
Mobil Kai sampai di pelataran rumah orang tuanya pada malam hari. Malam ini Kai mengajak Alula untuk menginap di rumah kedua orang tuanya. Ia melakukan itu agar hubungan Alula dan William akrab, dengan begitu ayahnya tidak akan menyuruh Kai untuk menceraikan Alula kembali.
"Anak-anak mommy datang ke sini?" Sofia menyambut Kai dan Alula yang baru turun dari mobil.
"Mom," Kai mencium pipi wanita yang telah melahirkannya.
"Kemarilah sayang!" Ucap Sofia kepada Alula, kemudian ia memeluk tubuh menantunya itu.
"Mommy merindukanmu! Kau dan Kai jarang sekali datang ke sini," Sofia menyentuh lembut pipi Alula.
"Maafkan kami, Mom! Pekerjaan Kai sangat banyak," Alula memberikan alasan sekenanya.
"Kalau begitu ayo kita masuk!" Ajak Sofia sambil menggandeng lengan Alula.
"Hei Dadd!" Sapa Kai kepada William yang tengah menonton tv di ruang keluarga.
William menoleh dan melihat putra tunggalnya datang bersama Alula. William tak berkata-kata, ia segera mematikan televisi dan berlalu dari ruangan keluarga itu.
Kai tampak mengerti jika William tidak ingin melihat Alula di rumah ini. Sedangkan Alula tampak mengerti dengan sikap William yang langsung pergi begitu melihat dirinya.
"Daddy kecapean. Jangan dipikirkan ya sayang!" Sofia mengelus rambut Alula. Ia sungguh tidak enak hati dengan sikap William.
"Tidak apa-apa, Mom," Alula tersenyum dengan tulus kepada Sofia.
"Kalau begitu kalian segera masuk ke kamar, kalian pasti lelah karena tadi sudah bekerja!" Titah Sofia saat melihat Kai membawa tas yang lumayan besar dan melihat raut wajah Alula yang kelelahan.
"Alula tinggal dulu ya mom?"
"Iya, sayang," jawab Sofia.
Kai dan Alula segera naik ke lantai dua menuju kamar Kai sebelum mereka menikah. Kai menyimpan tas yang ia bawa dan segera mengganti baju kerjanya dengan piyama.
"Sayang? Bisa ambilkan aku air?" Pinta Kai kepada Alula. Alula tampak tak menjawab permintaan suaminya. Matanya sedang memandang foto-foto Kai dan Arabella yang masih terjajar rapi di dinding dan di atas laci.
Kai segera mengambil bingkai-bingkai foto yang menampilkan potret dirinya dengan mantan kekasihnya itu. Kai mengambil foto itu tanpa sisa dan segera memasukannya ke tempat sampah yang ada di kamar.
"Sayang? Maafkan aku! Aku lupa membuang foto-foto itu! Aku baru datang ke rumah ini lagi," Kai memeluk Alula dari belakang.
"Sayang? Kau cemburu?" Kai membalikan tubuh Alula menghadap ke arahnya.
"Tidak, siapa yang cemburu?" Alula berdusta, padahal hatinya sudah sangat panas se panas Gurun Sahara saat melihat foto suaminya dengan wanita lain.
"Benarkah? Yakin kau tidak cemburu? Baiklah aku akan memajang foto itu lagi!" Kai mengusili Alula. Ia berpura-pura untuk mengambil bingkai foto itu kembali dari tempat sampah.
__ADS_1
"Jangan Kai!" Alula menahan lengan suaminya.
"Jadi kau cemburu atau tidak?" Kai menahan senyum.
"Iya. Aku cemburu," Alula mengerucutkan bibirnya.
"Kalau kau cemburu berarti kau mencintaiku kan?" Kai sungguh ingin mendengar lagi Alula berkata mencintainya.
"Kau yakin aku menyukai bahkan mencintaimu?"
"Tentu saja. Siapa yang tidak menyukaiku?" Kai berkata dengan sombong.
"Aku," timpal Alula singkat.
"Benarkah?" Wajah Kai mendadak menjadi serius.
"Iya. Aku tidak menyukaimu, tapi itu saat SMA. Kalau sekarang aku sudah mencintaimu," Alula mencubit pipi Kai.
Kai tersenyum mendengar perkataan Alula. Entah mengapa, hatinya menghangat setiap mendengar Alula berkata jika ia mencintainya.
"Coba ulangi lagi! Aku tidak mendengar," Kai mendekatkan telinganya ke wajah Alula.
"Tidak mau, wlee," Alula menjulurkan lidahnya.
"Kai, lepaskan! Aku mau mengambil minum untukmu. Bukannya kau haus?" Alula mengapit pipi suaminya.
"Baiklah," Kai melepaskan tubuh Alula. Alula pun segera beranjak pergi ke dapur untuk membawa air mineral yang diinginkan suaminya.
