Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Mendekap Erat


__ADS_3

Kaivan tengah mengemudikan mobilnya dan mencari keberadaan istrinya saat ini. Di dalam mobil, ia mengganti bajunya yang basah. Kebetulan Kai selalu menyediakan stok baju di mobilnya. Saat ia sedang fokus menyetir, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Kai memakaikan headset di telinganya dan segera menjawab panggilan telfon yang diketahui dari Arabella.


"Ya, Bell?" Jawabnya sembari matanya fokus menyetir.


"Sayang? Ini hari anniversary kita yang ke 3 tahun, kau bisa datang ke apartemenku?" Goda Arabella manja di sebrang telfon.


"Aku tidak bisa, Bell," Kai terus mengemudi dan matanya memperhatikan setiap sudut jalanan.


"Ayolah! Mampir ke apartemenku sebentar, sayang. Aku sudah menyiapkan makanan untukmu," rajuk Arabella.


"Bel, kumohon! Aku sedang ada urusan sekarang," Kai berdecak kesal.


"Kalau kau tidak datang ke sini, aku akan bunuh diri sekarang juga!" Ancam Arabella, kemudian telfon terputus.


"Hallo? Bell?" Panggil Kai dengan panik.


"Shit," Kai mencengkram setir mobil dan segera melajukan mobilnya menuju apartemen Arabella.


"Aku datang," ucap Kai saat Arabella membukakan pintu apartemen miliknya.


"Selamat datang, sayang. Happy anniversary!" Arabella berjinjit untuk mencium bibir Kai, tetapi Kai dengan cepat menghindar.


"Bell, jangan seperti ini!" ucap Kai pelan.


Arabella berdecak kesal.


"Baiklah, ayo masuk!"


Terlihat di dalam apartemennya, Arabella sudah menyiapkan makanan dengan dekor yang menghias meja makan juga kasur miliknya. Mirip seperti seseorang yang baru menikah dan akan melakukan malam pertama. Terlihat bunga mawar merah menghiasi sprei kasur miliknya. Disana juga terpajang beberapa fotonya bersama Kai saat mereka berpacaran dulu.


"Ayo, makanlah! Aku sudah masak ini semua untukmu," Arabella menarik tangan Kai untuk duduk di meja makan.


Arabella mulai menyuapi Kai dengan Bubble Squeak yang ia masak. Saat Kai memakan makanan itu, pikirannya melayang kepada Alula. Ia ingat gadis itu belum makan dari kemarin.


"Sayang? Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?" Tanya Arabella yang merasa kesal saat Kai tidak menjawab pertanyaannya. Rupanya Kai sedang asyik melamun sehingga tidak menanggapi pertanyaan mantan kekasihnya itu.


"Emm, kau bertanya apa?" Ucap Kai polos.


"Kau menyebalkan sekali!" Gerutu Arabella kesal.

__ADS_1


"Aku bilang, nanti tujuh bulan lagi kau akan menikahiku kan?"


"Ya, aku akan menikahimu," jawab Kai cepat agar ia segera terbebas dari pertanyaan Arabella.


"Aku sudah kenyang," Kai mengelap mulutnya dengan tisu.


"Sayang, ayo kita berdansa!" Arabella berdiri dan menyetel tape miliknya dengan musik dansa.


"Aku tidak mau," tolak Kai.


"Ayolah, sayang!!" Arabella menarik tangan Kai.


Kai menghembuskan nafasnya kasar, lalu ia bangkit dari duduknya dan berdansa dengan Arabella.


"Kenapa aku memikirkan gadis itu?" Kai menatap Arabella yang tengah memegang bahunya, sementara tangan Kai sedang memegang pinggang gadis berambut blonde itu. Tubuh mereka bergerak mengikuti irama dari musik yang mengalun.


Bayangan wajah Alula yang berteriak dan berkata ia sudah tidak tahan hidup dengannya begitu mempengaruhi fikiran Kaivan. Kai merasa, jika dirinya memang sudah keterlaluan kepada gadis itu.


Arabella memeluk tubuh Kai, tetapi sekali lagi wajah Alula begitu mengusik hati dan fikirannya. Arabella membimbing Kai ke tempat tidurnya, kemudian ia mendorong tubuh Kai ke atas kasur.


"Kau mau apa?" Kai bertanya saat melihat Arabella melepas jaket denim miliknya.


"Sayang, ayo kita lakukan itu!" Goda Arabella.


