
Kaivan terbangun dari tidurnya. Ia menepuk nepuk sisi kasurnya dan mendapati Alula sudah tidak ada di sisinya.
"Ke mana dia?" Kai segera duduk dan mengucek pandangannya yang masih buram.
Kai berjalan ke arah kamar mandi dan membuka pintu kamar mandi tersebut.
Ceklek...
"Aaaaaaa" Alula berteriak, karena saat ini ia tengah berendam di dalam sebuah bathub.
"Kenapa tidak kau kunci pintunya?" Kai menggaruk kepalanya, lalu ia segera menutup pintu kamar mandi itu kembali.
"Apa tadi dia melihat tubuhku?" Alula bertanya sendiri dengan khawatir. Ia menutupi wajahnya yang memerah.
Alula berdiri di hadapan cermin yang ada dalam kamar mandi. Tubuhnya kini sudah terpasang baju yang lengkap. Ia memang sengaja membawa pakaiannya ke dalam kamar mandi karena tidak ingin menggantinya di dalam kamar. Alula memperhatikan bibirnya yang memerah. Kemudian ia mengingat saat semalam Kai menciumnya dengan sangat panas dan sedikit kasar saat pria itu mencoba membuka bibirnya.
"Aku bingung harus bersikap seperti apa padanya," Alula menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Saat Alula keluar dari kamar mandi, ia berpapasan dengan Kai yang juga akan masuk ke dalam kamar mandi. Kai tampak bertelanjang dada dan menenteng sebuah handuk di tangannya. Alula segera menurunkan pandangannya dan berjalan melewati Kai tanpa sepatah kata pun. Kai pun segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi.
"Kenapa jantungku seperti ditarik keluar?" Kai menyentuh dadanya yang sangat cepat berdetak.
"Kenapa aku jadi deg-degan seperti ini?" Di dalam kamar, Alula pun menyentuh dadanya karena merasakan hal yang sama dengan yang dialami suaminya.
15 menit kemudian Kai berjalan ke luar kamar mandi dengan memakai handuk dari pinggang sampai lutut. Alula memperhatikan Kai yang tengah mengambil sweater dan celana miliknya. Alula segera membelakangi suaminya, karena ia tahu Kai akan segera memakai baju. Kai tersenyum melihat Alula memunggunginya.
"Ayo kemasi barangmu!" Perintah Kai sesudah ia mengenakan pakaiannya dengan lengkap.
"Kita mau pulang? Katamu kita di sini selama lima hari?" Alula membalikan tubuhnya dan menatap Kai dengan tatapan kecewa.
"Siapa bilang kita akan pulang?" Kai melihat keresahan yang terpancar dari mata Alula.
"Kita akan ke kota Bad Ragaz. Di kota itu terkenal dengan mata air alami dan juga banyak pemandian air panas. Tentu kau ingin berendam ke dalam air panas bukan?" Tanya Kai seraya memasukan bajunya yang berada di dalam lemari hotel ke dalam koper.
"Kita akan kesana sekarang? Senangnya!! Akhirnya aku bisa berendam di air panas," Alula menepuk-nepukan tangannya seraya tersenyum membayangkan dirinya berada di pemandian air panas.
Kai hanya tersenyum melihat Alula sangat antusias. Alula pun segera membantu Kai untuk memindahkan bajunya ke dalam koper, tak lupa ia pun juga membereskan pakaian miliknya ke dalam koper yang berbeda. Kai menatap Alula yang saat ini sedang memindahkan baju-baju di lemari. Ia bersyukur kecanggungan yang diakibatkan peristiwa semalam sudah mencair hari ini. Mata Kai tertuju kepada bibir gadis itu yang terlihat memerah.
"Kenapa bibirmu merah seperti ini?" Kai menyentuh bibir Alula dengan jemarinya.
"Tidak kenapa-kenapa," Alula tersenyum seceria mungkin.
"Kau masih bisa bertanya mengapa bibirku seperti ini? Kau tidak ingat apa yang kau lakukan tadi malam? Kau sudah mencium bibirku seliar itu, Ingin sekali aku memakimu, tetapi aku takut jika kau meninggalkanku sendirian di negeri orang," umpat Alula dalam hatinya.
