
Pagi ini, Beverly berencana untuk pergi ke Rideau Canal, yang merupakan salah satu destinasi wisata yang ada di kota Ottawa, Kanada. Sebelum berangkat pergi, Beverly memilih untuk sarapan terlebih dahulu. Ia membawa makanannya ke arah kolam renang hotel yang ada di lantai satu. Beverly terduduk di pinggir kolam renang sembari memakan sarapan paginya.
"Enak sekali makanan ini," Beverly takjub dengan Beavertails/ makanan khas kanada yang sedang ia cicipi.
"Heh, gadis menyebalkan?" Sapa seseorang yang berdiri di belakang Beverly.
"Kau lagi! Ada apa?" Beverly berdecak kesal ketika melihat Henry yang ada di belakangnya.
"Ayo ikut aku!" Henry menarik tangan Beverly untuk berdiri.
"Ada apa? Jangan sentuh aku!" Beverly melepaskan tangan Henry dari tangannya.
"Ayo ikut aku dan jelaskan kepada Vienna jika kau bukan tunanganku!" Henry berkata dengan wajah yang sangat tak ramah.
"Oh, jadi nama wanita itu Vienna," Beverly mengangguk-nganggukan kepalanya.
"Kau harus menjelaskan jika kemarin kau berbohong padanya!"
"Jika aku tidak mau. Kau bisa apa?" Beverly tersenyum sinis.
"Aku akan tetap membawamu ke hadapan Vienna. Ayo!" Henry menarik tangan Beverly kembali.
"Aku tidak mau! Lepaskan!" Beverly menarik tangannya agar terlepas.
"Aku tidak mau tahu, kau harus ikut datang ke apartemen Vienna," Henry masih memegangi tangan Beverly.
"Aku sudah bilang tidak mau!" Beverly berusaha menarik tangannya.
"Lepaskan!" Teriak Beverly kepada Henry yang masih menarik tangannya.
"Baiklah!!" Henry melepaskan tangannya dan-
Byuurr....
Beverly masuk ke dalam kolam renang karena Henry melepaskan tangannya.
"Henry tolong!!" Teriak Beverly di dalam kolam.
"Rasakan itu! Haha," Henry tertawa melihat Beverly yang tengah bersusah payah untuk berenang.
"Henry, aku tidak bisa berenang," Beverly berteriak.
"Aku tidak percaya!"
"Henry!!" Teriak Beverly kembali.
"Benarkah dia tidak bisa berenang ?" Henry bergumam dan memperhatikan Beverly.
"Henry, to-" Beverly tidak menyelesaikan ucapannya. Tubuhnya kini tidak terlihat dan tenggelam ke dasar kolam renang.
"Bev?" Teriak Henry panik.
Henry langsung meloncat masuk ke dalam kolam renang untuk menolong Beverly yang sedang tenggelam.
__ADS_1
"Bev!!" Henry memegangi tubuh Beverly dan menepuk pipinya.
"Piiuuhhh!" Beverly tiba-tiba menyemprotkan air yang ada di bibirnya ke wajah Henry.
"Kau tertipu!" Beverly tergelak karena berhasil membuat Henry masuk ke dalam kolam renang yang sama dengannya.
"Ini benar-benar tidak lucu! Kau keterlaluan!" Henry menahan amarah yang ada di dadanya. Henry langsung meninggalkan Beverly dan naik dari kolam renang.
"Yah, dia marah. Aku kan hanya bercanda," Beverly ikut naik dari kolam renang dan langsung mengikuti Henry.
"Henry?" Beverly berteriak dan berusaha untuk mengejar langkah Henry yang besar-besar.
Kini Beverly dan Henry menjadi tontonan tamu hotel yang sedang berlalu lalang karena tubuh mereka yang basah. Henry segera masuk ke dalam lift dan Beverly pun ikut masuk ke dalam lift itu.
"Henry, aku minta maaf! Aku sudah keterlaluan," Beverly menatap wajah Henry yang merah padam.
Henry tidak menjawab ucapan Beverly, dia segera pergi ke lantai 7 menuju kamarnya.
"Henry, tunggu!" Beverly menahan Henry untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa lagi, Bev? Kau belum puas mengerjaiku?" Tanya Henry masih dengan raut wajah yang berapi-api.
"Aku minta maaf. Aku sudah keterlaluan."
"Aku tidak memaafkanmu!" Henry berusaha kembali untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Aku mohon maafkan aku! Sebagai permohonan maaf dariku, aku akan menjelaskan jika kemarin aku berbohong kepada Vienna. Bagaimana?"
"Benarkah?" Wajah geram Henry perlahan memudar.
"Baiklah. Kalau begitu ganti bajumu! Nanti kita bertemu di lobby hotel. Aku akan membawamu ke apartemen Vienna," Henry tersenyum.
"Oke!" Beverly menaikan jempolnya dan segera berlalu untuk mengganti baju
Setelah mengganti bajunya yang basah, Beverly dan Henry bertemu kembali di lobby hotel. Kini Beverly harus menjelaskan kesalah pahaman yang ia buat kepada Vienna, gadis yang tengah dekat dengan Henry.
"Ayo kita berangkat dengan mobilku!" Henry berjalan terlebih dahulu ke parkiran hotel, sedangkan Beverly mengekor di belakangnya.
