Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Sakit Yang Tak Tertahan


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian...


"Bagaimana, Bev?" Tanya Henry ketika melihat Beverly baru ke luar dari kamar mandi.


Beverly baru saja mencoba alat pengetes kehamilan karena bulan ini ia sudah terlambat datang bulan.


"Bagaimana?" Tanya Henry kembali. Ia melihat raut wajah murung istrinya sehabis ke luar dari kamar mandi.


"Negatif ya? Tidak apa. Kau jangan bersedih! Kita bisa mencobanya lagi," Henry mengusap rambut Beverly lembut.


Beverly perlahan memandang suaminya, seulas senyuman merekah di wajahnya.


"Henry, aku hamil!" Beverly berteriak dan memperlihatkan tespack yang sudah ia pakai.


"Kau hamil?" Henry memegangi pipi Beverly seolah tidak percaya.


"Iya. Lihatlah!" Beverly memperlihatkan tespack yang baru ia coba.


Henry segera memeluk Beverly dan memutarkan tubuh istrinya.


"Aku akan jadi ayah?" Mata Henry tampak berkaca-kaca.


"Iya. Kau akan jadi ayah," mata Beverly ikut berkaca-kaca.


"Bev, aku mencintaimu!" Henry kembali memeluk tubuh Beverly.


"Katakan sekali lagi!" Perintah Beverly saat Henry melepaskan pelukannya.


"Katakan apa?" Henry pura-pura tidak mengerti.


"Katakan jika kau mencintaiku!" Beverly memukul dada Henry pelan.


"Aku mencintaimu!" Henry tersenyum.


"Henry, aku juga mencintaimu!" Beverly mencium kening Henry lembut.


"Coba lihat lagi Henry!" Beverly memperlihatkan kembali tespack yang bergaris dua itu.


"Ya, Bev. Sudah, tespacknya bau pipis," Henry menyimpan tespack itu di atas nakas.


"Ya tentu saja bau pipis karena cara mengetesnya di celupkan ke urine bukan ke parfum," gerutu Beverly.


"Iya, iya. Maafkan aku!" Henry tertawa melihat raut wajah kesal istrinya.


"Nanti kita cek kandunganmu ke dokter, ya? Sebelumnya ayo kita pergi ke rumah mama dan mommy! Kita beri tahu mereka kabar bahagia ini!" Ajak Henry.


"Kalau begitu ayo!" Beverly menarik tangan Henry.


Henry dan Beverly segera berjalan menuju kediaman kedua orang tuanya yang tak jauh dari tempat mereka tinggal. Kini mereka semua sudah berkumpul di ruang tamu rumah Alice dan Ron atas permintaan dari Henry dan Beverly.


"Jadi, ada apa kak?" Tanya Cleon yang terlihat penasaran saat Henry mengumpulkan semua keluarganya.


"Iya, ada apa? Kau membuat mommy deg-degan!" Kate menyentuh dadanya.


"Emm," Beverly dan Henry saling berpandangan.


"Henry mengumpulkan kalian karena Henry ingin memberikan kabar bahagia. Henry sebentar lagi akan jadi ayah."


"Maksudmu, Beverly hamil?" Alice menutup mulutnya karena terkejut.


"Iya, Ma," jawab Beverly.


"Sayang, ini benar kan?" Kate langsung berhambur memeluk putrinya.


"Iya, Mom."


"Akhirnya kita akan punya cucu," Ron dan Ben saling berangkulan.


"Kak, selamat ya?" Cleon memeluk Henry.


"Sama-sama. Semoga rencana pernikahanmu juga lancar," Henry menepuk bahu adiknya.


"Iya, kak. Berarti aku akan punya ponakan?" Tanya Cleon memastikan.

__ADS_1


"Iya. Kau akan menjadi om-om saat anak ini lahir," ucap Beverly. Semua orang yang ada di sana langsung tertawa dengan keras melihat Cleon mencebikan bibirnya.


****


Tak terasa kehamilan Alula kini sudah menginjak usia sembilan bulan dan sudah mendekati hari perkiraan lahir (HPL). Kai sudah menyuruh Alula untuk diam di rumah dari sebulan yang lalu. Kai pun sudah mendapatkan sekretaris baru untuknya, ia adalah Rachel sekretaris pribadinya yang dulu. Rachel dan suaminya memutuskan untuk menetap di kota Birmingham. Rachel pun kembali melamar pekerjaan kepada Kai saat ia melihat lowongan kerja di media cetak. Kai pun langsung menerimanya lagi, karena selama Rachel bekerja dengannya, ia tidak pernah melakukan kesalahan yang berarti dan kinerjanya pun cukup memuaskan.


Menjelang hari kelahiran, Bibi May pun tampak ditarik ke rumah William untuk mengurus keperluan saat Alula melahirkan nanti.


