Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Foto Mantan Kekasih


__ADS_3

Setelah Bianglala berhenti berputar, Henry dan Beverly segera keluar dari dalam kapsul.


"Henry, kau baik-baik saja?" Beverly bertanya masih dengan raut wajah yang khawatir.


"Aku tidak apa-apa. Sudah baikan," Henry tersenyum. Ia mengingat saat Beverly memberikan nafas buatan kepadanya.


"Henry, tadi kita berciuman ya?" Tanya Beverly yang seakan baru tersadar dengan apa yang tadi ia lakukan.


"Iya," wajah Henry seketika bersemu merah.


"Kau kenapa? Kau senang kan di cium olehku?" Beverly mulai mengusili Henry lagi.


"Mencium? Oh, jadi kau tadi memang berniat menciumku bukan memberikan nafas buatan?" Henry balik menggoda istrinya.


"Ten-tentu saja nafas buatan, bukan ciuman," Beverly berkata dengan gagap.


"Mengapa kau sangat salah tingkah?" Henry mendekatkan wajahnya ke wajah Beverly bermaksud untuk memperhatikan wajah istrinya lebih dalam lagi.


"Su-sudahlah, ayo kita pergi!" Beverly segera berjalan dengan cepat meninggalkan Henry yang masih tersenyum.


"Bev, tunggu!" Henry mulai berlari dan menyusul langkah Beverly.


"Sekarang kita ke mana?" Tanya Henry yang sudah berhasil menyusul langkah Beverly.


"Kita ke Green Park London ya?" Pinta Beverly.


"Baiklah, ayo!" Henry menarik tangan Beverly. Beverly pun menatap tangannya yang sedang di genggam oleh pria yang kini statusnya sudah menjadi suaminya. Perlahan seulas senyum terlukis di wajahnya.


Henry dan Beverly berjalan jalan di taman yang terletak di dekat istana Buckingham. Bedanya adalah taman ini tidak memiliki danau seperti taman lainnya. Walau berada di kota metropolitan sebesar kota London, tetapi taman ini agak sedikit sunyi dan tenang. Di taman ini terdapat tanaman hijau dan pohon-pohon besar yang sudah berusia tua, para wisatawan pun dapat melihat tupai berlarian dan dapat mendengar kicauan burung.


Setelah puas menyusuri Green Park, Beverly dan Henry terduduk di sebuah kursi yang ada di area taman.


"Henry, aku haus!" Beverly menyeka keringat yang ada di wajahnya.


"Kau ingin membeli minum? Aku akan membelikannya untukmu," Henry hendak berdiri dari duduknya.


"Henry, biar aku saja yang membelinya. Tadi aku melihat kedai es krim di dekat sana. Aku minta uang saja," Beverly mengadahkan tangannya.


"Benar kau akan membelinya sendiri?" Tanya Henry ragu.


"Tentu saja. Lagi pula tidak jauh kok. Itu di sudut sana!" Beverly menunjuk dengan tangannya.


"Baiklah, ini ambilah dompetku!" Henry memberikan dompet miliknya.


"Semua?"


"Iya. Ambilah!"


"Baiklah," Beverly mengambil dompet suaminya.


"Kau tunggu di sini!" Beverly berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Aku temani saja ya?" Pinta Henry kembali.


"Tidak usah," Beverly segera berjalan menjauh untuk membeli es krim di kedai yang ia lewati tadi.


"Tuan, es krimnya dua, rasa strawberry dan green tea!" Beverly memesan kepada penjual es krim.


Beverly pun membuka dompet Henry. Betapa terkejutnya dia ketika melihat foto berukuran kecil yang menampakan Henry bersama wanita lain.


"Siapa wanita ini?" Beverly menatap foto itu dengan sedih.


"Nona, ini pesanan anda!" Penjual es ķrim membuyarkan lamunan Beverly dan memberikan dua es krim pesanannya.


"Terima kasih, tuan," Beverly memberikan beberapa lembar pounds dan segera mengambil es krim pesanannya.


Beverly kembali memperhatikan foto yang ia temukan di dompet suaminya. Ia menatap foto itu dengan nanar.


"Aku sudah mulai mencintaimu. Apakah aku akan patah hati kembali? Apa aku salah mencintai suamiku sendiri dan berharap di cintai kembali olehnya?" Beverly menahan agar air matanya tidak menetes. Ia segera menutup dompet berwarna hitam itu dan mengerjap-ngerjapkan matanya agar air matanya tidak melompat.


"Ini!" Beverly memberikan es krim green tea kepada Henry dengan wajah yang lesu.


"Mengapa lama sekali?" Tanya Henry.


"Tadi lumayan penuh kedainya," kilah Beverly. Padahal dari tadi ia melambatkan jalannya karena fokus memperhatikan foto suaminya dengan wanita lain.


"Bev? Kau kenapa?" Tanya Henry ketika melihat raut wajah istrinya yang berbeda.


