
Kai menjatuhkan tubuh Alula kasar di sofa yang ada di ruang tengah.
"Berani-beraninya kau keluar rumah disaat pekerjaan rumahmu belum selesai!" Kai berteriak.
"Aku tadi hanya pergi untuk melamar pekerjaan, kenapa kau begitu kejam?" Alula mulai menangis.
"Melamar pekerjaan? kau fikir aku bodoh? kau pergi untuk bertemu dengan kekasihmu itu kan? Sebenarnya aku tidak peduli kau akan bertemu dengan siapa, kau boleh keluar dari rumah ini jika pekerjaan rumahmu telah selesai!" bentak Kai.
"Aku benar-benar melamar pekerjaan tadi," cairan bening semakin membasahi pipi Alula.
"Kai, kau jangan seperti ini! lihatlah pipinya memar karena pukulanmu tadi ! kau tidak kasihan padanya?" seru Alden.
"Aku tadi tidak sengaja memukulnya!" suara Kai memenuhi langit-langit rumah.
"Bagaimana bila besok aku lanjutkan pekerjaanku? hari ini kakiku sakit sekali, tadi aku berjalan kaki ke universitas yang ada di dekat Cannon Hill Park. Perutku pun belum terisi makanan sama sekali," timpal Alula sendu.
"Kenapa kau berjalan kaki kesana?" Nino mengernyitkan dahinya heran.
"Aku tidak memiliki uang sepeser pun untuk naik taksi."
"Kai kau tidak memberikan uang kepada Alula?" tanya Alden.
"Aku akan memberikannya uang, jika dia telah selesai dengan pekerjaan rumahnya," jawab Kai dingin.
"Kau tidak bisa bersikap seperti itu ! bagaimana pun kau harus menafkahi Alula, dia istrimu sekarang !" Alden meninggikan suaranya.
"Kau berani berteriak kepadaku?" Kai memelototkan matanya kepada Alden.
"Ya, kali ini kau sangat keterlaluan padanya !" bentak Alden.
Kai menarik kerah baju Alden.
"Jangan mencampuri urusan rumah tanggaku!! Kau pun sering mempermainkan banyak wanita di luar sana!!" teriak Kai geram.
"Walaupun aku sering mempermainkan banyak wanita, tetapi aku tidak pernah bersikap kasar seperti kau !!" Alden balas berteriak.
Untuk pertama kalinya Alden berani meneriaki Kaivan. Biasanya ia akan diam saat melihat kemarahan sahabatnya. Akan tetapi, Alden rasa sikap Kai saat ini sudah keterlaluan. Kai seperti tidak memiliki hati dan empati. Bahkan Kai bersikap biasa saja saat melihat wajah Alula memar karena pukulannya. Ia pun masih bersikap datar saat tahu jika Alula belum makan dan sudah berjalan kaki ke tempat yang jauh.
"Sudah, kenapa kalian jadi bertengkar?" Nino menengahi dan melepaskan tangan Kai yang tengah mencengkram kerah kemeja Alden.
__ADS_1
Kai masih memandang geram Alden yang ia rasa sudah mencampuri ranah pribadinya terlalu dalam.
"Sudah Kai !!" Alula berdiri dan menjauhkan tubuh Kai dari Alden.
"Minggirlah !!" Kai menabrak bahu Alula dengan bahunya, lalu ia segera naik ke lantai atas menuju kamar.
"Biar ku ambilkan es batu, kau duduklah !" ucap Alden. Lalu ia berjalan ke arah dapur untuk mengambil es batu di dalam kulkas.
"Aw, perih sekali !" pekik Alula saat Alden menempelkan es batu pada sudut bibirnya yang berdarah.
"Kasian sekali gadis ini, walaupun dulu aku selalu ikut membullynya, tetapi aku tidak tega Kai memperlakukannya seperti ini," batin Alden dalam hatinya.
"Kenapa tadi kalian bisa bersama Kai?" tanya Alula saat Alden sedang mengompres bibirnya.
"Tadi kita sengaja menemuinya untuk membahas masalah bisnis," timpal Nino yang ikut mendudukan dirinya di sofa.
"Oh," Alula mengangguk-nganggukan kepalanya.
Tahun ini Nino dan Alden memang memutuskan untuk terjun mengelola perusahaan keluarganya. Selama ini mereka hanya menghambur hamburkan uang orang tuanya untuk berpesta dan mengencani gadis-gadis. Maka, di tahun ini mereka dipaksa oleh kedua orang tuanya untuk mengelola perusahaan milik keluarga.
"Ya sudah, kami pulang dulu. Tolong sampaikan kepada Kai kami pulang," ucap Nino setelah ia melihat Alden beres mengompres luka di bibir Alula.
Nino dan Alden pun pamit dari rumah Kai. Setelah Nino dan Alden pulang, Alula begitu bingung hendak melakukan apa. Dia pun memutuskan untuk kembali meneruskan pekerjaannya yang tertunda, yaitu membersihkan halaman rumah belakang.
