
Saat Alula terbangun di pagi hari, ia langsung mencari keberadaan Kai. Akan tetapi, Sofia mengatakan jika Kai sudah berangkat dari pagi pagi sekali. Kai memang harus berangkat lebih awal, karena sekarang dia tidak memiliki sekretaris pribadi yang membantu menghandle pekerjaannya.
"Kai, kamu keterlaluan! Bahkan kau tidak berpamitan kepadaku. Semalam pun kau ke luar dari kamar kita," Alula bergumam sembari menahan air matanya agar tidak meleleh.
Siang hari, Alula berpamitan kepada Sofia untuk pergi ke rumah kedua orang tuanya. Alula memutuskan untuk menginap di rumah kedua orang tuanya untuk sementara waktu. Alula berpamitan kepada Sofia dan Sofia mengizinkan, asal Alula di antar oleh supir yang ada di rumahnya.
Alula pun setuju dan segera pergi ke rumah kedua orang tuanya.
"Tuan Leo, kau pulang saja! Aku akan pulang nanti," Alula mengusir Leo ketika ia sudah sampai di rumah kedua orang tuanya.
"Nyonya menyuruh saya untuk menunggu sampai anda selesai," Leo menolak.
"Aku akan menelfonmu jika aku akan pulang. Kau tidak perlu khawatir! Aku baik baik saja, lagi pula ini rumah kedua orang tuaku."
"Baiklah, kalau begitu. Saya pergi dulu, Nona," Leo berpamitan. Leo tenang karena Alula hanya pergi ke rumah kedua orang tuanya.
Setelah mobil Leo pergi, Alula segera masuk ke dalam rumah kedua orang tuanya.
"Sayang? Mengapa kau tidak mengabari mama jika pulang?" Tanya Ainsley saat melihat Alula.
Alula pun hanya tersenyum dan segera masuk ke dalam rumahnya.
"Pasti kau memiliki masalah dengan suamimu?" Ainsley langsung menebak ketika mereka duduk di sofa.
Alula pun mengangguk dan menceritakan semuanya kepada ibunya.
"Sayang, di sini yang salah adalah dirimu. Wajar sekali jika Kai marah padamu," Ainsley menanggapi curhatan putrinya.
"Tapi, Ma. Al, hanya emosi, terlebih semalam Kai mengungkit masalah ngidam. Berarti dia tidak ikhlas dong selama ini menuruti semua keinginan Al," Alula membantah Ainsley.
"Sayang, bukan begitu. Ngidam mu sudah keterlaluan, Nak. Kai adalah seorang pria dan dia memiliki harga diri. Apalagi dia seorang pimpinan di kantornya. Maaf mama harus mengatakan ini, tetapi kau benar sudah menginjak harga diri suamimu, Nak."
"Sah sah saja jika kau menginginkan sesuatu. Tetapi cobalah untuk meminta hal yang tidak menyinggung harga dirinya sebagai seorang pria. Jika kau ingin boneka, jangan menyuruh suamimu membeli sendiri! Tetapi kau harus ikut membelinya. Papamu belum tentu mau melakukan itu untuk mama. Lalu, jika kau menginginkan kue, kalian bisa membuat kue bersama. Bukankah itu akan semakin merekatkan hubungan kalian sebagai pasangan suami istri? Dengarkan mama! Tidak salah jika kau mengidam, tapi mama mohon jangan keterlaluan! Jangan menyulitkan suamimu dengan apa yang kau inginkan, Nak! Kasihan Kai, dia pun sudah lelah dengan tugasnya untuk mencari nafkah, belum lagi harus memenuhi segala keinginanmu yang cukup menguras tenaga," lanjut Ainsley.
Alula pun mencerna segala perkataan ibunya.
"Ditambah kau memukulinya di dalam klub malam dan ada rekan bisnisnya di sana. Ke mana pikiranmu, Nak? Itu akan benar-benar mencoreng reputasinya di hadapan rekan bisnisnya. Dan satu lagi, mama mohon jangan menggunakan anakmu sebagai alasan agar kau dapat memperlakukan Kai dengan seenaknya! Kai pun sudah menunjukan dirinya berubah, ketika dia menyusulmu ke kota York, Kai meninggalkan segala tanggung jawab dan pekerjaannya hanya untukmu," Ainsley memperingati kembali.
Alula pun menghembuskan nafasnya pelan saat mendengar nasihat ibunya.
"Mama benar, Alula sudah keterlaluan kepada Kai. Alula tidak akan meminta hal yang keterlaluan lagi," Alula menatap lirih ibunya.
"Dan satu lagi, jangan sedikit sedikit ada masalah kau pergi ke rumah mama! Lebih baik kau bicarakan baik baik bukan pergi seperti ini dan berencana untuk menginap," ujar Ainsley kembali.
