
Setelah Beverly keluar dari dalam ruangan nya, Kai langsung meraih ponselnya yang berada di atas meja.
"Hallo, Daddy?" Sapa Kai saat sambungan telfonnya terhubung dengan ayahnya yang bernama William Allen.
"Ya, Nak?" Timpal William di sebrang telfon.
"Dad, kenapa daddy memperkerjakan gadis itu? maksudku Beverly sebagai manager keuangan di perusahaan Kai?" Kai berdecak kesal.
"Ya, karena daddy pikir dia sangat berkompeten apalagi dia adalah seorang lulusan dari universitas ternama di AS, jadi dia bisa menghandle keuangan perusahaanmu dengan sangat baik nak," William mengemukakan alasannya mengapa ia mengangkat Beverly sebagai manager keuangan.
"Come on dad! Gara gara daddy menaikan jabatannya jadi manager keuangan, Kai harus sering bertemu dengannya setiap pelaporan keuangan dan kas perusahaan, dan itu dilakukan setiap minggu sekali!" Kai memijit keningnya.
"Memang apa salahnya, Kai? Beverly adalah seorang gadis yang cerdas, Daddy yakin dia bisa bekerja dengan baik," jelas William.
"Baiklah, Dad. jika itu keputusan Daddy," Kai menghela nafasnya kasar. Kai mengalah karena dia tahu watak ayahnya sangat keras kepala dan tidak akan merubah keputusan yang telah ia buat.
"Kai?" Panggil William
"Yes, Dad?"
"Kapan kau akan menikahi Arabella?" Tanya William.
Kai tampak terkejut akan pertanyaan dari ayahnya.
"Kai tidak tahu, Dad ! Kai masih sangat muda dan belum berencana untuk menikah," tutur Kai.
"Tahun depan usiamu 25 tahun, Nak. Kau bisa segera menikah dengan Arabella!" Rayu William.
"Bahkan Kai tidak berniat serius menjalin hubungan dengannya, Dad. Kai masih ingin bersenang senang dan menghabiskan masa muda," Kai merasa kesal akan topik pembicaraan yang ayahnya bicarakan.
"Dengar Kai! Ayah Arabella adalah seorang pemilik perusahaan kontraktor terbesar di Eropa Barat. Jika kau menikah dengannya, kau akan sangat di untungkan untuk memajukan bisnis property milikmu di bidang real estate," William berusaha membujuk anaknya.
__ADS_1
"Sudah Kai duga. Pasti berhubungan dengan perusahaan," Kai tampak kesal dengan ayahnya.
"Kai akan membuat perusahaan ini semakin besar dengan jerih payah Kai sendiri, Dad. Kai tidak butuh bantuan dari orang lain,"
"Lebih baik kau pikirkan matang matang usul dari Daddy! Kita harus bisa berpikir logis dan juga memanfaatkan peluang yang ada," timpal William.
"Sudahlah, Dad. Kai akhiri dulu pembicaraan kita kali ini, sebentar lagi Kai akan meeting dengan clien," Kai menutup pembicaraan dengan ayahnya itu.
"Baiklah. Nak. Bekerja keraslah hari ini! Dapatkan hati clien itu agar dia mau berkerja sama dengan perusahaanmu," tutup William. Tak lama Kai pun menekan icon tanda merah untuk mengakhiri panggilan telfon dengan ayahnya.
****
Kai memasuki ruang meeting yang diadakan siang ini. Tampak Rachel berada di sampingnya untuk membantu persentasi atasannya itu.
"Jadi anda anak dari tuan Peter?" Kai tersenyum ramah kepada seorang laki laki yang sudah terduduk di dalam ruang meeting.
"Ya, saya adalah anak dari tuan Peter," ucap Pemuda itu seraya berdiri dari duduknya.
"Saya Kaivan Allen," Kai mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan calon cliennya itu.
Mereka pun mendudukan dirinya di kursi masing masing. Meeting berjalan dengan sangat baik dan hangat. Mereka membahas mengenai pembangunan real estate kelas atas yang akan di bangun di kota Birmingham tapi tiba tiba suasana hangat itu pun berubah saat Alfin mengemukakan sebuah idenya.
