
Di butik milik Chelsea sedang diadakan pemotretan untuk koleksi gaun pernikahan model terbaru.
"Ke mana model kita, Sa?" Tanya Chelsea kepada Sasa yang merupakan pekerjanya di butik.
"Saya tidak tahu, Nona," jawab Sasa.
"Bagaimana ini? Pemotretan akan dilakukan setengah jam lagi," Chelsea melihat jam dinding ruangannya dengan raut wajah yang panik.
"Nona, model kita memberikan kabar jika mereka tidak jadi untuk datang," Sasa menutup telfonnya ketika ia dihubungi oleh seseorang.
"Ya ampun! Mengapa mendadak? Fotografer dan lainnya sudah siap," Chelsea mengusap wajahnya kasar.
"Bagaimana jika Nona saja yang menjadi model pemotretan koleksi gaun pernikahan terbaru kita?" Sasa memberikan ide.
"Aku tidak bisa berpose," Chelsea langsung menolak.
"Ayolah, Nona! Fotografer akan mengarahkan," bujuk Sasa.
"Tetapi, siapa pengantin prianya?" Tanya Chelsea kembali.
"Hubungi saja kekasih, Nona! Dia sangat tampan. Cocok dijadikan model pemotretan. Lagi pula ini weekend, pasti kekasih nona sedang ada di rumah."
Chelsea melirik kembali jam dinding.
"Apakah Cleon mau?" Gumam Chelsea di dalam hatinya.
Chelsea terlihat menimbang-nimbang.
"Baiklah," Chelsea segera menghubungi dan meminta Cleon untuk datang ke butik miliknya.
Perlahan kekhawatiran di wajah Chelsea sirna saat Cleon mau datang untuk memenuhi permintaannya.
"Bagaimana, Nona?" Tanya Sasa kembali.
"Dia mau, Sa," Chelsea tersenyum senang.
***
Hari ini, Beverly dan Henry bertolak untuk pulang ke Inggris. Selama perjalanan, Henry tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Pikirannya terbang ke sana ke mari memikirkan apa yang akan di lakukan mamanya.
"Semoga aku tidak di suruh menikahi wanita ini," batin Henry seraya melirik Beverly yang tengah berselfie di sebelahnya.
"Jangan menggunakan ponsel di dalam pesawat!" Tukas Henry ketika melihat Beverly tengah asik berfoto.
"Biarkan saja. Aku sudah mengaktifkan mode pesawat," Beverly mengambil pose dengan dua jari.
"Jangan berpose seperti itu! Nanti sidik jarimu bisa terlacak orang-orang jahat di internet!" Henry memperingatkan Beverly kembali.
"Memangnya bisa? Ah, aku tahu. Saat ini kau sedang nerveous. Ayo! Coba tahan nafasmu dan hembuskan perlahan! Itu akan membuatmu jauh lebih rileks," Beverly memasukan ponsel miliknya ke dalam tas kecil yang ia bawa ke dalam pesawat.
"Bagaimana bisa kau masih menyuruhku untuk tenang? Bagaimana jika mamaku dan mamamu meminta kita untuk menikah?" Henry berdecak kesal. Ia sungguh sangat heran, bagaimana bisa gadis yang ada di sampingnya masih bisa bersikap tenang?
__ADS_1
"Itu tidak akan terjadi. Kita akan menjelaskannya. Santai saja!" Beverly masih bersikap santai dan tenang.
Beberapa menit kemudian, Beverly menoleh kembali ke arah Henry. Raut wajahnya masih diliputi dengan kecemasan yang besar.
"Coba ikuti aku!" Beverly menarik tangan Henry.
"Ikuti apa?" Henry meluruskan badannya menghadap ke arah Beverly.
"Tarif nafas!" Beverly memberikan aba-aba. Henry pun mengikutinya.
"Tahan!" Beverly mencegah Henry yang akan menghembuskan nafasnya.
"Keluarkan perlahan!"
Tiba-tiba terdengar bunyi sesuatu.
"Kau kentut?" Beverly refleks menutup hidungnya ketika mendengar suara kentut.
"Hehe. Aku tidak tahan," Henry tertawa dengan wajah polosnya.
"Aku menyuruhmu untuk mengeluarkannya dari hidung, bukan dari pantatmu!" Beverly masih menutup hidungnya.
"Ya, siapa juga yang menyuruhku untuk menahan nafas."
"Kau ini, benar-benar," Beverly kembali menggerutu.
"Kau tenang saja, ya? Semua akan baik-baik saja," Beverly menenangkan Henry kembali. Henry pun seakan terhipnotis dan menganggukan kepalanya. Akhirnya Henry bisa rileks dan tertidur karena perjalanan ke kota Birmingham masih sangat jauh.
