Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Berikan Alula Waktu


__ADS_3

Kai pulang ke rumah orang tua Alula, tetapi ia tidak menemukan istrinya di sana.


"Ke mana dia? Ini sudah malam!" Kai melihat jam tangan yang melingkar di lengannya.


Kai mencoba menelfon kepada nomor ponsel istrinya, tetapi tak kunjung ada jawaban. Akhirnya ia memutuskan untuk menelfon pihak universitas, karena setahu Kai, Alula harusnya rapat di siang hari tadi.


"Alula? Oh, Miss Alula? Dia tidak ikut rapat hari ini, tuan," jawab orang yang berada di sebrang telfon.


Kai langsung mengambil kunci mobilnya yang baru ia simpan di atas nakas dan segera mencari keberadaan istrinya. Kai pulang ke rumahnya dan Alula, tetapi ia tidak menemukan Alula di sana.


"Kau kemana?" Desah Kai frustasi di dalam mobilnya. Ia segera melajukan kembali mobilnya menembus kedinginan dan keheningan malam untuk mencari wanita yang dirindukannya. Sudah 2 jam Kai berputar putar mengelilingi kota, ia begitu bingung harus mencari istrinya ke mana.


"Apakah mungkin ke rumah temannya saat SMA itu?" Kai bertanya-tanya dalam mobil. Kemudian, ia segera menanyakan alamat Chelsea ke grup SMA nya.


Setelah mendapatkan alamat rumah Chelsea, Kai segera mengarahkan mobilnya ke alamat tersebut.


"Iya, siapa?" Ucap Chelsea saat ia membuka pintu. Chelsea begitu kaget ketika ia melihat suami sahabatnya di sana.


"Aku mencari keberadaan istriku, apakah dia ada di sini?" Kai memperhatikan isi rumah Chelsea. Ia berharap Alula ada di sana.


"Siapa, Chel?" Tanya Alula sembari menghampiri Chelsea.


Alula begitu terkejut melihat Kai yang tengah berdiri di gerbang pintu.


"Kenapa kau ada di sini dan tidak pulang ke rumah?" Kai berteriak kepada Alula. Alula hanya diam, begitu pun dengan Chelsea. Tanpa aba-aba, Kai segera masuk dan menarik lengan Alula.


"Ayo pulang!" Kai menarik paksa lengan istrinya.


"Aku tidak mau pulang!" Jerit Alula.


"Ini bukan rumahmu. Kau harus pulang ke rumahmu!" Kai terus menarik lengan Alula.


"Lepaskan!!" Alula melepaskan lengan Kai saat ia sudah berada di dekat mobil pria itu.

__ADS_1


"Aku tidak mau pulang. Sana pulanglah ke rumah kekasihmu!" Alula berteriak dan menangis.


"Apa maksudmu?" Kai tampak tidak mengerti dengan apa yang Alula ucapkan.


"Iya pulanglah sana ke rumah Arabella!" Alula kembali berteriak. Rasa cemburunya memberikan keberanian yang kuat untuk menentang suaminya.


"Ayo pulang bersamaku!" Kai menghiraukan teriakan dan tangisan Alula. Ia mencoba untuk memasukan Alula secara paksa ke dalam mobilnya.


"Kai hentikan!" Chelsea yang tadi menonton akhirnya menghampiri Alula dan Kai.


"Lepaskan Alula!" Chelsea memberani kan diri mengambil lengan Alula. Setelah lengannya lepas, Alula langsung berlari ke dalam rumah Chelsea.


"Berhenti, Kai!" Perintah Chelsea yang melihat Kai hendak masuk menyusul Alula ke dalam rumahnya.


"Jangan ikut campur!" Kai menatap dingin kepada Chelsea.


"Berikan Alula waktu!! Dia sedang butuh waktu untuk menenangkan diri," Chelsea mencoba menjelaskan.


