
Kai melajukan mobilnya meninggalkan Alula seorang diri di jalanan yang sepi. Jalanan ini memang selalu sepi setiap malam hari di musim dingin, karena memang orang-orang menghindari perjalanan malam saat akan pergi ke kota Zermatt karena jalannya berkabut.
"Bisa-bisanya dia berkata cerai kepadaku. Aku sudah jatuh cinta kepadamu. Sampai mati pun aku tidak akan pernah menceraikanmu," Kai memukul setir mobil miliknya.
"Aku hanya ingin memberikanmu sedikit pelajaran," Kai melihat ke arah kaca spion yang memantulkan Alula tengah berlari mengejar mobil yang tengah dikendarai olehnya.
Setelah menjauh dari lokasi ia menurunkan Alula, Kai segera memutar kembali mobilnya untuk menjemput istrinya.
"Ke mana dia?" Kai berkata dengan panik saat ia turun dari mobil dan tidak mendapati Alula di sana.
"ALULAA??" Kai berteriak dengan sangat keras mencari keberadaan istrinya.
"Di mana kamu?" Kai berlari ke arah ilalang dan menyusuri kebun ilalang tersebut.
Kai tidak menghiraukan dinginnya udara yang menusuk dan menyiksa tubuhnya.
"Kamu di mana?" Kai berteriak sekuat tenaga sembari terus menyusuri kebun ilalang itu.
Setelah berlari cukup jauh dan masuk ke kebun ilalang, Kai tak kunjung menemukan Alula.
"Kamu di mana? Shit !! Mengapa tadi aku menurunkannya?" Kai terduduk di atas tanah yang dilapisi salju karena lelah berlari.
"Tidak, tidak. Dia akan baik-baik saja," Kai mengusir segala fikiran buruk yang terlintas di fikirannya mengenai Alula.
"Alula!!" Kai masih berteriak memanggil nama istrinya dengan sisa-sisa tenaga yang ada.
"Maafkan aku, Al," Kai meremas rambutnya. Matanya memerah, ia sangat menyesal sudah meninggalkan Alula tadi sendirian.
Kai mengambil ponselnya, dia berniat menghubungi Alula.
"Shit !! Bahkan aku tidak tahu nomor ponselnya," Kai semakin frustasi.
"Pasti tadi dia tidak membawa ponsel karena semua barangnya berada di dalam mobil. Aku harus kembali ke hotel, siapa tahu Alula kembali kesana," Kai segera bangkit dan berlari ke arah mobilnya.
Kai melajukan mobilnya kembali ke arah hotel yang di tempatinya dengan Alula sebelum mereka melakukan perjalanan ke kota Zermatt.
Kai segera turun dari mobil setelah memarkirkan mobilnya di parkiran hotel.
"Tuan, mengapa kau kembali?" Tanya Leo, supir pribadi orang tua Kai yang ditugaskan untuk menemani perjalanan Alula dan Kai.
Leo memang warga asli Switzerland, maka dari itu Sofia menugaskannya untuk menemai Kai dan Alula selama berbulan madu, karena Leo mengetahui setiap jalan yang ada di negara Switzerland. Tadinya Leo akan segera menyusul Kai ke kota Zermatt setelah menyelesaikan check out kamar hotel yang di pakai oleh Kai, Alula dan dirinya kemarin. Leo memang menginap di hotel yang sama dengan Kai untuk menjaga tuannya itu.
Kai tidak menjawab pertanyaan Leo, ia bergegas akan masuk ke dalam hotel. Kai berharap Alula ada di hotel ini.
"Tuan, seseorang sudah menunggu tuan dari tadi," ucapan Leo seketika menghentikan langkah kaki Kai yang akan segera masuk ke dalam hotel.
__ADS_1
Wajah Kai yang berantakan berubah seperti menemukan sebuah oase di padang gurun yang sangat panas. Senyuman itu kemudian merekah di wajahnya.
"Alula di sini? Dia pulang kembali ke sini?" Kai mengguncang bahu Leo dengan kuat. Tampak raut wajahnya sangat gembira.
"Bukan, ta-"
Ucapan Leo terpotong karena Kai segera berlari ke arah pintu masuk hotel. Ia sudah sangat ingin menemui Alula dan memeluknya dengan sangat erat.
Sesaat ia akan masuk, Kai melihat seorang gadis yang selalu mengisi hari-harinya selama 3 tahun belakangan. Gadis yang ia lupakan selama berada di sisi istrinya.
"Bell? Sedang apa kau di sini?" Tanya Kai saat ia melihat Arabella sedang berdiri di lobby hotel.
Arabella segera mendekati Kaivan dan memukuli dadanya.
"Kau jahat padaku!! Mengapa kau pergi berbulan madu dengan wanita itu?" Arabella memukuli dada Kai dan mulai menangis.
"Berhentilah, Bell! Orang-orang melihat ke arah kita!" Kai menyingkirkan lengan Arabella dari tangannya.
"Tuan, sebaiknya anda menyelesaikan masalah anda dan nona Bella di dalam kamar saja. Saya sudah check in kan kembali," Leo memberi saran karena banyak mata yang tertuju kepada mereka. Leo takut ada yang memotret dan menyebarkannya ke media Inggris.
Kai pun tampak mengerti dengan apa yang Leo pikirkan.
"Ini cardlock nya, tuan," Leo memberikan cardlock dan memberi tahu nomor kamarnya.
