Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Mengacuhkan


__ADS_3

Klub Malam Digbeth....


"Tuan, ada apa?" Tanya Ed, rekan bisnis Kai yang melihat orang-orang berkerumun.


"Ah, tidak ada apa-apa. Istri tuan Kai datang untuk memberi kejutan. Benar kan?" Nino menutupi keadaan sebenarnya. Sementara Kai hanya terdiam.


"Anda berulang tahun, tuan?" Tanya Ed kemudian.


"Iya," jawab Kai singkat.


"Oh, maafkan saya! Saya tidak tahu. Selamat berulang tahun untukmu, tuan!" Ed menyalami Kai karena ia berfikir Kai benar-benar berulang tahun hari ini.


"Terima kasih," Kai memaksakan senyumnya walau kini sekujur tubuhnya terasa sangat sakit karena pukulan dari istrinya.


"Nona, perkenalkan saya Ed," Ed mengulurkan tangannya kepada Alula. Alula pun menjabat tangan Ed.


"Kalau begitu, saya harus pergi sekarang. Ada agenda dadakan, jadi saya harus segera pulang," Ed berpamitan.


"Oh iya, hati hati di perjalanan, tuan!" Nino menjabat tangan Ed sebelum dia pergi.


"Ku harap kerja sama kita membawa kesuksesan untuk perusahaan kita bersama," Kai tersenyum dan menjabat tangan Ed sebelum mereka berpisah.


"Iya. Terima kasih untuk pertemuannya. Kalau begitu saya pergi," Ed pun melangkahkan kakinya ke luar dari klub di ikuti dengan sekretarisnya.


"Kai?" Alden mendekat ke arah sahabatnya dengan raut wajah yang bersalah dan juga raut wajah yang takut. Kai hanya memandangnya dengan tajam.


"Ayo kita pulang!" Kai menggenggam tangan Alula menuju parkiran mobil dan segera melajukan mobilnya untuk pergi dari sana.


"Kau sih!" Nino meninju pelan tangan Alden.


"Ya maaf! Aku pikir Kai sedang berselingkuh. Tadi teman lama kita memotret Kai dengan Andrea, makanya aku langsung membawa Alula ke mari. Supaya Kai sadar dengan perbuatannya," Alden menjelaskan.


"Aku tahu niatmu baik, tetapi lain kali lebih baik selidiki lebih lanjut," Nino menasehati.


"Dan cobalah untuk meminta maaf kepada Kai!" Lanjut Nino.


"Iya. Kalau itu sudah pasti ku lakukan, tapi tunggu dulu 2 atau 3 hari. Kau kan sudah bisa menebak reaksinya jika aku memaksa meminta maaf sekarang."

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita pergi dari sini!" Nino berjalan ke luar dari klub. Alden pun mengikutinya dari belakang.


****


Alula dan Kai tengah berada di dalam mobil untuk perjalanan pulang ke rumah.


"Sayang?" Alula menoleh kepada suaminya yang tengah menyetir. Kai tidak menyahuti panggilan istrinya.


"Sayang, maafkan aku! Aku sudah salah sangka. Aku hanya cemburu dan takut kau benar-benar berselingkuh dariku," Alula masih menatap suaminya yang tengah mengemudi.


Lagi-lagi Kai tidak menjawab segala ucapannya.


"Kai? Aku benar-benar minta maaf," Alula menggingit bibir bawahnya karena Kai tak kunjung bereaksi.


"Sayang, aku akan resign dari pekerjaanku besok," Alula masih memancing Kai untuk berbicara. Kai masih tak bergeming. Mulutnya seolah terkunci rapat untuk berbicara dengan istrinya.


Alula pun menyerah, kemudian dia menatap jalanan dari kaca mobil. Tak lama, mobil Kai masuk ke pekarangan rumah. Tanpa menunggu Alula turun, Kai segera turun dari dalam mobil dan langsung masuk ke dalam rumah.


"Sepertinya dia benar-benar marah," Alula menghembuskan nafasnya pelan. Lalu ia segera ke luar dari dalam mobil untuk menyusul suaminya.


"Sayang, kau dari mana saja? Bi Esther bilang tadi kau pergi bersama Alden?" Sofia langsung mengajukan pertanyaan saat menantunya masuk ke dalam rumah.


"Mengapa Kai tidak menunggumu? Tumben sekali?" Sofia merasa heran karena Kai lebih dulu masuk ke dalam kamarnya tanpa menunggu Alula.


Alula pun menggelengkan kepalanya pelan. Sofia tahu jika anak dan menantunya tengah memiliki masalah.


"Susulah suamimu!" Perintah Sofia kepada Alula.


"Alula masuk dulu, Mom," Alula segera berjalan ke arah kamarnya.


Saat Alula masuk, ia melihat Kai tengah bertelanjang dada. Alula dapat melihat jelas tubuh suaminya berwarna kemerahan akibat pukulan tongkat baseball tadi.


"Sayang, maafkan aku!" Alula memeluk tubuh suaminya dari belakang.


