
Alula sedang berjalan menuju ruang rapat. Ini pertama kalinya, ia akan rapat dengan para dosen lainnya. Saat Alula akan masuk ke ruang rapat, langkah Alula langsung terhenti ketika ia mendengar percakapan dari dua orang dosen yang sudah mendudukan dirinya di dalam. Satu adalah dosen pria dan satu lagi adalah dosen wanita.
"Oh, yang namanya Alula Claire itu?" Seru dosen pria yang ada di ruangan itu.
"Ada apa dengannya?" Lanjutnya.
"Iya, dia bisa mengajar di kampus ini karena menggunakan the power of orang dalam. Suaminya datang kesini, dan langsung datang ke rektorat. Dia menyuruh rektor untuk menerima istrinya bekerja disini," papar dosen wanita tersebut.
Alula begitu tersentak dengan apa yang ia dengar. Alula tak menyangka hal seperti ini bisa luput dari perhatiannya. Harusnya dia sudah curiga, ketika Alula hanya di tes seorang diri ketika tes wawancara dan micro teaching.
"Lalu bagaimana, Miss?" Ucap dosen pria itu.
"Iya, jadi rektor sudah menolak karena memang kuota pengajar sudah penuh. Tapi suaminya mengancam akan berhenti menjadi donatur di universitas ini. Kau kan tahu, suaminya adalah Tuan Kaivan Allen. Ia dan tuan William adalah donatur terbesar di puluhan universitas dan sekolah di kota ini," lanjut dosen wanita itu.
Alula langsung mundur kembali dan bergegas keluar dari universitas tersebut. Alula begitu tak menyangka Kai akan berbuat sejauh ini. Alula memang bukan tipe orang yang menyukai cara seperti ini, ia selalu di didik oleh kedua orang tuanya untuk selalu berkata dan berbuat jujur, termasuk dalam hal mencari pekerjaan.
Alula segera mencegat taksi untuk pulang kembali ke rumahnya. Ketika Alula sedang melamun di dalam taksi, ponselnya berbunyi sebagai tanda ada pesan ke aplikasi chattingnya yang bericon telfon hijau.
Alula membuka pesan yang dikirimkan dari nomor yang tidak ia kenali. Alula begitu terkejut melihat foto Kaivan tengah berpelukan dengan Arabella. Hatinya merasa terluka melihat kemesraan suaminya dengan wanita lain, terlebih wanita itu adalah mantan kekasihnya.
"Bahkan ini lebih sakit dari pada di jatuhkan dari ketinggian sekaligus," Alula memegangi dadanya. Ia menahan air matanya agar tidak tumpah. Alula menarik nafas dan memukul dadanya agar ia tidak menangis.
"Tuan, belok kanan ya?" Perintah Alula kepada supir taksi. Alula memutuskan untuk tidak pulang ke rumahnya atau ke rumah Kaivan. Ia tidak ingin bertemu dengan suaminya. Alula akan pergi ke rumah Chelsea sahabatnya.
Alula turun di area komplek perumahan Chelsea. Ia mampir sebentar ke apotek yang ada di komplek Chelsea untuk membeli sesuatu. Setelah dari apotek, Alula segera berjalan kembali menuju rumah Chelsea.
"Chel?" Alula mengetuk pintu rumah sahabatnya sejak SMA itu.
"Sepertinya rumah ini tidak ada orang," Alula tidak mendengar ada aktifitas di dalam rumah.
"Sepertinya Chelsea belum pulang bekerja. Aku tunggu saja," Alula terduduk di kursi yang ada di beranda rumah Chelsea.
Sudah 3 jam Alula menunggu, akhirnya orang yang ia nantikan datang. Mobil Chelsea terlihat memasuki garasi rumahnya, Chelsea segera turun dan melepas kaca mata hitamnya.
"Chel?" Alula berlari ke arah Chelsea.
"Al, kau disini?" Chelsea terkejut melihat Alula tiba-tiba ada di rumahnya.
Alula tidak menjawab pertanyaan dari Chelsea. Ia segera memeluk Chelsea dan menangis di pelukan sahabatnya.
"Kau kenapa, Al?" Chelsea sudah tahu jika Alula pasti ada masalah.
"Tenanglah!" Chelsea mengusap punggung Alula lembut.
"Maaf aku membasahi bajumu!" Alula menarik tubuhnya.
