
Saat mobil Nino dan Alden akan masuk ke halaman rumah Kai, mereka melihat mobil sahabatnya itu bergerak keluar.
"Dia mau kemana?" Alden bertanya kepada Nino.
"Aku pikir dia akan ke rumah Arabella," Nino segera melajukan mobilnya kembali untuk mengikuti Kai. Tebakannya benar, mobil Kai terlihat melaju ke arah Bartholomew Row, yang merupakan kediaman Arabella dan kedua orang tuanya.
Sesampainya di depan rumah Arabella, Kai segera keluar dan berlari ke arah pintu. Nino dan Alden pun segera turun dari mobilnya. Mereka melihat penampilan Kai begitu kacau pagi ini
"Kalian ada di sini?" Kai heran karena Nino dan Alden sudah ada di belakangnya.
"Iya," jawab Nino singkat.
Kai segera menggedor rumah Arabella dengan sangat keras.
"Arabella keluar kau!" Kai berteriak di depan pintu rumah mantan kekasihnya itu.
"Arabella!!" Kai kembali berteriak dan menggedor pintu itu dengan lebih keras.
"Kai tenanglah!" Alden berusaha untuk meredam emosi Kai. Wajah Kai benar-benar sedang menahan emosi yang sangat besar yang siap untuk diledakan.
"Diamlah!!" Bentak Kai kepada Alden. Alden pun langsung terdiam.
Seseorang terlihat membuka pintu, orang itu adalah asisten rumah tangga keluarga Arabella.
"Di mana dia?" Tanya Kai dengan raut wajah tak ramah.
"Nona Arabella tidak ada, tuan," asisten rumah tangga itu menundukan kepalanya. Kai segera masuk ke dalam rumah melewati asisten rumah tangga itu.
"Tuan, anda tidak boleh masuk!" Asisten rumah tangga di rumah Arabella menarik tangan Kai.
"Jangan ikut campur!!!" Kai menghempas tangan itu dengan kasar.
"Bella, di mana kau?" Kai berteriak seperti orang yang kesetanan. Kai memecahkan beberapa vas bunga yang ada di dalam rumah Arabella.
"Keluar atau aku benar-benar hancurkan rumah ini!" Kai kembali berteriak.
"Ada apa ini?" Alex keluar dari ruangan yang ada di samping tangga.
"Mana anakmu?"
"Bella tidak ada. Dia sudah pergi ke luar negeri," jawab Alex gugup.
Kai segera berjalan ke ruangan di mana Alex tadi keluar.
"Kai, kau mau kemana?" Alex menghadang tubuh Kai untuk masuk ke dalam ruangan itu.
"Minggir!" Perintah Kai kepada Alex. Alex tidak bergeming dari tempatnya berpijak.
"AKU BILANG MINGGIR!!" Kai mendorong tubuh Alex sampai terpental ke lantai.
Kai segera masuk. Di sana ia melihat Arabella dan ibunya dengan sebuah koper yang siap untuk di bawa. Sepertinya Arabella berniat kabur dari kota ini. Arabella sangat kaget ketika melihat Kai masuk. Kai memandang Arabella dengan tatapan bengis.
"Sa-sayang, kau ada di sini?" Wajah Arabella tampak pucat pasi. Ia berjalan mendekati Kai.
Kai segera berjalan mendekati Arabella. Ia menarik Arabella dari ruangan itu dan mencengkram lehernya dengan sangat kuat.
__ADS_1
"Jadi, kau yang mencelakai ayahku?" Kai berteriak. Teriakannya seolah merusak gendang gadis yang kini tengah ia cekik.
"Kai, lepaskan!!" Arabella berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Kai dari lehernya.
"Apa yang kau lakukan pada putriku?" Alex mencoba menjauhkan Kai dari anaknya. Tetapi, Nino dan Alden menghalangi Alex untuk menggapai tubuh Kai
Sementara Julia hanya menangis histeris melihat Kai mencekik putri kesayangannya.
"Kai, lepaskan Nak!" Julia mencoba melepaskan tangan Kai dari leher Arabella.
