
"Henry, kau baik-baik saja?" Beverly melirik Henry yang sedang menyetir di sampingnya.
"Hey, pria pelit?" Beverly memanggil kembali karena sedari tadi Henry hanya diam membisu.
"Sudahlah, mengapa kau galau seperti ini? Bukankah kau harusnya bersyukur belum memacari wanita itu? Bagaimana jika kau sudah memacarinya?"
"Benar kan? Jika kau sudah memacarinya mungkin dia berselingkuh di belakangmu," Beverly masih terus berbicara walaupun Henry tidak merespon segala ucapannya.
Dalam hati, Henry membenarkan ucapan Beverly. Untung saja ia belum memacari Vienna. Jika ia sudah memacarinya, pasti Henry akan lebih terluka.
"Kita mau ke mana?" Beverly bertanya karena mobil terus melaju menembus jalanan kota Ottawa.
"Ayo kita pergi ke destinasi wisata yang ada di kota ini!" Henry akhirnya berbicara sambil terus melajukan mobilnya.
"Baiklah. Lagi pula aku belum tahu hari ini mau pergi ke mana. Kau pasti sudah tahu dan hapal jalanan kota ini. Dan satu lagi, aku bisa berhemat. Dengan diantar olehmu aku tidak perlu membayar taksi."
"Aku belum pernah bertemu dengan gadis sejujur dan secerewet dirimu," Henry tertawa. Ia seolah melupakan hal yang sudah membuatnya sakit hati.
"Aku memang seperti ini. Lebih baik jadi diri sendiri dari pada jadi orang lain kan?"
"Maksudmu?"
"Dulu aku sangat menjaga image ku dan tidak bisa menjadi diriku sebenarnya. Jika sekarang aku tidak peduli bagaimana imageku di depan orang lain."
"Kau benar. Jadilah dirimu sendiri walau pun dirimu sungguh menyebalkan!"
"Atas dasar apa kau mengatakan jika aku menyebalkan?" Beverly menatap tajam ke arah Henry yang tengah menyetir.
"Waktu aku mengantarmu ke kota York, kau mengelap ingusmu dengan bajuku. Lalu, kau menyuruhku untuk membantumu mendekati adikku dan setelah kau sampai rumah, kau tidak mengucapkan terima kasih kepadaku."
"Kau ini! Salah siapa di mobilmu tidak ada tisu? Aku menyuruhmu untuk mendekatkan adikmu denganku karena waktu itu aku hanya belum bisa menerima. Tetapi, aku mencoba menerima semua yang telah terjadi. Untuk apa mengejar orang yang tidak mencintaiku? Dan aku tidak berterima kasih kepadamu karena aku benar-benar galau saat itu."
"Baiklah, aku terima alasanmu," ujar Henry.
"Siapa juga yang ingin kau menerima alasanku?"
"Kau benar-benar gadis menyebalkan!"
Tak lama, mobil Henry sampai di sebuah kanal yang merupakan salah satu destinasi wisata andalan kota Ottawa, Kanada. Kanal ini pun merupakan situs warisan dunia UNESCO.
"Ayo! Kau harus menikmati pemandangan di sini!" Henry melepaskan safety belt yang melingkar di tubuhnya.
"Ini indah sekali!" Beverly takjub ketika melihat pemandangan Rideau Canal.
"Musim dingin akan sangat lebih indah. Ketika musim dingin, area ini menjadi seluncur es terbesar di dunia," Henry memperhatikan birunya air kanal yang ada di depannya.
__ADS_1
"Kau ingin naik perahu?" Henry melirik Beverly yang berdiri di sampingnya.
"Aku tidak mau," Beverly menolak.
"Mengapa?"
"Aku takut jatuh," Beverly tertawa.
"Kalau begitu ayo kita berjalan jalan ke Carleton!"
"Ayo!" Beverly segera mengikuti langkah Henry.
Henry dan Beverly menyusuri jalan sampai ke Carleton dengan hening. Pikiran mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Beverly dan Henry pun berjalan kembali ke arah kanal.
"Kau sudah tidak apa-apa?" Tanya Beverly ketika mereka mendudukan dirinya di sebuah kursi yang ada di dekat jembatan.
"Tidak. Aku sudah terbiasa," pandangan Henry jauh menerawang.
"Maksudmu?" Beverly tampak tidak mengerti.
"Entah mengapa aku selalu gagal dalam masalah percintaan," Henry tertawa. Tepatnya mentertawakan dirinya sendiri.
"Kau tahu? Dulu aku menjalin hubungan dengan seorang gadis sampai 5 tahun lamanya. Tetapi secara tiba-tiba dia menerima lamaran orang lain."
