
"Sesudah dari cafe, bagaimana jika kita pergi ke mall?" Ajak Nino kepada Alden, Alula dan Kai.
"Untuk apa kita ke sana?" Kai menyeruput capuccino yang ada di dalam gelasnya.
"Aku di suruh mama untuk membeli tas," Nino mengelap mulutnya denan tisu.
"Tas untuk siapa?" Tanya Alden dengan heran.
"Teman sewaktu aku kecil berulang tahun. Jadi, mama menyuruhku untuk membelikannya kado."
"Oh," Alden mengangguk-nganggukan kepalanya.
"Al, nanti bantu aku ya?" Nino menyentuh tangan Alula lembut.
"Tanganmu tidak usah merayap ke mana-mana!!" Kai melepaskan tangan Nino dari tangan istrinya.
"Iya, nanti aku bantu," Alula menyetujui.
"Terima kasih," Nino tersenyum tulus.
"Tidak usah tebar pesona!" Kai berkata kembali dengan ketus.
Sementara Alula hanya tertawa melihat tingkah suaminya.
****
Alula, Kai, Nino dan Alden sudah berada di dalam mall untuk berbelanja. Saat ini mereka tengah berada di dalam toko tas.
"Al, menurutmu yang mana?" Nino meminta saran kepada Alula.
"Menurutku yang ini saja," Alula membawa sebuah handbag berwarna pink muda.
"Seleramu bagus!" Nino langsung menyukai tas yang dipilih oleh Alula. Ia mengambilnya dan segera membayarnya di meja kasir.
"Ayo kita pulang!" Ajak Nino dengan entengnya.
"Pulang? Kau tidak salah mengajak kami pulang setelah membeli barang yang kau cari?" Alden menggerutu kesal.
"Iya. Bagaimana kau ini? Kami dari tadi hanya mengekorimu?" Kai tak kalah sengitnya memarahi Nino.
"Hehe. Jadi, kalian ingin melakukan apa setelah ini?" Tanya Nino.
"Bagaimana jika kita melihat-lihat baju saja?" Alula memberikans saran.
"Kau ingin membeli baju?" Tanya Kai kepada istrinya.
"Iya. Aku belum memiliki baju khusus hamil. Setelah kehamilanku membesar, aku pasti membutuhkan baju baru."
"Ya ampun! Mengapa aku melupakannya? Maafkan aku sayang! Aku sungguh suami yang tidak peka," Kai menangkup pipi Alula dengan tangannya.
"Mulai!!" Ucap Nino dan Alden berbarengan.
"Apa yang kalian lihat?" Tanya Kai dengan ketus kepada kedua sahabatnya.
"Tidak apa-apa, karena aku pun memang lupa. Kalau begitu, ayo kita membeli baju!" Alula menarik tangan Kai. Alden dan Nino pun mengikutinya dari belakang.
Alula segera memasuki toko baju dan mulai memilih baju yang ia rasa akan cocok dan berguna untuk kehamilannya. Sedangkan Kai, Alden dan Nino terlihat mengobrol di kursi yang telah disediakan oleh toko. Saat Alula sedang mengambil baju-baju yang sudah ia pilih menuju ke kasir, tiba-tiba matanya beralih kepada 3 baju yang digantung rapi.
"Nona, saya simpan dulu ini. Saya ingin memilih baju lagi," Alula menyimpan baju yang telah ia pilih untuk dirinya sendiri.
"Baik, Nona. Silahkan anda berbelanja lagi!" Sahut pegawai toko dengan wajah yang ramah.
Alula pun segera berjalan kembali menuju baju yang ia lihat tampak sangat lucu. Alula segera mengambil 3 potong baju yang ia sukai.
__ADS_1
"Sayang?" Alula membawa 3 potong baju itu kepada Kai, Nino dan Alden.
"Iya, sayang? Sudah?" Kai berdiri dari duduknya.
"Sayang, cobalah ini!" Alula memberikan salah satu baju kepada Kai.
"Apa ini, sayang?" Kai merasa geli melihat baju yang dipegang istrinya. Baju itu adalah baju kaos yang berwarna kuning dan bergambar Spongeb*b.
"Ini baju untukmu. Aku ingin melihat kau memakainya. Dan ini untuk Alden dan Nino," Alula memberikan kaos berwarna dan bermotif senada kepada Alden dan Nino.
Nino dan Alden pun saling berpandangan.
"Sayang, a-aku tidak perlu baju baru," Kai berusaha untuk terlihat tidak menolak.
"Sayang, aku ingin melihat kau memakai ini. Kau tidak mau?" Mata Alula berkaca-kaca.
"Ah, iya. Aku mau, sayang," Kai segera menyabet baju itu dari tangan istrinya.
"Kalian, pakai juga ya? Anakku ingin melihat kalian memakai baju ini," Kai memelototi Alden dan Nino yang masih menatap geli baju itu.
"Kalian mau kan memakainya? Aku ingin melihat kalian memakai baju ini," Alula menatap sedih kepada Nino dan Alden.
"Tentu saja mau. Iya, kan?" Kai berkata dengan geram dan memberi kode dengan bibirnya.
"Tentu saja kami mau," Nino dan Alden langsung menyamber baju itu dari tangan Alula.
"Ayo, kalian pakai sekarang ya?"
"Baik, sayang."
