Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Bermain Ski


__ADS_3

Kai sedang membantu Alula untuk mengeringkan rambut miliknya di depan sebuah perapian yang ada di villa.


Kai dengan telaten mengeringkan rambut Alula dengan handuk. Sekali-kali ia menciumi rambut Alula, karena entah mengapa ia begitu menyukai wangi khas dari rambut istrinya.


"Setelah rambutmu kering. Ayo kita jalan jalan keluar! Matahari sudah terbit," kata Kai kepada Alula.


"Kita akan bermain salju dan ski kan, Kai?" Alula terlihat antusias.


"Iya, kita akan berjalan jalan ke gunung Matterhorn dan bermain ski. Sekarang pakailah mantelmu! Buatlah dirimu sehangat mungkin agar kau tidak kedinginan!"


Alula segera pergi ke kamar dan memakaikan tubuhnya mantel yang tebal, tak lupa ia memakai sarung tangan, earwarm, topi bobble juga sepatu ski.


"Ayo Kai!" Seru Alula saat ia sudah memakai setelan lengkap ala orang-orang yang akan hiking. Kai pun tampak sudah siap dengan setelan musim dinginnya.


Alula menelan ludah saat melihat penampilan Kaivan yang sangat tampan. Ia menggunakan mantel berwarna putih, topi booble, earwarm di telinganya, syal di lehernya, juga kaca mata googles dan sepatu ski.


"Kau terpesona melihatku kan?" Kai menggoda Alula yang tengah menatapnya.


"Iya. Kau keren sekali! Mirip seperti penyanyi Kanada yang bernyanyi lagu stitches," Alula tertawa.


"Akhirnya kau menyadari bahwa suamimu ini sangat tampan."


"Jangan berlebihan!" Alula tertawa sembari membenarkan posisi topi Kai yang miring.


"Ayo kita berangkat!" Ajak Alula menghentikan Kai yang tengah tersenyum menatapnya.


"Kita hanya akan bermain ski di sini. Kau tidak boleh memanjat gunungnya!" Kai memberikan penjelasan kepada Alula ketika mereka sampai di wahana ski.


"Baiklah," Alula mengangguk.


Kai berjalan lebih dulu, sedangkan Alula berjalan di belakangnya. Saat Kai berjalan, tiba-tiba tubuhnya dilempari salju dari belakang. Kai segera menoleh dan melihat Alula yang tengah melempar salju ke arahnya.


"Kau ingin bermain main denganku?" Kai tertawa.


Ia segera membuat bola salju dan melemparkannya kembali ke arah Alula. Alula dengan sigap membalas serangan bola salju itu. Alula tertawa melihat mantel Kai dipenuhi dengan salju.


"Ayo kita meluncur" Ajak Kai.


"Aku tidak bisa bermain ski."

__ADS_1


"Aku akan mengajarimu," Kai segera mengambil lengan Alula dan mendekat ke arah wahana bermain ski.


"Kita bermain di sini saja. Jika di lereng sana akan berbahaya untuk seorang pemula. Bentuk kakimu seperti hurup V dan jaga keseimbangan tubuh agar kau dapat mudah untuk meluncur dan juga mudah untuk berhenti," Kai memberikan aba-aba kepada Alula.


"Sepertinya aku tidak bisa," Alula merasa was-was. Ia takut dirinya akan jatuh.


"Kalau begitu, aku akan menuntunmu," Kai menghadapkan tubuhnya ke hadapan Alula dan menggenggam lengan istrinya. Kai mulai menggerakan sepatu ski miliknya. Alula mulai meluncur karena tarikan dari lengan Kai.


"Kai, ini menyenangkan!" Alula mulai menikmati permainan skinya.


"Kau ini seperti berasal dari negara tropis saja. Jika orang yang hidup di negara khatulistiwa sangat wajar jika tidak bisa bermain ski. Tetapi, kau hidup di negara yang memiliki empat musim," gerutu Kai.


"Aku kan jarang pergi liburan, Kai. Jika musim dingin aku memilih untuk berhibernasi di kamar."


"Alasan saja!" Kai mencubit pipi Alula dengan lengannya.


Mereka kembali berseluncur di hamparan salju dengan sepatu skinya. Setelah mereka puas bermain ski, Alula merebahkan dirinya di atas salju dan menggerak gerakan lengannya.


"Kau seperti anak kecil saja!" Kai merasa terhibur dengan tingkah Alula yang menurutnya kekanak-kanakan.


"Biarkan saja," Alula kembali menggerak gerakan lengan dan kakinya di atas salju sembari berbaring.


"Iya. Kita ke mana sekarang?"


"Ayo kita naik kereta gantung!"


"Ayo!" Alula tampak bersemangat.