"Aku tidak tahu pasti. Dia hanya mengatakan jika masih jatuh cinta dengan cinta pertamanya."
"Itu artinya mantan pacarmu itu mengkhianatimu. Coba kau pikir! Mengapa dia tiba-tiba menerima lamaran orang lain jika tidak sedang menjalin hubungan dengannya?" Beverly memberikan analisanya.
"Kau yakin begitu?" Henry mengerutkan keningnya.
"Tentu saja."
"Aku memang seorang pecundang. Hubungan percintaanku belum pernah berjalan mulus," Henry tertawa kembali.
"Berarti kita sama."
"Maksudmu?"
"Ya, aku pun tidak memiliki percintaan yang mulus. Entah mengapa jika aku menyukai seorang pria, selalu saja bertepuk sebelah tangan. Yang pertama adalah Kai."
"Tunggu, maksudmu Kai pemilik real estate itu?" Henry merasa kaget.
"Iya. Dulu kami berpacaran tetapi hanya beberapa bulan. Ternyata dia hanya menjadikanku taruhan dan ingin mempermalukanku saat pesta prom night. Waktu itu aku sangat bodoh. Aku tidak mendengarkan sahabatku sendiri. Dan akhirnya, sahabatku itu yang menikah dengan Kai," Beverly tersenyum getir.
"Maksudmu Alula? Alula yang di cintai oleh adikku?" Henry tampak terkejut untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
"Iya. Mereka menikah karena Kai menolong Alula yang akan dilecehkan oleh mantan kekasihnya. Entah bagaimana foto Alula dan Kai bocor di internet seolah mereka sedang tidur bersama," jelas Beverly. Tatapannya memperhatikan orang-orang yang sedang bersepeda di sekitar kanal.
"Jadi, Alula wanita seperti itu?"
"Tidak. Dia wanita baik. Malah saat SMA, Alula dan Kai adalah sepasang musuh yang tidak pernah akur. Aku dengar pernikahan mereka hanya akan bertahan tujuh bulan, tetapi Kai sepertinya mencintai Alula dan tidak akan menceraikannya. Kadang aku merasa bersalah kepadanya, karena tak mendengar saat Alula mengetahui rencana Kai untuk mempermalukanku," wajah Beverly berubah menjadi sedih.
"Mengapa sekarang kau tidak mendatanginya dan meminta maaf?"
"Aku tidak tahu. Aku hanya malu untuk menemuinya setelah apa yang telah terjadi dan ku lakukan padanya."
"Dari yang ku tahu dari adikku, Alula adalah gadis baik. Apa salahnya kau meminta maaf padanya? Itu akan sedikit menghilangkan beban di hatimu," Henry memberikan saran.
"Aku akan mencobanya nanti," Beverly tersenyum.
"Dan yang kedua. Cintaku bertepuk sebelah tangan kembali ketika aku menyukai adikmu. Dan lagi-lagi sahabatku yang mendampinginya," lanjut Beverly.
"Hey, mengapa percintaanmu lebih menyedihkan dari pada diriku?" Cetus Henry.
"Siapa bilang? Kau pun sama menyedihkannya denganku," Beverly menggerutu.
"Haha. Aku bercanda. Semoga kau menemukan pria yang sangat menginginkan dan mencintaimu," Henry mengelus rambut Beverly. Beverly begitu terkesiap saat tangan Henry mengusap rambutnya.
"Kau mendoakanku tulus atau tidak?" Beverly menyipitkan matanya.
"Tentu saja. Aku berharap kau mendapat belahan jiwamu. Kau tidak seburuk yang aku pikirkan," Henry menurunkan tangannya.
"Jadi, selama ini kau memikirkanku? Kau menyukaiku kan?" Beverly mencolek pipi Henry.
"Tentu saja tidak. Untuk apa aku memikirkan gadis menyebalkan seperti dirimu," sangkal Henry.
"Kau pasti sudah jatuh cinta denganku? Iya kan?" Beverly masih terus menggoda Henry.
"Tidak. Aku tidak mungkin menyukai gadis sepertimu," Henry berdiri dari duduknya.
"Ayo kita pulang!" Henry mulai berjalan ke arah parkiran.
"Hey, tunggu! Mengapa kau mengalihkan pembicaraanku? Kau menyukaiku kan?" Beverly mengejar langkah Henry.
"Tidak."
"Aku yakin kau sudah menyukaiku."
"Bermimpilah!"
Terima kasih kepada para readers yang sudah berkenan mampir, membaca, memberikan like, memberikan komen, rate maupun vote. Semoga kalian semua sehat selalu dan selalu dalam kebahagiaan. ❤❤
__ADS_1