__ADS_1
Alula mengambil masker dari dalam kopernya lalu memakaikan masker itu di wajahnya.
"Mengapa kau menggunakan masker?" Tanya Kai, tentu saja ia tahu mengapa Alula memakai masker. Ia hanya ingin menggoda gadis itu.
"Memangnya semalam aku menciumnya dengan kasar ya?" Kai mengingat-ngingat apa yang dilakukannya semalam.
"Aku hanya ingin melindungi diriku dari polusi udara yang bisa saja terhirup oleh hidungku," Alula berkata cepat.
"Bukankah kau bilang Switzerland negara terbersih di dunia? Bahkan kemarin kau memakan salju-salju di kota ini," Kai semakin tertarik untuk menggoda Alula.
"Bodoh sekali dirimu, Alula!" Alula memaki dirinya sendiri di dalam hati.
"Ya, hanya untuk berjaga jaga saja. Siapa tahu udara kota Bad Ragaz berbeda dengan kota Zurich. Ya sudah ayo kita berangkat!" Alula dengan cepat berdiri dan mendorong koper miliknya ke luar kamar hotel. Kaivan pun tersenyum dengan tingkah Alula yang ia rasa semakin hari semakin menggemaskan.
"Jangan memakai masker!" Kai melepas masker itu saat ia berhasil menyusul langkah Alula.
Sesampainya di lobby hotel....
"Kai?" Panggil Alula kepada suaminya.
"Hmmmm?"
"Kai, bagaimana kalau kita pergi ke kota Bad Ragaz menggunakan bus saja?" Usul Alula hati-hati.
"Kau bisa menyuruh supir mama mu untuk membawa mobil dan membawakan bawaan kita. Aku ingin naik bus, Kai. Aku ingin merasakan naik transportasi umum di negara ini, lagi pula dari kota Zurich ke kota Bad Ragaz hanya 1 jam 9 menit," rajuk Alula.
Kai terlihat berfikir.
"Kau benar-benar mau naik bus?" Kai memperhatikan wajah istrinya yang sedang merajuk.
Alula menganggukan kepalanya dengan cepat.
Kai menghembuskan nafasnya kasar.
"Baiklah, kita naik bus ke sana," entah mengapa Kai tidak bisa menolak permintaan istrinya.
Kai menelfon supir mamanya yang bernama Leo untuk membawa mobil dan juga koper miliknya dan Alula ke kota Bad Ragaz.
****
Kaivan dan Alula tengah melihat jadwal bus dan trem di halte yang ada di tengah kota Zurich. Mode transportasi negara Switzerland merupakan salah satu yang terbaik di dunia, karena kedisiplinan dan ketepatan waktunya. Mereka kini mendudukan dirinya di kursi halte untuk menunggu kedatangan bus yang akan membawa mereka ke kota Bad Ragaz.
Alula dan Kaivan segera masuk ke dalam bus agar segera sampai di kota tujuannya. Kai dan Alula naik bus dengan memakai tiket Half-Fare Class. Tiket itu diberikan oleh Leo sesaat sebelum mereka berangkat untuk menunggu bus.
__ADS_1
Saat Alula dan Kai masuk, tampak bus dipenuhi oleh penumpang yang sebagian besarnya pasti adalah turis. Mau tak mau Alula dan Kai pun berdiri karena tidak kebagian tempat duduk. Alula kehilangan keseimbangan saat bus membelok ke arah kanan. Dengan cepat Kai menangkap tubuh Alula yang akan terjatuh. Mata mereka saling bertautan saat Kai menangkap tubuh Alula. Kai tersenyum menatap Alula yang salah tingkah. Alula segera melepaskan tangan Kai dari pingganganya. Entah mengapa beberapa hari ini, jika berdekatan dengan Kai akan membuat jantung Alula berdebar debar.
Untungnya ada dua orang yang turun di tengah jalan, karena mereka harus mengambil kembali barang yang ketinggalan di hotel. Kedua orang itu pun turun. Alula dan Kai yang melihat kesempatan emas itu langsung berlari ke arah kursi yang sudah kosong.