"Tentu saja darimu. Ayo kita duduk! Aku harus berbicara kepadamu!" Chelsea mengajak Kai untuk duduk di kursi yang ada di halaman rumahnya. Kai pun ikut terduduk karena ia penasaran dengan tingkah aneh Alula yang tidak mau pulang dengannya.


"Berikan Alula waktu! Diia sedang tidak bisa berfikir jernih sekarang. Jika kau memaksanya untuk pulang, aku khawatir dia melakukan hal yang tidak-tidak. Tadi saja Alula hampir memakan belasan obat pil pencegah kehamilan sekaligus," papar Chelsea.


Kai begitu terkejut dengan apa yang Chelsea ceritakan.


"Mengapa dia melakukan itu? Apa dia tidak mau mengandung anakku?" Kai tampak emosi mendengar penjelasan dari Chelsea.


"Bukan. Alula frustasi karena melihat fotomu dan mantan kekasihmu tengah berpelukan," jawab Chelsea.


"Berpelukan?" Kai mengernyitkan dahinya heran.


"Iya. Hari ini kau bertemu dengan mantan kekasihmu bukan?"


Kai kemudian mengingat jika tadi di Rumah Sakit, Arabella memeluknya. Tapi mengapa Alula bisa tahu? Begitu fikirnya.

__ADS_1


"Ada orang yang mengirimkan foto kalian kepada Alula," Chelsea seperti tahu apa yang dipikirkan oleh teman satu sekolah saat SMP dan SMA nya itu.


"Pasti ini kerjaan Bella," Kai mendengus kasar. Rahangnya mengeras menahan emosi.


"Aku tidak tahu. Tapi biarkan Alula menginap dulu di sini denganku! Dia sedang butuh waktu," Chelsea meminta pengertian Kai.


"Tapi aku tidak ingin berpisah dengannya dan sampai kapan dia bersikap seperti ini?" Kai tampak resah.


"Kau pulanglah dulu! Nanti setelah dia merasa baikan, aku akan memberikannya pengertian agar dia mau pulang ke rumahmu," bujuk Chelsea.


"Kemana orang tuamu?" Tanya Kai, saat ia tak melihat penghuni lainnya di dalam rumah itu.


"Kedua orang tuaku sedang tidak ada. Jadi, Alula bisa bebas tidur di sini."


"Kau pulanglah dulu! Jika perasaannya sudah membaik, pasti dia pulang. Alula hanya sedang cemburu," lanjut Chelsea.


"Cemburu? Apakah benar?" Kai tampak ragu.


"Tentu saja, jika ia tidak cemburu mana mungkin dia kabur ke sini," sahut Chelsea.


Kai tersenyum senang saat mendengar penuturan Chelsea.


"Baiklah, kalau begitu aku mengizinkannya untuk tidur di sini. Jika ada apa-apa, langsung telfon aku! Dan berapa nomor rekeningmu? Aku akan mentransferkan uang padamu untuk biaya hidup istriku di sini."


"Tidak usah, Kai. Aku ikhlas menampung Alula di sini," tolak Chelsea.


"Benarkah tidak apa-apa?" Kai tampak ragu. Ia takut Alula akan menjadi beban di rumah Chelsea.


"Iya, kau tidak perlu khawatir. Alula tidak akan merepotkanku."


"Kalau begitu, terimakasih karena kau mau menerimanya di sini!" Kai berdiri dari duduknya. Chelsea hanya mengangguk. Chelsea begitu kaget karena orang yang ia kenal sebagai orang yang angkuh itu mengucapkan terima kasih kepadanya, kata yang hampir mustahil Chelsea dengar saat sekelas dengannya dulu. Tak lama kemudian, Kai pun masuk ke dalam mobil dan berlalu meninggalkan rumah Chelsea. Kai pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya dan Alula yang sudah ia tinggalkan sejak kemarin.


Jangan lupa untuk memberikan like, vote dan rate 5 untuk mendukung Author. Terimakasih šŸ¤—

__ADS_1


__ADS_2