
Pagi ini, Alula memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya untuk menenangkan hati dan pikirannya.
"Ma?" Alula langsung memeluk ibunya saat pintu di buka.
"Kau kenapa sayang? Bagaimana kondisi Tuan William? Tadi malam mama dan papa ke rumah sakit, tetapi kita tidak diperkenankan masuk karena jadwal besuk sudah habis," jelas Ainsley.
Alula tidak menyahuti perkataan ibunya. Ia masih menangis sesenggukan.
"Al, kau kenapa? Ayo kita masuk sayang!" Ainsley membimbing tubuh anaknya untuk masuk ke dalam rumah. Halbert tidak terlihat ada di dalam rumahnya.
"Kai, Kai akan menceraikanku ma!" Tangisnya semakin tak tertahan.
"Ada apa ini?" Ainsley merasa kaget mendengar perkataan Alula. Alula pun segera menceritakan semuanya dari awal sampai akhir. Ainsley menangis mendengar cerita yang keluar dari mulut anak tunggalnya itu.
"Sabar sayang!" Ainsley memeluk Alula sembari menangis. Ia tidak menyangka nasib anaknya akan seperti ini, terlebih Alula menceritakan dirinya sedang hamil.
"Ma?" Alula melepaskan pelukan ibunya.
"Iya sayang?" Ainsley menyeka air mata di pipi anaknya.
"Alula ingin pergi dari sini. Alula ingin menenangkan diri," Alula menggenggam tangan ibunya. Ainsley merasakan tangan Alula bergetar.
"Diamlah di sini, di rumah mama!" Ainsley menatap iba putri kesayangannya. Saat ia menikahkan Alula dan Kai, Ainsley berharap anaknya bahagia bukan berakhir dengan penderitaan seperti ini.
"Al, tidak bisa. Terlalu banyak kenangan mengenai Kai di kota ini. Alula hanya akan semakin sakit bila masih berada di kota ini. Alula ingin suasana baru. Mama tolong urusi perceraian Alula ketika Alula tidak ada!" Bibir Alula bergetar saat berkata mengenai perceraian. Bagaimana pun, perceraian itu memang sudah ada di depan matanya dan tidak bisa dielakan lagi.
Ainsley kembali memeluk anaknya.
"Seharusnya mama waktu itu tidak memaksamu untuk menikah dengan Kai," Ainsley menangis sesenggukan.
"Sudah, Ma. Ini sudah jalan hidup Alula," Alula melepaskan pelukan ibunya. Ia mengeringkan matanya yang terlihat membengkak.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu jika kau pergi, Nak?"
"Ini sudah masuk libur musim panas. Kampus libur tiga bulan. Setelah tiga bulan Alula akan berfikir apakah resign atau tidak."
"Kalau begitu, mama akan mengantarmu ke kota Surrey. Tinggalah bersama kakek dan nenekmu sementara di kota itu."
"Mengapa Alula lupa jika kakek dan nenek tinggal di kota Surrey? Jika Alula memutuskan untuk menetap dan tinggal di sana bagaimana, Ma?" Alula menatap sendu ibunya.
"Tidak apa. Mama tidak akan khawatir. Kau tinggal bersama kakek dan nenekmu di sana. Mama dan papa akan selalu mengunjungimu," Ainsley mengelus lembut rambut Alula.
"Baiklah, Ma. Alula ingin berangkat malam ini."
"Apa tidak terlalu mendadak sayang?" Ainsley merasa khawatir.
"Semakin cepat semakin baik, Ma."
"Baiklah jika itu keputusanmu."
Alula segera masuk ke kamarnya yang ia tempati sebelum menikah. Alula mengabari Chelsea dan Cleon tentang kepergiannya ke kota Surrey. Alula meminta mereka untuk merahasiakan kota tujuan kepergiannya. Awalnya Cleon dan Chesea membujuk Alula untuk tidak pergi, tetapi mereka tampak mengerti jika Alula memang harus menenangkan dirinya untuk kesehatan bayi yang ia kandung.
__ADS_1
"Jam berapa kau pergi? Aku dan Chelsea akan mengantarmu ke kota Surrey. Kebetulan aku libur selama dua minggu dan Chelsea pun sudah selesai dengan masalahnya, " Cleon mengirimkan pesan kepada Alula.
"Jam 8 malam," balas Alula.
****
Siang harinya, Alula datang ke rumah sakit. Ia ingin mengucapkan selamat tinggal kepada mertuanya yang masih tak sadarkan diri di rumah sakit.
Alula melewati para penjaga yang sedang menjaga William. Untung saja Kai tidak memerintahkan mereka untuk mencegah Alula masuk, sehingga Alula bisa masuk dengan mudah ke ruang perawatan ayah mertuanya.
"Dadd," Alula terduduk di kursi yang ada di hadapan ranjang William. Selang oksigen masih membantu William untuk bernafas.
Alula mengambil lengan William dan menyimpan di pipinya.
"Alula ke sini ingin pamit kepada Daddy," Air mata mulai meloncat kembali dari matanya.
"Alula akan memenuhi keinginan anakmu. Alula akan pergi sejauh mungkin dari Kai. Dadd, kau tahu? Tadinya Alula ingin pergi ke New Zealand, tetapi Alula tidak punya cukup uang untuk memulai hidup di sana," Alula tertawa berbarengan dengan air matanya yang menitik.
"Ku mohon bangunlah Dadd! Buka kembali matamu! Kai dan mommy membutuhkanmu," Alula menciumi tangan William lembut.
"Terima kasih. Terima kasih karena Daddy merestui pernikahan Alula dan Kai. Tetapi, maaf Alula tidak bisa menemani Kai sampai dia tua. Tetapi, kau tidak perlu khawatir Dadd, Alula akan menjaga dan membesarkan cucumu dengan baik. Maaf karena saat ini Alula membasahi tanganmu," Alula membersihkan tangan William yang basah karena air matanya.
