
Kai baru ke luar dari kamar mandi. Ia melihat Alula tengah berkaca memperhatikan wajahnya.
"Sayang, kau kenapa?" Tanya Kai saat melihat wajah murung istrinya.
"Kai, lihatlah! Wajahku sekarang berjerawat," keluh Alula dengan memperlihatkan jerawat yang tumbuh di keningnya.
"Sayang, itu hanya jerawat!" Kai menyentuh jerawat itu dengan jarinya.
"Jangan di sentuh! Nanti pecah," Alula menepuk pelan tangan suaminya.
"Sayang, ini hanya jerawat! Mengapa kau sangat resah? Kau tidak perlu mengkhawatirkan penampilannu! Tidak boleh ada pria lain yang melirikmu," jawab Kai sembari terus memperhatikan wajah istrinya.
"Bukan itu. Bagaimana jika kau melirik wanita lain karena aku berjerawat seperti ini?"
"Sayang, kau ini sangat lucu! Aku tidak pernah berfikiran untuk melirik wanita lain," Kai mengelus rambut Alula lembut.
"Benar?" Tanya Alula memastikan.
"Tentu saja. Aku tidak peduli wajahmu berjerawat. Kau mau mengandung anakku saja, aku sudah sangat senang dan bersyukur," jawab Kai dengan wajah yang serius.
"Sayang, terima kasih," Alula memeluk tubuh suaminya erat.
"Kalau begitu, bersiaplah! Hari ini kita harus memeriksa kehamilanmu. Kita harus tahu perkembangan anak kita seperti apa," Kai menuntun lengan Alula untuk bersiap-siap.
Beberapa menit kemudian..
"Sayang, ayo!" Ucap Alula yang sudah siap untuk pergi
Saat mereka melewati ruang keluarga, Kai dan Alula berpapasan dengan William.
"Dad, kau mau ke mana?" Tanya Kai yang melihat penampilan rapi William.
"Daddy, akan datang ke persidangan Arabella sebagai saksi. Penyidik sudah menemukan CCTV mobil daddy yang Arabella ambil. Tentu itu akan memperberat hukumannya," jelas William kepada Kai.
"Baiklah, Dad. Bersaksilah sejelas mungkin, agar Bella bisa mendapat hukuman yang setimpal," Kai berkata dengan kilatan kemarahan di matanya.
"Pasti. Daddy tidak akan membiarkan dia bebas dengan mudah," William menepuk pelan bahu putranya.
"Kalau begitu, daddy berangkat dulu!" Pamit William kepada Kai dan Alula.
"Hati-hati di jalan, Dad!" Alula melambaikan tangannya ke arah ayah mertuanya.
__ADS_1
"Sayang, kau yakin tidak apa-apa jika Arabella di hukum berat?" Alula menoleh ke arah Kai.
"Tentu saja. Mengapa masih bertanya?" jawab Kai dengan nada yang sedikit ketus.
"Sayang, kau membentakku? mengapa kau memarahiku? Kan aku hanya bertanya?" Jawab Alula dengan nada yang sedih.
"Sayang, maafkan aku! Aku tadi hanya emosi mengingat Bella," Kai menarik Alula untuk lebih mendekat ke arahnya.
"Aku emosi karena akibat perbuatannya, aku hampir kehilanganmu dan hampir menjauh dari anak kita."
"Aku hanya bertanya, apa kau tidak apa melihat Bella di hukum berat? Secara kan dia mantan kekasihmu selama 3 tahun."
"Tentu saja. Dia harus mendapat hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Terlebih yang dia celakai adalah daddy. Akibat perbuatannya, aku hampir kehilanganmu dan aku tidak bisa mentolerir kejahatannya itu," jelas Kai dengan lembut.
"Kalau begitu, ayo kita berangkat!" Kai segera menarik tangan Alula ke luar dari rumah untuk menuju rumah sakit.
****
Saat ini, Alula sedang terbaring di ranjang pemeriksaan. Dokter Kim sedang melakukan USG kepada Alula. Kai memperhatikan monitor yang memperlihatkan rahim istrinya.
