Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Mendatangi Rumah Alula


__ADS_3

Pagi hari Chelsea menghubungi Cleon dan menceritakan masalah yang tengah mendera Alula. Chelsea memang terbiasa bercerita kepada Cleon mengenai sahabatnya itu. Chelsea menyuruh Cleon untuk melihat keadaan Alula ke rumahnya, karena hari ini Chelsea tidak bisa pergi menemui Alula. Di butiknya ada beberapa masalah yang harus segera ia selesaikan. Setelah bertukar informasi dengan Chelsea via telfon, Cleon segera berlari menuju mobilnya dan bergegas untuk sampai di rumah Alula dan Kai yang ada di perumahan Boston Villages.


Beberapa saat kemudian, Cleon sampai di rumah Alula. Ia memarkirkan mobilnya di luar pekarangan rumah. Saat Cleon melewati pagar, ia melihat Alula tengah tertidur di sebuah kursi kayu yang ada di halaman rumah.


"Al, mengapa kau tidur di sini?" Cleon melihat wajah Alula yang tampak pias.


Alula tak kunjung bangun.


"Al?" Cleon menepuk pipi Alula pelan. Ia begitu tersentak saat merasakan tubuh Alula terasa begitu panas di kulitnya


"Al, kau demam!!" Cleon segera memangku tubuh Alula dan membawanya masuk ke arah pintu yang terbuka. Bibi May memang tidak menutup pintu karena semalaman Alula berada di luar.


"Tuan, anda siapa?" Tanya bibi May saat melihat orang asing masuk ke dalam rumah majikannya.


"Saya teman Alula, Bi. Mengapa Alula tidur di luar?" Cleon bertanya dengan tegas.


"Nona Alula bersikeras menunggu tuan Kai pulang, tuan. Saya sudah menyuruhnya beberapa kali untuk masuk, tetapi Nona tidak mau. Maka dari itu saya menyelimuti Nona ketika dia tidur," jelas bibi May.


"Kalau begitu tolong ambilkan kompresan, Bi!" Cleon merebahkan tubuh Alula di atas sofa yang ada di ruang tamu.


"Al, mengapa kau begitu bodoh? Kai tidak akan pulang, aku tahu sifat anak itu. Dia akan lebih mengedepankan emosinya saja saat ini," Cleon menatap wajah Alula dengan iba. Ia pun segera mengompres tubuh Alula dengan air panas yang diberikan oleh bibi May.


Beberapa lama kemudian Alula membuka matanya.


"Cleon, di mana Kai?" Alula bergumam pelan.


"Aku tidak tahu di mana dia," Cleon berkata dengan raut wajah yang emosi. Ia tidak habis pikir mengapa Kai menuduh Alula melakukan hal seperti itu.


Alula segera bangun dan berusaha untuk berdiri.


"Al, kau mau ke mana?" Cleon memegangi Alula.


"Aku mual. Aku ingin muntah!" Alula menutup mulutnya. Cleon dan bibi May pun segera memapah Alula ke arah wastafel dapur.


Alula memuntahkan makanan yang ia makan kemarin. Cleon membantu memijit tengkuk Alula dengan lembut.


"Tuan muda ini sangat perhatian kepada Nona Alula," batin bibi May sambil menatap Cleon yang tengah memijit tengkuk Alula.


"Kau hamil?" Cleon bertanya kepada Alula yang tengah mengelap bibirnya dengan tisu. Cleon sungguh berharap Alula tidak mengatakan iya.


Alula mengangguk pelan. Cleon pun menghembuskan nafasnya pelan dan memejamkan matanya. Bibi May pun tampak terkejut mendengar Nona mudanya tengah hamil.


"Berapa usia kehamilanmu?" Tanya Cleon dengan raut wajah yang kecewa. Dalam hatinya ia masih belum bisa melupakan Alula seratus persen. Waktu enam tahun yang dilewati bersama Alula begitu sulit Cleon lupakan dengan mudah.


"7 minggu," Alula menjawab dengan lemah.


"Lalu mengapa Kai memperlakukanmu seperti ini jika dia tahu kau sedang hamil?" Cleon tampak menahan emosinya yang tertahan.

__ADS_1


"Kai tidak tahu jika aku hamil," Alula menggelengkan kepalanya.


"Dia harus tahu. Aku akan memberi tahunya."


"Jangan Cleon! Biarkan dia tahu sendiri. Aku ingin Kai kembali padaku karena dia percaya padaku, bukan karena tahu aku sedang mengandung anaknya."


"Bibi May jangan beri tahu Kai!" Alula memandang ke arah bibi May yang ada di sampingnya. Bibi May pun tampak mengangguk.


"Baiklah," Cleon mengalah. Ia sangat tahu keputusan Alula tidak akan bisa dibantah.


"Cleon, kau pulanglah! Aku tidak ingin Kai salah paham dengan keberadaanmu di sini. Terlebih aku tidak enak terhadap Chelsea," Alula mengusir Cleon dari rumahnya.


"Chelsea yang menyuruhku untuk mengecek keadaanmu. Dia bilang dia harus menyelesaikan masalah di butik," ungkap Cleon.


"Masalah apa?" Alula merasa bersalah karena telah bercerita kepada Chelsea. Ia tak tahu jika Chelsea pun tengah memiliki masalah.


