
Cleon mengantarkan Alula sampai ke kampus dan menunggu Alula selesai dengan pekerjaannya. Alula memang hanya mengantarkan daftar rekapan nilai mahasiswa yang mengikuti SP ke jurusan. Setelah itu, Alula langsung bergegas untuk pulang karena ia takut Kai akan pulang ke rumah mereka.
Alula pun diantarkan kembali oleh Cleon untuk sampai rumahnya. Saat mobil Cleon melewati sebuah lapangan dan jembatan, Alula menghentikan mobil itu.
"Cleon, berhenti!"
"Ada apa, Al?" Cleon menghentikan mobilnya.
"Aku ingin es krim di sebelah sana!" Alula menunjuk penjual es krim yang sedang melayani pembeli di lapangan yang ada di sebelah jembatan. Cleon pun menatap Alula yang tengah meneguk air liurnya saat melihat anak-anak yang tengah menjilat es.
"Kau sedang mengidam?"
"Aku tidak tahu."
"Baiklah. Ayo kita beli es krim itu!" Cleon memarkirkan mobilnya di lapangan yang ada di dekat jembatan itu.
"Rasa cokelat satu dengan topping Blueberry dan vanillanya satu dengan topping Granolla!" Cleon memesan.
"Kau masih ingat?" Alula menoleh kepada Cleon. Ia kaget karena Cleon masih mengingat es krim kesukaannya.
"Tentu saja," Cleon tersenyum.
Cleon pun mengambil es krim yang disimpan di dalam wadah waffle cone yang disodorkan penjual. Kemudian ia segera membayar es krim tersebut.
"Ini untukmu!" Cleon memberikan satu es krim rasa vanilla dengan topping Granolla kepada Alula.
"Terima kasih Cleon," Alula berjalan ke atas jembatan yang tampak sepi. Cleon tampak mengikuti Alula. Alula memandang ke arah air yang mengalir di bawah jembatan sambil memakan es krimnya. Air mata pun meleleh kembali di pipinya saat teringat Kai.
"Kau menangis?"
"Tidak, aku tidak menangis. Mataku hanya kelilipan," Alula mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengeringkan matanya.
"Kau ingat dengan film yang pernah kita tonton bersama saat dulu?" Cleon memandang wajah Alula.
"Film apa?" Mata Alula tampak tergenang dengan air mata yang siap untuk ditumpahkan.
"Film The Lord Of The Rings: The Two Towers. Di film itu, Gandalf berkata aku tak akan berkata jangan menangis, karena tidak semua air mata itu buruk," Cleon menirukan ucapan Gandalf tokoh di film The Lord Of The Rings.
"Jadi, menangislah jika kau ingin menangis!" Lanjut Cleon. Alula pun mendekat dan menagis tersedu-sedu di dada Cleon. Cleon menepuk nepuk kepala Alula lembut.
"Cleon, hatiku sangat sakit saat Kai tidak mempercayaiku!" Alula terisak hingga membuat jas kerja Cleon basah karena air matanya.
"Mengapa aku harus jatuh cinta dengannya jika akhirnya harus seperti ini?" Air mata semakin tak tertahan keluar dari mata Alula.
"Kai berkata tidak ingin hidup denganku lagi. Bagaimana dengan anakku? Apakah dia tidak akan pernah mendapat kasih sayang ayahnya?" Alula berkata dengan sesenggukan.
"Aku tak sanggup memikirkan jika aku hidup tanpanya," lirih Alula.
"Kau terlalu berfikiran jauh. Kai hanya sedang butuh waktu," Cleon menenangkan.
"Al, jika dulu aku mencegahmu untuk menikah dengan Kai mungkin kau tidak akan merasakan ini. Dulu aku begitu bodoh karena membiarkanmu menikah dengan Kai," batin Cleon dalam hatinya.
"Wah wah pertunjukan yang sangat romantis," seseorang tampak bertepuk tangan. Alula menoleh ke sumber suara. Alula melihat suaminya di sana.
"Kai?" Panggil Alula.
"Belum satu hari kita pisah rumah, tetapi kau sudah bermesraan dengan pria ini," Kai tersenyum sinis, tetapi tidak dengan hatinya. Hatinya sangat terbakar cemburu melihat istrinya dengan pria lain apalagi pria itu adalah Cleon.
