
Hujan turun dengan deras pagi ini, angin bertiup sangat kencang. Di musim gugur perubahan cuaca sangat sering terjadi. Bisa jadi hari ini hangat, lalu besoknya temperatur dan suhu udara terasa dingin sampai menembus tulang.
"Kau tidak pergi bekerja?" Tanya Alula saat Kai keluar dari kamar mandi dan merebahkan dirinya kembali di atas tempat tidur.
"Tidak, hari ini aku meliburkan diri," jawab Kai.
"Oh," Alula membulatkan bibirnya.
Kaivan mengamati Alula yang sedang merapikan baju miliknya yang ia cuci kemarin.
"Hujan hari ini sangat deras, aku khawatir atap rumah akan bocor," Kai mendudukan dirinya di atas kasur.
"Kau yang benar saja, mana mungkin rumah semewah ini atapnya bocor," Alula melihat langit-langit kamarnya.
"Bisa saja, coba kau naik dan periksa atap rumah ini!!" Suruh Kai kepada Alula.
Alula menghentikan aktifitasnya yang tengah melipat baju-baju milik suaminya.
"Kau ingin mengerjaiku?" Alula menghunuskan tatapan tajam.
"Aku hanya takut rumah ini bocor, siapa yang mengerjaimu?" Kai berbicara dengan nada yang tinggi.
"Kenapa tidak kau saja yang naik ke atas?" Tanya Alula dengan wajah yang masam.
"Kau kan seorang istri, jadi kau yang harus membereskan semua pekerjaan rumah!!"
"Aku istrimu, bukan asisten rumah tanggamu!" Alula melempar baju yang tengah ia lipat ke wajah suaminya.
__ADS_1
"Hey, mengapa kau melemparkan baju ini ke wajahku?" Kai turun dari kasurnya dan melempar baju itu ke lantai.
Alula mencoba menahan amarahnya. Ia hendak berlalu dari kamar itu. Tetapi, dengan cepat tangan Kai mencengkram kedua lengannya.
"Aku bilang naik ke atas atap!!" Suara Kai memenuhi langit-langit kamar.
"Di luar hujan, aku juga takut ketinggian. Mengapa bisa-bisanya kau menyuruhku untuk naik ke atas?" Alula balas berteriak.
"Aku akan memaksamu untuk naik, Ayo !!" Kaivan menarik tangan Alula keluar dari kamarnya.
"Hentikan !!" Alula melepaskan paksa cengkraman tangan suaminya.
"Aku bilang hentikan! Aku sudah tidak kuat lagi," air mata merembes dari kedua manik matanya.
"Aku tidak bisa lagi hidup bersamamu, jika kau memperlakukanku seperti ini!" Alula mendorong bahu kekar yang ada di hadapannya.
"Kau mau ke mana? Tidak semudah itu kau bisa lepas dariku !!" umpat Kai geram seraya tangannya memegang kedua tangan Alula. Kini tubuh mereka berdua basah karena berada di bawah guyuran air hujan.
"Lepaskan aku! Aku ingin pergi dari sini," Alula mencoba untuk melepaskan tangan Kai yang tengah mencengkram tangannya dengan erat.
Kai menarik tubuh Alula dan menyenderkan tubuh gadis itu di pintu mobil yang tertutup dan terparkir di halaman rumahnya. Ia mengapit tubuh kecil Alula dengan tubuhnya.
"Lepaskan aku! Biarkan aku pergi dari sini!" Alula memukul dada Kai berharap laki-laki itu melepaskannya.
"Masuk ke dalam rumah!!!" Suara Kai menggelegar bersamaan dengan suara petir yang menyambar.
"Aku tidak mau!!" Alula menangis histeris. Air matanya menyatu dengan air hujan yang kini membasahi tubuhnya.
__ADS_1
"Aku bilang masuk!! Jangan sampai aku bersikap kasar kepadamu!!" Kai berteriak di depan wajah Alula. Teriakannya seakan merusak gendang telinga wanita itu.
"Aku tidak mau, aku ingin bercerai darimu sekarang!" Alula masih berusaha untuk keluar dari kungkungan tubuh suaminya.
"Bercerai? Kita belum tujuh bulan menikah, jangan harap aku akan menceraikanmu!!!" hardiknya.
Alula kemudian menginjak kaki Kaivan dengan keras hingga laki-laki itu mengerang kesakitan. Alula menggunakan kesempatan itu untuk kabur. Alula berlari dengan sekuat tenaga keluar dari halaman rumah yang megah itu.
"Kau jangan lari dariku !!" Kai mengatasi rasa sakit di kakinya kemudian dia berlari mengejar Alula.
Alula bersembunyi di balik pohon yang besar agar Kai tidak menemukan dan menyeretnya ke rumah itu lagi.
"Ke mana dia?" Erang Kai saat matanya menyapu jalanan dan tidak menemukan tubuh istrinya.
Alula mengintip dari balik pohon besar dan melihat Kai yang tengah kebingungan mencarinya. Tak lama kemudian, Kai masuk ke halaman rumahnya dan keluar kembali dengan mengendarai mobil miliknya.
Setelah di rasa aman, Alula segera berlari menyusuri jalan untuk sampai ke rumah orang tuanya. Alula menggigil kedinginan karena angin begitu kencang menerpa tubuhnya, di tambah dengan guyuran air hujan yang deras. Setelah 20 menit berjalan cepat, Alula sampai ke rumah orang tuanya dengan baju yang basah kuyup.
Alula membuka rumahnya dengan kunci yang ia ambil dari bawah keset pintu masuk. Ia beruntung, karena Halbert dan Ainsley belum pulang mengajar sehingga mereka tidak melihat keadaan Alula yang menyedihkan.
Alula segera masuk ke dalam rumah dan bergegas ke kamarnya, setelah itu ia mengganti pakaiannya.
"Aku lapar sekali," Alula meraba perutnya lalu turun ke dapur untuk mencari makanan.
"Kepalaku pusing sekali," Alula memegang kepalanya yang terasa berputar-putar.
Tubuhnya terhuyung kemudian ambruk di atas lantai, tetapi hal itu tidak membuatnya hilang kesadaran. Alula mencoba bangkit dengan berpegangan ke tepi-tepi lemari kaca yang ada di dapur.
__ADS_1
Dear para readers : Tolong tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment dan vote untuk mendukung author. Terima kasih š¤š¤