"Bukannya itu mommy ku dan ibumu?" Beverly menunjuk Kate dan Alice yang terlihat sedang menunggu mereka.
"Iya, itu mereka. Perasaanku sudah tidak enak," Henry menyentuh dadanya yang mendadak berdebar sangat cepat.
"Kau terlalu berfikiran negatif. Mereka hanya menjemput kita. Ayo!" Beverly menuntun tangan Henry, sementara tangan satunya menarik koper miliknya.
"Beverly? Henry?" Seru Alice ketika melihat putranya tengah di gandeng oleh Beverly.
"Lihatlah itu, Alice! Tidak mungkin jika di antara mereka tidak ada apapun," Bisik Kate kepada Alice. Alice pun mengangguk setuju.
"Mommy, tante?" Seru Beverly ketika mereka sudah dekat dengan Kate dan Alice. Seketika wajah Henry menegang melihat wajah serius dari ibunya.
"Ma?" Panggil Henry kepada Alice.
Alice hanya memasang raut wajah yang serius saat ini.
"Tante?" Sapa Henry kepada Kate. Kate hanya menatapnya dengan tajam.
"Apakah ini hari terakhirku? " Henry menelan ludahnya.
"Ayo, kita pulang!" Akhirnya Alice bersuara dan membantu Henry membawa tas yang tengah di gendongnya.
"Biar aku saja, Ma," tolak Henry ketika Alice akan mengambil alih tasnya.
__ADS_1
"Mommy tidak membawa mobil?" Tanya Beverly kepada Kate saat ia tidak melihat mobil milik ibunya.
"Mommy datang bersama tante Alice," jawab Kate masih dengan nada ketus.
"Mommy kenapa sih?" Beverly masih bertanya.
"Ayo! Ayahmu dan ayah Henry sudah menunggu di rumah!" Ujar Kate. Ia segera masuk ke dalam mobil milik Alice.
Henry dan Beverly yang masih berdiri di luar mobil saling bertatapan.
"Perasaanku tidak enak," ucap Henry kepada Beverly.
"Tidak akan terjadi apa pun. Tenanglah! Wajahmu seperti sedang menahan buang air besar berminggu-minggu," Beverly menepuk pelan pipi Henry. Kemudian mereka berdua naik ke dalam mobil.
"Biar Henry saja Ma yang menyetir," usul Henry kepada ibunya.
"Baiklah. Ayo Kate kau juga keluar! Biarkan Beverly duduk di samping Henry," pinta Alice kepada Kate yang terduduk di sampingnya. Mereka pun segera turun dan pindah ke kursi penumpang.
"Bev, pindah ke depan!" Perintah Kate kepada anak gadisnya. Beverly pun segera menuruti perintah ibunya.
Saat Beverly duduk di sebelah Henry. Henry segera melajukan mobilnya menuju ke arah perumahan tempat tinggalnya.
"Kalian pasti bersenang senang di Kanada sana kan?" Tanya Kate kepada Henry dan Beverly.
"Tentu saja, Mom. Itu menjadi pengalaman pertama yang sangat berharga untuk Bev. Iya kan Henry?" Beverly tersenyum ke arah Henry yang tengah menyetir.
"Mereka benar-benar melakukannya," bisik Kate kepada Alice.
"Pengalaman pertama?" Jawab Alice dengan kening yang berkerut.
"Iya, tante. Benar-benar sangat menyenangkan!" Beverly kembali bercerita dengan antusias.
"Diamlah! Perkataanmu sungguh menggiring pikiran mama dan tante Kate ke ranah yang lain," bibir Henry menggigil geram.
"Biar saja, mereka kan ingin tahu aktifitasku selama berlibur di sana seperti apa," Beverly mengerucutkan bibirnya.
"Sayang?" Panggil Alice kepada Henry.
"Iya, Mom?" Henry menjawab dengan suara yang bergetar. Biasanya jika ibunya memanggilnya dengan sebutan "Sayang" berarti ada sesuatu yang tidak beres.
"Kau ini kenapa? Ibumu yang memanggilmu bukannya hantu Valak," Beverly meledek ekspresi tegang Henry.
"Kita mampir dulu ke butik untuk memesan gaun pernikahan," jawab Alice kepada putra sulungnya.
Henry dan Beverly seketika saling berpandangan.
"Perasaanku sekarang mulai tidak enak," Beverly menatap wajah Henry dengan khawatir.
Note : Author selalu mengupdate 2 episode jika kalian hanya menemukan satu episode silahkan refresh karena beberapa hari ini, NT sedang mengalami sedikit gangguan.
Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih š¤
__ADS_1