"Iya, Ma. Malam ini Alula akan pulang. Alula ingin bertemu papa dulu. Alula rindu papa," Alula tersenyum.
"Syukurlah jika kau mengerti ucapan mama," Ainsley mengusap lembut rambut putrinya.
***
Kai pulang ke rumah dan tidak menemukan istrinya di sana.
"Alula pergi ke rumah kedua orang tuanya. Dia bilang akan pergi sebentar, tetapi sampai sekarang belum juga pulang. Kalian ada masalah?" Tanya Sofia kepada putranya.
"Kai pergi dulu, Mom," Kai langsung kembali ke luar dan bergegas pergi ke rumah mertuanya.
"Aku pikir kau sudah mengerti," Kai bergumam dengan resah di dalam mobilnya.
Saat sudah sampai di kediaman Halbert, Kai segera turun dan langsung mengetuk pintu. Ainsley membukakan pintu untuk menantunya.
"Ma, Alula ada? Kai ingin menjemputnya," Kai langsung bertanya.
"Ada, Kai. Kau mau masuk dulu?" Tawar Ainsley.
__ADS_1
"Tidak, Ma. Kai sangat lelah hari ini. Nanti kapan kapan Kai dan Alula akan menginap di rumah mama," Kai tersenyum.
"Baiklah, Nak. Sebentar mama panggilkan Alula!" Ainsley segera masuk dan memanggil putrinya. Alula pun segera menemui Kai di depan.
"Ayo pulang!" Kai berkata dengan dingin.
"Ma, Kai izin bawa Alula pulang!" Kai menatap ibu mertuanya.
"Iya. Hati hati di jalan!"
Kai pun segera menggenggam tangan Alula menuju mobilnya.
"Kai, aku ingin duduk di belakang!" Alula menunduk. Ia takut Kai akan memarahinya.
Kai pun membukakan pintu kursi belakang untuk istrinya. Setelah Alula masuk, Kai langsung mengemudikan mobilnya menuju kediaman kedua orang tuanya. Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang meliputi mereka. Kai pun menghentikan mobilnya di jalanan yang lumayan sepi. Ia keluar dan langsung masuk ke kursi penumpang.
"Kai, kau mau apa?" Alula merasa takut saat Kai tiba tiba menghentikan mobilnya dan menghampiri dirinya.
"Mengapa kau tidak memberi tahuku jika pergi ke rumah mama?" Kai berkata sepelan mungkin walau pun kini ia tengah emosi.
"Maaf! Tadi pun kau tidak berpamitan kepadaku."
"Tadi aku tidak tega membangunkanmu, karena aku harus berangkat pagi pagi sekali."
"Berjanjilah jangan kabur dariku lagi!" Kai menangkup pipi Alula dengan tangannya.
Perlahan Alula pun mengangguk. Kai segera ke luar dari kursi penumpang dan melajukan mobilnya lagi.
****
3 hari kemudian...
Alula merasakan sikap Kai berubah selama tiga hari ini. Kai jadi bersikap dingin kepadanya.
Sementara itu di kantor...
Tak lama, alarmnya berbunyi sebagai penanda jika meeting akan segera dilaksakan hari ini.
"Bagaimana? Apa kau sudah mendapat sekretaris baru untukku?" Kai menelfon HRD sebelum ia berangkat ke ruang meeting.
"Sudah, tuan. Malah Tuan William yang merekomendasikannya langsung untuk tuan," jawab HRD itu.
"Benarkah Daddy melakukannya?" Kai tampak kaget.
"Iya, tuan. Tuan William yang merekomendasikan langsung sekretaris pribadi yang baru."
"Apakah dia sudah mendapat materi untuk meeting kita hari ini?" Tanya Kai kembali.
"Sudah, tuan."
"Baiklah, terima kasih," Kai menutup telfonnya.
Kai segera mengambil beberapa dokumen dan laptop miliknya, lalu bergegas masuk ke ruang meeting.
"Ke mana sekretaris baru itu? Ini hari pertamanya bekerja, tetapi dia sudah terlambat. Daddy benar benar memilih orang yang salah," Kai menggeram kesal.
Saat semua rekan bisnisnya sudah duduk dan pintu akan di tutup. Seorang wanita berjalan ke ruang meeting dengan terengah-engah.
"Maaf aku terlambat!" Wanita itu tersenyum kepada semua orang yang sudah terduduk dengan rapi di kursinya.
Kai langsung membulatkan matanya ketika melihat sekretaris pribadi barunya yang tak lain adalah istrinya sendiri. Alula tampak memakai blazzer dan juga rok selutut dan sepatu heelsnya. Alula juga menggunakan make up yang sedikit mencolok.
Alula langsung mendekat ke samping suaminya dan membuka laptop miliknya.
