vas bunga itu hingga terpecah belah.


"Katakan! Katakan jika kau yang mencelakai ayahku! Aku butuh sebuah pengakuan darimu!" Kai mengguncang bahu Alula dengan kasar.


"Aku tidak akan mengakui suatu hal yang tidak aku lakukan !!" Alula balas berteriak.


"Awalnya aku tidak percaya kau yang sudah mencelakai ayahku. Tetapi semua bukti memang menjelaskan kau lah yang menusuk ayahku. Apa perlu aku tayangkan video saat kau keluar dari dalam mobil? 12 menit setelah kau keluar dari dalam mobil, polisi menemukan ayahku tergeletak di dalamnya."


"Aku tidak tahu untuk itu. Tapi sungguh, aku tidak mencelakai Daddy. Aku tidak pernah punya niat sejahat itu. Kau mengenalku, mengapa kau bisa menuduhku seperti itu?" Air mata semakin memenuhi wajah Alula.


"Aku mengenalmu? Kita baru menikah selama 7 bulan dan aku belum tahu semua sifat keji yang ada di dalam dirimu!" Bentak Kai.


"Kai, aku-"


"Diamlah!!!" Kai berteriak seperti orang kesetanan.


"Tuan, ada apa di dalam?" Bi Esther mengetuk pintu saat mendengar ribut-ribut di dalam kamar anak majikannya.


"Pergilah! Pergilah sebelum aku bertindak kasar padamu!" Kai memandang Alula dengan penuh kebencian. Kai membalikan tubuhnya bermaksud untuk masuk ke dalam kamar mandi. Ia khawatir akan menyakiti fisik Alula.


Alula segera berlari dan memeluk tubuh suaminya dari belakang.


"Percayalah padaku! Aku tidak melakukannya!" Alula menangis di punggung suaminya.


"Lepaskan tanganmu!!"


"Aku tidak mau!"


"Aku bilang lepaskan!!" Kai menghentakan tangan Alula dengan kasar. Kemudian ia segera menarik Alula ke luar dari kamarnya.


"Tuan, Nona, ada apa?" Bi Esther terlihat panik saat melihat Alula menangis dan melihat Kai mengeluarkan Alula paksa dari kamarnya.


Kai maupun Alula tidak menjawab pertanyaan dari bi Esther. Kai segera menarik lengan Alula kembali dan membawanya ke lantai bawah. Kemudian Kai mengeluarkan Alula secara paksa dari rumahnya.


"Kai buka! Aku mohon jangan begini!" Alula menggedor pintu saat Kai menutup dan mengunci pintu.


"Aku mohon Kai! Aku tak mau hidup tanpamu!" Tubuh Alula merosot ke lantai. Ia masih menggedor pintu rumah mertuanya. Kai tidak mendengarkan apa perkataan Alula. Emosi lebih menguasai dirinya.


"Tuan, Nona kasihan," bi Esther tampak iba terhadap Alula.

__ADS_1


"Jangan biarkan dia masuk ke dalam rumah ini lagi!" Ucap Kai dingin. Ia segera berlalu dan masuk kembali ke dalam kamarnya. Kai membanting semua benda yang ada di kamar.


Dear para readers : Tolong tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih šŸ¤—šŸ¤—


__ADS_2