"Kau memang benar-benar pria yang pelit!" Beverly menggerutu ketika ia sudah terduduk di samping Henry.
"Pelit bagaimana?" Henry bingung dengan ucapan Beverly.
"Di dalam mobilmu masih saja tidak ada tisu. Kau jangan terlalu berhemat! Nanti kau sakit!"
"Aku bukan pelit, tetapi memang aku belum sempat membelinya. Sudah lama aku tidak pergi ke super market. Jika aku pelit, aku tidak akan tidur di hotel ini," Henry segera melajukan mobilnya menuju apartemen wanita yang sudah mulai ia cintai.
"Alasan saja. Kita akan ke apartemen kekasihmu itu?" Beverly memperhatikan jalanan Ottawa dari kaca mobil.
"Iya," jawab Henry singkat.
"Kau tahu sekali apartemennya. Jangan-jangan kau selalu menginap di apartemen kekasihmu!" Tuduh Beverly.
"Dia belum menjadi kekasihku dan aku tidak pernah menginap di apartemen miliknya. Aku tahu apartemen miliknya karena saat kuliah dulu kami pernah satu kelompok.
__ADS_1
"Oh, jadi dia teman kuliahmu. Aku pikir kau seorang bad boy. Habisnya kau sangat berbeda sekali dengan adikmu. Cleon tidak pelit sepertimu, dia sangat royal, contohnya ketika kami pergi menonton," Beverly membandingkan adik kakak itu. Henry tampak tidak terkejut mendengar penuturan Beverly.
"Adikku memang baik kepada semua orang. Bahkan setahun yang lalu, dia masih membantu mantan kekasihnya yang sedang krisis keuangan."
"Maksudmu Amanda?" Beverly tampak terkejut.
"Iya. Siapa lagi? Dia hanya memiliki satu mantan kekasih."
"Lalu? Untuk apa Cleon membantu Amanda dalam masalah keuangan? Kan dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi?"
"Ku dengar ayah Amanda bangkrut dan ibunya di rawat di rumah sakit. Amanda memerlukan uang dan dia datang mencari Cleon untuk meminjam uang. Tetapi Cleon bilang ambilah uangnya dan tidak perlu diganti."
"Adikmu benar-benar baik. Andai saja aku yang jadi kekasihnya."
"Jangan berkhayal! Aku tidak mau mempunyai adik ipar sepertimu," Ucap Henry ketus. Sementara Beverly hanya mendelikan matanya.
Tak lama, mobil mereka pun sampai di sebuah apartemen yang terlihat mencakar langit kota Ottawa.
"Ayo!" Henry segera turun dari mobil miliknya dan langsung berjalan masuk ke apartemen. Sedangkan Beverly mengikutinya dari belakang.
"Ini apartemennya?" Tanya Beverly ketika mereka sudah ada di depan sebuah kamar apartemen yang berada di lantai 5.
Henry segera memencet bel tetapi tak kunjung ada yang membuka pintu. Henry mencoba memencet bel lagi, tak lama kemudian seseorang tampak membuka pintu.
"He-henry kau di sini?" Tanya Vienna dengan terbata-bata.
Beverly merasa heran wanita yang ada di hadapannya hanya memakai selimut. Henry pun sama herannya dengan Beverly, tetapi dia menepis rasa herannya itu. Bukannya ia datang untuk menjelaskan kesalah pahaman yang telah terjadi?
"Vie, aku ingin menjelaskan perihal hari kemarin. Aku dan Be-"
"Honey, siapa yang datang?" Terdengar suara seorang pria dari dalam kamar.
"Siapa itu?" Henry menautkan alisnya tajam.
"Bu-bukan siapa-siapa," jawab Vienna dengan terbata-bata.
Henry segera mendorong pintu kamar Vienna dan melihat seorang pria tengah tertidur di atas kasurnya dengan bertelanjang dada.
"Hey, kau siapa?" Bentak pria yang ada di atas kasur itu.
"Jadi, ini kelakuan aslimu?" Henry tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah! Kau pun apa bedanya denganku? Kau sudah menghamili wanita ini kan?" Vienna menunjuk ke arah wajah Beverly.
"Nona, saya ke sini untuk menjelaskan jika kemarin saya hanya iseng. Saya datang ke Kanada untuk berlibur dan tak sengaja bertemu dengan Henry di hotel yang sama. Henry adalah kakak dari teman SMA saya sekaligus tetangga saya di Inggris," Beverly menjelaskan. Vienna tampak terkejut mendengar penjelasan Beverly.
"Bev, kau tidak perlu menjelaskannya! Kita sudah buang-buang waktu datang ke mari. Ayo!" Henry menarik tangan Beverly untuk segera pergi dari apartemen Vienna.
"Henry, tunggu! Aku bisa jelaskan!" Vienna menahan tangan Henry.
"Lepaskan!" Henry mengibaskan lengannya agar tangan Vienna terlepas.
"Untung saja aku belum menjadikanmu sebagai kekasihku!" Henry menatap tajam dan segera menarik tangan Beverly dari apartemen Vienna. Henry sudah tidak menghiraukan lagi teriakan Vienna yang memanggil namanya.
__ADS_1
Terima kasih kepada para readers yang sudah berkenan mampir, membaca, memberikan like, memberikan komen, rate maupun vote. Semoga kalian semua sehat selalu dan selalu dalam kebahagiaan. ❤❤