Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Kehancuran Kai


__ADS_3

Arabella dijadwalkan untuk mengikuti sidang perdananya 2 minggu lagi. Alexander selaku ayah Arabella tidak bisa membantu putrinya untuk bebas dari penjara, karena kasus Arabella benar-benar menjadi perhatian publik. Hal itu juga sangat berimbas kepada perusahaan miliknya. Satu persatu perusahaan yang bekerja sama dengannya mulai membatalkan segala kontrak kerja dan kerja sama.


Sementara Kai, sudah tiga hari ini ia mencari keberadaan istrinya. Kai sudah mengerahkan orang-orangnya untuk mencari Alula ke berbagai kota. Orang-orang suruhan Kai mencari Alula ke kota London, kota St.Ives, kota Lancaster dan ke County Surrey. Kai memang mendapatkan informasi jika Alula memiliki kakek dan nenek di County Surrey. Tetapi hasilnya nihil, mereka tidak menemukan Alula di sana.


Kai pun tidak hanya mengandalkan orang-orang suruhannya. Ia juga mencari istrinya dengan tenaganya sendiri. Kai mencari ke rumah Chelsea, tetapi kedua orang tuanya tidak memberi tahukan kota tujuan Chelsea. Kai pun sudah mendatangi rumah Cleon, tetapi ibu Cleon pun hanya mengatakan tidak tahu saat Kai bertanya ke mana Cleon pergi. Kai juga mencari Alula ke tempatnya mengajar, ia bertanya kepada beberapa dosen di sana. Mereka pun tidak mengetahui Alula pergi ke mana. Kai berusaha untuk melacak nomor Chelsea dan Cleon, tetapi ia tidak bisa melacak mereka. Cleon memang menyuruh Chelsea untuk mematikan ponselnya saat melihat berita mengenai kasus Arabella. Cleon menduga jika Kai akan mencari Alula dan dugaannya kini terbukti.


Kai pun sudah memeriksa mengenai kemungkinan Alula pergi ke luar negeri. Tetapi ia mendapat informasi jika visa Alula tidak dipergunakan di mana pun. Itu artinya, istrinya tidak berpergian ke luar negeri dan masih ada di negara Inggris.


"Ke mana kamu, Al?" Resah Kai frustasi. Pikirannya benar-benar melayang kepada istrinya yang tak tahu keberadaannya ada di mana.


Sudah tiga hari ini pula Kai tidur di rumah yang ia tempati bersama Alula. Kai membawa kembali semua barangnya ke rumah itu, ia berharap ada keajaiban di mana Alula pulang kembali ke rumah mereka.


Saat ini Kai tengah terduduk di kamar miliknya. Kamar yang ia tempati selama tujuh bulan mengarungi bahtera rumah tangganya bersama Alula.


"Sayang?" Kai memandangi foto istrinya dari layar ponsel miliknya.


"Aku sangat merindukanmu," Kai mengusap layar ponsel yang memperlihatkan wajah Alula.


"Tuan, makan malam sudah siap," tutur bibi May dari ambang pintu.


"Aku tidak lapar," jawab Kai singkat. Bibi May pun segera berlalu dan turun kembali ke lantai bawah. Sudah tiga hari ini Kai tidak bernafsu makan. Ia hanya berdiam diri di dalam kamarnya. Dadanya membuncah menahan kerinduan kepada wanita yang sudah ia tuduh dengan kejam.


Kai memutar kembali kejadian beberapa hari lalu, di mana ia mengusir Alula dan menyuruhnya untuk pergi. Dan kini, istrinya benar-benar menuruti semua perkataannya.


Kai menggerakan kakinya keluar. Kai mendudukan dirinya di kursi yang ada di halaman rumah. Kai seolah tidak peduli dengan dinginnya udara malam yang menggerogoti tubuhnya. Tubuh Kai seperti mati rasa semenjak kepergian istrinya. Kai mengingat kembali saat ia meminta Alula untuk pergi dari kehidupannya.


"Apa yang telah aku lakukan?" Air mata menitik dari mata cokelatnya.


"Arrgghhh!!" Teriak Kai frustasi. Ia masih bertahan di kursi itu sampai dini hari.


Pukul 3 pagi, Kai masuk kembali ke dalam rumah dan mengambil dua botol wine yang ada di lemari dapur. Ia kemudian pergi kembali ke kamarnya dan mengunci pintu.


Kai menenggak wine itu langsung dari botolnya dengan frustasi.

__ADS_1


"Kau membawa anakku kemana?" Kai berkata sembari meneguk wine yang ada ditangannya.


"Sayang, pulanglah! Sekarang aku sedang meminum wine. Bukankah kau tidak menyukai bila aku meminum alkohol? Pulanglah dan cegah aku untuk meminum ini," Kai mulai meracau di dalam kamarnya.


