Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Ulah Alden


__ADS_3

Pagi hari Kai terbangun dari tidurnya. Semalam ia memang tidur di sofa yang ada di dalam kamar karena Alula terus mengusir dirinya.


Kai melihat Alula terduduk di atas kasur dengan tatapan kosong. Ia melihat mata istrinya sembab karena semalaman menangis


Kai mendekat ke arah Alula dan terduduk di samping istrinya. Dengan cepat Alula berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi. Ia menutup pintu dengan sangat keras. Kai mengusap wajahnya kasar, lalu ia segera mengambil ponsel miliknya yang ada di atas nakas.


"Hallo, tolong carikan kembali sekretaris pribadi untukku dan usahakan dia adalah seorang pria!" Kai menelfon HRD perusahaannya.


"Lalu bagaimana dengan nona Andrea, tuan?" Jawab HRD itu.


"Segera tarik dia menjadi sekretaris umum! Fokuskan pekerjaannya untuk melakukan korespodensi dan melakukan kegiatan harian dalam hal operasional," perintah Kai kembali. Ruangan sekretaris umum sendiri berada di lantai 3 dan sangat jauh dengan ruangan pribadi Kai.


"Baiklah, tuan. Saya akan menariknya menjadi sekretaris umum dan memperbaharui segala kontrak dan jobdesk pekerjaannya," HRD itu tampak langsung mengerti.


"Tapi tuan, bukankah hari ini ada meeting dengan perusahaan yang ada di kota Durham? Mau tidak mau nona Andrea yang akan menemani anda," lanjut HRD itu kembali.


"Iya. Sebelum meeting ini, segera panggil dia dan jelaskan mengenai posisinya dengan detail!"


"Baik, tuan. Saya mengerti."


"Baiklah. Terima kasih," Kai segera menutup telfonnya.


"Ini adalah yang terbaik. Aku tidak ingin kehilangan istriku lagi. Aku akan melakukan apapun semua keinginanmu," batin Kai di dalam hatinya. Kai harus cepat dalam mengambil keputusan sebelum Alula kabur darinya.


"Sayang, buka pintunya!" Kai mengetuk pintu kamar mandi.


"Aku harus bekerja sayang," Kai mengetuk kembali. Tetapi, Alula tak merespon segala perkataannya.


Lagi lagi Kai hanya menghembuskan nafasnya kasar.


"Kalau begitu aku akan mandi di kamarku yang di atas, sayang!" Kai segera mengambil handuk dan baju setelan kerjanya dan membawanya ke kamarnya yang dulu, sebelum ia menikahi Alula.


Setelah selesai mandi dan bersiap untuk pergi ke kantor, Kai hendak masuk kembali ke dalam kamarnya. Ia menggerakan gagang pintu, tetapi kamarnya terkunci dari dalam. Kai pun melihat ponsel dan tas kerjanya sudah tergeletak di depan pintu.


"Sayang, kau mengunci pintunya? Bukalah! Aku harus mengatakan suatu hal padamu," Kai menggedor pintu kamar dengan keras.


"Sayang, aku mohon! Kita harus bicara!" Kai masih berusaha untuk masuk


"Sayang, ada apa?" Tanya Sofia yang muncul secara tiba-tiba di belakang putranya.


"Tidak ada apa-apa, Mom," Kai menutupi dari ibunya. Kai berfikir bagaimana pun jika ada masalah dalam kehidupan rumah tangganya, sebisa mungkin tidak boleh ada yang tahu termasuk itu kedua orang tuanya sendiri. Akan lebih baik jika menyelesaikan masalah itu hanya berdua, begitu pikirnya.


"Benar? Kau tidak memiliki masalah dengan istrimu kan?" Tanya Sofia penuh dengan curiga.


"Benar, Mom."


"Baiklah, mommy ke dapur dulu!" Sofia percaya dengan perkataan anaknya dan segera berjalan ke arah dapur.


"Sayang, kalau begitu aku berangkat kerja dulu!" Seru Kai dari balik pintu, kemudian ia segera mengambil ponsel dan tas kerjanya.


***


"Kau sudah membaca kontrak kerja dan jobdesk kerjamu yang baru?" Tanya Kai kepada Andrea sesaat sebelum meeting.


"Sudah, tuan. Mengapa saya di pindahkan menjadi sekretaris umum?" Andrea bertanya dengan penasaran.


"Istri saya mengetahui jika kita pernah mempunyai hubungan di masa lalu. Saya hanya menghindari hal-hal yang membuatnya salah paham."


"Saya mengerti, tuan. Anda sekarang sudah berubah ya?" Andrea tersenyum ketika melihat sikap Kai yang sangat berbeda dengan masa lalunya.


"Kalau begitu bersiaplah! Kita harus meeting dengan direksi dari perusahaan yang ada di kota Durham," Kai tidak menyahuti ucapan Andrea dan memilih mengalihkan ke arah topik lain.