"Chelsea bercerita ada clien nya yang marah-marah di butik karena gaun pernikahannya rusak menjelang H-2 pernikahan. Kau jangan khawatir! Chelsea bisa menyelesaikan masalahnya sendiri," Cleon mencoba menenangkan Alula. Alula pun mengangguk.


"Aku harus pergi ke kampus Cleon. Aku harus menyerahkan nilai-nilai mahasiswa yang baru saja mengikuti SP (semester pendek)," Alula berusaha untuk berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai 2.


"Istirahat lah dulu di rumah!" Cleon menahan lengan Alula.


"Aku tidak bisa. Ini sangat penting karena 2 hari lagi sudah masuk libur musim panas," Alula melepaskan cekalan tangan Cleon dari lengannya.


"Nona perlu apa? Biar bibi yang ambil ke kamar," tanya bibi May.


"Baiklah Nona," bibi May segera naik ke lantai dua dan masuk ke kamar Alula dan Kai.


"Duduklah dulu!" Titah Cleon. Alula segera berjalan dan terduduk di sofa kembali. Tak lama, bibi May turun dengan membawa perlengkapan yang disebutkan oleh Alula.


"Mari bibi bantu Nona ganti baju!" Bibi May segera memapah Alula ke kamar tamu yang ada di lantai satu. Sementara Cleon menunggu di sofa.


Setelah 10 menit Alula keluar dari dalam kamar tamu itu. Ia memakai sepatu flat miliknya.


"Ayo ku antarkan kau ke kampus!" Cleon berdiri dari duduknya.


"Aku bisa naik taksi. Aku khawatir orang-orang salah paham," Alula menolak.


"Kau bisa sekali ini tidak keras kepala? Bagaimana jika kau pingsan di dalam mobil?" Bentak Cleon.


"Maaf! Aku tak bermaksud membentakmu. Aku hanya khawatir," Cleon merendahkan suaranya.


"Tolong jangan tolak tawaranku! Aku hanya khawatir dengan keadaanmu, terlebih sekarang kau sedang hamil!"


"Baiklah. Aku mau diantar olehmu," Alula terpaksa menyetujui, karena ia pun takut terjadi sesuatu dengannya di jalan.


Alula berpamitan kepada bibi May dan segera pergi ke kampus.

__ADS_1


Saat Alula dan Cleon sudah pergi, telfon rumah berbunyi.


"Iya kediaman tuan Kaivan Allen di sini?" Bibi May mengangkat telfon.


"Bi, ini aku Kai," jawab Kai dari sambungan telfon.


"Tuan?" Bibi May kaget karena Kai menelfon.


"Alula sampai jam berapa semalam? Apa dia bisa tidur? Apa hari ini dia sudah makan? Apa yang ia lakukan hari ini? Bagaimana keadaannya?" Kai mengajukan beberapa pertanyaan sekaligus seperti seorang reporter yang tengah mewawancarai seorang narasumber yang amat penting. Sementara bibi May tersenyum mendengar daftar pertanyaan tuannya.


"Nona sampai jam setengah 11 malam. Nona semalaman tidak tidur, dia menunggu anda pulang. Nona sampai tidur di kursi halaman depan-"


"Tidur di luar maksudmu Bi?" Kai berteriak.


"Iya. Nona tidak mau masuk ke dalam rumah, tuan."


"Lalu dia sudah makan? Dia sedang apa?" Kai tampak tak sabar mendengar jawaban dari bibi May.


"Nona belum makan, tuan. Tadi dia muntah-muntah."


"Dia sakit?" Kai bertanya dengan nada yang panik.


"Ku mohon tuan, peka lah jika Nona sedang mengandung anakmu !" Harap bibi May di dalam hatinya


"Ku rasa begitu, tuan," bibi May tidak bisa memberi tahu Kai jika Alula tengah hamil, karena Alula melarangnya.


"Sekarang Nona berangkat ke kampus," lanjut bibi May.


"Dia berangkat naik taksi atau bus?" Kai semakin ingin tahu.


"Tidak. Nona di antar oleh temannya."


"Pria atau wanita?" Kai bertanya dengan gusar.


"Pria, tuan."


"Shit!" Kai mengumpat. Ia pun segera mematikan telfon miliknya.


"Apa aku sudah salah bicara?" Bibi May merasa menyesal memberi tahu Alula pergi dengan seorang pria.


Sementara itu, setelah Kai menutup telfonnya. Ia bergegas untuk menyusul Alula ke kampus tempatnya mengajar. Di balik kemarahannya saat ini, nyatanya Kai masih sangat mencintai istrinya itu. Semalaman ia pun tidak tertidur memikirkan Alula. Hatinya menolak jika Alula yang mencelakai ayahnya, tetapi di satu sisi logikanya pun membenarkan saat ia melihat bukti-bukti yang diperlihatkan oleh Edward.


"Shit! Siapa yang mengantar istriku?" Kai memukul mukul stir mobilnya kasar.


Kai segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Saat ia melewati sebuah jembatan dekat kampus, ia melihat Cleon dan Alula.


Harap tinggalkan like, komen atau vote ya untuk mendukung author. Terima kasih šŸ¤—šŸ¤—

__ADS_1


__ADS_2