"Kai akhirnya kita bisa dapat tempat duduk juga," Alula menghela nafas lega.
"Sudah ku bilang, lebih baik naik mobil saja," gerutu Kai karena kepalanya langsung pusing saat ia masuk ke dalam bus. Padahal bus yang mengangkut mereka sangat nyaman.
"Sudahlah Kai! Jangan marah-marah terus! Nanti kau cepat tua," Alula terkekeh melihat wajah suaminya yang ditekuk.
Alula kemudian melihat pemandangan dari kaca bus. Ia tak henti mengagumi negara yang menurutnya seperti negeri dongeng itu. Alula dimanjakan dengan pemandangan bangunan khas eropa dan pegunungan yang hijau tetapi bertabur dengan sedikit salju di puncaknya. Ya, karena sekarang masih permulaan musim dingin. Jadi, gunung-gunung dan bangunan kota belum memutih secara sempurna.
"Kai? Kau masih membawa spidol yang kemarin?" Tanya Alula kepada Kai yang tengah bermain ponselnya. Sejak awal Kai memang tidak seantusias Alula dalam melihat keindahan negara Switzerland. Mungkin karena dia sudah beberapa kali mengunjungi negara ini.
"Masih, untuk apa?" Kai bertanya keheranan.
"Mana spidolnya?" Alula tampak tak sabar.
Kai segera merogoh sweater miliknya yang cukup tebal kemudian ia mengeluarkan spidol permanen yang tempo hari digunakan untuk menulis namanya dan Alula pada gembok di jembatan cinta.
Alula mengambil spidol itu, kemudian ia membuka tutupnya dan langsung menarik telapak tangan Kai.
"Hey, kau mau apa?" Kai terkejut Alula menarik lengannya.
"Aku bosan, Kai. Jadi, aku ingin menulis sesuatu."
"Tapi tidak di tanganku juga, apalagi itu permanen," protes Kai.
Alula tak menghiraukan tolakan suaminya, ia mulai menulis di telapak tangan Kai. Sementara tatapan Kai beralih kepada keadaan bus yang tengah ia tumpangi. Ini kedua kalinya dia naik bus. Pertama saat camping, dan kedua saat berbulan madu bersama istrinya. Kai seolah merasakan de javu, karena dulu saat pertama naik bus posisi duduknya sama seperti sekarang, bersama gadis yang dulu ia panggil dengan gadis aneh, gadis udik dan gadis bodoh.
"Sudah," Alula melepaskan tangan suaminya.
Kai pun segera melihat apa yang Alula tulis di lengannya. Kai tersenyum saat Alula menulis "Alula cantik, Kaivan jelek".
"Yakin kau menyebutku jelek? Kai tersenyum kepada Alula.
"Ya, kau memang jelek," jawab Alula dengan diiringi tawa khasnya. Kai ikut tertawa melihat keceriaan dari wajah Alula. Tadi malam dia hanya bisa memeluk dan memperhatikan Alula yang tertidur, dia takut sikap Alula akan canggung kepadanya. Terlebih mereka harus menjalani waktu 4 hari lagi di negara keju ini.
Kai menoleh kepada Alula. Dilihatnya gadis itu tengah tertidur.
"Dia sangat cepat sekali jika masalah tidur," Kai tersenyum dan segera merebahkan kepala Alula di bahunya, persis seperti kejadian saat camping 6 tahun yang lalu. Bedanya dulu Kai sama sekali tidak memiliki perasaan kepada Alula, tetapi saat ini Kai sepertinya sudah mulai tergila gila dengan gadis itu.
Kai merogoh saku sweaternya dan kembali mengambil ponsel miliknya. Kai membuka foto Alula dan dirinya yang tengah tertidur 6 tahun yang lalu saat perjalanan pulang dari kota Alfreton. Kai mendapat foto itu karena ia mengirimkannya dari ponsel Nino secara diam-diam. Kai tersenyum memandangi fotony dan Alula. Ia semakin serakah karena benar-benar ingin memiliki Alula seutuhnya dan untuknya sendiri.
__ADS_1
Dear para readers : Tolong tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment dan vote untuk mendukung author. Terima kasih š¤š¤