"Pulanglah! Aku akan menebus semua kesalahanku. Jika perlu aku akan mencium kakimu supaya kita bersama lagi. Pulanglah dan jangan dekat dengan pria itu! Mari kita memulai semuanya dari awal!" Kai semakin meracau.


"Kembalilah ke pelukanku karena aku tidak ingin kehilanganmu. Kembalilah karena di dalam tubuhmu ada anakku. ALULAAAAA!!" Kai berteriak kemudian terdengar suara botol yang dipecahkan.


Bibi May yang mendengar suara itu segera naik ke lantai dua untuk memeriksa keadaan tuannya.


"Tuan?" Bibi May mengetuk pintu dengan sangat khawatir. Ia khawatir Kai menyakiti dirinya sendiri. Bibi May mencoba membuka pintu kamar Kai, tetapi pintu terkunci dari dalam.


Bibi May turun kembali ke lantai bawah. Ia segera menghubungi Alden dan juga Nino. Untungnya bibi May mengetahui nomor mereka dari buku telfon yang ada di dekat telfon rumah.


"Hallo? Tuan Nino?" Bibi May berkata dengan panik.


"Iya. Ada apa bi?" Jawab Nino dengan suara serak. Sepertinya ia masih tertidur saat bibi May menelfonnya. Nino langsung mengetahui siapa yang menelfon karena ia memang menyimpan nomor telfon rumah Kai.


"Tuan Kai sedang mabuk di dalam kamar. Saya mendengar suara botol pecah. Saya takut tuan melukai dirinya sendiri, karena sudah tiga hari ini dia tampak sangat tertekan karena kepergian nona," jelas bibi May.


20 menit kemudian, Nino dan Alden sampai di rumah Kai. Mereka masih menggunakan setelan piyamanya. Bahkan kaki Nino tampak memakai sandal yang berbeda. Ia sungguh panik saat bibi May menelfonnya hingga tidak sadar memakai sandal yang berbeda.


"Di mana dia?" Tanya Alden panik.


"Tuan sedang di kamarnya."


Mereka pun segera menaiki tangga untuk menuju kamar Kai.


"Kai?" Nino mengetuk pintu dengan sangat keras.


"Ayo buka pintunya!!" Nino berteriak.


"Kai, jangan melakukan hal yang gila!!" Alden ikut berteriak.

__ADS_1


Bibi May hanya berdiri dengan raut wajah yang sangat khawatir.


Tidak ada sahutan dari dalam.


Alden menempelkan telinganya di pintu.


"Tidak ada suara," ucap Alden kepada Nino.


"Hey bodoh! Buka pintunya!!!" Nino berteriak kembali.


"Kita dobrak saja," usul Alden yang langsung di iyakan oleh Nino.


Mereka pun mendobrak pintu secara bersama-sama. Saat dobrakan ke lima, pintu baru terbuka.


"KAI?" Nino berteriak ketika melihat sahabatnya tergeletak di lantai. Ia juga melihat sisa wine berhamburan di lantai karena Kai memecahkan botolnya. Kaca lemari pun tampak pecah. Nino melihat darah segar mengucur dari tangan Kai. Sepertinya Kai memukul kaca kemari dengan tangannya.


"Ambilkan perban, bi!" Alden berkata dengan panik. Bibi May pun segera mengambil kotak obat-obatan.


Nino dan Alden menggotong tubuh Kai dan membaringkannya di atas kasur.


"Sayang? Aku mohon pulang!" Kai bergumam pelan.


"Dia hanya mabuk," Nino menenangkan Alden dan juga bibi May.


Nino segera membersihkan darah dari tangan Kai. Ia juga memberikan betadine dan memperban lengan sahabatnya.


"Aku memang marah padanya tetapi melihat dia seperti ini aku kasihan padanya," Alden menyelimuti dan menatap iba wajah Kai yang terlihat memucat. Sudah tiga hari ini memang Kai tidak berselera makan dan tidak nyenyak tidur.


"Iya. Aku pun kasihan padanya," ucap Nino yang terduduk di samping tubuh Kai yang tengah berbaring.


"Apa kita beri tahu saja di mana keberadaan istrinya?" Alden memandang Nino. Mereka memang mengetahui keberadaan Alula karena saat Nino melihat Alula di halte bus, ia segera menelfon orang suruhannya untuk mengikuti mobil Cleon.


"Tidak. Biarkan dia berjuang sendiri. Aku ingin mengetahui seberapa perjuangannya untuk menemukan Alula," Nino menolak.

__ADS_1


Alden pun hanya mengangguk. Kemudian mereka segera pergi ke kamar tamu yang ada di rumah Kai untuk tertidur kembali, karena waktu masih menunjukan pukul 4 dini hari.


Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih šŸ¤—


__ADS_2