
4 bulan kemudian......
Hari ini kandungan Beverly sudah memasuki usia 5 bulan.
"Minumlah!" Henry memberikan segelas susu hamil untuk Beverly.
"Terima kasih, Henry. Semenjak aku hamil kau malah jadi yang melayaniku. Kau selalu memasak setiap hari," Beverly merasa bersalah.
"Tidak apa, Bev. Aku kan suamimu, sudah sepantasnya kita saling membantu dalam rumah tangga ini," Henry memperhatikan Beverly yang meminum susunya.
"Bev, bagaimana jika kau resign saja dari pekerjaanmu?" Pinta Henry kepada Beverly.
"Tidak bisa. Aku mencintai pekerjaanku," Beverly menolak, ia menyerahkan gelas susu itu kepada Henry.
"Lalu, nanti jika anak kita lahir, bagaimana dengan susunya? Kau mau menyusukannya kepada tetangga?" Henry menggerutu.
"Kan bisa di pompa, lalu di masukan ke dalam dot," Beverly memberikan ide.
"Bev, itu bukan ide bagus! Kau bekerja dari pagi sampai sore. Lalu bagaimana dengan anak kita yang sangat membutuhkan susu? Kantor paling lama memberikanmu cuti melahirkan 3 bulan. Aku ingin kau berhenti bekerja," pinta Henry kemudian.
"Tidak, aku tidak mau resign dari pekerjaanku," tolak Beverly.
"Kau sungguh keras kepala, Bev!" Henry menghela nafasnya kasar, lalu ia beranjak berdiri menuju kamarnya.
"Henry!!" Panggil Beverly yang masih terduduk di meja makan.
Hampir setiap hari, Henry selalu membujuknya untuk berhenti bekerja. Akan tetapi, Beverly selalu menolak karena ia beralasan mencintai pekerjaannya.
"Aku bingung!!" Beverly menyentuh kepalanya. Tak lama ia memutuskan untuk menyusul Henry ke kamar.
"Henry?" Beverly masuk ke kamar dan terduduk di samping Henry. Henry tidak menyahuti panggilannya.
"Henry, kau ingin aku resign bekerja?" Tanya Beverly, lagi-lagi Henry tidak menjawabnya.
"Baiklah, aku akan berhenti bekerja. Asalkan-"
"Asalkan apa?" Tanya Henry cepat.
"Asalkan kau mau memetik buah strawberry yang ada di halaman tetangga kita!"
"Ya ampun, Bev! Tapi baiklah," Henry menyetujui.
*****
Hari ini Jasper sudah berusia 4 bulan lebih 2 minggu. Ia juga sudah bisa mengeja kata ma-ma.
"Ucapkan lagi, sayang!" Pinta Alula kepada putranya.
"Coba sebutkan ini, pa-pa!" Perintah Kai kepada Jasper. Jasper hanya menatap ayahnya dan tidak menyebutkan kata pa-pa.
"Dia tidak mau!" Seru Alula kepada suaminya.
"Lihat saja! Nanti juga dia akan berbicara pa-pa!"
Saat Alula masih memperhatikan tubuh putranya, tak lama ponselnya berdering.
"Iya, hallo Bev?" Jawab Alula saat ia melihat nama Beverly di ponselnya.
"Al, ayo hari ini kita menginap bersama di rumah Chelsea! Kita harus menghabiskan Quality Time sebelum Chelsea menikah," ucap Beverly dari sambungan Telfon.
"Emm, Bev. Aku minta izin dulu kepada Kai ya? Nanti aku hubungi lagi," jawab Alula.
"Baiklah, bawa Jasper ya? Pokoknya kita hanya menginap ber 4! Jangan bawa Kai!" Perintah Beverly kepada Alula.
"Baiklah Bev."
"Ya sudah kalau begitu, bye Alula!" Beverly memutus telfonnya.
"Ada apa?" Tanya Kai saat Alula sudah menyimpan ponselnya di atas nakas.
"Emm... Kai? Aku ingin meminta izin untuk menginap di rumah Chelsea bersama Beverly. Apakah boleh?" Tanya Alula hati-hati.
"Sayang, memang di rumah tidak ada orang tuanya?"
"Tidak ada. Kemarin sih Chelsea bilang orang tuanya sedang pergi ke Amerika Serikat untuk mengundang saudara-saudara mereka yang ada di sana. Jadi, apakah boleh? Aku akan membawa Jasper!" Alula meminta izin kembali.
Kai terlihat tidak menjawab.
__ADS_1
"Sayang, aku mohon! Hanya satu hari, lagi pula itu di rumah Chelsea dan aman," Alula membujuk kembali.
