
"Ayo, Bell! Aku antarkan kau pulang," Kai melepas pelukannya dari tubuh Arabella.
"Aku ingin tidur di sini bersamamu," Arabella kembali memeluk tubuh Kai.
"Aku tidak bisa tidur di sini. aku harus pulang."
"Ayo ku antarkan kau pulang!" Kai melepaskan pelukan Arabella dan menggenggam tangannya.
"Baiklah. Tetapi kau harus berjanji untuk meluangkan waktu bersamaku."
"Iya, aku berjanji. Tunggulah disini! Aku pakai baju dulu," Kai mengambil baju dari lemari miliknya, lalu segera masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah memakai baju, Kai segera mengantarkan Arabella pulang ke rumahnya. Lalu, ia bergegas untuk pulang kembali ke Boston Villages.
Saat Kai sampai, lampu-lampu terlihat sudah di matikan. Sepertinya Alula dan bibi May sudah terlelap tidur, karena jam sudah menunjukan lewat tengah malam. Dengan hati-hati, Kai segera masuk ke dalam rumah dengan kunci cadangan yang ia miliki.
Kai segera masuk ke dalam kamar dan mendapati Alula yang tengah tertidur dengan posisi meringkuk. Kai segera mengambil selimut dan segera menyelimuti tubuh Alula. Kai berjongkok di depan Alula yang tengah tertidur pulas. Ada kedamaian tersendiri saat Kai melihat raut wajah istrinya. Tanpa Kai sadari, ia tersenyum saat melihat Alula tertidur.
"Sepertinya ada yang tidak beres dengan otakku," Kai menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kai segera berdiri, lalu ikut merebahkan dirinya di samping Aula. Ia terus memandangi Alula yang tengah tertidur membelakanginya.
"Mengapa tadi aku menciumnya?" Kai menatap langit-langit kamar, kemudian ia mengutuki kebodohannya karena sudah mencium istrinya itu.
"Apa yang dia pikirkan tentangku setelah menciumnya? Dan bagaimana esok hari aku harus bersikap?" Kai menatap kembali punggung Alula.
****
Pagi ini Kai tengah terduduk di meja makan dan menunggu bibi May juga Alula yang tengah memasak. Kai masih memakai piyama di tubuhnya karena pagi ini ia memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu sebelum bersiap siap pergi ke kantor. Alula sendiri ingin ikut memasak bersama bibi May, karena ia ingin menjadi ibu rumah tangga yang bertanggung jawah untuk mengurus suaminya. Apalagi saat ini dirinya belum kembali mendapatkan pekerjaan, jadi Alula fikir ia harus tetap produktif selama berada di rumah.
Semalaman Kai tidak tertidur karena bingung harus bersikap seperti apa saat bertemu dengan Alula. Tetapi di luar dugaan, Alula pagi ini bersikap biasa saja dan seperti tidak terjadi apa-apa saat semalam.
"Ini untukmu!" Alula memberikan sepiring Boterhammen sebagai sarapan pagi untuk suaminya.
"Kau memberikanku makanan Belgia?" Kai menatap Alula yang tengah menyajikan air putih ke dalam gelas.
"Iya, kau tidak suka?" Alula mendudukan dirinya di kursi yang bersisian dengan Kai.
__ADS_1
"Aku menyukainya. Aku sering memakan Boterhammen jika aku pergi ke Belgia," Kai segera mengiris roti yang teroles pate atau keju lunak tersebut dengan garpu dan pisau.
"Enak. Kau yang memasaknya?"
"Iya, aku yang memasaknya, dan tentu saja dengan di bantu oleh bibi May," Alula mulai memakan makanan yang ada di piringnya.
Kai menatap Alula yang tengah memakan Moules-Frites di piring.
"Apa kau tidak mual pagi-pagi seperti ini memakan kerang dan juga kentang goreng?" Kai menatap jiji Alula yang tengah membuka cangkang kerang di lengannya.
"Tidak, aku suka makan ini. Kerangnya enak sekali," jawab Alula dengan mulut penuh dengan kerang dan kentang.
"Hati-hati! Bisa jadi kerangnya diambil dari laut yang tercemar oleh limbah berbahaya, atau bisa jadi sudah tercemar dengan plastik," ucap Kai sembari memakan sarapan paginya.
"Kata penjualnya kerang ini ditangkap di laut tengah, Spanyol. Jadi, aku bisa pastikan ini aman. Kau kan tahu sendiri laut tengah seperti apa bersihnya," timpal Alula sembari terus memakan kerang-kerang yang sudah ia buka dari cangkangnya menggunakan tangan.
"Kau mau?" Alula mengambil daging kerang dan menyodorkan ke bibir Kai dengan tangannya.
"Aku tidak mau," Kai menjawab dengan gugup dan segera melihat ke arah piringnya.