"Kai, aku dan Cleon tidak melakukan apa pun," Alula berjalan mendekati Kai. Ia berusaha untuk menyentuh lengan suaminya, tetapi dengan kasar Kai menepis tangan Alula.
__ADS_1
"Kau jangan kasar padanya!" Cleon mencengkram kerah baju Kai.
"Apa urusanmu?" Kai balas mencengkram kerah kemeja Cleon yang terbalut oleh jas.
"Cleon, sudah!!" Alula berusaha untuk melerai pertengkaran mereka. Cleon pun melepaskan tangannya.
"Aku sangat menyesal menikah denganmu. Jika aku tidak menikahimu, ayahku pasti tidak koma sekarang," Kai memandang Alula dengan tatapan berang. Kemudian ia menatap Cleon.
"Ambilah ! Ambilah wanita ini! Aku sudah sangat puas dengan tubuhnya. Kau bisa mengambil bekasku!" Kai sengaja mengeluarkan kata-kata menyakitkan, agar Alula sakit hati dengan perkataanya. Ia memang tengah cemburu hebat saat ini.
"KAU!!!" Cleon segera meninju wajah Kai dengan tangannya hingga Kai tersungkur di tanah.
"Kau tidak tahu jika istrimu sedang ha-"
"Cleon sudah!" Alula memotong ucapan Cleon.
Kai segera bangkit dan berjalan ke arah Alula. Ia segera menarik kalung yang terlilit di leher Alula. Kalung itu adalah kalung pemberian darinya, saat mereka berlibur ke pantai Watergate Bay.
"Kai apa yang kau lakukan?" Alula berteriak.
"Ini tidak pantas lagi kau pakai!!" Kai melempar kalung yang berlambang K itu ke tanah. Lalu Kai segera berlalu dari sana.
"Berengs*k kau!" Cleon hendak mengejar Kai untuk memukulnya kembali, tetapi Alula menahannya.
Alula berjongkok dan mengambil kalung itu. Alula kembali menangis sembari memegangi kalung yang Kai lempar.
"Al, aku sakit melihatmu begini !" Cleon menatap Alula yang tengah menangis.
***
Alden dan Nino mendatangi tempat kejadian saat William dicelakai di dalam mobilnya. Mereka segera turun dan memperhatikan sekitar.
"Di sini banyak toko yang menghadap langsung ke jalan raya. Sudah pasti mereka mempunyai rekaman CCTV," ucap Alden kepada Nino.
Mereka pun memasuki satu per satu toko yang ada di depan maupun di sebrang. Tetapi, jawaban mereka sama. Mereka berkata jika CCTV toko mereka menghilang secara misterius dan hilang secara bersama-sama.
"Aku sudah duga. Ada yang tidak beres dengan semua ini. Jika memang pelakunya Alula, tentu dia tidak perlu melakukan semua ini karena dirinya sudah terekam oleh dashcam mobil," Nino memberikan kesimpulan.
"Kau benar, No," Alden menyetujui.
"Aku melihat om William ditemukan di dekat halte bus berarti tepat di depan toko bunga ini," Nino memberikan analisanya.
"Kau benar. Tetapi aku yakin toko bunga itu pun sudah kehilangan CCTVnya," Alden merasa putus asa.
"Kita datangi saja dulu. Apa salahnya?" Nino segera berjalan ke arah toko bunga yang hari ini sedang buka. Alden mengekor di belakangnya. Seseorang tampak mengikuti mereka, itu adalah orang kepercayaan ayah Arabella. Mereka memang diminta untuk mengecek kembali toko bunga yang ada di samping halte bus.
"Siang tuan!" Nino dan Alden masuk ke dalam toko bunga, begitu pun dengan orang yang mengikuti mereka. Orang itu tampak memilih bunga tetapi tatapannya mengawasi Nino dan Alden.
"Siang. Kalian sedang mencari bunga apa?" Jawab seorang pria berkaca mata.
"Kami tidak sedang mencari bunga, tetapi kami ingin menanyakan sesuatu padamu. Ini sangat penting," tutur Nino. Tampaknya Nino bertugas sebagai pembicara di hari ini.
"Baiklah. Kita duduk dulu di sebelah sana!" Pria pemilik toko bunga menunjuk sebuah kursi yang ada di dalam toko.
"Jadi apa yang ingin kau tanyakan?" Tanya pemilik toko saat mereka sudah terduduk.
