
"Kai, kau mau ke mana?" Alula berteriak ketakutan saat mobil Kai benar-benar melaju meninggalkannya.
"Kai, jangan tinggalkan aku!!" Alula mengejar mobil Kai yang sudah menjauh dan semakin mengecil dari pandangan matanya. Kemudian mobil itu tak terlihat lagi di kedua matanya.
"Mengapa kau tega meninggalkan aku sendiri di sini, Kai?" Alula menangis sesenggukan memikirkan nasibnya. Ia benar-benar tidak akan bisa pulang karena passpor, visa bahkan ponselnya berada di mobil Kai.
Penampilan Alula sangat berantakan, bajunya tampak robek karena tadi Kai hendak memperkosanya. Alula semakin terluka mengingat perlakuan Kai tadi padanya. Itu mengingatkannya kepada kenangan buruk dimana Alfin akan melecehkannya.
"Aku harus kembali ke hotel. Siapa tahu Kai kembali ke sana," Alula menghapus air matanya. Matanya memerah karena terlalu banyak menangis.
"Aku harus mencari tumpangan," Alula melihat tak ada mobil yang melewati jalan tersebut. Tak lama, sebuah mobil gunung melintas ke arahnya.
Alula berjalan ke tengah dan melambaikan tangan agar mobil itu berhenti. Usaha Alula berhasil, mobil itu pun berhenti tepat di hadapannya. Seseorang turun dari dalam mobil, ia adalah seorang wanita paruh baya yang sepertinya seumuran dengan Ainsley, ibu Alula.
"Nona, apa yang anda lakukan di sini? Anda bisa tertabrak," seru wanita itu berbahasa inggris.
Alula merasa beruntung karena wanita itu berbicara dengan bahasa Inggris. Ia tidak bisa membayangkan jika wanita itu berbahasa Jerman. Mayoritas warga negara Switzerland memang berbahasa Jerman, persentasinya di atas 50%.
"Tolong aku, Nyonya!" Air mata kembali menetes di pelupuk mata Alula.
"Ya tuhan, kau kenapa?" Wanita itu menyentuh lengan Alula yang gemetar menahan hawa dingin. Tubuhnya tidak dibalut dengan mantel, jaket atau sweater. Alula hanya memakai kaos lengan panjang.
"Aku hampir diperkosa oleh seseorang di dalam mobil dan aku berhasil kabur dan turun di jalanan ini. Bisakah kau membantuku kembali ke hotel?" sahut Alula.
"Bisa. Ayo aku akan mengantarkanmu!" Wanita itu menuntun lengan Alula ke dalam mobilnya.
"Sayang, bisakah kita mengantarkan gadis ini ke hotelnya? Tadi dia hampir menjadi korban pemerkosaan," seru wanita itu kepada pria paruh baya yang tengah menyetir. Sepertinya itu adalah suaminya.
"Baiklah, kau stay di hotel mana, Nona?" Pria itu berucap.
"Di hotel yang berada di persimpangan jalan kota Bad Ragaz, tuan," jawab Alula sopan. Kemudian pria itu segera melajukan mobilnya ke arah hotel yang disebutkan oleh Alula.
Saat mobil yang ditumpangi Alula melaju. Alula melihat ke arah kaca. Ia melihat mobil yang mirip mobil Kai melaju ke arah tempat Alula ditinggalkan.
"Kai? Tidak, tidak mungkin itu dia. Dia tidak berperasaan, tidak mungkin dia kembali," batin Alula sembari menahan air matanya menetes kembali.
__ADS_1
"Kau sepertinya bukan berasal dari negara ini. Dari mana kau berasal?" Tanya wanita itu sambil memperhatikan wajah Alula.
"Saya dari negara Inggris, Nyonya."
"Benarkah? Saya dan istri juga berasal dari Inggris tepatnya di kota Lancaster. Dari kota mana kau berasal, Nona?" Sahut pria yang tengah menyetir.
"Wah kebetulan sekali saya bertemu kalian. Saya datang dari kota Birmingham," jawab Alula.
"Wah ternyata kau berasal dari kota Birmingham. Saya senang bertemu dengan anak sepertimu," jawab istri dari pria paruh baya itu. Ia suka akan keramahan Alula. Mereka pun berbincang hangat di dalam mobil. seputar negara asal mereka.
"Turunlah!" Perintah pria yang tengah menyetir.
"Mengapa kita turun di sini?" Alula merasa heran karena mereka berhenti di sebuah resto.
