Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Nasihat Nino


__ADS_3

"Kai? Apa yang kau lakukan?" Alula kaget dan fikirannya sudah berlarian kesana kemari.


Kai tidak menjawab dan malah semakin merekatkan pelukannya. Alula merasakan kehangatan yang membuat hatinya kembali berdebar-debar.


"Kai, lepaskan aku!" Alula mencoba melepaskan lengan Kai dari pinggangnya.


"Biarkan aku seperti ini sebentar saja!" ujar Kai, ia mulai menciumi rambut Alula dengan lembut. Alula takut kejadian semalam akan terulang kembali. Ia takut Kai akan melakukan sesuatu padanya.


"Berhentilah, Kai!" Alula melepaskan paksa tangan Kai yang tengah melingkar di pinggangnya.


Alula membalikan badannya ke arah tubuh suaminya. Tanpa aba-aba, Kai mencium kembali bibir Alula dengan cepat, hanya sebuah kecupan biasa.


"Kau sudah menciumku tiga kali! Aku mohon jangan seperti ini lagi, di hatimu ada Arabella bukan aku."


"Kenapa kau bisa dengan mudahnya mencium wanita yang tidak kau sukai? Jika denganku kau bisa melakukan hal seperti ini, lalu bagaimana saat bersama kekasihmu? Aku jadi berfikir kau seliar apa saat bersamanya," sambung Alula dengan mata berkaca-kaca.


"Kau cemburu?" Kai melihat perubahan raut Alula saat ia mengungkit Arabella.


"Aku bukan cemburu, Kai. Aku hanya tidak ingin jadi persinggahanmu saja saat tidak ada Arabella disini. Tolong jangan lakukan itu lagi!!" Alula segera keluar dari jacucci tersebut, kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.


Kai meninju air dengan tangannya. Ia berusaha untuk menahan amarah yang bergemuruh di dadanya karena mendengar tuduhan Alula. Kai baru teringat kembali dengan Arabella. Saat bersama dengan Alula, Kai tidak pernah mengingat Arabella yang sudah 3 tahun menjadi kekasihnya. Bahkan kini Kai menyesali perkataannya yang berjanji akan menikahi Arabella setelah bercerai dengan Alula.


"Sial!!!" Kai meninju kembali air dari dalam jacuzzi dengan kepalan lengannya.


Alula langsung berjalan menuju tempat ganti pakaian dan segera mandi lalu mengganti bajunya.


"Ayo kita makan! Kau pasti lapar," kata Kai tiba-tiba saat Alula keluar dari ruang ganti pakaian. Kai pun sudah mengganti pakaiannya. Sorot matanya berubah menjadi dingin seperti saat awal-awal pernikahan mereka.


Alula hanya mengangguk dan mengikuti langkah kaki suaminya.


"Kau ingin makan apa?" Tanya Kai dengan raut wajah yang dingin sesaat mereka mendudukan diri di sebuah cafe yang ada di area pemandian air panas.


"Aku tidak lapar, Kai. Aku kedinginan, bisakah kita kembali ke hotel?" Alula menatap wajah dingin Kai.


Kaivan menatap Alula. Wajah Alula tampak memerah dan terlihat uap keluar dari mulutnya saat berbicara. Alula memang sedang kedinginan.


"Tunggulah disini! Aku akan membawakanmu minuman yang bisa menghangatkan tubuhmu," Kai berlalu dari tempat duduknya dan berjalan ke arah barista cafe.


"Minumlah!" Kai membawa dua gelas minuman berwarna bening dan menaruhnya di atas meja.


"Mengapa kau membawakanku air mineral dingin? Ku kira kau akan membawakanmu air mineral panas," Alula menyentuh gelas yang baru saja Kai simpan di atas meja.

__ADS_1


"Itu bukan air mineral tapi-" Ucapan Kai terpotong karena ponselnya berbunyi.


"Sebentar!" Kai pamit kepada Alula untuk mengangkat panggilan di ponselnya.


"Ada apa?" Ucap Kai saat ia mengangkat telfon yang diketahui dari Nino.


"Kau ini keterlaluan, bulan madu tidak memberi tahuku dan Alden. Sahabat macam apa dirimu?" Semprot Nino saat Kai mengangkat telfonnya.


"Aku mencarimu kemana mana tetapi kau tidak ada di kantor, apartemen mau pun di rumahmu," lanjutnya.


"Maaf, aku lupa mengabarimu," sahut Kai datar.


"Aku akan memaafkanmu jika kau memberiku oleh-oleh yang spesial," seru Nino.


"Mengapa kau meminta oleh-oleh dariku? Biasanya kau langsung menyusulku jika aku pergi ke luar negeri. Tapi baiklah, aku akan membawakanmu oleh-oleh Switzerland yang banyak."


"Kau ini bagaimana? mana mungkin aku menyusulmu yang sedang honeymoon. Aku ingin oleh-oleh yang lain," Nino tertawa di sebrang sambungan telfon.


"Maksudmu?" Kai tidak mengerti dengan arah pembicaraan Nino.


"Aku ingin oleh-oleh keponakan darimu," Nino tertawa renyah.


"Pokoknya saat pulang nanti, Alula harus langsung positif hamil agar aku bisa segera memiliki keponakan darimu," kali ini nada bicara Nino terdengar serius.


