
Alula dan Kai baru sampai ke rumah setelah menghadiri pesta pernikahan Beverly dan juga Henry yang di adakan di salah satu ballroom hotel yang ada di kota Birmingham.
"Sudah pulang, sayang?" Sapa Sofia saat melihat putra dan menantunya baru datang.
"Sudah, Mom," sahut Alula sembari mencium pipi ibu mertuanya.
"Jika ada Alula, Kai di biarkan," Kai mengerucutkan bibirnya.
Alula dan Sofia seketika tertawa melihat sikap Kai yang sangat kekanakan.
"Kau akan jadi seorang ayah, masih saja cemburu," Alula memencet hidung suaminya.
"Aw, sakit sayang!" Kai mengusap hidungnya yang sedikit memerah.
"Apa kalian tadi bersenang-senang?" Tanya Sofia kepada Kai dan Alula.
"Iya, Mom. Pengantinnya sangat serasi. Iya kan, sayang?" Alula menyikut tangan Kai pelan.
"Iya, tetapi kita yang paling serasi, sayang."
"Mommy jadi ingat saat hari pernikahan kalian," seru Sofia sembari kembali mengingat pesta pernikahan putra tunggalnya.
"Iya, saat itu Kai belum mencintaiku," Alula merajuk kepada Sofia.
"Kau pun belum mencintaiku," jawab Kai tak mau kalah.
Sofia hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak dan menantunya.
"Kalau begitu, cepatlah beristirahat! Kalian pasti lelah," ujar Sofia kepada menantu dan putranya.
"Mom, Alula masuk dulu ke kamar," Alula berpamitan kepada Sofia.
"Iya, sayang. Cucu mommy pasti kelelahan."
"Ayo, sayang kita masuk kamar!" Alula menuntun lengan suaminya untuk menuju kamar.
Saat Alula dan Kai melewati ruang tengah, William menghentikan langkah mereka.
"Kai? Lihatlah ini, nak!" Pinta William kepada Kai.
"Ada apa, Dadd?" Kai mendekat ke arah ayahnya. Alula pun ikut mendekat ke arah ayah mertuanya yang sedang menonton berita.
"Lihatlah! Dia anak dari tuan Peter kan?" William menunjuk siaran televisi yang tengah ia tonton.
"Iya. Ada apa, Dad?" Kai merasa penasaran.
__ADS_1
"Anak Tuan Peter atau Alfin, dia di tangkap polisi hari ini karena telah memperkosa seorang wanita di klub malam," William menjelaskan berita yang tengah menayangkan prilaku kriminal yang tak lain adalah Alfin, mantan kekasih Alula.
Alula menatap televisi itu dengan tatapan nanar, senyum yang tadi ia ukir hilang sudah saat melihat acara televisi itu. Tanpa berkata-kata, Alula segera berjalan dan masuk ke dalam kamar meninggalkan suaminya.
"Sayang?" Panggil Kai saat melihat Alula masuk ke dalam kamar tanpa berkata sepatah kata pun.
"Dadd, Kai masuk kamar dulu," Kai berpamitan kepada ayahnya.
"Iya," jawab William singkat. Kemudian ia melanjutkan menonton berita itu kembali.
"Peter benar-benar tidak bisa mendidik anaknya dengan baik," William mengomentari berita yang sedang ia tonton.
Kai masuk ke dalam kamar, ia melihat Alula tengah terduduk di atas sofa dengan tatapan sedih.
"Sayang, kau kenapa?" Kai berjongkok di hadapan Alula. Kai mengambil tangan Alula dan menciuminya.
Alula tidak menjawab, air mata tiba-tiba menetes dari pelupuk matanya.
"Sayang, mengapa kau menangis?" Kai panik saat melihat istrinya menangis.
"Aku baik-baik saja," Alula menghapus air matanya dan berusaha untuk tersenyum.
"Sayang, aku suamimu. Aku tahu kau tengah berbohong. Ceritakan padaku, ada apa denganmu? Apa karena berita Alfin?" Kai menghapus air mata yang tersisa di pipi Alula dengan ibu jarinya.
"Aku hanya mengingat peristiwa dulu, saat Alfin berusaha akan melecehkanku," Alula menangis tersedu.
"Saat tadi aku melihat berita itu, aku langsung mengingat semuanya. Aku takut, Kai," Alula mengencangkan tangisnya.