Kai langsung membayar semua belanjaan dan langsung memakai baju yang dipilih oleh Alula ke ruang ganti, begitu pun Nino dan juga Alden.
"Nah, apa aku bilang? Kalian cocok memakai itu," Alula tertawa geli karena baju itu sangat mencolok dan juga sangat pas di tubuh Kai, Alden dan Nino.
"Kai, kau harus membayar untuk kejadian memalukan ini!" Alden merengek ketika ia harus memakai baju yang sama dengan Kai dan Nino. Terlebih baju itu bergambar Spongebob dan berwarna kuning.
"Nanti aku teraktir kalian apa yang kalian mau," Kai bergumam pelan.
"Aku memakluminya. Ini termasuk mengidam kan?" Jawab Nino dengan berbisik bisik.
"Anakmu menyebalkan, Kai!" Alden menimpali.
"Berani-beraninya kau berkata sepertu itu! Itu calon keponakan kalian," Kai menggerutukan giginya.
Alula sampai di toko topi yang ada di depannya.
"Aku ingin membeli topi," ucap Alula kepada istrinya.
"Perasaanku jadi tidak enak," Alden menimpali.
"Aku ingin ini," Alula mengambil topi Beannie berwarna biru muda untuknya.
Kai, Alden, dan Nino bernafas dengan lega karena Alula tidak mengambil topi yang aneh untuk mereka. Kai pun segera membayar apa yang di inginkan istrinya.
"Kai, aku ingin balon itu! Sepertinya lucu jika di gantung di dalam kamar kita!" Alula menunjuk balon yang di dalamnya berkelap kelip lampu.
"Belilah, sayang!"
Alula segera mengambil 5 balon dan membelinya.
"Biar Nino yang pegang agar kau bisa melihat-lihat dengan bebas," Alden memberikan ide. Nino yang mendengar langsung menyikut lengan Alden dengan sangat keras.
"Hehe," Alden tersenyum.
__ADS_1
"Oh, iya. Tolong ya Nino?" Alula segera memberikan balon itu kepada tangan Nino. Kai dan Alden menahan tawa melihat pemandangan itu.
Tak lama Alula membeli beberapa belanjaan kembali. Belanjaan itu di bawakan oleh Alden. Terakhir, Alula membeli 8 kantong permen kapas, kali ini Kai yang memegangnya.
"Sudah. Ayo kita pulang!" Alula tersenyum puas.
"Kai, aku tidak akan mendatangi mall ini selama seminggu ke depan," bisik Nino yang tengah menggenggam balon di tangannya.
****
"Al, kau sudah pulang?" William berhambur saat melihat menantunya masuk ke dalam rumah.
Mata William dan Sofia kemudian beralih kepada anaknya yang baru saja masuk ke dalam rumah. Kai tampak memegangi belanjaan istrinya dan juga permen kapas dan balon.
"Sayang, kau memakai apa?" Sofia menyentuh kaos yang dipakai oleh Kai dengan menahan tawa.
"Itu seperti baju yang Daddy belikan untukmu saat kau berusia 7 tahun," William menimpali.
"Itu Alula yang memilih. Bagus kan Dad, Mom?" Alula meminta pendapat kedua mertunya.
"Tentu saja, sayang," Sofia menahan tawanya melihat baju yang terasa sesak di tubuh Kai.
"Kai masuk dulu ya, Mom?" Kai segera masuk ke dalam kamar karena ingin ia segera mengganti bajunya.
"Al? Tunggu di sini!" William terlihat pergi ke arah dapur.
"Iya, Dad."
"Daddy mengupas dan memotong buah-buahan ini untukmu. Makanlah! Cucuku tidak boleh kekurangan nutrisi," William memberikan piring yang berisi potongan buah-buahan kepada Alula.
"Dad, terima kasih," Alula tersenyum haru dengan perhatian William kepadanya.
"Bawalah ke kamar dan segera istirahat!" Titahnya kembali.
"Baik, Dad. Alula ke kamar dulu kalau begitu."
William pun mengangguk. Alula segera masuk ke dalam kamarnya dengan membawa buah-buahan itu.
Saat masuk ke dalam kamarnya, Alula sudah melihat Kai sudah berganti baju.
"Sayang, kau tidak menungguku berganti baju?"
"Maaf, sayang! Aku lupa," Kai berbicara semanis mungkin agar tidak membangunkan emosi istrinya.
"Ayo, aku bantu kau berganti baju!" Kai langsung mengambil baju piyama istrinya.
"Ayo aku bantu menggantinya! Simpan ini dulu!" Kai mengambil piring berisi buah-buahan yang diberikan oleh ayahnya. Kai segera melepas baju yang tengah Alula kenakan dan segera memakaikan baju piyama di tubuh istrinya.
"Syukurlah moodnya sedang bagus," batin Kai setelah berhasil mengganti baju istrinya.
"Sayang, suapi aku!"
Kai segera mengambil piring berisi buah-buahan tadi dan segera menyuapi istrinya di atas kasur. Setelah habis, Kai dan Alula segera berbaring di atas kasur.
"Sayang, ceritakan aku sebuah cerita!"
"Cerita apa, sayang?" Kai menatap lembut wajah wanita yang ada di hadapannya.
"Ceritakan ada berapa mantanmu dan bagaimana kau mendekatinya!"
"Habislah aku!"
Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung novel terbaru ini. Terima kasih š¤
__ADS_1