
Cleon dan Chelsea baru saja melakukan pemotretan untuk katalog pernikahan butik milik Chelsea.
"Cleon, terima kasih! Aku sangat terbantu," ucap Chelsea yang sekarang sudah mengganti bajunya.
"Sama-sama. Tadi kau terlihat sangat cantik," puji Cleon kepada kekasihnya.
Chelsea mengamati foto mereka tadi satu persatu.
"Aku sungguh berharap bisa menikah dengan Cleon," harap Chelsea dalam hatinya.
"Cleon?"
"Iya?" Cleon menyeruput es lemon yang dibuatkan oleh pegawai Chelsea.
"Apakah kau serius padaku?" Chelsea bertanya dengan hati-hati.
"Tentu saja. Mengapa kau bertanya seperti itu?" Tanya Cleon penasaran.
"Tidak. Aku hanya bertanya saja."
"Aku akan menikahimu, tetapi apabila kak Henry sudah menikah. Dia kakakku, tidak mungkin aku melewatinya," Cleon memegang tangan Chelsea. Hati Chelsea pun menghangat karena ucapan kekasihnya.
*****
"Ma, u-untuk apa kita mencari gaun pengantin?" Henry bertanya dengan terbata.
"Alice, sebaiknya kita bawa anak-anak kita pulang terlebih dahulu agar mereka tidak kaget," Kate berbisik di telinga Alice.
"Kau benar."
"Ah, tidak. Kita pulang saja," jawab Alice yang membuat Beverly dan Henry langsung bernafas lega.
Beberapa menit kemudian, mobil Henry sampai di rumahnya. Mereka segera masuk ke dalam rumah. Saat masuk, Henry kaget melihat ayahnya dan ayah Beverly sudah berada di dalam rumah.
"Pa, ada apa?" Tanya Henry yang sudah mempunyai firasat buruk.
__ADS_1
"Duduklah terlebih dahulu!" Pinta ayah Beverly yang bernama Ben.
Beverly dan Henry pun segera mendudukan dirinya. Begitu pun dengan Alice dan juga Kate.
"Mari kita bahas persiapan pernikahanmu!" Ucap ayah Henry yang bernama Ron. Mata Beverly dan Henry pun membulat secara sempurna mendengar penuturan dari Ron.
"Pe-pernikahan apa?" Henry bertanya dengan terbata.
"Ya, pernikahanmu dan Beverly," jawab Alice cepat.
"Ma, apa maksud mama?" Henry berkata dengan gusar.
"Kau ini seorang pria! Kau harus mempertanggung jawabkan yang kau lakukan!" Ujar Ron dengan tegas kepada putra sulungnya.
"Mempertanggung jawabkan apa? Bahkan Henry tidak melakukan apa pun."
"Kau sudah mengajak Beverly bermalam bersama di kamar yang sama dan kau sudah tidur dengannya. Ayolah! Kau tahu bagaimana papa mendidikmu."
"Tetapi aku dan Bev tidak melakukan apa pun. Iya kan, Bev?" Henry mencari dukungan dari Beverly.
"Sudahlah, sayang. Kau ini kenapa? Biarkan Henry menikahimu," Kate berkata dengan tegas.
"Pokoknya kalian harus menikah. Pernikahan kalian akan diadakan 3 minggu lagi," Ron memberikan keputusan yang final dan tidak bisa diganggu gugat.
"Tapi, pa-"
"Diamlah sebelum papa benar-benar marah," Ron memandang anaknya dengan tajam. Henry hanya menelan ludahnya saat melihat wajah tak ramah ayahnya.
"Bersiaplah! Besok adalah hari prewedding kalian! Pernikahan akan diadakan dengan meriah. Kami akan mengundang semua relasi, dan kalian pun harus mengundang semua teman kalian!" Ucap Alice kepada Henry dan Beverly.
****
Henry mengajak Beverly masuk ke dalam mobilnya untuk berbicara. Mereka berangkat menuju taman yang ada di dekat area perumahan yang mereka tinggali.
"Bagaimana ini, Bev? Kita akan di nikahkan," Henry berkata dengan frustasi.
__ADS_1
"Ini semua salahmu. Mengapa waktu itu kau merebut ponselku dan memberi tahukan mama jika kita sedang menginap bersama," lanjutnya.
"Hey, mengapa kau jadi menyalahkanku? Aku pun tidak tahu akhirnya begini," Beverly merasa tidak terima.
"Lalu, bagaimana ini? Aku tidak mau menikah denganmu."
"Aku juga tidak mau menikah denganmu," Beverly menatap tajam pria yang ada di hadapannya.
"Bev, bagaimana jika kita kabur?" Henry memberikan ide.
"Kabur bagaimana?"
"Iya, kita menghindari pernikahan ini."
"Lalu, jika kita kabur. Kita akan pergi ke mana dan bagaimana kehidupan kita?"
"Ya, kita pergi ke tempat di mana orang tua kita tidak bisa menemukan dan menikahkan kita. Aku akan menghidupimu," ucap Henry kembali.
"Maksudmu kau mengajakku hidup bersama saat kita kabur? Kau ini benar-benar bodoh! Ya, mending kita menikah secara sah saja, jika akhirnya kita harus hidup bersama."
"Oh iya ya," Henry menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sudahlah, tidak apa-apa kita menikah saja. Bukankah kita bisa belajar saling mencintai?" Beverly menatap Henry dengan serius.
"Kau yakin ingin menikah dan hidup denganku?"
"Ya, aku tidak ingin, tetapi bagaimana lagi. Orang tuaku tidak akan bisa di tentang."
Henry pun tampak berpikir lama.
"Beverly benar, kita bisa saling belajar untuk jatuh cinta jika sudah menikah. Lagi pula, apa yang sekarang aku harapkan? Bahkan Vienna tidak sebaik yang aku kira. Umurku pun sudah cukup matang untuk menikah."
"Baiklah, aku akan menikahimu."
Note : Jangan lupa untuk mampir ke novel author yang satu lagi ya. Update setiap hari š¤
__ADS_1
Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih š¤