"Aku tidak apa-apa. Ini dompetmu!" Beverly menyodorkan dompet milik Henry.


Henry pun tersenyum. Ia seolah tahu alasan perubahan raut wajah istrinya.


"Mantan kekasih yang menjalin hubungan denganmu selama lima tahun itu?" Tanya Beverly lirih.


"Iya. Dia sudah menikah sekarang. Kau tidak perlu khawatir," Henry menggosok lembut telapak tangan Beverly.


"Aku akan belajar untuk mencintaimu. Kau adalah istriku, Nancy adalah masa laluku," tutur Henry masih dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Kau masih mencintainya?" Tanya Beverly.


"Tidak. Tetapi aku memang belum bisa melupakannya karena aku tidak amnesia," Henry tertawa.


"Kau ini!" Beverly menepuk pelan bahu suaminya.


Henry segera membuka dompetnya dan mengambil fotonya bersama Nancy. Henry segera meremas foto itu dan membuangnya ke tempat sampah.


"Mengapa kau membuangnya?"


"Aku ingin menggantinya dengan foto yang lebih baik," Henry mengambil sebuah foto dari tas kecilnya.


"Foto apa itu?" Tanya Beverly penasaran.


"Foto apa ya?" Henry memasukan foto itu ke dalam dompetnya.

__ADS_1


"Henry, aku mau lihat!" Beverly menyambar dompet milik Henry. Matanya langsung terbelalak saat melihat foto yang baru suaminya masukan ke dalam dompet.


"Henry, mengapa kau mempunyai foto ini?" Teriak Beverly saat melihat fotonya tengah tertidur dengan mulut yang terbuka.


"Aku memfotomu saat kita dalam perjalanan ke kota York. Waktu itu kau tertidur seperti ini," Henry menirukan Beverly yang tengah tertidur dengan mulut terbuka.


"Henry, kau menyebalkan!" Beverly menepuk pelan dada suaminya. Henry hanya tertawa melihat raut wajah Beverly.


"Kau cemburu melihat fotoku dengan Nancy kan? Kau sudah jatuh cinta denganku?" Tuduh Henry dengan wajah usilnya.


"Kumat!" Beverly tertawa sembari memperhatikan wajah suaminya.


"Ayo kita pulang!" Henry menggengam lengan Beverly untuk sampai parkiran mobil.


Henry pun segera melajukan mobilnya untuk kembali ke hotel, karena waktu sudah sore hari. Saat di dalam perjalanan, hujan turun dengan deras. Mendadak mobil Henry mogok di tengah perjalanan.


"Henry, mobilnya kenapa?" Tanya Beverly saat mobil mereka berhenti di tengah jalan.


"Sepertinya mogok. Aku periksa dulu ke luar."


"Henry, aku ikut!" Beverly hendak ikut ke luar.


"Jangan! Nanti kau kehujanan," Henry segera ke luar dan memeriksa kap mesin mobil. Kini tubuhnya basah karena guyuran air hujan.


Beverly melihat Henry yang kesusahan menangani mobilnya. Ia pun segera mencari kontak bengkel dan penderek mobil terdekat dari ponselnya. Setelah menemukan nomornya, Beverly segera menelfon bengkel yang memiliki alat penderek agar membawa mobil suaminya ke bengkel terdekat.


Setelah menelfon, Beverly segera mengambil dompet Henry, ponsel miliknya dan ponsel milik Henry. Kemudian ia segera memasukan benda-benda itu ke dalam plastik. Lalu, Beverly segera turun dari dalam mobil.


"Bev, aku bilang tunggu di dalam!" Seru Henry ketika melihat Beverly turun dan ikut berhujan-hujanan.


"Aku ingin di sini. Jangan cegah aku!"


Henry pun tersenyum dengan tingkah Beverly.


"Aku tidak bisa memperbaikinya," Henry segera mengakhiri pemeriksaannya.


"Aku sudah menelfon orang bengkel. Kebetulan mereka mempunyai alat untuk menderek. Mereka akan datang ke sini," sahut Beverly.


"Syukurlah. Untung kau berinisiatif," Henry tersenyum senang. Tak lama, orang bengkel pun datang dan segera menderek mobil milik Henry.


"Ayo kita naik taksi! Kau pasti kedinginan!" Ajak Henry.


"Kita berjalan kaki saja! Hotel kita sudah dekat."


"Baiklah, kalau begitu ayo naik ke punggungku!" Henry segera berjongkok di depan Beverly.


"Yakin mau menggendongku? Aku ini berat," Beverly tertawa melihat Henry yang berjongkok di hadapannya.


"Aku kuat!"


Beverly pun segera naik ke punggung suaminya. Mereka melanjutkan perjalanan ke hotel dengan menembus hujan yang begitu deras di iringi dengan canda tawa, saling mengusili satu sama lain.

__ADS_1


Jangan lupa untuk mampir di novel terbaru author ya, yang berjudul "Pernikahan Karena Dendam" 😍


Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗


__ADS_2