__ADS_1
"Sayang, apa yang kau lakukan?" Kai berbisik.
"Aku sedang membantumu mencari nafkah di sini," Alula tersenyum memamerkan giginya.
Kai segera mempersentasikan rencana pembangunan real estate yang akan di bangun di kota Oxford. Rekan bisnisnya tampak tertarik dengan apa yang dijelaskan oleh Kai. Sementara Alula mencatat semua hasil meeting termasuk pertanyaan pertanyaan yang di layangkan oleh rekan bisnis suaminya. Walau pun ia berasal dari background pendidikan sebagai pengajar, tapi tak terlalu sulit untuk bersikap sebagai sekretaris di rapat ini, karena Alula sendiri pun pernah menjadi sekretaris kelas saat kuliah dulu.
Tak terasa rapat sudah diakhiri. Rekan kerja bisnis Kai tertarik dengan ide pembangunan real estate itu dan langsung menyetujui untuk penanaman saham. Kai dan Alula pun segera masuk ke ruangan pribadi milik Kai.
Kai menatap Alula dan memperhatikan penampilan istrinya dari kaki sampai dengan kepala.
"Sayang?" Alula mendekap suaminya.
"Maafkan aku! Maaf untuk segala kesalahanku! Maaf karena telah mempermalukanmu saat aku mengidam dan saat di klub! Maaf juga aku sudah pergi ke rumah mama tanpa izin darimu. Aku tidak akan melakukannya lagi."
Kai pun tersenyum mendengar ucapan istrinya. Ia langsung mengambil tisu yang ada di meja dan menadahkan wajah Alula.
"Jangan berdandan seperti ini! Nanti ada pria yang melirikmu bagaimana?" Kai menghapus make up di wajah istrinya.
"Katakan! Mengapa kau yang menjadi sekretarisku?" Tanya Kai saat ia sudah menghapus make up di wajah Alula.
"Aku hanya ingin meringankan pekerjaanmu. Aku ingin membantumu, jadi aku meminta bantuan kepada Daddy. Lagi pula di rumah aku kesepian dan bosan," Alula bergelayut manja di tubuh suaminya.
"Tapi lebih baik kau beristirahat di rumah sayang! Kau sedang hamil," Kai merapikan rambut istrinya.
"Aku tidak mau. Aku tetap mau jadi sekretaris pribadimu."
"Kau ini memang keras kepala. Baiklah asal jangan kecapean! Dampingi aku saja ketika meeting dan catat hal hal yang ringan. Ruanganmu di sini bersamaku," Kai menggosokan hidungnya di pipi istrinya.
"Sekarang kau tergoda dengan sekretaris pribadimu tidak?" Alula bertanya dengan senyumnya.
"Kalau sekretarisnya seperti ini, siapa yang tidak tergoda?" Kai menggendong Alula dan menjatuhkannya di atas sofa.
"Kai, ini area kantor!" Alula memperingatkan saat melihat gelagat mencurigakan dari suaminya.
"Tak akan ada yang berani masuk. Lagi pula kau harus membayar karena telah memukulku dengan tongkat baseball," Kai segera membuka jas miliknya.
****
"Kai, I'm comming!!" Alden berteriak dan langsung masuk ke dalam ruangan sahabatnya di ikuti dengan Nino di belakangnya.
"Kalian sedang apa?" Tanya Nino saat melihat Kai dan Alula bangkit dari sofa dengan panik.
"Tidak sedang apa-apa," Kai berkilah.
"Untung saja kami sudah memakai baju," Kai bergumam dan bernafas lega.
"Alula, tumben sekali kau ada di sini?" Alden bertanya kepada Alula.
"Aku sekretaris pribadi Kai sekarang."
"Nah aku setuju kalau begini," Alden bertepuk tangan.
"Sudah ku bilang, jika masuk ke ruanganku ketuk pintunya terlebih dahulu!" Kai menggerutu kepada Alden dan Nino.
"Biasanya juga seperti ini. Tunggu! Ini apa?" Alden mendekat ke arah Kai.
"Kai, lehermu kenapa? Seperti habis digigit 10 rombongan nyamuk?" Alden membolak balikan leher sahabatnya. Tak lama seulas senyuman usil muncul di wajah Alden saat ia mengenali tanda itu.
"Al, kau liar juga ya?" Alden mencolek lengan Alula sambil tersenyum dengan usil.
"Satu, dua, tiga. Wow banyak sekali! Ini sangat banyak!" Nino mendekat ke arah Kai dan menghitung tanda merah di leher sahabatnya.
"Aku permisi ke luar dulu!" Alula merapikan rambutnya dan langsung pergi ke luar dari ruangan pribadi suaminya dengan wajah yang merah padam.
__ADS_1
"Lain kali jangan melakukannya di area kantor ya, Al?" Nino berteriak.
Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih š¤