"Kita makan dulu. Tentu, kau lapar bukan?"
"Baiklah."
Akhirnya mereka bertiga turun untuk makan malam. Setelah makan, mereka melanjutkan kembali perjalanan untuk mengantarkan Alula ke hotel yang ia tuju.
"Sama-sama, sayang. Kami sangat senang bertemu denganmu. Jika kita sudah berada di Inggris, berkunjunglah ke kota Lancaster. Ini alamat rumah kami," wanita itu berkata dengan ramah dan memberikan secarcik kertas yang berisi alamat mereka di kota Lancaster.
"Baiklah, Nyonya. Aku benar-benar berhutang budi kepadamu," Alula memeluk wanita yang sudah menolongnya itu.
"Tuan, terima kasih," Alula berterima kasih kepada suami wanita itu.
"Jangan dipikirkan! Segeralah masuk dan hangatkan tubuhmu!" Jawabnya ramah. Mereka pun segera masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanannya kembali ke arah kota Zermatt.
"Aku beruntung bertemu mereka," Alula tersenyum menatap kepergian mobil itu.
"Tuan Leo?" Panggil Alula kepada Leo.
"Nona dari mana saja? Apakah anda baik-baik saja?" Leo menatap penampilan Alula yang berantakan. Matanya terlihat sembab dan bajunya sobek. Alula memang tidak memakai apapun sebagai penghangat tubuhnya.
"Aku baik-baik saja, di mana Kai?" Alula bertanya dan menahan tangis sekuat tenaga saat mencari keberadaan suaminya.
__ADS_1
"Tuan, sedang di kamar lantai 11. Tepatnya di sebelah kamar yang kemarin di tempati oleh Nona dan Tuan Kai," jelas Leo ramah.
"Baiklah, terima kasih. Aku naik sekarang, tuan."
"Tapi Nona, tuan sekarang sedang-" Leo menggantung kata-katanya.
"Sedang apa, tuan?"
"Tidak. Nona lebih baik naik saja!" Leo tidak tega memberitahukan bahwa suaminya kini tengah bersama mantan kekasihnya di dalam kamar.
Alula segera berjalan cepat ke arah lift untuk menemui Kai. Ia ingin segera menumpahkan segala amarahnya.
"Pasti itu kamarnya!" Kata Alula saat ia sudah sampai di lantai 11. Alula berjalan mendekat dan ia begitu terkejut saat melihat Arabella tengah mendekap suaminya erat.
Entah mengapa dada Alula merasa sesak melihat pemandangan itu. Hatinya seakan tengah diremas oleh sesuatu dengan sangat kuat. Alula melihat Arabella tersenyum dengan licik ke arahnya. Alula tidak sanggup lagi melihatnya, ia segera berlari ke arah lift untuk turun kembali. Air mata yang sudah ia tahan sedari tadi kini tumpah kembali di matanya yang sudah sembab.
"Nona, anda mau kemana?" Tanya Leo saat Alula keluar dari pintu masuk hotel dengan terisak.
"Anda mau ke mana, Nona?" Leo menahan tangan Alula agar ia tidak pergi.
"Maaf saya lancang, Nona!" Leo melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Alula.
"Saya ingin ke depan sebentar membeli makanan, tuan," Alula berbohong kemudian ia segera berjalan kembali meninggalkan Leo.
Alula berjalan dan mendekap tubuhnya dengan tangan. Malam ini benar-benar dingin, di tambah dengan hatinya yang tercabik karena perlakuan dari suaminya.
"Pria macam apa dirimu? Sudah menyentuhku, kini kau bermesraan dengan wanita lain," Alula menyeka air mata yang semakin deras melompat dari matanya.
"Tunggu! Aku tidak peduli dia menyentuh Arabella. Aku hanya marah karena dia meninggalkanku di tempat yang sangat sepi. Itu saja, tidak lebih," Alula menampik rasa yang bergelenyar aneh saat melihat Kai berpelukan dengan Arabella.
"Dingin sekali! Aku harus pergi ke mana?" Alula menggosokan kedua tangannya yang tidak terbungkus sarung tangan.
"Mama, papa? Al ingin pulang. Alula ingin bertemu kalian," Alula mendudukan dirinya di sebuah halte bus.
Jangan lupa untuk memberikan like, vote dan rate 5 jika kalian suka novel ini. Terimakasih š¤
__ADS_1