"Aku sudah terbiasa dengan prilakumu ini. Tapi ini jauh lebih baik, biasanya ingusmu akan ketinggalan di bajuku," Chelsea mengerucutkan bibirnya.
Perkataan Chelsea sukses membuat Alula tersenyum lagi.
"Ya sudah, ayo kita masuk!" Chelsea menggandeng lengan Alula ke dalam rumahnya.
"Mengapa kau tidak menelfonku jika kau kesini?" Chelsea membuka pintu rumahnya.
__ADS_1
"Aku tidak ingin mengganggu waktu kerjamu. Chel, mengapa rumahmu sepi sekali?" Tanya Alula ketika ia masuk ke dalam rumah.
"Orang tuaku sedang pergi mengunjungi nenek dan kakek di Oklahoma, Amerika Serikat," Chelsea menaruh tasnya di sofa yang ada di ruang tamu.
"Berapa lama mereka pergi?"
"Kira-kira dua minggu, Al. Memangnya kenapa?" Tanya Chelsea heran.
"Bolehkah aku menginap disini, Chel? Nanti jika kedua orang tuamu pulang, aku juga akan pulang," rajuk Alula kepada Chelsea.
"Kau sedang bertengkar dengan Kai?" Chelsea menebak.
Alula menganggukan kepalanya.
"Jadi, boleh ya Chel?" Harap Alula kembali.
"Rumah ini selalu terbuka untukmu. Mau kau menginap sebulan atau setahun pun tidak masalah untukku, tapi, bagaimana dengan Kai? Dia pasti mencarimu."
"Dia tidak akan mencariku. Dia sedang asyik bermesraan dengan kekasihnya," mata Alula menggenang.
Chelsea melihat itu, ia langsung terduduk di samping Alula dan mengelus bahunya.
"Chel!" Alula memeluk Chelsea dan menangis kembali.
"Menangislah! Karena kata Pascal air mata adalah senjata utama kaum perempuan apabila mereka dikhianati oleh senyuman," Chelsea mengusap punggung Alula.
"Aku tidak menyangka jatuh cinta akan sesakit ini," Alula terisak di pelukan Chelsea.
"Apa yang Kai lakukan padamu?"
"Mengapa kau tidak meminta penjelasan dari Kai, Al?" Chelsea memperhatikan foto itu.
"Sudah tidak perlu ada yang dijelaskan. Kai memang masih mencintai Arabella. Bahkan papanya menyuruh Kai untuk menikahi Arabella setelah bercerai denganku," Alula menyeka air mata dengan tangannya.
"Aku sudah menduga, Al. Tuan William adalah orang yang penuh dengan perhitungan. Kalau begitu, kau bisa menginap disini selama yang kau inginkan," Chelsea mengambil tisu dari meja. Kemudian, ia membantu mengeringkan mata Alula yang basah.
"Terimakasih, Chel. Kau memang sahabat terbaikku."
"Sama-sama. Kau pun sahabat terbaik ku. Dulu kau juga menampungku, saat aku kabur dari rumah," Chelsea tertawa mengingat masa SMA nya dengan Alula. Sejenak, ia mampu melupakan kesedihannya mengenai Cleon.
"Ya sudah, cepatlah naik ke kamarku! Aku pilihkan baju untukmu yang bisa kau pakai disini," Chelsea berdiri dari duduknya dan bergegas masuk ke ruangan kerjanya.
"Chel, kau tidak usah memberiku baju baru. Aku pakai baju lamamu saja," tolak Alula. Semenjak Chelsea jadi designer, jika Alula menginap pasti ia akan memberi baju baru untuk dipakai di rumahnya.
"Tidak apa-apa. Biasanya juga kau senang aku berikan baju baru," Chelsea tertawa saat ia mengingat Alula yang selalu antusias ketika diberikan baju baru ketika menginap.
"Kau memang benar-benar tahu aku ya," Alula terkekeh.
****
"Al, ini baju-" Chelsea masuk ke kamarnya. Ia membulatkan matanya ketika melihat Alula tengah memperhatikan belasan pil obat yang ada di tangannya. Chelsea langsung berlari ke arah Alula yang tengah terduduk di atas ranjang miliknya.
"Apa yang kau lakukan?" Teriak Chelsea sembari menangkis lengan Alula sehingga obat-obatan itu terjatuh dari lengannya. Chelsea langsung memegangi tubuh Alula.
