
"Siapa yang berani mengambil fotoku dan Emily lalu menyebarkannya di internet?" Kai berbicara sendiri di dalam mobilnya. Kai saat ini sedang dalam perjalanan pulang menuju rumahnya. Salju sudah mulai turun di hari ini yang menandakan musim gugur telah digantikan dengan musim dingin.
Saat Kai tengah fokus menyetir, ia melihat istrinya yang sedang berjalan kaki menyesuri jalan.
"Alula? Sedang apa dia disini?" Kai memperhatikan Alula yang tengah memegang sebuah map. Kai dengan sigap langsung menghentikan mobilnya di depan Alula.
"Kai? Kau sudah pulang?" Tanya Alula saat ia melihat Kai turun dari dalam mobil.
"Iya, kau sedang apa di sini?"
"Aku baru saja melamar pekerjaan, tetapi katanya lowongan itu sudah terisi oleh orang lain," Alula menghembuskan nafasnya pelan.
"Masuklah! Sepertinya kau kedinginan," ujar Kai saat ia melihat uap yang keluar saat Alula berbicara. Memang gadis itu sedang kedinginan karena salju sudah mulai turun hari ini.
"Sepertinya aku harus membantu gadis bodoh ini mendapatkan pekerjaan. Melihat dia berjalan gontai seperti tadi entah mengapa hatiku terasa tidak tega," gumam Kai dalam hatinya.
Alula pun masuk ke dalam mobil milik suaminya.
"Kau melihat berita itu?" Kai melirik Alula yang tengah terduduk di sampingnya.
"Iya. Aku penasaran siapa yang memviralkan fotomu dan Emily."
"Aku tidak tahu. Aku akan mencari tahunya nanti," jawab Kai tegas.
"Apakah kedua orang tuamu menghubungimu karena berita itu?" Kai tampak khawatir mertuanya melihat berita itu dan berfikir buruk mengenai dirinya.
"Iya, tadi mereka menelfonku. Mereka menyuruhku untuk pulang ke rumah. Tetapi, kemudian berita baru muncul yang mengklarifikasi tuduhan kau dan Emily berselingkuh. Jadi, kedua orang tuaku tidak khawatir lagi dan tidak jadi menyuruhku pulang," timpal Alula.
"Itu tidak boleh terjadi," Kai menggelengkan kepalanya. Ia membayangkan Alula pulang ke rumah kedua orang tuanya dan tidak kembali ke rumah mereka.
"Kau kenapa?" Alula heran melihat Kai menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak," jawab Kai cepat.
"Kai, kita akan ke mana?" Alula merasa heran karena Kai tidak membelokan mobilnya ke arah perumahan Boston Villages.
"Kita akan membuat visa dan paspor untukmu. Kau belum pernah keluar negeri bukan?"
__ADS_1
"Untuk apa membuatkan ku paspor dan visa? Iya, aku belum pernah keluar negeri. Memangnya kenapa?" Tanya Alula heran.
"Kita akan berbulan madu."
"Apaaaaa? Bulan madu?" Alula berteriak mendengar ucapan Kai.
"Kau tidak salah ingin bulan madu denganku? Kau tidak sedang merencanakan sesuatu kan?" Alula refleks menutupi tubuhnya dengan lengan miliknya.
Kai tersenyum melihat tingkah Alula. Entah mengapa itu sangat menggemaskan baginya.
"Kau jangan percaya diri! Aku mengajakmu honeymoon karena aku kasian padamu yang belum pernah pergi ke luar negeri," papar Kai sembari masih fokus menyetir.
"Benar? Tidak ada tujuan lain?" Tanya Alula ragu.
"Tentu saja."
"Yeeeaaayy, aku akan pergi ke luar negeri!!" Alula berteriak kegirangan di dalam mobilnya.
Kai hanya tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap Alula.
"Kai, kita akan pergi kemana?" Tanya Alula antusias.
"Aku ingin pergi ke Switzerland (Swiss) Kai," sahut Alula.
"Baiklah, kita pergi ke sana."
"Kai, nanti kita naik pesawat komersil ke sana?" tanya Alula kembali.
"Iya, memangnya kau pikir kita mau naik apa? naik sepeda?"
"Ayahmu kan pasti punya jet pribadi, mengapa tidak naik itu saja? Biar seperti di novel-novel itu lho Kai, kemana mana naik jet pribadi."
"Kau ini kebanyakan baca novel. Walau daddy punya jet pribadi, tetapi aku tidak bisa memakainya sembarangan. Itu hanya dipakai untuk acara penting. Lagi pula naik jet pribadi pun membutuhkan visa dan juga paspor," papar Kai.