__ADS_1


"Baik, tuan," Andrea segera ke luar dari ruangan Kai dan berjalan ke arah ruangan yang biasa dipakai untuk melakukan meeting.


Meeting hari ini dilaksanakan dengan sangat baik. Kontrak kerja sama berhasil Kai dapatkan hari ini. Sementara Andrea bertugas menemani Kai meeting.


"Tuan, saya sangat senang bekerja sama dengan perusahaan yang memiliki kreatifitas juga inovasi yang cerdik seperti perusahaan anda," ucap Ed, pimpinan perusahaan yang bekerja sama dengannya.


"Saya juga sangat senang bekerja sama dengan anda," Kai menjabat erat tangan Ed.


"Kalau begitu mari kita rayakan kerja sama kita. Mari kita pergi ke klub malam yang ada di digbeth!" Ajak Ed kepada Kai.


"Ah, sepertinya saya tidak bisa, tuan. Istri saya sedang menunggu di rumah," Kai mencoba menolak dengan halus.


"Saya mohon, tuan. Kali ini saja. Dini hari saya harus kembali ke kota Durham," Ed tampak memaksa.


"Ajaklah sekretarismu atau temanmu," ucap Ed kemudian. Ed memang memiliki usia yang sama dengan Kai karena dia diutus sebagai perwakilan dari ayahnya.


"Baiklah, tetapi mungkin saya tidak bisa berlama lama," kata Kai kembali.


"Tidak masalah," Ed tersenyum.


"Nona Andrea, kau harus ikut!" Ed mengarahkan pandangannya kepada Andrea.


"Baiklah, tuan."


Kai segera mengambil ponsel miliknya dan menghubungi Nino dan Alden.


"No, temani aku ke klub malam yang ada di digbeth!" Perintah Kai kepada Nino. Nino pun langsung mengiyakan, Kai pun menceritakan jika ia sudah membebas tugaskan Andrea sebagai sekretaris pribadinya dan Nino mendukung langkah sahabatnya itu. Kemudian Kai mencoba menghubungi Alden, tetapi Alden tidak menjawab telfonnya.


Kai hendak menelfon Alula dan memberi tahukan bahwa dirinya akan pergi ke klub sebentar untuk menghormati permintaan rekan bisnisnya, tetapi saat ia menelfon nomor istrinya, ponsel Alula tidak aktif. Kai pun mengirimkan pesan kepada Alula dan memberi kabar jika ia pergi ke klub malam sebentar.


Setelah mengabari istrinya, Kai segera masuk ke dalam mobilnya untuk pergi ke klub malam yang di maksud Ed. Andrea pun memilih untuk naik taksi untuk sampai di klub malam yang ada di digbeth.


Tanpa sepengetahuan dirinya, teman lama Kai melihat Kai bersama Andrea dan langsung menelfon kepada Alden.


"Den, kau tidak ikut ke klub malam yang ada di digbeth?" Tanya orang itu saat Alden mengangkat telfonnya.


"Ah, ternyata kau. Aku sedang tidur. Mengapa kau menggangguku?" Alden menggerutu.


"Aku melihat Kai bersama wanita di klub malam yang ada di digbeth. Aku hanya heran, biasanya dulu dia datang bersamamu dan Nino."


"Siapa wanita itu?" Alden langsung menaikan suaranya.


"Aku fotokan ya?" Teman Alden pun memfoto Kai dan Andrea.


"Kai, tega sekali kamu pada Alula! Padahal istrimu tengah mengandung anakmu!" Alden menggeram kesal saat melihat kiriman foto itu, Alden pun langsung mengambil dan memakai jaket miliknya.


Sementara itu, Nino terlihat baru datang dan langsung duduk di antara Andrea dan juga Kai.


"Kai, maaf lama!" Ucap Nino. Tak lama kemudian, Ed dan sekretarisnya masuk ke klub. Mereka pun berbincang hangat seputar masalah pekerjaan, Nino pun langsung bisa mengakrabkan dirinya karena Ed seumuran dengan dirinya.


"Ayo kita bersulang!" Ed menaikan gelasnya ke atas.


"Anda tidak minum, tuan?" Tanya Ed kepada Kai yang hanya diam dan tidak menyentuh gelas yang sudah terisi wine.


"Saya sudah berhenti minum," tutur Kai sopan.


"Oh, baiklah. Mari tuan Nino, nona Andrea? Mereka pun bersulang dan meminum wine yang ada di gelasnya masing-masing.


***


Alden melajukan mobilnya menuju ke arah rumah orang tua Kai. Saat ia akan masuk ke pekarangan rumah, Alden melihat Alula dan bi Esther tengah terduduk di ayunan. Alula tengah mencari angin segar dan bi Esther yang menemaninya.

