
Beverly dan Henry memutuskan untuk pulang ke kota Birmingham. Rencana awal, setelah dari kota London, Beverly dan Henry akan melanjutkan bulan madu mereka ke Rottingdean, East Sussex. Akan tetapi, Beverly lebih memilih untuk pulang karena ia harus menyelesaikan tugas kantor yang belum ia selesaikan.
"Bev?" Panggil Henry saat mereka tengah dalam perjalanan ke kota Birmingham.
"Iya?" Beverly memperhatikan jalanan kota London dari jendela mobil. London dulu memang dijuluki The Smoke karena asap yang menyelimuti kota. Tetapi, julukan itu kini sepertinya sudah tidak layak mengingat bersihnya kualitas udara di kota London sekarang.
"Bagaimana jika kau hamil?" Henry menoleh sebentar ke arah istrinya, kemudian ia memfokuskan matanya kembali ke jalanan yang ada di depannya.
"Ya, kau harus menikahiku," jawab Beverly.
"Bukankah kita sudah menikah?" Henry mengerutkan keningnya.
"Oh iya. Aku lupa," Beverly menggaruk kepalanya.
"Mudah mudahan, kau segera hamil ya? Agar aku bisa segera menjadi ayah," Henry tersenyum. Ia benar-benar tidak sabar untuk menanti dirinya menjadi seorang ayah.
"Iya. Semoga kita diberikan kepercayaan dengan cepat," Beverly mengamini.
Hari senin....
Hari ini Beverly dan Henry sudah memulai kembali rutinitasnya untuk bekerja. Beverly bekerja di perusaahan real estate milik Kai, sedangkan Henry mulai bekerja di Kedutaan Besar Kanada yang ada di kota London.
"Henry, kau yakin akan naik kereta cepat ke kota London?" Beverly tampak ragu.
"Tentu saja, Bev. Aku lelah jika harus pulang pergi dengan menyetir. Jika naik kereta, aku bisa beristirahat," jawab Henry dengan mantap.
"Baiklah. Teruslah kabari aku ya?" Beverly tampak khawatir
"Iya istriku," Henry tersenyum saat melihat raut wajah Beverly yang tampak sangat khawatir.
"Ayo ku antarkan kau ke stasiun!" Beverly mengambil tas Henry.
"Tetapi jika kau mengantarku, bagaimana kau pulang?"
"Tentu saja aku menyetir sendiri. Sebelum aku menikah denganmu, setiap hari aku memakai mobil."
"Baiklah. Asal kau harus ekstra hati-hati dalam mengemudi!" Henry mengusap rambut Beverly dengan lembut.
Hati Beverly pun menghangat karena perlakuan manis dari suaminya. Tak lama, mereka segera berangkat ke stasiun New Street kota Birmingham.
Beberapa menit kemudian, sepasang suami istri itu sampai di stasiun yang memiliki predikat sebagai salah satu stasiun kereta terbaik di Inggris Raya. Setelah memesan tiket, Henry dan Beverly terduduk untuk menunggu kedatangan kereta.
"Bev, aku masuk dulu!" Henry berdiri ketika kereta sudah datang.
"Henry!" Beverly menggenggam tangan suaminya, seakan tidak rela jika hari ini mereka berpisah.
__ADS_1
"Bev, nanti sore aku juga pulang! Akhir pekan kita jalan jalan lagi ya?" Henry menyentuh pipi Beverly dengan tangannya.
"Kau harus janji jika akan pulang kembali!" Beverly tiba-tiba menangis.
"Bev, aku akan pergi bekerja, bukan pergi ke medan perang dunia dua dan membantu sekutu untuk memenangkan pertempuran," Henry tersenyum dan mengusap air mata istrinya.
"Aku hanya takut kau tidak kembali."
"Tidak akan. Aku pasti pulang," Henry mengelus pipi istrinya.
"Ibu, kasian sekali! Sepertinya mereka akan berpisah dalam waktu yang lama," seru anak kecil yang melihat Henry tengah menenangkan Beverly dari tangisnya.
"Iya, kasihan sekali, Nak. Ayo kita masuk ke kereta!" Ibu itu menuntun anaknya untuk masuk ke dalam kereta.
"Waktu yang lama apa maksudmu, dek? Aku hanya akan berpisah selama 8 jam dengan istriku," cerocos Henry dalam hatinya.
"Ya sudah, Bev. Aku pergi dulu!" Henry memeluk Beverly sebelum naik kereta.
Lagi-lagi Beverly menahan tangannya. Henry pun segera membalikan tubuhnya dan memegang bahu istrinya, kemudian ia berbisik di telinga Beverly "Bev, aku mencintaimu!"
Beverly membulatkan matanya saat mendengar bisikan suaminya, hingga tidak terasa ia melepaskan tangan Henry.