Kai dan Alula pun sudah melakukan USG lagi dan berdasarkan hasil USG itu bayi mereka benar-benar berjenis kelamin laki-laki. Mereka pun sudah belanja untuk keperluan anaknya nanti.


Kai ke luar dari kamar mandi, ini adalah hari weekend tetapi ia harus bersiap siap untuk bertemu dengan rekan bisnisnya dari Berlin.


"Sayang? Lihatlah stretch mark nya semakin jelas!" Tunjuk Alula ke arah pahanya.


"Tak apa, sayang. Wajar saja, kau kan sedang hamil besar," Kai menenangkan.


"Kau tak akan melirik wanita lain kan?" Alula merasa cemas.


"Aku sudah bilang, aku tidak pernah melirik wanita lain. Aku hanya tertarik dengan ibu dari anakku," Kai terduduk di samping istrinya. Alula pun merasa tenang mendengar perkataan Kai.


"Kai, lihatlah! Bayinya bergerak," tunjuk Alula kepada perutnya yang sudah sangat membesar.


Kai menempelkan telinganya di perut Alula. Ia dapat merasakan denyut jantung bayinya berdetak.


"Sayang, segeralah lahir ke dunia ini! Papa dan mama tidak sabar menantikan kehadiranmu," Kai mengelus lembut perut istrinya.


"Sayang, aku bersiap dulu untuk pergi bekerja!" Kai segera berdiri dan bersiap untuk pergi ke kantornya.


Alula memperhatikan suaminya yang kini tengah memasangkan dasi di lehernya sendiri. Alula teringat kembali ke masa awal mereka menikah, saat ia pertama kali memasangkan dasi di leher suaminya.


"Sayang?" Kai membuyarkan lamunan Alula.


"Iya?"


"Aku berangkat dulu. Hari ini semua orang yang ada di rumah akan pergi ke makam kakek. Hari ini peringatan tahunan kepergian kakek, jadi semua pergi ke makam hari ini," jelas Kai kepada Alula.


"Kau tidak apa di rumah sendiri? Atau aku batalkan saja pertemuan ini dan menemanimu di rumah?" Tanya Kai dengan khawatir. Ia sungguh tidak tega jika Alula sendirian di rumah.


"Tidak apa-apa, sayang. Justru aku ingin meminta maaf karena tidak bisa hadir di peringatan tahunan meninggalnya kakekmu."


"Aku tidak masalah, Kai. Lagi pula ini di rumah bukan di hutan Amazon."


"Baiklah, kalau begitu aku berangkat. Kunci semua pintu jika semua orang sudah berangkat ya?" Kai mengusap lembut rambut Alula dan mencium pipinya lembut.


"Papa pergi dulu bekerja ya, Nak?" Kai tak lupa mengelus perut Alula.


"Aku antarkan ke depan!" Alula hendak berdiri dari duduknya.


"Sayang, kau tidak usah mengantarku!" Kai mencegah Alula yang akan berdiri.


"Tidak apa-apa. Ayo aku antar!" Alula berdiri dengan susah payah.


"Punggungku sakit sekali !" Keluh Alula dalam hatinya.


"Sayang, kau baik-baik saja?" Kai melihat raut wajah istrinya meringis.


"Aku baik-baik saja," Alula memaksakan senyumnya.


"Al, Kai? Mama dan yang lain akan pergi ke makam hari ini. Al, kau tidak apa di rumah sendirian?" Tanya Sofia dengan gurat wajah yang khawatir.


"Tidak apa-apa, mom," jawab Alula.


"Benar?" Sofia memastikan.


"Benar, mom. Tidak usah khawatir! Alula akan baik-baik saja."


"Al, kalau ada apa-apa segera hubungi daddy dan mommy ya? Atau hubungi suamimu!" William tampak ikut khawatir melihat menantunya yang sedang hamil tua di tinggalkan sendirian di rumah.


"Dad, apakah bibi May ikut ke makam?" Tanya Kai kepada ayahnya.


"Tidak. Bibi May izin pulang ke rumah anaknya, katanya anaknya akan menikah. Jadi, bibi May harus mempersiapkan segala keperluan anaknya yang akan menikah," timpal William. Kai pun mengangguk-nganggukan kepalanya.


"Sayang, kami pergi dulu!" Sofia memeluk Alula. Ia merasa berat untuk meninggalkan Alula seorang diri.

__ADS_1


"Al, Daddy berangkat! Hati hati di rumah ya?" William ikut berpamitan.


Mereka semua pun melangkahkan kakinya ke luar untuk menuju makam, termasuk bi Esther.


"Sayang, aku pergi!" Kai tampak berat meninggalkan istrinya hari ini


"Iya. Pergilah! Aku baik-baik saja!" Tegas Alula. Kai pun segera ke luar dari rumahnya.