"Bell, aku suami orang sekarang," ucap Kai dengan nada tinggi.


"Aku tidak peduli! Lagi pula pernikahan bodoh itu hanya sebuah kepura-puraankan?" Teriak Arabella.


Tangan Arabella mulai membuka kancing baju Kai. Akan tetapi, tangan laki-laki itu dengan cepat menahan tangan Arabella agar gadis itu menghentikan aktifitasnya.


"Aku tidak bisa!" Tolak Kai dengan tegas.


"Kau tidak mencintaiku?" Tanya Arabella lirih.


"Terserah padamu, Bell. Aku harus segera pergi dari sini," Kai segera melangkahkan kakinya pergi dari apartemen Arabella. Ia tidak peduli dengan teriakan Arabella yang memanggil namanya.


Kai kembali melajukan mobil bermerk Ferr*ari miliknya untuk mencari Alula.


"Kurasa dia pergi ke rumah orang tuanya," gumam Kai di dalam mobilnya. Ia segera melajukan mobil berwarna merah miliknya menuju ke kediaman orang tua Alula.

__ADS_1


Sementara itu...


Alula mulai berjalan ke meja makan untuk mengambil makanan, tapi sayangnya tidak ada makanan di dapur.


"Sebaiknya aku pergi ke luar untuk membeli makanan," gumam Alula.


Ia pergi kembali ke lantai atas untuk mengambil uang miliknya yang berada di laci kamar. Alula memang selalu menyimpan uang tunai di laci kamarnya sebelum ia menikah. Setelah mengambil uang miliknya, Alula mencoba turun dan pergi keluar untuk membeli makanan.


Alula begitu kaget ketika membuka pintu, ia melihat suaminya sudah ada disana.


"Ayo kita pulang!" Kai langsung menarik tangan Alula menuju mobilnya.


"Aku tidak mau," pekik Alula. Alula berontak saat Kai akan memasukan tubuhnya ke dalam mobil.


Sebelum Kai berhasil memasukan tubuh Alula ke dalam mobilnya, tubuh Alula terhuyung dan ia jatuh tak sadarkan diri.


"Alula? Bangunlah!" Kai menepuk pipi istrinya pelan, lalu ia segera mengangkat tubuh Alula ke dalam mobil miliknya.


****


"Bagaimana keadaannya, Dok?" Tanya Kai kepada dokter Thomas.


"Istri tuan sekarang mengalami dehidrasi berat dan tubuhnya kelelahan," ucap dokter Thomas yang baru saja memeriksa tubuh Alula.


Setelah Alula pingsan tadi, Kai langsung menelfon dokter pribadi keluarganya dan memutuskan untuk membawa Alula kembali ke rumah.


"Tuan, jangan khawatir! tadi saya sudah memberikan Nona satu kantong cairan infus kristaloid. Dia hanya perlu istirahat sekarang, esok hari keadaannya akan membaik," papar dokter Thomas sembari membenarkan kaca mata yang bertengger di matanya.


"Baiklah, Dok. Terimakasih sudah datang kesini," timpal Kai.


"Sama-sama, tuan. Ini memang sudah menjadi pekerjaan saya. Kalau begitu saya pamit untuk pulang," dokter Thomas mengambil tas kerja miliknya.


Kaivan mengantarkan dokter Thomas sampai ke halaman depan. Setelah mobil dokter senior itu menghilang dari pandangannya, ia segera naik ke atas kamar.


Langit sudah berubah berwarna semburat kemerahan yang menandakan malam akan segera datang.


Kai mengganti bajunya dengan baju piyama, lalu ia terduduk di samping Alula yang kini tengah terbaring. Kai mengambil telapak tangan gadis itu dan memperhatikan luka lecet di tangannya yang hampir mengering. Tangannya bergerak menyentuh pipi istrinya. Kai mengingat saat ia tidak sengaja memukul pipi Alula.


"Aku rasa, aku memang sudah keterlaluan," Kai memejamkan matanya dan membuang nafasnya berat.

__ADS_1


Dengan hati-hati, ia merebahkan tubuhnya di samping Alula. Entah angin apa yang mendorong Kai untuk melingkarkan tangannya di tubuh Alula. Kini, ia mendekap tubuh Alula dengan erat dan mencoba untuk memejamkan kedua kelopak matanya.


Dear para readers : Tolong tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment dan vote untuk mendukung author. Terima kasih šŸ¤—šŸ¤—


__ADS_2