Kemudian, Henry segera naik ke dalam kereta meninggalkan Beverly yang masih terkejut dengan apa yang ia dengar.
****
"Bukankah penampilan seorang sekretaris pribadi harus menarik?" Alula kemudian berjongkok dan mencegah suaminya untuk membuka sepatunya.
"Aku hanya khawatir akan kandunganmu. Dan jangan memakai rok itu lagi! Pakai saja dress karena perutmu sudah mulai membesar. Menurutlah, sekali ini ya?" Kai membujuk istrinya.
"Baiklah," Alula mengangguk.
Kai kembali berjongkok untuk melepas heels yang sudah Alula pakai.
"Kai, tidak usah! aku bisa membukanya sendiri. Tidak baik kau menyentuh kakiku," Alula menahan tangan Kai yang akan membukakan sepatu miliknya.
"Baiklah," Kai tersenyum.
Setelah bersiap siap, mereka segera pergi untuk sarapan dengan William dan juga Sofia.
"Bagaimana Kai? Apa kau suka dengan sekretaris pribadi yang di rekomendasikan oleh Daddy?" William bertanya sembari mengunyah makanannya.
"Tentu saja, Dad. Mengapa Daddy tidak merekomendasikannya dari dulu?" Kai menoleh kepada Alula yang sedang sarapan di sisinya.
"Dari mana Daddy tahu jika Al dan Kai bermasalah mengenai sekretaris pribadi?" Alula merasa penasaran.
__ADS_1
"Karena Alden yang menceritakan semuanya kepada Daddy, dan kebetulan kamu meminta bantuan kepada Daddy," jawab William kepada menantunya.
"Walau begitu, kau harus hati hati ya sayang? Jangan sampai terlalu lelah! Ingat, ada cucu mommy di dalam perutmu!" Timpal Sofia.
"Tenang saja. Kai yang akan menjaga Alula," Kai menenangkan kekhawatiran ibunya.
"Sayang, tidak kah kau ingin menutupi lehermu dengan syal?" Tanya Sofia kepada putranya yang membuat Alula langsung terbatuk batuk.
"Sayang, minumlah!" Kai langsung memberikan air mineral untuk istrinya dan mengelus punggungnya dengan lembut.
"Kau baik-baik saja, sayang?" Sofia berdiri dari duduknya dan menghampiri Alula. Ia ikut mengelus punggung menantunya dengan lembut.
"Al, baik-baik saja, Mom!" Ucap Alula. Sofia pun terduduk kembali di kursinya.
"Tidak usah, Mom. Ini kan tanda cinta," seru Kai sambil melirik wajah Alula yang sudah merah merona.
Setelah selesai dengan ritual makan paginya, Alula dan Kai segera berangkat ke kantor untuk bekerja. Sepanjang perjalanan, Alula terus menyender di bahu suaminya yang tengah menyetir. Tak lama kemudian, mereka segera sampai di kantor milik Kai.
"Sayang, duduklah di pahaku!" Kai berjongkok ketika mereka sudah sampai di depan lift dan menunggu lift itu turun.
Alula pun segera terduduk di paha suaminya sembari menunggu pintu lift terbuka karena memang kakinya sedikit pegal hari ini.
Orang-orang yang berlalu lalang tampak sangat kaget melihat pemandangan yang ada di depan mereka.
"Ku kira sikap tuan Kai pada istrinya sangat dingin!"
"Bukankah itu sekretaris pribadi baru tuan Kai? Apa mereka memiliki hubungan khusus?" Bisik salah satu karyawan yang tidak update mengenai wajah istri atasannya.
"Dia istrinya," temannya langsung menyikut pelan tangan karyawan itu.
Tak lama, lift pun terbuka. Alula segera bangun dari paha suaminya.
"Hati hati sayang!" Tutur Kai sembari menggenggam tangan istrinya menuju lift. Lagi lagi karyawan yang melihat tersentak kaget melihat sikap dari bos yang terkenal pemarah itu.
"Sayang, ini jadwal meetingmu untuk minggu ini!" Alula menyerahkan catatan kepada suaminya yang sedang terduduk di kursinya.
"Semoga segera selesai, agar kita bisa quality time berdua," Kai langsung menarik Alula hingga tubuhnya langsung terduduk di pangkuan Kai.
"Kai, kau ini benar-benar tidak memiliki batasan!" Alula mencubit pelan pipi suaminya.
"Tidak apa, tidak ada orang di sini. Tadi sampai mana?" Kai memeluk erat tubuh Alula dan mencium dalam dalam wangi rambut istrinya. Wangi yang selalu ia sukai sejak awal pernikahan.
"Aku sangat bersyukur bisa terus berdekatan denganmu setiap waktu," bisik Kai dalam hatinya.
Note : Jangan lupa mampir di novel author yang satunya lagi ya.
__ADS_1
Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih š¤