****
Alula mengambil sebotol air yang ada di dalam kulkas dan menuangkannya ke dalam sebuah gelas.
"Alula?" Panggil seseorang dari belakang. Alula menoleh dan melihat William tengah berdiri di belakangnya.
"Iya, Dadd?" Jawab Alula. Ia menyimpan kembali gelas itu di meja yang ada di dapur.
"Daddy ingin berbicara padamu," kata William dengan wajah yang serius.
"Berbicara apa Dadd?"
"Ayo kita bicara di ruangan kerja Daddy!" Ujar William, kemudian ia mulai berjalan. Alula pun mengikuti ayah mertuanya itu. Jantung Alula mulai berdetak tak karuan. Ia sungguh mengerti William akan berbicara apa padanya.
"Tutup pintunya!" Perintah William. Kini ia dan Alula sudah berada di dalam ruangan kerja miliknya.
__ADS_1
"Ada apa, Dadd?" Alula mendudukan dirinya di hadapan William.
"Ceraikan Kai!" Ungkap William to the point.
"Mengapa daddy menyuruh Alula untuk bercerai dengan Kai?" Alula menatap William dengan sedih.
"Karena pernikahanmu dan Kai sudah berjalan 7 bulan. Bukannya kau dan anakku akan bercerai setelah 7 bulan pernikahan?"
Alula tampak tak menjawab pertanyaan dari William.
"Cobalah untuk mengerti! Yang pantas mendampingi Kai adalah Arabella. Dia bisa membahagiakan Kai. Arabella bisa membuat Kai lebih sukses dan mapan," lanjut William.
"Apa hanya materi yang selalu ada dipikiran daddy?" Alula memberanikan diri untuk bertanya seperti itu kepada William.
"Maaf Dadd! Alula tidak bermaksud untuk tidak sopan terhadap Daddy. Tapi apakah tolak ukur kebahagiaan Kai menurut daddy adalah dengan materi saja? Bukankah Kai sudah mendapatkan semuanya sekarang?" Imbuh Alula.
"Kai mencintai Arabella dan tidak mencintaimu! Dengan Arabella Kai bisa berbahagia," jawab William dengan nada yang tajam.
"Kau salah Dadd! Kai mencintaiku dan tidak mencintai Arabella lagi. Alula mencintai Kai, begitu pun dengan Kai. Alula tak akan pernah meninggalkan bahkan menceraikan Kai. Alula begitu mencintainya. Bayangkan Daddy yang diminta untuk bercerai dengan mommy! Apakah daddy akan menurutinya?" Cerocos Alula.
"Alula mohon restui hubungan kami! Karena bagaimana pun kebahagiaan Kai ada pada restumu," Alula menatap mertuanya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia sudah sangat ingin menangis ketika membayangkan dirinya bercerai dengan pria yang dicintainya.
"Aku tidak merestuimu!" Tolak William.
"Kalau begitu Alula akan selalu berusaha untuk mendapatkan restu dari daddy. Alula izin kembali ke kamar. Alula rasa pembicaraan kita sudah selesai," Alula berusaha menahan air matanya untuk tidak melompat di hadapan William. Ia tidak ingin memperlihatkan sisi kelemahannya.
William mengangguk. Alula segera berjalan dan keluar dari ruangan kerja mertuanya. Alula berjalan kembali ke kamar Kai. Sebelum masuk, Alula menarik nafasnya dan mengerjap-ngerjapkan matanya agar Kai tidak tahu mengetahui pembicaraannya dengan William.
"Lama sekali sayang. Mana minumku?" Kai memperhatikan Alula yang masuk sembari berbaring di atas kasur.
"Oh, iya aku lupa," Alula berbicara dengan datar. Ia sungguh kepikiran dengan kata-kata William.
"Kai, aku tidur duluan ya? Kau ambil sendiri minumnya," Alula membaringkan tubuhnya dan menutupnya dengan selimut. Tubuh Alula juga membelakangi suaminya.
Kai memeluk tubuh Alula dari belakang.
"Sampai mati aku tidak akan pernah menceraikanmu. Kita tidak akan pernah bercerai," Kai berbisik di telinga Alula. Alula tidak dapat menahan perasaannya lagi. Ia berbalik dan memeluk suaminya. Air mata dengan deras keluar dari matanya. Alula sungguh tidak ingin berpisah dengan Kai.
Kai tentu saja tahu jika William meminta Alula menceraikan dirinya. Tadi Kai menyusul Alula ke dapur dan melihat ayahnya meminta Alula untuk berbicara di ruang kerja pribadinya. Kai mengikuti dan mendengarkan percakapan mereka dari balik pintu.
"Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku berjanji tidak akan pernah berhenti mencintaimu," ucap Kai lagi.
"Mari kita berjuang bersama untuk mendapatkan restu dari daddy!" Kai menghapus air mata dari wajah istrinya.
__ADS_1