"Apakah aku bisa ikut?" Harap Kai. Ia sungguh tidak ingin berpisah sehari pun dengan Alula dan putranya.
"Tidak. Ini hanya untuk bertiga eh ber empat dengan Jasper," jawab Alula cepat.
Kai terlihat menimbang-nimbang kembali. Ia menatap wajah istrinya yang sedang berharap.
"Baiklah. Asal besok pagi-pagi saat aku menjemput, kau harus pulang!" Jawab Kai kembali.
"Terima kasih, sayang," Alula memeluk suaminya.
"Baiklah, aku bersiap dulu!" Alula segera mengambil tas. Ia memasukan semua peralatan Jasper yang dirasa akan dibutuhkan di sana.
"Sayang, nanti di sana jangan nakal ya?" Kai memangku Jasper dan menciumi seluruh wajahnya. Ia sungguh tidak ingin berpisah dengan anaknya.
"Kai, hanya satu malam!"
"Iya, sayang. Tetap saja, malam ini aku akan kesepian."
"Ajaklah Alden dan Nino menginap di sini ya?" Pinta Alula.
"Baiklah, aku akan menyuruh mereka untuk datang ke sini."
"Jangan meminum wine!" Alula memperingatkan.
"Iya, sayang. Memikirkannya pun aku tidak," Kai mengecup kening Alula lembut.
"Kalau begitu, ayo antarkan aku dan Jasper! Ini sudah sore," pinta Alula kepada Kai.
Kai segera mengambil tas yang berisi kebutuhan istri dan anaknya di sana. Mereka pun berjalan ke ruangan keluarga untuk berpamitan, karena Kai dan Alula masih tinggal di rumah William. Mereka meminta mereka tetap tinggal di sana sampai Jasper berusia 7 bulan.
"Mom, Dad? Alula dan Jasper akan pergi menginap di rumah Chelsea. Sebentar lagi kan Chelsea menikah," Alula berpamitan kepada William dan Sofia yang tengah menonton TV di ruang keluarga.
"Sayang, bisakah Jasper tidak dibawa? Mommy yang akan mengasuhnya malam ini," harap Sofia.
"Alula akan membawa Jasper, Mom. Dia kan masih menyusu," jawab Alula lembut.
"Cucu Daddy, kemarilah sayang!" William mengambil Jasper dari tangan Alula.
"Jasper jangan dibawa ya, Al? Daddy tidak bisa berpisah dengan anak gembul ini," William menciumi pipi bulat cucunya.
"Mom, Dad? Biarkan saja ya? Hanya satu hari ini," Kai meminta.
William dan Sofia pun menghembuskan nafasnya pelan. Seakan tidak rela berpisah sehari pun dengan cucunya.
"Baiklah, kalau begitu. Asal kau harus benar-benar menjaga Jasper ya Al? Jangan biarkan dia sendirian di sana!"
"Iya, Mom," Alula tersenyum, akhirnya ibu dan ayah mertuanya mengizinkan Alula dan Jasper untuk menginap di rumah Chelsea.
Setelah mendapat izin, Kai segera mengantarkan Alula dan Jasper ke rumah Chelsea.
"Sayang, pokoknya jangan terlalu asyik mengobrol! Jangan sampai Jasper lepas dari pandangan matamu!" Kai menasehati istrinya.
"Iya, sayang. Kau tenang saja!"
Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya sampai di pekarangan rumah Chelsea. Alula melihat Beverly dan Henry sedang mengbrol di depan mobil mereka.
"Bev?" Panggil Alula seraya memangku Jasper. Kai mengikutinya dari belakang.
"Anak gembul kesayangan aunty!" Beverly segera mengambil Jasper dari pangkuan Alula dan menciumi wajahnya tak tersisa.
"Sini sama uncle Henry!" Henry mengambil Jasper dari tangan istrinya.
"Al, mengapa dia sangat menggemaskan! Aku ingin menggigit pipinya!" Ucap Henry sembari mengelus ngelus pipi Jasper.
"Jangan digigit kak!" Pinta Kai kepada Henry.
"Bev, Al? Kalian sudah sampai?" Sapa Chelsea yang baru ke luar dari dalam rumahnya.
"Jasper sayang!" Chelsea menyabet tangan Jasper dari Henry. Semua orang tampaknya sangat gemas dengan bayi berpipi gembul itu.
"Ayo kita masuk!" Ajak Chelsea.
"Sayang, kalau begitu aku pulang!" Ucap Kai kepada Alula.
"Hati-hati di jalan ya sayang? Jangan mengebut!" Pinta Alula kepada suaminya.
__ADS_1
"Iya, sayang. Aku ingin menggendong Jasper dulu," Kai mengambil Jasper dari Chelsea.