"Kau jangan terlalu berharap. Aku belum pernah menidurinya," timpal Kai blak-blakan. Ia memang terbiasa berkata apa adanya kepada Nino dan Alden karena mereka merupakan orang yang bisa dipercaya oleh Kai.


"Kau serius? Kalian bersama di dalam kamar hotel dan tidak melakukan apa-apa? Kai, kau masih normal kan?" Nino bergidik ngeri mendengar fakta yang diungkapkan oleh sahabatnya.


"Tentu saja aku masih normal. Kau kan tahu mantan kekasihku banyak," Kai menjawab dengan geram.


"Ya, walaupun kau memiliki banyak mantan kekasih tetapi kau kan tidak pernah meniduri mereka."


"Kau kan tahu alasannya aku tidak pernah meniduri mereka."


"Sudah kubilang kau jangan terlalu kaku. Kita tinggal di bumi bagian barat, hal seperti itu sudah lumrah di negara-negara Barat," tukas Nino.


"Lalu mengapa kau tidak melakukannya dengan Alula? Kan dia sudah menjadi istrimu," Nino tampak gemas dengan sahabatnya itu.


"Kau kan tahu awal-awal pernikahanku dengannya bagaimana. Ketika sampai negara ini, aku ingin melakukannya tetapi dia menolakku," beber Kai


"Haha, ternyata ada wanita yang berani menolak seorang Kaivan Allen. Kau sih terlalu kasar padanya saat SMA, jadi dia memendam perasaan benci yang amat besar kepadamu," Nino tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Kai.

__ADS_1


"Diamlah!" Umpat Kai kesal.


"Dengarkan aku Kai! Jika kau menginginkannya lakukan saja, jangan pedulikan dia mau atau tidak. Bukankah dia istrimu? Seharusnya dia berkewajiban melayani segala kebutuhanmu termasuk kebutuhanmu di atas tempat tidur. Dia tidak boleh egois dengan dirinya sendiri," nada suara Nino kembali terdengar serius.


Kai mendengarkan saran Nino dengan seksama.


"Kau sudah menjalankan kewajibanmu, yaitu menafkahinya dengan baik. Harusnya dia pun melaksanakan kewajibannya kepadamu. Walaupun pernikahan kalian terjadi karena sebuah keterpaksaan tetapi saat ini kalian suami istri yang sah," lanjut Nino.


"Kai?" Panggil Nino saat tak ada jawaban di sebrang telfon. Rupanya Kai tengah menimbang-nimbang perkataan Nino.


"Iya?" Kai tersadar dari lamunannya.


"Pikirkan perkataanku baik-baik," cetus Nino.


"Baiklah, aku akan memikirkannya. Kalau begitu aku tutup dulu panggilannya, Alula sendirian sekarang," Kai mengakhiri panggilan telfonnya.


"Baiklah," Nino menutup sambungan telfonnya.


Kai memasukan ponselnya ke saku sweaternya kembali dan berjalan ke arah mejanya dengan Alula. Saat Kai sampai, Alula tengah menelungkupkan wajahnya di atas meja. Terlihat empat gelas minuman telah kosong. Kai merasa heran dari mana dua gelas itu berasal.


"Hey, kau kenapa?" Kai menepuk bahu Alula tetapi tidak mendapat sahutan. Kai menjadi semakin panik.


"Hey, gadis bodoh!" Kai mengguncang bahu Alula kuat. Gadis itu kini mengangkat wajahnya ke arah wajah Kaivan.


"Kai? Kau ada disini juga?" Alula tertawa dan nada bicaranya terdengar aneh.


"Kau mabuk?" Kai bertanya karena minuman yang ia bawa sudah kosong. Tadi Kai memang membawa dua gelas white wine untuk membuat tubuh Alula hangat. Tadinya ia akan memberi tahu Alula, tetapi keburu Nino menelfonnya.


Alula kembali menelungkupkan wajahnya di atas meja. Kai berjalan ke arah bartender yang ada di sudut cafe.


"Mengapa wanita itu bisa mabuk? Siapa yang memberikan tambahan white wine untuknya?" Kai bertanya kepada seorang bartender yang tengah meracik wine merah.


"Tadi nona itu datang kemari dan meminta dua gelas tambahan. Saya bingung dia meminta apa, setelah saya mencium bau gelasnya, saya mengerti bahwa nona itu meminta white wine. Saya memberikannya 2 gelas lagi dan nona itu kembali ke mejanya, tuan," jawab bartender itu sopan.


Kai menghembuskan nafasnya kasar, lalu ia mendatangi Alula kembali.


Tadi saat Kai meninggalkan dirinya sendirian di atas meja, Alula begitu kedinginan dan bingung harus bersikap seperti apa karena sikap Kai kembali dingin kepadanya. Alula kemudian meminum minuman yang ia ketahui hanya air mineral tersebut. Saat tegukan pertama, Alula merasa aneh dengan rasa dari minuman yang ada di dalam gelas. Karena Kai tidak kunjung datang, Alula melanjutkan meminum minumannya karena ia begitu bosan, sementara ponselnya tertinggal di kamar hotel ketika tengah di charger. Alula kemudian meminta dua gelas tambahan kepada seorang bartender karena tubuhnya berangsur menghangat.


"Ayo kita pulang!" Kai membantu Alula berdiri dari duduknya.


Jangan lupa untuk memberikan like, vote dan rate 5 jika kalian suka novel ini. Terimakasih šŸ¤—

__ADS_1


__ADS_2