Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Terpukul


__ADS_3

"Ya tuhan, tuan!" Bibi May menutup mulutnya saat ia ikut mendengar berita itu.


Alula segera berlari untuk mengambil tas dan keluar dari dalam rumahnya. Alula langsung mencegat taksi untuk sampai di rumah sakit.


"Daddy?" Alula bergumam lirih. Air mata sudah deras membasahi pipinya. Ia sungguh tidak menyangka William akan jadi korban tindak kejahatan.


"Aku harus menghubungi Kai," Alula mengambil ponselnya dengan gemetar. Ia mencoba menghubungi suaminya, tetapi tidak kunjung ada jawaban.


"Tuan, tolong percepat mobilnya!" Alula berteriak kepada supir taksi.


"Baik, Nona," supir taksi itu melirik Alula dari kaca spion. Ia sungguh kaget melihat penumpangnya tengah menangis hebat.


Alula sampai di depan rumah sakit yang dituju. Alula segera membayar ongkos taksi dan segera berlari masuk ke rumah sakit. Ia sungguh lupa mengenai kehamilannya. Sebelum masuk, Alula melihat begitu banyak reporter tengah berkerumun di area halaman rumah sakit.


Alula menanyakan keberadaan William kepada bagian staff informasi rumah sakit.


"Tuan William masih berada di instalasi gawat darurat, Nona. Dari sini anda jalan lurus lalu belok ke kanan," terang staff informasi itu saat Alula bertanya di mana ruangan William.


Alula tidak menjawab staff informasi itu, ia langsung berhambur berlari menuju ke instalasi gawat darurat yang disebutkan oleh staff informasi tadi.


Alula menghentikan langkahnya. Ia melihat Sofia dan Kai tengah berpelukan sembari menangis di depan pintu ruang IGD.


"Sayang?" Panggil Kai lirih ketika ia melihat Alula. Kai segera berlari ke arah Alula dan memeluk istrinya itu.


"Daddy, daddy di tusuk orang di dalam mobil," Kai menangis. Tubuhnya tampak bergetar.


"Tenanglah, Kai!" Alula ikut menangis.


Sofia tiba-tiba pingsan di tempatnya berpijak.


"Momm!!" Kai berteriak dan segera berlari ke arah Sofia.


"Mommy!" Kai menepuk pelan pipi Sofia. Alula ikut mencoba menyadarkan ibu mertuanya.


"Dok, tolong!" Kai berteriak.


Tak lama kemudian 2 orang petugas medis keluar dari dalam ruangan instalasi gawat darurat. Satu orang petugas medis yang lain membawa sebuah ranjang dan mengangkat tubuh Sofia.


"Tunggulah di sini!" Petugas medis itu menahan tubuh Alula dan Kai yang akan masuk ke ruangan IGD.


"Ya Tuhan!" Tubuh Kai merosot ke lantai. Kai menjambak rambutnya sendiri.


"Tenanglah, sayang!" Alula mencoba menenangkan suaminya yang tengah begitu terpukul.


Setelah beberapa menit, seorang dokter keluar dari ruang IGD.


"Ibu anda baik-baik saja. Ia hanya shock. Tolong jaga emosi dan psikisnya!"


"Keadaan Daddy saya bagaimana?" Kai mengguncang bahu dokter itu.

__ADS_1


"Kai, tenanglah!" Alula menjauhkan lengan Kai dari tubuh dokter yang menangani William.


"Ayah anda masih belum sadarkan diri. Tuan William beruntung karena polisi langsung menemukannya, karena jika ia telat sedikit saja di bawa ke rumah sakit, mungkin nyawanya sudah tidak tertolong. Tusukan di perut bagian kirinya menembus cukup dalam," papar dokter itu. Kai langsung lemas mendengar penuturan dokter.


"Apa ayah saya bisa selamat?" Kai bertanya dengan lirih.


"Tidak ada yang tidak mungkin," tutup dokter itu. Kemudian ia segera masuk kembali ke dalam ruangan gawat darurat.


"Dadd!" Kai kembali menangis.