"Alula akan selalu berdoa untuk kesembuhanmu. Bangunlah dan dampingi kembali mommy dan Kai," Alula berdiri dan mencium kening William sebelum ia pergi dari ruangan itu.
Setelah Alula keluar, perlahan tangan Wiliam bergerak.
Alula berjalan keluar dari gedung rumah sakit. Ia segera merogoh ponsel dari dalam tas. Ia harus berpamitan kepada Kai untuk terakhir kali. Alula menghubungi Kai berkali-kali, tetapi ia tak kunjung mengangkat telfonnya.
"Ada apa?" Ucap Kai dingin.
"Datanglah ke rumah kita malam ini pukul 7!"
"Aku tidak mau," tolak Kai dengan nada angkuhnya.
"Ini permintaanku yang terakhir. Anggap saja kita tidak akan bertemu lagi. Aku tunggu jam 7 malam!" Alula segera menutup telfonnya. Ia sungguh tidak ingin menangis lagi. Sudah berapa banyak air mata yang ia keluarkan selama beberapa hari ini.
****
"Bagaimana? Apakah kau bisa menghubungi Kai?" Tanya Alden kepada Nino ketika mereka bertemu di Cafe.
"Belum. Aku tidak bisa menghubungi dan menemui anak bodoh itu. Panggilanku di reject dan aku sudah datang ke rumahnya, tetapi bi Esther bilang Kai tidak pulang," Nino menyeruput jus strawberry yang ada di gelasnya.
"Lalu, apa rencanamu?"
"Aku punya rencana yang lebih baik sekarang"
"Apa rencanamu?" Alden tampak sangat penasaran.
"Sebentar. Aku sedang menunggu kedatangan seseorang."
Tak lama, dua orang datang dan membawa sesuatu yang dibungkus dengan tas.
__ADS_1
"Ini tuan barang yang anda inginkan," Orang itu menyerahkan tas yang ada di tangannya.
"Kau sudah mengeceknya?" Tanya Nino.
"Sudah. Itu sesuai yang anda minta."
"Good job," Nino menyerahkan satu lembar cek kepada orang itu.
"Senang bisa bekerja sama dengan anda," orang itu merasa puas melihat nominal yang tertera di cek.
"Kau boleh pergi!"
"Baik, tuan," Orang itu segera berlalu dengan cek yang ada di tangannya.
"Ada apa sih, No? Aku tidak mengerti," Alden merasa kebingungan.
"Keluarkan laptopmu!" Perintah Nino kepada Alden. Alden pun segera membuka laptop miliknya.
Nino mengeluarkan sesuatu dari dalam tas yang baru ia terima.
"Apa itu?" Alden mengamati apa yang dikeluarkan Nino. Nino terlihat mengeluarkan sebuah flashdisk.
"Di dalam flashdisk ini terdapat rekaman CCTV saat Bella memukul wanita di klub malam."
"Lalu apa hubungannya dengan masalah Kai?"
"Jadi, rencanaku adalah aku akan mengunggah video rekaman CCTV di klub dan di depan toko bunga saat Bella mencelakai om William ke you t*be dan media sosial yang lainnya. Jika kita menyerahkannya hanya kepada Kai, tentu orang lain tidak akan tahu sifat dan peringai Arabella. Aku ingin Arabella malu karena seantero negeri ini mengetahui kelakuannya yang mengerikan."
"Mengapa kau tidak memberikannya saja kepada media? Tentu mereka akan memberitakan berita panas ini."
"Kau ini sungguh bodoh! Sama bodohnya dengan si Kai. Petinggi media adalah sahabat dari ayah Arabella. Kau yakin mereka akan menayangkan ini?"
"Jika kita menguploadnya di media sosial, tentu masalah ini akan sangat besar dan pasti media pun mau tak mau akan meliput skandal anak pengusaha yang terkenal di Inggris. Terlebih dia berusaha untuk membunuh seorang pengusaha yang tak lain adalah ayah dari Kaivan Allen. Ini akan jadi affair yang besar," sambung Nino.
"Kau sungguh cerdik!" Alden memuji ide brilian sahabatnya itu.
"Lalu, bagaimana dengan Kai?" Sambung Alden.
"Biarkan si bodoh menonton berita ini sendiri dengan matanya. Aku akan mengupload tepat jam 12 malam ini," Nino segera menyatukan video Arabella yang tengah memukul seorang wanita di klub dan video Arabella yang menusuk William di dalam mobil.
"Setting saja waktu uploadnya sekarang No!"
"Kau ini sungguh tidak sabar. Aku ingin melihat temanmu yang bodoh itu bangun di pagi hari dan shock melihat berita ini," Nino pun mengupload video itu ke yout*be dan menyeting waktunya jam 12 malam.
"Aku melakukan ini karena Bella sudah sangat jahat. Terlebih dia ingin menghancurkan peenikahan sahabat kita. Den, Jangan lupa kau stand by jam 12 malam ini ! Tengah malam nanti kita harus menguploadnya juga di media sosial yang lain."
"Beres. Aku ingin segera melihat kehancuran Arabella dan aku sungguh ingin melihat wajah Kai yang merasa bersalah kepada Alula," sahut Alden.
"Sayang tolong maafkan aku!" Nino meledek Kai dengan meniru suaranya. Alden tertawa terpingkal-pingkal melihat ledekan Nino.
"Selamat menikmati ini Arabella," Nino tersenyum ketika videonya berhasil terupload 100% di yout*be.
__ADS_1
Dear para readers : Selamat menikmati libur Natal dan tahun baru. Selalu jaga kesehatan kalian ya? Tolong tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. š¤