__ADS_1
"Lepaskan aku, Chel! Aku harus memakan obat itu," Alula menangis kembali.
"Al, tenanglah! Kau ini kenapa? Aku seperti tidak mengenali dirimu," bentak Chelsea kepada Alula.
"Aku hanya bingung, Chel!" Alula melepaskan lengan Chelsea dari tubuhnya.
"Kau tidak sedang ingin bunuh diri kan? Itu obat apa???" Teriak Chelsea kembali. Ia begitu takut Alula melakukan sesuatu yang fatal pada tubuhnya.
"Tidak. Itu hanya pil kontras*psi. Tadi aku membeli beberapa pil sekaligus, karena aku tidak tahu mana yang ampuh," Alula terisak.
"Mengapa kau akan memakan obat itu?"
"Aku hanya kalut melihat foto Kai dan Arabella. Aku takut hamil dan Kai pergi meninggalkanku," Alula meraung.
"Tenanglah, Al!" Chelsea sangat iba melihat kekacauan sahabatnya.
"Aku takut, Chel," Alula menggenggam erat lengan Chelsea.
"Kau sudah tidur dengan Kai?" Tanya Chelsea hati-hati.
"Iya. Dua hari yang lalu Kai memaksaku untuk tidur dengannya," ringis Alula.
Mata Chelsea seketika memperhatikan leher Alula yang dipenuhi oleh tanda merah, walaupun tanda itu sudah memudar.
"Aku tidak menyangka Kai akan melakukan itu denganmu. Setahuku dia memang tidak sembarangan meniduri wanita."
"Kau tahu dari mana? Dia pasti sudah melakukannya dengan Arabella," Alula berkata dengan sesenggukan.
"Aku teman SMP, SMA nya. Tentu aku tahu. Waktu itu, aku pernah mendengar jika Kai berbicara dengan Nino dan Alden. Ia bilang cuma akan tidur dengan wanita yang akan dinikahinya," papar Chelsea menenangkan Alula.
"Itu kan saat SMP dan SMA. Kita tidak tahu bagaimana selanjutnya. Terlebih Kai tinggal di Amerika dengan Arabella saat kuliah," Alula menahan sesak di dadanya saat menyebut nama Arabella.
"Kau cemburu padanya. Kau sudah jatuh cinta dengan Kai. Iya kan?" Tanya Chelsea penuh selidik.
"Aku rasa iya. Ketika dengannya, aku mampu melupakan Cleon. Hatiku sakit saat ia terlibat kembali dengan Arabella," tandas Alula.
"Kau memang sudah jatuh cinta dengannya." Chelsea memberikan kesimpulan.
Kemudian Chelsea berjongkok dan memungut pil-pil milik Alula yang berserakan di lantai.
"Kau jangan meminum pil kontras*psi. Aku pernah mendengar itu tidak bagus untuk seseorang yang belum mempunyai anak, tetapi aku tidak mengetahui kebenarannya, aku bukan anak kesehatan," Chelsea memasukan obat itu ke dalam plastik dan berniat untuk membuangnya.
"Yang jelas kau jangan meminum obat-abatan seperti ini! Jika kau hamil, tentu itu bagus untuk hubunganmu dengan Kai kan, Al? Dengan begitu papanya akan menyetujui kalian untuk selalu bersama."
Alula terdiam dan tampak berfikir.
"Begini saja. Kau jangan sembarangan meminum obat-obatan yang kau pun tidak mengetahui efek samping, kontradiksi dan lainnya. Itu bisa berbahaya. Bagaimana jika tubuhmu alergi dengan obat-obat seperti itu? apalagi kau membelinya tidak memakai resep dokter," Chelsea berusaha menasehati Alula.
"Kau benar, Chel. Aku hanya frustasi karena foto Kai dan Arabella, sementara aku sudah tidur dengan Kai. Aku hanya kalut saja. Untung aku belum meminum obat-obat itu. Terimakasih Chel selalu mengingatkanku," Alula tersenyum dengan tulus.
"Sama-sama. Hapus tuh ingusmu!" Ujar Chelsea yang membuat Alula mencebikkan bibirnya menahan kesal.
Chelsea tertawa dan langsung keluar untuk membuang pil-pil yang Alula beli saat ia singgah ke apotek tadi.
__ADS_1
Jangan lupa untuk memberikan like, vote dan rate 5 untuk mendukung Author. Terimakasih š¤