Alula dan Kai menaiki sebuah kereta gantung dengan predikat kereta gantung tertinggi di dunia yang bernama Matterhorn Glacier. Mereka menikmati indahnya pemandangan hamparan salju di gunung Matterhorn dari atas kereta gantung.


"Kai, mengapa ini tinggi sekali?" Alula merasa takut karena tengah menaiki sebuah kereta gantung yang sangat tinggi.


"Tenanglah! Tidak akan terjadi apa-apa."


Alula mulai merilekskan tubuhnya. Ia menyender di bahu suaminya sembari melihat indahnya pemandangan dari atas kereta gantung. Terlihat orang-orang tengah bermain ski juga melakukan hiking. Kota Zermett merupakan kota yang tepat untuk menikmati wisata musim dingin.


"Ayo kita minum cokelat panas! Di bawah ada cafe untuk minum cokelat panas," Ajak Kai setelah mereka turun dari kereta gantung.


"Kalau begitu ayo! Aku sudah kedinginan," Alula menarik lengan Kai agar sampai di cafe yang di maksud oleh suaminya.

__ADS_1


Mereka sampai di cafe tujuan dan menghabiskan waktu cukup lama di dalam cafe dengan mengobrol dan juga minum cokelat panas.


Kai tampak akan meminum red wine yang diantarkan oleh seorang waitress. Tadi memang Kai memesan red wine tanpa sepengetahuan Alula untuk menghangatkan tubuhnya.


"Kai? Bisakah kau tidak meminum wine lagi?" Tutur Alula dengan mimik wajah serius.


"Mengapa?" Kai menatap wajah Alula.


"Aku rasa minuman itu tidak baik untuk kita. Minuman seperti itu membuat kita hilang kesadaran," Alula takut Kai akan mabuk karena kini mereka tinggal di kamar dan villa yang sama.


"Kau takut aku memaksa menidurimu?"


"Bukan. Bukan seperti itu. Aku hanya ingin kau membiasakan dirimu untuk tidak minum minuman beralkohol."


"Padahal memang iya, aku takut kau lepas kontrol. Aku masih mengingat saat kau mencoba memperkosaku di dalam mobil. Itu mengerikan."


"Bisakah kau tidak minum alkohol untukku?" Lanjut Alula.


"Baiklah," Kai menyimpan kembali gelas yang berisi wine di mejanya.


Waktu sudah menunjukan malam hari ketika mereka keluar dari dalam cafe. Mereka berjalan menyusuri jalanan yang di penuhi oleh salju.


"Mengapa tadi kau menuruti perkataanku? Apakah kau sudah tergila gila padaku?" Alula menghadapkan tubuhnya kepada Kaivan.


"Ya, aku memang sudah tergila-gila padamu," Kai menarik tangan Alula hingga tubuh gadis itu menempel dengan tubuhnya.


Detak jantung Alula mulai tidak beraturan kembali. Ia merasa sangat berdebar-debar setiap berdekatan dengan suaminya.


Kai menatap wajah Alula, ia memajukan wajahnya untuk mencium bibir Alula. Alula memelototkan matanya dan menutup bibirnya dengan telapak tangan. Seketika Kai menghentikan niatnya itu. Alula menatap dalam mata Kai, lalu ia menurunkan lengan yang ia pakai untuk menutupi bibirnya. Kai tampaknya mengerti bahwa Alula mengizinkannya untuk mencium bibirnya. Kai meraup leher Alula dan mulai membenamkan bibirnya. Alula tampak diam dengan apa yang Kai lakukan.


Perlahan mata Alula Alula terpejam dan ia mulai membalas ciuman itu. Kakinya terlihat berjinjit untuk menyeimbangkan dengan tinggi tubuh suaminya. Tangan Alula memeluk tubuh Kai erat. Kai merasa senang saat Alula mengecup bibirnya dan memeluk tubuhnya. Saat merasa tak ada penolakan, Kai mulai menjelajahi bibir istrinya. Kai melepaskan bibir Alula agar sejenak gadis itu dapat bernafas. Kemudian, ia mencium bibir Alula kembali dan mel*m*tnya. Entah berapa lama mereka berciuman. Kai dan Alula begitu menikmati apa yang sedang mereka lakukan. Setelah beberapa lama, Kai melepaskan ciumannya, nafas mereka bersahutan di dinginnya malam.


"Terima kasih," Kai menempelkan keningnya pada kening Alula.


"Ciumanmu boleh juga, dari mana kau belajar?" Goda Kai kepada Alula.


"Darimu," Wajah Alula seketika memerah dan memanas. Ia kemudian membalikan badannya dan berlari menjauh dari suaminya. Kai tampak gemas dengan sikap Alula, ia tertawa lalu mengejar Alula yang tengah berlari.


Jangan lupa untuk memberikan like, vote dan rate 5 jika kalian suka novel ini. Terimakasih šŸ¤—

__ADS_1


__ADS_2