"Cobalah! Ini enak," Alula semakin mendekatkan tangannya ke bibir Kai.
"Bagaimana? Enak?" Tanya Alula dengan wajah berbinar.
"Lumayan," jawab Kai singkat.
"Kau mau lagi?" Alula menyerahkan kembali daging kerang yang ada di tangannya ke bibir Kai.
"Aku tidak mau lagi," Kai menggelengkan kepalanya.
"Ayolah Kai! Buka mulutmu!" Alula memaksa Kai untuk memakan kembali kerang itu.
Kai menutup mulutnya karena ia kurang suka dengan makanan yang berbau amis seperti kerang. Karena Kai terus menutup mulutnya, kerang yang ada di tangan Alula jadi mengotori pipi Kai.
"Aku sudah bilang aku tidak mau," Kai meninggikan suaranya dengan nada yang kesal.
Alula segera mengambil tisu yang berada di tengah meja makan.
__ADS_1
"Biar ku bersihkan pipimu," Alula mengapit dagu Kai dengan tangannya, lalu ia segera membersihkan pipi suaminya dengan tisu.
Kai memperhatikan wajah Alula yang kini tengah membersihkan wajahnya. Dan tatapannya terhenti di bibir berwarna merah muda itu.
"Aku masih tidak percaya jika aku sudah mencium bibir itu," gumam Kai dalam hatinya.
"Cih. Pasti sudah banyak lelaki yang mencium bibir itu termasuk Alfin dan Cleon," gumam Kai kembali.
"Sudah bersih," Alula menjauhkan lengannya dari wajah Kai, kemudian ia melanjutkan kembali menikmati sarapan paginya. Begitu pun dengan Kai, ia juga melanjutkan kembali sarapan paginya dengan banyak pertanyaan yang menghiasi kepalanya mengenai Alula.
"Mengapa dia setenang ini saat aku sudah mencium bibirnya semalam? Mengapa dia tidak marah dan malah bersikap seperti tidak terjadi apapun? Apakah dia sudah terbiasa menerima perlakuan seperti itu dari laki-laki lain? Tetapi, mengapa saat itu dia sangat ketakutan saat Alfin akan melecehkannya?" Itulah beberapa pertanyaan mengenai Alula yang terus berputar di kepala Kai, hingga tidak terasa masing-masing dari mereka sudah menghabiskan makanan yang ada di piringnya masing-masing.
"Kai?" panggil Alula saat kini ia tengah memakaikan dasi pada leher suaminya.
"Apa?" Timpal Kai sembari matanya masih memperhatikan setiap inci wajah Alula.
"Hari ini aku izin untuk mencari pekerjaan. Aku mendapat kabar di internet, jika di universitas yang dekat dengan Beacon Hills sedang membuka lowongan pekerjaan untuk asisten dosen. Siapa tahu aku beruntung," kata Alula sembari merapikan dasi Kai yang telah ia pasangkan di leher jenjang suaminya.
"Mengapa kau masih mencari pekerjaan? Bukankah aku sudah memberikanmu 2 buah kartu? Apa masih kurang?" Kai mengambil dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu yang sangat limited edition. Kartu itu adalah Black Card yang hanya dimiliki oleh orang-orang miliader.
"Ambilah ini !" Kai menyodorkan Black Card itu kepada Alula.
"Apa ini?" Alula mengambil kartu itu dan memperhatikannya dengan seksama.
"Ambil saja. Itu akan memenuhi segala kecukupanmu jika kau masih kurang dengan dua kartu yang kuberikan," Kai berjalan ke arah cermin yang ada di kamarnya.
"Kai, aku tidak memerlukan ini. Bahkan kartu yang kau berikan waktu itu hanya ku pakai untuk membeli makanan, minuman dan juga gaji bibi May," Alula berjalan mendekati Kai yang sedang memakaikan jam tangan di lengannya.
"Aku ingin bekerja karena jika nanti aku sudah bercerai darimu, aku bisa memenuhi kebutuhanku sendiri," papar Alula.
Entah mengapa Kai merasa terusik dengan kata cerai yang Alula ucapkan.
"Pakai saja dulu, itu urusan nanti," Kai menatap ke sembarang arah.
"Ini!" Alula menyimpan kartu Black card itu di atas nakas.
"Kai, aku hanya ingin bekerja. Aku tidak mau saat kita berpisah aku menggantungkan hidupku kembali kepada papa dan mama," Alula menatap sendu Kai yang tengah menatap ke arah jendela kamar.
__ADS_1
"Baiklah, terserah kau saja," Kai mengambil tas kerjanya dan segera berlalu dari kamar meninggalkan Alula seorang diri.
Dear para readers : Tolong tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment dan vote untuk mendukung author. Terima kasih š¤š¤