__ADS_1


"Al, ayo ikut aku!" Alden langsung menggusur tangan Alula menuju mobilnya.


"Alden, ada apa?" Tanya Alula panik karena Alden langsung menarik tangannya.


"Iya, tuan. Ada apa? Jika tuan Kai melihat, tentu dia tidak akan senang," bi Esther memperingatkan.


"Aku ada urusan dengan Alula. Ayo, Al!"


"Iya, urusan apa?" Alula melepaskan tangan Alden.


"Kai sedang di klub malam dengan Andrea," Alden berbisik di telinga Alula.


"Kurang ajar!" Alula langsung terbakar emosi ketika mendengar ucapan Alden.


"Ayo kita susul dan labrak dia!"


"Ayo, Den! Alula pergi sebentar bi!" Alula berpamitan kepada bi Esther dan langsung berjalan dengan cepat ke mobil Alden.


"Bawa ini, Al!" Alden memberikan tongkat baseball yang ada di dalam bagasi mobilnya. Alula pun segera mengambil tongkat baseball itu.


Alden pun langsung melajukan mobilnya ke arah klub malam yang ada di kawasan digbeth.


"Ayo Al!" Alden langsung mengajak Alula masuk ke dalam klub.


Saat ia masuk, Alula melihat Kai tengah terduduk dengan Andrea. Sementara Ed sedang ke toilet, sekretaris Ed entah ke mana dan Nino tengah memesan minuman.


Alula langsung berjalan menghampiri Kai dan mengambil botol wine yang ada di meja pengunjung lain. Alula langsung melemparkan botol wine itu ke lantai, semua orang berhenti dari aktifitasnya dan langsung memusatkan Alula menjadi perhatiannya.


"Sayang?" Seru Kai saat melihat Alula datang bersama Alden. Alula langsung memukulkan tongkat baseball yang ia bawa ke arah tubuh suaminya.


"Berani beraninya kau mengkhianatiku!" Geram Alula sembari terus memukulkan tongkat baseball itu ke tubuh Kai.


"Sayang, sakit!" Kai mencoba menghindar dari pukulan istrinya. Sementara Andrea menutup mulutnya karena terkejut.


"Kau!" Alula menunjuk Andrea dengan telunjuknya. Alula bermaksud mendatangi Andrea untuk menjambak rambutnya.


Kai langsung memeluk istrinya yang hendak menjambak rambut Andrea.


"Lepaskan tanganmu! Tega sekali kau kepadaku!" Alula memukul kembali tubuh Kai dengan tangan kosong.


"Sayang, mengapa kau menjadi liar seperti ini?" Kai merasa heran karena Alula bukan tipe orang yang menyukai kekerasan.


"Terus hajar, Al! Jangan kasih kendor!" Alden menyemangati.


Nino yang melihat keributan langsung berlari ke arah Kai dan Alula.


"Kau ada di sini?" Tanya Nino kepada Alden.


"Ya, aku sedang mendukung wanita yang tersakiti," seru Alden dengan bertepuk tangan melihat adegan seorang istri yang memukuli suaminya.


"Jadi ini ulahmu? Ya ampun, kau salah paham!" Nino menghunuskan tatapan tajam ke arah sahabatnya.


"Terus, Al! Smash saja, smackdown kalau perlu!" Alden masih menyemangati Alula.


"Sayang, ayo kita bicara!" Kai menarik tangan Alula karena mereka kini sedang dalam perhatian orang-orang. Nino pun ikut menghampiri sepasang suami istri itu.


Kai menjelaskan semuanya dan Nino pun ikut menjelaskan.


"Tuan Kai, saya izin pulang terlebih dahulu. Kekasih saya sudah menjemput di depan. Tolong beri tahu tuan Ed jika saya pulang terlebih dahulu. Nona saya datang ke sini karena urusan pekerjaan dan tuan Kai sudah membebas tugaskan saya menjadi sekretaris pribadinya," jelas Andrea kemudian ia segera berlalu meninggalkan Kai dan Alula. Alden yang mendengar pun memelototkan matanya karena terkejut. Alula pun langsung menatap suaminya dengan perasaan rasa bersalah.


Untuk scene Beverly dan Henry besok ya readers? Author sedang sedikit tidak enak badan karena hujan yang terus menerus mengguyur kota Bandung. Author memang tidak kuat dingin. Jaga kesehatan kalian ya di musim penghujan seperti ini! Dan mari kita doakan saudara saudara kita yang sedang terkena musibah seperti banjir Kalsel, gempa di Sulbar, banjir lahar Gunung Semeru, longsor Sumedang dan bencana di daerah lainnya. Kita doakan semoga saudara sebangsa setanah air kita bisa melewati ujian ini. Terima kasih juga untuk readers yang masih membersamai novel ini. šŸ¤—šŸ¤—

__ADS_1


__ADS_2