Kai tetap membisu. Kai pun melepaskan tangan Alula dan segera pergi ke luar. Tak lama, Kai pun masuk kembali ke kamar dengan membawa lap dan juga baskom kecil yang berisi air hangat. Kai segera mengelap sendiri luka-luka yang ada di tubuhnya.


"Sayang, biar aku yang mengompresnya!" Alula hendak mengambil lap itu dari tangan Kai, tetapi Kai segera menghindar dan melanjutkan mengompres tubuhnya sendiri.

__ADS_1


Tak lama, Kai pun segera memakai piyama dan merebahkan tubuhnya di atas kasur dan mematikan lampu. Bulir air mata mulai ke luar dari mata Alula saat Kai mengacuhkannya dari tadi. Alula merebahkan tubuhnya di samping Kai. Kai segera membelakangi istrinya.


"Sayang, aku lebih suka kau marah padaku, bahkan mengamuk sekalian dari pada kau mendiamkan aku seperti ini!" Alula memeluk dan terisak di punggung suaminya.


Kai yang mendengar Alula menangis segera membalikan tubuhnya.


"Mengapa kau tidak percaya padaku jika aku tidak akan mengkhianatimu?" Tanya Kai dengan tegas.


"Aku hanya takut kau berpaling dariku. Aku tidak ingin membagi dirimu dengan siapa pun," Alula semakin terisak.


"Alula? Kau berfikir terlalu jauh. Semenjak aku memiliki perasaan padamu, aku tidak pernah melihat wanita lain selain dirimu," Kai berdecak pelan.


Alula merasa sakit hati saat mendengar suaminya memanggil namanya.


"Aku hanya takut," jawab Alula kemudian.


"Mengapa kau tidak percaya padaku? Untukmu aku sudah membebaskan Andrea dari tugasnya sebagai sekretaris pribadiku. Aku rela melakukannya, walau nanti aku kesulitan dalam pekerjaanku, aku akan melakukan apapun untuk kenyamananmu. Dan kau memukuliku di hadapan semua orang. Al, aku suamimu. Aku juga perlu penghormatan darimu. Kau menginjak nginjak harga diriku tadi. Untung tuan Ed tidak melihatnya. Bayangkan jika dia melihat!" Tandas Kai dengan suara yang begitu kecewa.


"Aku bukan tidak percaya, aku hanya takut."


"Kau tidak percaya padaku, maka dari itu tadi kau bertindak seperti itu," sanggah Kai kembali.


"Lalu, apa bedanya dengan dirimu? Kau pun selalu tidak percaya padaku? Masalah daddy? Dan kau pun selalu cemburu terhadap Cleon," Alula mengungkit masa lalunya.


"Mengapa kau masih membahasnya? Aku sudah beribu kali meminta maaf padamu untuk masa lalu kita. Aku sudah bertekad untuk selalu percaya kepadamu. Kau masih menyimpan dendam untukku? Apakah ke depannya saat kita bertengkar seperti sekarang, kau akan terus mengungkit kesalahanku? Aku berusaha untuk berubah menjadi orang baik untukmu. Aku berusaha menahan emosiku, menahan untuk tidak minum wine lagi, aku bertekad untuk selalu percaya padamu. Aku bahkan rela kau permalukan demi ngidammu. Aku tidak mempermasalahkan harga diriku. Aku tidak peduli, asal kau dan anak kita senang. Tetapi mengapa kau masih membahas kesalahanku? Aku bertindak seperti ini agar kau tidak bertindak seperti tadi, terlebih itu di tempat umum."


"Kai, jadi kau tidak ikhlas selama ini ketika aku mengidam?" Alula semakin terisak.


"Bukan itu poin yang aku maksud, Al. Mengapa kau tak mengerti apa yang aku maksud?" Kai memejamkan matanya dengan frustasi.


"Lalu apa? Selama ini kau terpaksa melakukan sesuatu yang aku suruh?" Tuduh Alula kembali.


"Terserah padamu, Al. Lebih baik aku tidur di kamar lain saja," Kai segera bangkit dari kasur dan berjalan ke luar kamar. Alula yang melihat Kai keluar dari kamar semakin mengencangkan tangisnya.


Pukul satu malam Kai kembali ke dalam kamar. Ia melihat Alula tertidur dengan posisi meringkuk. Kai segera menyelimuti tubuh Alula, kemudian ia membaringkan tubuhnya di samping Alula. Kai memperhatikan raut wajah istrinya. Ia menciumi wajah itu dan memeluk tubuhnya erat.


"Sayang, aku pergi dari kamar karena aku tidak ingin berdebat lebih jauh denganmu. Aku takut lepas kontrol dan mengucapkan kata yang menyakiti perasaanmu. Aku hanya ingin kau tidak bersikap seperti tadi. Kelakuanmu di klub sungguh menginjak harga diriku sebagai suamimu," Kai bergumam dan semakin memeluk tubuh Alula erat.

__ADS_1


Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih šŸ¤—


__ADS_2