Alula segera melepaskan mantel yang membalut tubuhnya, kemudian dengan hati-hati ia menyapu daun-daun kering yang berserakan di atas rumput. Setelah 2 jam, akhirnya halaman belakang rumahnya bersih dari daun-daun itu.
"Aku lelah sekali," Alula terduduk lalu menyelonjorkan kakinya di atas rumput. Tubuhnya menyender kepada dinding rumah.
"Ma, Pa, Alula rindu kalian," air mata mulai menetes di kedua sudut matanya.
"Kenapa hidup Alula jadi seperti ini?" Alula berbicara kepada dirinya sendiri dan menatap kedua tangannya yang lecet.
Sebelum menikah, Alula memang tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah, karena di rumah kedua orang tuanya ada bi Daisy yang selalu menghandle semua pekerjaan rumah.
"Aku lapar sekali," Alula mengelus perutnya yang datar.
"Tapi aku tidak suka makan telur, dari kemarin aku hanya makan roti," Alula masih berbicara dengan dirinya sendiri. Alula pun tertidur di halaman belakang.
"Kemana gadis bodoh itu?" decak Kai kesal karena Alula tak kunjung naik ke dalam kamar.
__ADS_1
Ia pun turun ke bawah hendak melihat apa yang sedang Alula kerjakan. Kai mencari Alula ke setiap sudut ruangan yang ada di lantai 1.
"Jangan-jangan dia kabur dari rumah ini," Kai menautkan alisnya geram.
Kemudian Kai memeriksa halaman belakang. Ia melihat Alula sedang tertidur dengan menyenderkan tubuhnya di dinding. Ia juga melihat halaman belakang rumahnya sudah bersih dari daun-daun yang berguguran.
Kai lalu berjongkok, tangannya menyentuh tangan-tangan Alula yang lecet. Kemudian tangannya bergerak menyentuh sudut bibir Alula yang terlihat memar karena pukulannya tadi.
"Maafkan aku! aku tadi tak bermaksud memukulmu," ucap Kai lirih.
Kemudian, Kai mengangkat tubuh Alula ke dalam kamar. Lalu ia merebahkan tubuh gadis itu di atas kasurnya.
"Apa aku sudah keterlaluan padanya?" Kai mengusap wajahnya kasar.
"Ah, tidak ! Aku tidak keterlaluan, dia seorang istri dan memang harus mengerjakan pekerjaan rumah. Baiklah, malam ini aku berbaik hati padamu ! kau boleh tidur di kasurku," ucap Kai kepada Alula yang sedang tidur.
Kaivan mematikan lampu kamar, lalu ia segera merebahkan tubuhnya di samping tubuh istrinya. Kai merebahkan diri di ujung kasur dan menyimpan guling di tengah tengah agar tubuhnya dan tubuh Alula tidak berdekatan.Tubuhnya pun terlihat membelakangi Alula. Kai berusaha memejamkan matanya, tak lama kemudian dia pun ikut tertidur.
******
"Kenapa aku bisa ada disini?" tanya Alula saat ia terbangun dari tidurnya. Matanya menyapu ke seluruh ruangan, dan ia begitu terkesiap saat melihat Kai yang tengah tertidur di sisinya. Wajah Kai saat ini tengah menghadap kepadanya.
Alula pun berteriak kaget.
"Hey, gadis bodoh ! kenapa kau mengganggu tidurku !!" suara Kai terdengar serak-serak basah.
"Kenapa aku ada disini?" Alula bertanya dengan nada yang sangat panik.
"Semalam kau berjalan ke kamar ini, dan menidurkan tubuhmu di sisiku," Kai mendudukan dirinya. Ia berbohong, karena ia begitu gengsi jika Alula mengetahui bahwa dirinya yang mengangkat tubuh gadis itu saat tertidur.
Alula terlihat mengingat-ngingat kejadian semalam, yang Alula ingat adalah saat ia membersihkan daun-daun di halaman belakang rumah, lalu ia duduk dan tertidur.
Alula segera berdiri dan meraba-raba baju dan celana yang masih lengkap menempel pada tubuhnya.
"Kenapa? kau takut aku menyentuhmu?" Kai menarik satu sudut bibirnya keatas.
"Semalam kau memang berjalan dan masuk ke dalam kamar ini. Aku mengizinkanmu tidur di kasurku, karena kau sudah bekerja keras semalam," Kai berdiri dan hendak pergi ke kamar mandi.
"Satu lagi, aku tidak akan menyentuh tubuh kotormu itu ! tubuhmu sama sekali tidak membuatku bergairah," Kai tersenyum sinis lalu ia masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamarnya.
__ADS_1
Dear para readers : Tolong tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment dan vote untuk mendukung author. Terima kasih š¤š¤