Saat semua orang sudah ke luar, Alula segera mengunci pintu rumah dan kembali ke kamarnya.


Siang hari, Alula merasa bosan di dalam rumah. Kemudian ia berinisiatif untuk menelfon Chelsea.


"Chel, di rumah Daddy sedang tidak ada orang. Bisakah kau menemaniku di sini?" Pinta Alula kepada sahabatnya


"Iya, Al. Aku akan menemanimu. Kebetulan aku sedang malas pergi ke butik," jawab Chelsea.


"Chel, terima kasih. Aku tunggu ya?"


"Emm, Al? Bolehkah aku mengajak Cleon?" Tanya Chelsea hati-hati.


"Tentu saja. Ajaklah dia ya?" Jawab Alula antusias.


"Baiklah. Aku hubungi dulu Cleon. Sampai ketemu di sana!"


"Iya, Chel. Aku tunggu ya?" Alula segera menutup panggilan telfonnya.


Alula membuka novel yang baru ia beli minggu kemarin. Alula mencoba untuk memfokuskan pikirannya kepada novel yang sedang ia baca. Sebenarnya ia sudah merasakan kram di perut dan juga nyeri pada punggungnya yang lumayan menyiksa. Tetapi Alula tidak memperdulikan rasa sakitnya itu, ia berfikir itu karena efek kehamilannya yang sudah semakin tua.


"Ah, perutku sakit sekali!" Mata Alula terpejam sembari memegangi perutnya.


"Aku ingin minum," Alula bangkit dari kasurnya dan berjalan tertatih ke luar dari kamarnya.


"Aku tidak kuat. Ini sangat sakit!" Alula menyenderkan tubuhnya di tembok. Air matanya mulai menetes karena menahan rasa sakit yang begitu menyiksanya.


"Aku rasa aku akan melahirkan," Alula mengatur nafasnya. Kemudian ia terduduk di lantai.


Tak lama, seseorang tampak memencet bel.


"Itu pasti Chelsea! Aku harus meminta tolong padanya!" Alula perlahan berdiri dan berpegangan kepada benda yang bisa ia jangkau. Untunglah, jarak kamarnya dengan pintu luar tak terlalu jauh.


"Chel, tolong aku!" Alula berteriak sesaat ia akan sampai di pintu. Alula melihat cairan air ketuban ke luar dan membasahi kakinya.


"Al, kau kenapa?" Chelsea menjawab dengan panik dari balik pintu.


"Al, buka pintunya!" Cleon menggedor pintu dengan keras.


"Aku tidak kuat!" Alula memejamkan matanya. Ia membungkukan badannya sembari berpegangan kepada rak sepatu kecil yang ada di ruang tamu.


"Chel, tolong!" Jerit Alula kembali.


Terdengar suara panik dari luar. Tak berapa lama Alula mendengar Cleon memutuskan untuk mendobrak pintu. Kemudian, pintu terbuka karena dobrakan dari Cleon.


Tubuh Alula terhuyung. Dengan cepat Chelsea dan Cleon berlari dan menangkap tubuh Alula yang akan terjatuh ke lantai. Chelsea memegangi pinggang dan Cleon memegangi kepala Alula.


"Chel, Cleon? Sakit!" Alula meringis dengan berat.


"Tolong aku! Ini benar benar sakit!" Alula menangis dan memejamkan matanya.


"Cleon, Alula akan melahirkan. Ayo kita bawa dia ke rumah sakit!" Ucap Chelsea dengan suara yang bergetar. Ia sungguh sangat panik karena baru pertama kali berhadapan dengan orang yang akan melahirkan, terlebih itu sahabatnya sendiri.


"Cleon, kau gendong Alula ya?" Pinta Chelsea.


"Bolehkah?" Cleon menatap kekasihnya dengan ragu. Ia sungguh tidak ingin menyakiti hati Chelsea walaupun itu hal yang sepele.


"Tentu saja. Kau ini kenapa? Ini sangat urgent."


Cleon pun segera mengangkat tubuh Alula dan berlari ke arah mobilnya. Kemudian ia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh untuk sampai di rumah sakit.


"Chel, sakit!" Alula meremas tangan Chelsea. Alula kini terbaring di kursi penumpang. Kepalanya kini terbaring di pangkuan Chelsea.


"Sabar, Al. Kita akan segera sampai!" Chelsea mengelap keringat dingin yang memenuhi kening sahabatnya.


"Aku harus menghubungi Kai," Chelsea mengambil ponsel miliknya. Kemudian ia segera menelfon Kai.

__ADS_1


"Kai, Alula akan melahirkan! Aku dan Cleon membawanya ke rumah sakit yang ada di tengah kota," Seru Chelsea saat Kai mengangkat telfonnya.


...... Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih šŸ¤—......


__ADS_2