"Tuan, apakah anda tahu hari kemarin ada peristiwa penusukan seorang pengusaha di depan toko anda?" Nino menatap wajah pria itu dengan serius.
"Iya. Saya tahu. Lalu?"
__ADS_1
"Kami sedang mencari pelaku penusukan itu."
"Bukannya pelaku sudah tertangkap? Saya menonton beritanya saat tadi pagi," yang dimaksud pemilik toko adalah orang yang disiapkan oleh Edward untuk menjadi tersangka palsu atas suruhan dari Kai.
"Tidak. Dia bukan pelakunya. Polisi salah menangkap orang," Nino memberikan alasan agar mudah dicerna oleh pria setengah baya itu.
"Benarkah? Lalu apa yang bisa saya bantu untuk kalian?"
"Apakah anda memiliki CCTV di toko bunga ini?"
Orang yang membuntuti mereka tampak mendengarkan dengan seksama.
"Katakan tidak!" Nino memberikan isyarat dengan bibirnya. Rupanya Nino sudah tahu jika ada orang yang mengawasi mereka. Pemilik toko tampak tidak mengerti.
"Katakan tidak! Seseorang sedang mengawasi kita," Nino mengulang dengan berbisik nyaris tidak terdengar. Pria itu pun tampak mengerti.
"Ah, maaf tuan! Toko ini tidak memiliki CCTV atau apa pun. CCTV kami rusak sebulan yang lalu dan saya belum sempat membeli yang baru," pemilik toko mengeraskan suaranya.
"Sayang sekali!!" Nino berpura-pura kecewa.
"Kau yakin tidak ada CCTV lain?" Alden menimpali.
"Tidak. Saya benar-benar tidak memiliki kamera pengawas lainnya," seru pemilik toko.
Orang yang sedang mengikuti mereka pun tampak puas dengan jawaban dari pemilik toko.
"Apa di toko ini tidak ada bibit bunga teratai?" Tanya pria yang mengikuti Alden dan Nino.
"Maaf tuan, kami tidak memilikinya," jawab pemilik toko.
"Kalau begitu terima kasih," pria itu keluar dengan terburu-buru dan segera masuk ke dalam mobilnya.
Alden segera keluar untuk memperhatikan sekitar.
"Kurasa sudah aman," ucap Alden kepada Nino.
"Saya yakin anda memiliki CCTV. Apakah CCTV milik anda ikut lenyap?" Nino mengulang pertanyaannya. Pemilik toko tampak diam.
"Ku mohon ini sangat penting untuk korban."
"Saya memiliki CCTV di toko ini. Saat semua toko yang berada di sekitar sini kehilangan cctv nya, tetapi tidak dengan CCTV saya. Saya menyimpannya di sebuah vas bunga. Maka dari itu, CCTV di toko ini tidak menghilang. Saya sudah mengamankan CCTV itu. Saya takut jika CCTV itu hilang seperti yang lain," beber pemilik toko. Nino merasa puas dengan jawaban pemilik toko bunga.
"Bolehkah saya mengambil CCTV itu?"
"Ah, sepertinya tidak bisa. CCTV saya adalah CCTV yang sangat mahal."
Nino tersenyum dan tampak mengerti. Ia mengeluarkan dua gepok uang poundsterling dari dalam tasnya.
"Apakah ini cukup untuk menebus CCTV mu?" Nino tersenyum.
"Tentu saja, tuan," pemilik toko tersenyum gembira dan segera mengambil uang itu. Ia bergegas membuka lacinya untuk mengambil kamera CCTV miliknya.
"Ini tuan!" Pemilik toko menyodorkan CCTV yang diminta oleh Nino.
Alden yang sedang menjaga di depan masuk kembali dan mengeluarkan laptop dari tasnya. Ia menyimpan dan menyalakan laptop itu di atas meja. Sedangkan Nino tengah mengeluarkan memory kamera CCTV dan memindahkan ke flashdisk miliknya.
Nino segera memplay rekaman saat hari kemarin di jam yang sama saat William di temukan.
"Sudah kuduga," Nino tersenyum penuh kemenangan saat melihat rekaman CCTV itu.
__ADS_1
Note : Bagi para readers yang suka sama visual Nino. Author mau ngasih tahu. Setelah novel ini, author akan membuat novel khusus tentang Nino š¤š¤
Dear para readers : Tolong tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih š¤