"Sayang, tenanglah!" Kai terduduk di samping Alula dan memeluk erat istrinya.
"Ada aku di sini. Aku akan selalu menjagamu. Aku tidak akan membiarkan orang lain menyentuh apalagi menjahatimu."
Perlahan Alula melepaskan pelukannya.
"Kai?" Panggil Alula dengan mata yang sedikit sembab.
"Iya, sayang?" Kai merasa terluka melihat Alula menangis, walaupun kali ini bukan dirinya yang menyebabkan istrinya menangis.
"Terima kasih karena saat itu kau menolongku. Kau sudah menolongku dari Alfin. Aku tidak tahu bagaimana jika saat itu kau tidak menolongku," ucap Alula dengan suara bergetar.
"Sayang, kau tidak perlu berterima kasih kepadaku. Bahkan aku sedikit bersyukur akan adanya peristiwa itu. Karena aku menolongmu dari Alfin, akhirnya aku menikahimu dan hidup bersama denganmu," Kai memeluk Alula kembali.
"Lupakanlah masa kelam itu! Alfin pun tak berhasil menyentuh tubuhmu," Kai mengusap lembut rambut istrinya sembari terus memeluknya.
"Aku tadi hanya terbayang peristiwa itu. jika kau tidak menolongku, aku tidak tahu bagaimana nasibku saat itu. Untungnya kau datang tepat pada waktunya," Alula terisak di dada suaminya.
__ADS_1
"Kalau begitu bergembiralah, sayang! Alfin sudah ditangkap polisi. Dia akan mendapatkan hukuman yang setimpal untuk perbuatannya. Kau harus senang," Kai melepaskan pelukannya dan memegang leher Alula dengan tangannya.
"Apa perlu aku ikut melaporkan dia ke polisi karena berusaha untuk melecehkanmu? Aku akan meminta cctv di tempat apartemennya sebagai bukti."
"Tidak. Itu tidak perlu," Alula menggelengkan kepalanya.
"Benar? Kau tidak ingin ikut melaporkannya ke polisi?" Kai memastikan.
"Tidak, Kai," jawab Alula tegas.
"Kalau begitu jangan menangis lagi! Hatiku sakit melihatmu menangis."
"Bukannya dulu kau yang paling senang melihatku menangis?" Alula menepuk dada Kai pelan.
"Siapa yang bilang? Aku tidak pernah suka melihatmu menangis."
"Sayang, diamlah di sini! Aku mempunyai sesuatu untukmu," Kai beranjak dari duduknya.
"Sesuatu apa?" Alula tampak penasaran. Kai berjalan ke arah lemari, ia mengambil sesuatu dari dalam laci lemari itu.
"Kai, kau mengambil apa?" Alula semakin penasaran dengan apa yang diambil oleh Kai dari dalam lemari.
Kai berjalan ke arah belakang sofa. Tiba-tiba dia melingkarkan sebuah kalung di leher istrinya.
"Ini apa?" Alula menyentuh kalung yang tengah Kai lingkarkan di lehernya.
"Lihatlah!" Kai menarik tangan Alula lembut dan memapahnya menuju kaca.
Alula memperhatikan kalung yang Kai berikan dari pantulan cermin.
"Mengapa kalung ini bisa ada padamu?" Alula tampak terkejut karena kalung berliontin K itu ada pada suaminya. Kalung itu putus saat Kai menariknya dan Alula pun membawanya ke kota York.
"Saat bi Esther akan mencuci mantelmu, dia menemukan kalung itu di dalam saku mantel. Jadi, aku mengambilnya dan memperbaiki kalung itu," Kai memeluk tubuh Alula dari belakang.
"Maafkan aku karena sudah menarik kalung itu dari lehermu sampai putus!" Kai menciumi leher istrinya dengan lembut.
Alula pun membalikan badannya menghadap suaminya.
"Semua telah berlalu," Alula menatap mata Kai.
"Terima kasih, sayang. Kau memang bukan seorang wanita pendendam," Kai tersenyum senang. Dia langsung memeluk Alula kembali.
"Tapi-"
"Tapi, apa?" Kai menjauhkan tubuhnya.
__ADS_1
"Tapi buatkan aku mie buatanmu terlebih dahulu. Anakmu kelaparan. Setelah aku makan, aku akan memaafkanmu," Alula mengelus perutnya.
Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih š¤