"Tuan Kai bagaimana bila kita mendirikan bangunan real estate di ruang hijau terbesar yang ada di kota ini?" Alfin memberikan ide yang bertentangan dengan pemikiran Kai.
"Aku rasa kita tidak bisa membangun sebuah komplek perumahan disana, itu adalah tempat hijau yang terdiri dari konservasi, hutan, taman dan juga cagar alam lokal," Kai menolak ide itu.
"Ayolah tuan Kai! Kita akan sangat diuntungkan bila membangun area real estate disana, bayangkan akan berapa banyak orang yang berminat tinggal di sana !" Alfin berusaha membujuk Kai.
"Maaf tuan Alfin, saya tidak bisa setuju dengan ide anda itu! Saya tidak ingin merusak lingkungan alam untuk pembangunan dari sebuah real esate, bayangkan oleh anda berapa banyak ekosistem dan habitat yang akan hilang bila lahan itu kita jadikan area perumahan," tolak Kai tegas.
"Ayolah, tuan! Kau tidak perlu munafik seperti itu! Di otak kita sekarang adalah bagaimana menghasilkan uang yang sangat banyak. Kau tidak perlu sok sok an membahas mengenai habitat dan yang lainnya!" Alfin menaikan sudut bibirnya ke atas.
__ADS_1
"Jika itu yang kau pikirkan, kau salah besar. Saya tidak hanya memikirkan uang tetapi memikirkan kontribusi perusahaan kita kepada orang lain dan juga lingkungan," nada suara Kai terdengar sangat berwibawa.
"Jadi kau tidak mau menerima ideku?" Alfin menajamkan tatapannya.
"Ya, tuan. Mohon maaf saya tidak bisa!" Kai masih berbicara sopan walaupun dia ingin sekali memaki orang yang ada di hadapannya ini.
"Baiklah, mari kita batalkan perjanjian ini!" Alfin merobek kertas kerja samanya di hadapan Kai.
Kai berusaha meredam emosinya yang sudah di ubun ubun ketika melihat sikap dari cliennya ini.
"Baiklah jika itu keputusan anda, saya tidak akan memaksa. Kita akhiri saja meeting hari ini," Kai masih memaksakan senyumnya dan tidak terpancing dengan provokasi yang dilakukan oleh Alfin.
"Lihatlah !! Kau akan menyesal tidak bekerja sama denganku, dan lihatlah nanti ! Aku akan melenyapkan perusahaanmu ini !" Alfin menyeringai jahat dihadapan Kai.
Kai merasa tidak bisa menahan emosinya lagi mendengar ancaman yang dilayangkan oleh Alfin kepadanya. Ia ingin segera memukul wajah dihadapannya itu.
"Tenanglah, tuan ! Jika anda terpancing, perusahaan kita yang akan di ekspos media karena berselisih dengan perusahaan tuan Peter," Rachel mencoba meredam amarah bosnya yang terkenal pemarah itu.
Kai pun sekuat tenaga menahan emosinya yang kian memuncak.
"Aku akan menunggu hari itu, tuan. Dimana kau menghancurkan perusahaanku," Kai tersenyum sartistik kepada Alfin.
Alfin dan sekretarisnya pun segera berlalu dari ruang meeting itu. Terdengar suara pintu dibanting dengan sangat keras.
Praanngggg....
Kai membanting sebuah vas bunga yang ada di meja meeting. Dia pun mengacak ngacak berkas yang ada di atas meja.
"Kurang ajar sekali dia berani mengancamku!" hardik Kai.
Rachel yang berada disampingnya merasa bingung untuk menenangkan atasannya itu.
__ADS_1
"Lihatlah Alfin ! Perusahaan siapa yang akan hancur." Kai tersenyum sinis, sementara Rachel hanya merinding melihat senyuman itu.
Dear para readers : Tolong tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment dan vote untuk mendukung author. Terima kasih š¤š¤