"Siapa yang berani mencelakai Daddy? Dia tidak akan ku biarkan hidup dengan tenang di kota ini," Kai mengepalkan tangannya dengan geram.


Sofia sudah sadar dan boleh langsung dibawa pulang. Dokter menyarankan agar Sofia tidak berada di rumah sakit, karena kondisi psikisnya tengah terguncang hebat.


"Al, sebaiknya kau bawa pulang mommy! Mommy butuh istirahat," suruh Kai kepada Alula.


"Kau mau ke mana?" Alula menatap wajah Kai yang sangat berantakan.


"Aku harus menemukan orang yang mencelakai Daddy," kilat kemarahan yang sangat besar terpancar di mata Kai.


"Kai sebenarnya-" Alula hendak berbicara kepada Kai, jika tadi ia sempat bertemu dan mengobrol dengan William. Saat Alula berusaha akan menjelaskan tiba-tiba ponsel Kai berdering.


"Edward? Ada apa?" Tanya Kai kepada Edward. Edward adalah orang kepercayaan William dan keluarganya.


"Benarkah? Kau sudah menemukan orang yang mencelakai Daddyku? Baiklah aku segera ke sana. Tolong kirim banyak penjaga ke rumah sakit ini untuk menjaga Daddy!" Perintah Kai kepada Edward.


Kemudian Kai segera mematikan sambungan telfonnya dengan Edward. Kai kemudian menelfon Leo supaya ia menjemput Alula dan juga Sofia di rumah sakit. Tak lama, beberapa penjaga datang untuk menjaga William di rumah sakit.


"Jaga Mommy!" Kai berkata kepada Alula. Alula mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil.


Leo segera melajukan mobil dan membawa Sofia dan Alula ke rumah. Kai pun segera masuk ke dalam mobilnya. Ia sungguh sangat penasaran siapa yang berniat membunuh ayahnya.


*****


Saat Kai tengah menyetir, Alden dan Nino menelfon karena sudah tahu berita mengenai William. Kai menyuruh mereka untuk datang ke rumah Edward. Mereka pun menyetujui dan langsung berangkat ke alamat rumah Edward yang disebutkan oleh Kai.


Kai sampai di pekarangan rumah Edward. Mobil Nino dan Alden pun sampai tak lama setelah Kai keluar dari dalam mobilnya.


"Bagaimana keadaan Daddymu?" Tanya Alden ketika ia keluar dari dalam mobil. Wajahnya sudah sangat khawatir.


"Iya bagaimana daddymu?" Nino tak kalah khawatir.


"Daddy masih belum sadar. Ayo kita masuk! Aku ingin segera tahu siapa orang yang mencelakakan Daddy," Kai mengepalkan lengannya.


Kai, Alden dan Nino pun segera masuk ke rumah Edward yang minimalis. Saat ia masuk, Edward tengah terduduk di hadapan laptopnya dengan seorang pengacara senior yang juga merupakan orang kepercayaan keluarga Allen.


"Jadi, siapa yang mencelakai Daddyku?" Tanya Kai to the point saat ia mendudukan dirinya di sofa ruang tamu rumah Edward.


"Iya. Siapa pelakunya?" Alden dan Nino tak kalah penasarannya.

__ADS_1


Edward memandang Kai lama.


"Tuan yakin ingin tahu siapa yang mencelakai tuan William?" Edward tampak ragu.


"Tentu saja! Aku ingin mengetahui siapa orang bedebah yang berusaha membunuh ayahku," Kai berkata dengan berapi-api.


"Kuatkan hati tuan dengan kenyataan ini!" Edward menatap lirih kepada Kai yang terduduk di depannya.


"Katakan siapa!!!" Kai berteriak.


"Yang mencelakai ayah anda adalah istri anda atau Nona Alula," ucap Edward pelan.


Kai segera berdiri dan menarik kerah kemeja Edward.


"Apa maksudmu kau berkata seperti itu?" Kai berteriak seperti orang kesetanan. Sungguh ia tidak terima istrinya dituduh mencelakai ayahnya sendiri.