"Usia kehamilan nyonya Alula sudah memasuki usia 12 minggu. Ini adalah merupakan minggu terakhir trimester pertama. Biasanya pada usia ini, ibu hamil akan mengalami kram pada perut akibat ukuran rahim yang mulai membesar," Dokter Kim mulai menjelaskan.
"Apa kramnya tidak berbahaya dok?" Tanya Kai dengan raut wajah yang khawatir.
"Baik, dok. Untuk jenis kelamin bayi, apakah sudah terlihat?" Kai memperhatikan layar monitor dengan seksama.
"Pada umumnya, jenis kelamin bayi akan terlihat saat sudah memasuki usia kehamilan 18-22 minggu. Akan tetapi, sepertinya bayi anda berjenis laki-laki, tuan. Saya melihat tunas yang akan membentuk menjadi prostat," jelas dokter Kim kembali.
Kai tersenyum senang saat mendengar penuturan dokter Kim.
"Sayang, bayi kita laki-laki!" Kai berkata dengan sangat gembira sembari mengusap wajah Alula yang tengah terbaring. Alula pun tersenyum melihat wajah gembira suaminya. Bahkan ia melihat mata Kai berkaca-kaca.
"Tapi kita pastikan lagi saat kehamilan nyonya Alula memasuki usia 18 minggu, tuan," timpal Dokter Kim.
"Baik, Dok. Lalu, selain senam apa yang bisa istri saya lakukan untuk menangani kramnya?" Tanya Kai kembali.
"Tentunya olahraga yang ringan, tidur yang cukup dan makan makanan yang mempunyai asupan gizi yang lengkap. Pastikan juga emosi istri anda stabil, tuan. Jangan membuatnya stres! Penuhi segala keinginannya karena moodnya kadang naik turun! Jangan membuat istri anda tertekan secara emosional dan juga psikis!
"Baik, dok," Kai mengangguk patuh pada penjelasan Dokter Kim.
"Dok, mengapa wajah saya jadi berjerawat? Apakah ada hubungannya dengan kehamilan?" Tanya Alula.
__ADS_1
"Itu hal yang biasa saat kehamilan, karena terjadinya peningkatan hormon androgen saat hamil. Saat hormon sudah stabil, jerawat akan menghilang dengan sendirinya," urai Dokter Kim kembali.
Alula pun mengangguk mengerti dengan penjelasan Dokter Kim.
"Sayang, aku sudah bilang jangan mengkhawatirkan itu!" Ucap Kai kepada Alula.
"Aku hanya khawatir kau melirik wanita lain."
Kai pun bernafas pelan mendengar ucapan istrinya. Tetapi, ia harus memaklumi karena ibu hamil memang memiliki perasaan yang lebih sensitif.
Dokter Kim pun menyudahi pemeriksaannya. Kai dan Alula segera ke luar dari ruangan dokter Kim untuk pulang ke rumah.
"Sayang, aku ingin boneka!" Pinta Alula kepada Kai yang tengah menyetir.
"Kau ingin boneka seperti apa? Nanti aku membelinya, sayang."
"Boneka beruang yang besar. Agar ketika aku tidur, aku bisa memeluknya."
"Jika kau tertidur memeluk boneka, lalu siapa yang memelukku?" Kai mencebikan bibirnya.
"Kan untuk selang seling, sayang!" Alula mencubit gemas pipi suaminya.
"Baiklah. Nanti aku membelinya."
Saat mobil Kai melewati halte bus, Alula melihat anak kecil yang tengah memakan cupcake. Alula langsung menelan ludahnya melihat anak kecil itu begitu rakus memakan cupcakenya.
"Sayang?" Alula menoleh kembali ke arah Kai.
"Iya?"
"Aku ingin cupcake."
"Baiklah, sekarang kita beli ya sayang?" Jawab Kai tenang.
"Aku tidak mau membelinya. Aku ingin kau, Alden dan Nino yang membuatnya."
Kai pun segera menoleh ke arah istrinya dengan raut wajah yang terkejut.
"Tolong, jangan lagi !"
Jangan lupa untuk mampir di novel author yang satu lagi ya. Cuss klik profil author dan mulai membaca ā¤ā¤
__ADS_1
Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih š¤