"Tapi kan aku tidak membawa dokumen Kai, memang bisa kita membuat paspor?"
"Tenang saja. Aku sudah menyuruh supir di rumah daddy untuk mengambilnya di rumahmu dan mengantarnya ke kantor imigrasi. Nanti kita bertemu disana."
__ADS_1
"Baiklah," Alula tersenyum.
"Kai pasti mengajak ku berbulan madu untuk memperlihatkan kepada publik bahwa hubungannya denganku baik-baik saja. Walau pun begitu, aku senang karena aku ingin sekali pergi ke Switzerland. Cleon, maafkan aku! Lagi pula aku menganggap ini hanya liburan biasa," batin Alula dalam hatinya.
Alula dan Kai pun sampai di tempat imigrasi. Di halaman kantor imigrasi sudah ada supir ayahnya untuk mengantarkan dokumen-dokumen yang diperlukan Alula untuk membuat paspor.
Kai memilih untuk membuatkan Alula e-paspor atau paspor elektronik. Ia lebih memilih e-paspor ketimbang membuatkan Alula paspor reguler, karena e-paspor lebih aman dan tidak mudah dipalsukan.
Alula pun menyerahkan dokumen-dokumen kepada petugas imigrasi. Lalu, wajahnya di foto dan sidik jarinya pun di rekam untuk data biometrik e-paspor.
Setelah selesai membuat paspor, Alula dan Kai segera pulang ke rumah. Kai segera mendaftarkan Alula untuk membuat visa secara online di situs kedutaan besar negaranya. Kai pun memberi tahu kedua orang tuanya bahwa ia akan berbulan madu. Kai meminta kepada William agar ia dapat menghandle sementara perusahaan miliknya selama Kai berbulan madu. Sofia begitu girang mendengar Kai dan Alula akan berbulan madu. Ia ingin segera mempunyai cucu dari anak tunggalnya tersebut. Sofia merasa jika Kai sudah menerima kehadiran Alula d sisinya sebagai seorang istri.
****
7 hari kemudian
Alula dan Kai tengah berada di bandar udara internasional Birmingham yang terletak di timur tenggara kota Birmingham. Alula dan Kai akan berbulan madu selama lima hari di negara yang mempunyai julukan Land of Milk and Honey itu. Saat ini, mereka tengah menunggu pesawat yang akan membawa mereka menuju bandar udara Internasional Zurich, Switzerland. Setelah mereka melakukan check in, Alula dan Kai langsung berjalan ke arah Priority Lounge karena mereka akan duduk di kelas utama pesawat.
"Kai, aku deg-degan," Alula menggenggam tangan Kai saat ia mendudukan dirinya di dalam pesawat. Ini adalah pertama baginya naik pesawat ke luar negeri. Mereka duduk di kelas satu (first class) dengan layanan yang mewah juga suite pribadi yang luas.
Kai menatap lengannya yang tengah di genggam erat oleh Alula.
"Kai, tolong fotokan aku!" Alula mengambil ponsel di dalam tas kecilnya lalu ia menyerahkannya kepada Kai.
"Fotokan aku di sini!" Alula berfose di dekat jendela pesawat.
"Kau kampungan sekali," Kai tersenyum dan segera memotret Alula yang tengah berfose dua jari.
"Sudah," Kai memberikan ponsel itu kembali kepada Alula.
"Kai, kenapa hasil fotomu jelek sekali?" Alula mengerucutkan bibirnya melihat hasil foto suaminya.
"Ya, aku kan jarang memotret orang lain bahkan tidak pernah," jawab Kai.
Perjalanan dari kota Birmingham, Inggris ke kota Zurich, Swiss memakan waktu 3 jam, 40 menit dengan satu kali transit. Alula terlihat memperhatikan pemandangan dari dalam pesawat, lalu ia menonton televisi di sofa empuknya. Selimut melingkar di tubuh Alula karena cuaca sangat dingin. Salju pun sudah turun dengan lebat.
Setelah bosan menonton tv, Alula pun mencoba untuk tertidur karena perjalanan masih panjang. Kai menatap Alula yang sudah tertidur di sampingnya. Ia pun ikut merebahkan diri di kursi miliknya. Lengannya pun bergerak untuk mengusap lembut pipi gadis bermata hazel itu.
__ADS_1
"Kurasa aku sudah jatuh cinta padamu. Apakah saat ini aku tengah mendapat karma karena perbuatanku di masa lalu yang selalu memperlakukanmu begitu buruk?" Kai masih mengusap pipi Alula dan menikmati wajah istrinya yang tengah terlelap.
Dear para readers : Tolong tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment dan vote untuk mendukung author. Terima kasih š¤š¤