"Kai, tenanglah!" Alden dan Nino tampak menjauhkan tubuh Kai dari Edward.


"Tuan, tenanglah!" Pengacara senior yang bernama Tuan Smith ikut melerai.


Kai melepaskan tangannya dari kemeja Edward.


"Aku berkata seperti itu karena bukti mengarah kuat kepada istri anda, tuan," Edward mencoba menjelaskan.


"Bukti? Bukti apa maksudmu??" Kai kembali berteriak.


"Lihatlah ini! Aku mendapatkan bukti dari mobil tuan William. CCTV mobil yang berada di dalam mobil lenyap. Kemungkinan di lenyapkan untuk bukti. Tetapi istri anda lupa, jika di mobil tuan William terdapat Dascham."


Dascham adalah sebuah kamera yang dipasang di atas dashboard mobil, fungsinya adalah untuk merekam keadaan jalanan di depan mobil.


Edward pun memutar video yang ia dapatkan dari dascham mobil William. Di video itu memperlihatkan Alula berjalan di depan mobil William, kemudian ia segera masuk ke dalam bus dengan tergesa gesa.


"Itu adalah rekaman terakhir Dascham mobil tuan William. Tidak ada video lain setelah istri anda keluar dari mobil dan masuk ke dalam bus. Dan 12 menit kemudian, polisi menemukan tuan William sudah bersimbah darah. Saya sudah menyelidiki dan meminta beberapa keterangan saksi. Dan orang yang terakhir ditemui oleh tuan William adalah istri anda," Edward menyerahkan foto saat William turun dari mobil saat ia menjemput Alula di depan Cadbury World.


"Tidak ada orang lain lagi yang tuan William temui di hari itu," lanjut Edward.


Kai masih tampak mencerna penjelasan dari Edward.


"Saya rasa istri anda terbawa emosi dan kalap ketika mengobrol dengan tuan William. Yang saya dengar katanya tuan William tidak merestui pernikahan Tuan Kai dan Nona Alula. Semua bukti mengarah kuat kepada Nona Alula. Kemungkinan 99% memang dia yang mencelakai tuan William," Edward kembali memberikan analisisnya.


Kai benar-benar seperti tengah disambar petir dengan kekuatan yang dahsyat. Ia tak mampu mengeluarkan kata apapun lagi saat mendengar penuturan Edward. Kai tidak mempercayai jika istrinya yang mencelakakan ayahnya, tetapi semua bukti memang kuat mengarah kepada Alula. Kemudian Kai mengingat kembali perkataan dan keluhan Alula di pagi hari tentang ayahnya.


Alden dan Nino pun sama terkejutnya dengan Kai. Mereka tak menyangka Alula bisa seperti itu. Diam-diam Nino dan Alden menolak jika Alula yang mencelakai ayah dari sahabatnya. Tetapi semua bukti memang otentik mengarah kepada Alula.


"Bagaimana, tuan? Apakah anda akan menyeret istri anda ke meja hijau?" Tanya tuan Smith.


"Tidak. Kita tidak perlu membawa kasus ini ke jalur hukum. Tolong beri statement kepada media agar kejadiannya seolah olah Daddyku dirampok biasa! Siapkan seorang tersangka palsu dan tutupi jati dirinya! Dan satu lagi enyahkan semua bukti mengenai istriku!" Perintah Kai kepada tuan Smith dan Edward. Mereka pun mengangguk. Bagaimana pun Kai tidak ingin wanita yang dicintainya masuk ke dalam penjara.


"Kau sungguh tega padaku! Kau sungguh tega melakukan hal ini. Aku tidak akan menyeretmu ke penjara, aku yang akan menghukummu sendiri dengan tanganku," Kai berdiri dan mengepalkan lengannya. Kai pun segera berlalu dari rumah Edward.

__ADS_1


"Mari kita selidiki kasus ini tanpa sepengetahuan Kai!" Bisik Nino kepada Alden.


Jangan lupa untuk memberikan like, komen, vote dan rate 5 untuk mendukung Author. Terima kasih šŸ¤—


__ADS_2