"Kau begitu tega terhadapku! Kau tidak mengabariku sama sekali. Pesan dan telfonku tidak kau respon," Arabella menangis sesenggukan saat ia dan Kai sudah berada di dalam kamar yang dipesankan oleh Leo.
"Dan ternyata kau malah di sini berbulan madu bersama Alula. Apa tubuh wanita murahan itu yang membuatmu melupakanku?" Arabella berteriak kepada Kaivan.
"Diamlah! Kau jangan menyebut istriku wanita murahan!" Kai membentak Arabella.
"Istri?" Arabella tersenyum kecut mendengar kata istri yang diucapkan dari bibir pria yang dicintainya.
"Memang dia wanita murahan! Kau pasti sudah tidur bersamanya disini kan? hingga kau lupa kepadaku!" Arabella semakin menjadi-jadi.
"Aku bilang jangan menyebutnya wanita murahan!!" Suara Kai memenuhi langit-langit kamar hotel.
"Kau berani membentak ku gara-gara wanita murahan itu?" Air mata Arabella memenuhi wajahnya.
"Aku sangat mencintaimu, aku ingin bersamamu kembali. Aku mohon, pulanglah bersamaku ke Inggris dan ceraikan wanita murahan itu!" Arabella memeluk tubuh Kaivan. Saat ia memeluk tubuh Kai, Arabella melihat Alula tengah berdiri di depan pintu kamar yang terbuka.
Arabella melihat penampilan Alula yang sangat berantakan. Matanya sembab seperti sudah menangis dan bajunya tampak robek.
Arabella semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Kai, dia sengaja ingin Alula melihatnya. Arabella kemudian tersenyum sinis seolah senyum itu penuh kemenangan. Tak lama, Alula segera berlari dari depan kamar yang didalamnya ada Arabella dan suaminya.
"Lepaskan aku! Aku tidak punya waktu untuk mengurusimu. Aku harus segera mencari istriku," Kai melepaskan pelukan Arabella dari tubuhnya.
__ADS_1
"Apa kau sudah tidak mencintaiku?" Arabella menangis tersedu.
Kaivan hanya terdiam. Sesungguhnya ia tidak tahu, apakah dulu ia mencintai Arabella atau tidak. Perasaan yang ia rasakan kepada Alula sekarang, belum pernah ia rasakan kepada Arabella.
Kai tidak menjawab, dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
"Jika kau keluar dari kamar ini, berarti kau tidak pernah mencintaiku!" Arabella berteriak.
Kai menghentikan langkahnya, kemudian ia menatap tajam Arabella.
"Aku sudah tidak menginginkanmu lagi," Kai keluar dari kamar tersebut untuk kembali mencari istrinya.
Sementara, Arabella terduduk di lantai. Ia menangis terisak-isak saat pria yang dicintainya lebih memilih untuk pergi demi wanita yang sangat ia benci.
"Sudah dua kali kau merebut pria yang kucintai. Aku tidak akan tinggal diam untuk yang ini," Arabella mengepalkan lengannya.
Kai berlari ke luar hotel untuk mencari Alula kembali.
"Tuan?" Leo mendekati Kai yang terburu buru akan masuk ke dalam mobilnya.
"Tuan, sudah bertemu dengan Nona Alula barusan?" Tanya Leon. Ucapan Leo menghentikan niat Kai untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Katakan dimana istriku?" Kai mencengkram kerah kemeja yang Leo pakai.
"Barusan Nona Alula ke sini. Dia bertanya tuan ada dimana. Saya mengantarkannya sampai lift. Memang apa yang terjadi? Penampilan Nona Alula sangat berantakan tadi," ujar Leo. Ia belum mengerti apa yang terjadi antara Kai dan Alula.
"Shit !! Pasti tadi dia melihatku dan Arabella," Kai melepaskan cengkramannya di kerah kemeja Leo.
"Leo, maafkan aku. Aku begitu mengkhawatirkan istriku," Kai merasa bersalah sudah mencengkram kerah kemeja Leo.
"Tidak apa-apa, tuan," Leo merasa heran mendengar permintaan maaf yang Kai ucapkan. Biasanya Kai tidak pernah mau meminta maaf untuk perbuatan salah yang ia lakukan.
"Tadi aku dan Alula bertengkar. Lalu, aku meninggalkannya di sebuah jalan yang sepi. Saat aku kembali, dia sudah tidak ada. Aku bingung harus mencari dia kemana," papar Kai kepada Leo.
"Nona Alula barusan pergi ke arah sana! Saya sudah mencegahnya, tetapi katanya dia ingin membeli sesuatu ke depan. Sebaiknya kita segera berangkat untuk mencarinya, saya yakin dia belum jauh," timpal Leo.
"Baiklah, ayo!" Kai masuk ke dalam mobil dan kali ini Leo yang menyetir.
"Mengapa Bella tahu aku ada di sini?" Tanya Kai saat mereka sudah di dalam mobil.
"Saya tidak tahu, tuan. Saya rasa tuan besar yang memberi tahu Nona Arabella," jawab Leo sembari matanya fokus menyetir dan mencari keberadaan Nona mudanya.
"Aku harus membuat daddy menerima Alula. Aku sudah memutuskan, aku tidak akan pernah menceraikan Alula. Aku tidak ingin kehilangan mu gadis bodoh !! gumam Kai dalam hati.
Jangan lupa untuk memberikan like, vote dan rate 5 jika kalian suka novel ini. Terimakasih š¤
__ADS_1