Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Kota Zermatt


__ADS_3

Selama perjalanan dari kota Bad Ragaz ke kota Zermatt, Kaivan tidak melepaskan pelukannya. Matanya selalu terjaga memperhatikan Alula yang tengah tertidur di pelukannya. Kai takut Alula akan menghilang kembali dari pandangan matanya.


Akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Leo sampai di kota Zermatt. Kota Zermatt adalah kota yang terkenal dengan wahana ski dan track pendakian. Di kota Zermatt wisatawan internasional maupun wisatawan domestik dilarang untuk menggunakan mobil dan motor yang menggunakan bahan bakar fosil. Hanya kendaraan listrik yang diperbolehkan di kota tersebut, karena jika polusi udara terjadi di kota Zermatt, maka dikhawatirkan akan melelehkan salju abadi yang ada di pengunungan Alpen.


Untungnya Leo sudah mengantisipasi hal itu. Mobil yang mereka kendarai adalah mobil listrik non fosil. Jadi, mereka tidak perlu repot-repot untuk menitipkan mobil di sekitar pedesaan. Leo membawa Kai dan Alula ke Matterhorn. Matterhorn adalah gunung yang biasa dipakai sebagai jalur hiking dan wahana ski yang sangat terkenal di negara Switzerland. Leo membooking dua buah villa disekitar Matterhorn untuk bermalam malam ini. Satu untuknya dan satu untuk Kaivan dan Alula.


Leo membooking villa karena permintaan dari Kai. Kai hanya ingin sisa bulan madunya tidak diganggu oleh keramaian. Maka ia memutuskan untuk membooking villa dari pada hotel.


Kai menggendong Alula yang tengah tertidur di dalam mobil dan membawanya ke dalam villa. Kai merebahkan tubuh istrinya di atas kasur yang ada di villa tersebut. Ia pun melepaskan sepatu yang menempel di kaki Alula.


Kai segera merebahkan diri disamping Alula. Ia mengusap usap pipi Alula lembut sembari terus menatapnya.


"Untung tadi aku menemukanmu, bagaimana jadinya bila tadi aku tidak menemukanmu?" Kai merapikan rambut Alula yang tergerai ke depan wajahnya.


Kai menciumi kening Alula dan memeluknya kembali. Dini hari, Alula terbangun dan mengerjap ngerjapkan kedua matanya.


"Kita di mana?" Tanya Alula kepada Kai yang tengah berbaring menghadapnya.


"Kita sudah di kota Zermatt," jawab Kai lembut.


"Dingin Kai," Alula menggigil, karena memang villa yang Kai sewa berada di bawah kaki gunung Matterhorn.


"Bagaimana jika berendam air panas?" Tawar Kai.


"Boleh. Tubuhku juga rasanya sangat lengket," timpal Alula.


"Baiklah, aku akan menyediakan air panas dulu untuk berendam," Kai segera beranjak dadi kasur, tetapi lengan Alula menahannya.


"Kai, biar aku saja yang menyediakan air panas itu sendiri. Aku istrimu, tidak baik jika kau yang malah melayaniku," Alula segera membangunkan dirinya.

__ADS_1


"Di mana kamar mandinya, Kai?"


Kaivan pun membimbing Alula ke kamar mandi yang ada di villa tersebut. Kai menggenggam lengan Alula.


"Kau kedinginan?" Tanya Alula khawatir ketika menyentuh telapak tangan suaminya yang sedingin es.


Kai hanya mengangguk. Ia memang kedinginan karena tadi hanya memakai kaos lengan pendek, sweater yang Kai pakai diberikan kepada Alula.


"Jangan pikirkan aku! Lebih baik kau segera hangatkan tubuhmu!" Perintah Kai lembut. Ia membukakan kamar mandi yang sangat kental dengan nuansa rumah Eropa.


Alula mulai mengisi bathub yang ada di kamar mandi dengan air yang lumayan panas. Kai membantu menyiapkan sabun dan juga sebuah jaring mandi.


"Lepaskan pakaianmu!" Kai menatap Alula.


Dengan canggung, Alula melepaskan baju kaos lengan panjangnya. Kini ia hanya memakai sebuah tanktop dan celana pendek. Alula segera masuk ke dalam bathub yang terisi air panas.


"Tidak, lagi pula ada kau di sini. Aku malu," timpal Alula dengan wajah yang merona.


Kai hanya tersenyum dan memperhatikan Alula yang tengah menikmati air hangatnya.


"Kemarilah! Bukannya kau kedinginan?" Ajak Alula.


"Ke mana?" Tanya Kai bingung.


"Ke dalam bathub ini. Kita berendam bersama."


"Benarkah? Apa boleh?" Kai terkejut dengan ajakan Alula.


Alula hanya mengangguk. Tanpa menunggu lama, Kai segera melepaskan kaos miliknya dan segera masuk ke dalam bathub yang sama dengan Alula dengan bertelanjang dada. Posisi mereka saling berhadapan di dalam bathub.

__ADS_1


Suasana tampak sangat canggung. Kamar mandi itu diliputi dengan keheningan, karena tidak ada yang memulai percakapan terlebih dahulu.


"Maafkan aku atas kejadian tadi!" Kai berkata lirih.


"Maaf karena aku sudah menyobek bajumu!" Lanjutnya.


"Sudahlah, lupakan!" Jawab Alula dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak mau mengingat kejadian buruk itu kembali.


"Apakah kita bisa melakukannya sekarang?" Tanya Kai hati-hati.


Alula tampak mengerti dengan apa yang Kai maksud.


"Kau mau melakukannya? Lakukanlah!" Ucap Alula.


Kai mendekatkan wajahnya ke wajah Alula. Ia hendak mencium bibir istrinya. Saat ia akan menempelkan bibirnya, ia melihat air mata menetes dari kedua mata Alula.


"Jangan menangis! Aku tidak akan melakukannya," Kai mengusap air mata Alula. Ia bisa melihat ketakutan di wajah sendu istrinya.


"Aku hanya belum siap," Alula terisak.


"Kemarilah!" Kai menarik tubuh Alula dan memeluknya.


"Aku tidak akan melakukannya jika kau tidak mau. Tenanglah!" Kai memeluk tubuh istrinya hangat.


"Terima kasih, Kai," Alula membalas pelukan itu.


"Maafkan aku! Aku hanya belum bisa menerimamu sepenuhnya."


Jangan lupa untuk memberikan like, vote dan rate 5 jika kalian suka novel ini. Terimakasih šŸ¤—

__ADS_1


__ADS_2