"Sayang, papa akan merindukanmu. Jangan nakal ya sayang?" Kai menciumi Jasper seperti ia akan berpisah sangat lama dengan putranya.
"Sayang, besok kita bertemu lagi!" Alula mengingatkan.
"Baiklah. Jasper, kau dengan mama ya? Jangan nakal! Papa pulang! Chel, Bev, Kak aku pulang dulu!" Kai berpamitan kepada yang lain.
"Aku juga akan pulang," jawab Henry. Kemudian ia berpamitan kepada Beverly dan yang lain.
Kai mendekat ke arah Alula dan mencium rambutnya.
"Wanginya masih sama, seperti dulu saat ia masih gadis," Kai bergumam.
Lalu Kai dan Henry masuk ke dalam mobilnya masing-masing. Kai menatap Alula dan Jasper dari kacanya. Alula menggerak gerakan tangan Jasper sebagai lambaian kepada ayahnya.
*****
Sesampainya di rumah, Kai mengundang Alden dan Nino untuk tidur di rumahnya. Tetapi, Nino mendadak tidak bisa di hubungi.
"Kai, kira kira Nino pergi ke mana? Tidak biasanya dia seperti ini. Tadi sore masih bisa di hubungi," tanya Alden kepada Kai. Kini mereka berdua tengah terduduk di pinggir kolam renang yang ada di belakang rumah Kai.
"Entahlah, aku juga heran," Kai meneguk air mineral yang ada di tangannya.
"Sepi sekali!" Keluh Kai saat ia mengingat istri dan anaknya.
"Tenanglah Kai! Ini hanya sehari, bukankah sebelum menikah dengan Alula kau sudah terbiasa tanpanya?" Alden meneguk coca-c*la yang ada di tangannya.
"Ya, tapi kan itu dulu. Sekarang aku terbiasa bersama dengan Alula. Rasanya seperti separuh jiwaku hilang," Kai memegangi dadanya.
"Oh iya. Kau sudah tahu? Arabella divonis 8 tahun penjara?" Alden menoleh kepada wajah Kai.
"Ya, aku tahu."
"Kau kasihan padanya?"
"Tentu saja tidak. Dia layak untuk mendapatkan itu. Dia sudah mencelakai Daddy dan memfitnah istriku," Kai memutar kembali memory lamanya.
"Iya. Dia memang keterlaluan."
Tak lama, ponsel Alden berdering.
"Iya, hallo? Apa? Nino mabuk dan mengamuk di klub?" Alden berteriak.
"Baiklah. Aku segera ke sana!" Alden menutup panggilannya.
"Ada apa?" Tanya Kai.
"Katanya Nino mengamuk di klub. Ayo kita ke sana!" Ajak Alden kepada Kai.
"Ayo!" Kai berdiri dan mengikuti Alden dari belakang.
"Biar aku yang menyetir," ucap Kai kepada Alden.
Mereka pun langsung mengarahkan mobil mereka ke klub malam terbesar yang ada di kota Birmingham.
"No, kau apa-apaan?" Tanya Alden saat ia menemukan Nino telentang di kursi Bar.
"Ayo Kai, kita bawa dia pulang!" Alden membangunkan Nino, Kai pun ikut memapahnya menuju mobil.
Mereka memasukan Nino ke kursi penumpang.
"Mengapa dia bisa mabuk-mabukan seperti itu?" Tanya Kai kepada Alden.
"Aku benar-benar tidak percaya cinta. Cinta itu hanya omong kosong!" Nino meracau di belakang.
"Ada apa dengan anak itu?" Tanya Kai sembari melirik Nino dari kaca spion.
"Kau ingat Odelia?" Alden menoleh kepada Kai.
"Ya, ada apa?"
"Dia akan menikah," jawab Alden kemudian.
"Pantas saja," Kai sangat tahu walau pun Nino sering berganti ganti wanita tetapi cintanya hanya untuk Odelia, cinta pertamanya sekaligus wanita yang menyakitinya.
"Wanita memang pantas di sakiti Kai! Semua sama! Aku tidak percaya cinta itu ada," Racau Nino kembali.
__ADS_1
"Tidak. Alulaku berbeda," gumam Kai sembari terus menyetir. Sementara Alden, sesekali menoleh kepada Nino yang memejamkan matanya di belakang. Bau alkohol sangat menyeruak di dalam mobil.
Terus ikuti kisah novel ini ya readers karena sudah memasuki episode episode terakhir. Untuk kisah Nino dan Alden akan author buatkan novel baru yang akan rilis akhir bulan ini. Jangan lupa tinggalkan like, komen, rate 5 dan vote untuk mendukung author. Terima kasih šš