"Diam atau aku akan benar-benar membunuh anak tak berguna mu ini!!" Hardik Kai kepada Julia. Julia pun langsung diam melihat sisi gelap Kai yang baru ia ketahui.
"Mengapa kau mencelakai ayahku? Gara gara ulahmu, aku kehilangan istriku!!" tanya Kai dengan berapi-api.
"Kai, lepaskan! A-aku tidak bisa bernafas," Arabella menjawab dengan tersegal. Kai malah semakin menguatkan cengkramannya.
"Kai, lepaskan! Dia bisa mati," Nino sekuat tenaga melepaskan tangan Kai dari leher Arabella.
Kai melepaskan Arabella dan mendorongnya hingga tersungkur di lantai. Kai kembali menarik dan mencekal lengan Arabella dengan sangat kuat.
"Kai lepaskan! Tanganku sakit!" Arabella meronta sambil menangis sesenggukan. Rasanya Kai seperti akan meremukan tulang tangannya.
"Jawab! Mengapa kau mencelakai ayahku?"
"Karena ayahmu tidak mau membantuku untuk mendapatkanmu," gumam Arabella tetapi masih terdengar oleh Kai.
"Kau memang wanita iblis!!" Tangan Kai terangkat untuk memukul wajah Arabella. Tetapi ia urungkan, karena ia belum pernah dengan sengaja memukul wajah seorang wanita.
"Kai lepaskan anakku!" Alex mencoba kembali untuk mendekat ke arah Kai, tetapi Alden masih menahannya.
"Anakmu telah mencoba membunuh ayahku !! Dan karena ulah anakmu juga aku menuduh istriku dan sekarang aku kehilangannya!" Kai mengalihkan pandangannya kepada Julia dengan tajam.
"Maafkan dia! Bella sedang khilaf," Julia mengatupkan tangannya.
"Sampai mati pun, aku tidak akan memaafkan wanita lakn*t ini!" Kai kembali menatap Arabella dengan sorot kebencian yang amat dalam.
"Dengarkan aku! Jika aku tidak bisa menemukan istriku, aku yang akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!!"
"Sakit Kai," Arabella menangis merasakan nyeri di tangannya.
"Alden, segera hubungi polisi!" Seru Kai kepada Alden.
Alden pun segera menelfon polisi untuk menjemput Arabella ke rumahnya.
"Kai, jangan lakukan itu aku mohon!" Alex memohon kepada Kai.
"Jangan penjarakan anakku! Aku menyayanginya," Alex bersimpuh di kaki Kai. Julia pun melakukan hal yang sama.
"Tolong lepaskan Bella, Nak! Aku tidak akan tega melihat putriku meringkuk di penjara," Julia menangis histeris.
"Sudah untung aku hanya memenjarakannya dan tidak membunuhnya!" Kai mengibaskan kakinya agar tangan Julia terlepas.
"Kai, aku mohon. Aku tidak mau masuk penjara," rintih Arabella.
"Bahkan memasukanmu ke penjara masih belum sepadan dengan apa yang telah kau lakukan padaku. Kau menghancurkan keluargaku!!"
__ADS_1
"Aku mohon Kai!" Arabella masih memohon. Sementara Alex dan Julia masih bersimpuh di kaki Kai.
Tak lama polisi pun segera datang ke rumah Arabella dengan membawa surat penahanan. Alex dan Julia segera bangun dari posisi bersimpuhnya.
"Kami ke sini ingin melakukan penangkapan kepada saudari Arabella. Ini surat penangkapannya!" Polisi itu memberikan surat kepada Alex.
"Kami menangkap atas laporan dari Nyonya Sofia," tutur polisi itu. Rupanya Sofia yang terlebih dahulu melaporkan Arabella kepada polisi.
"Tangkap wanita in! Dan jangan biarkan ia bebas dengan mudah," Kai menarik tangan Arabella menuju kedua polisi itu.
"Kai, ku mohon jangan lakukan ini!" Arabella berteriak histeris sambil meronta
"Kai! Kasihani aku, aku mohon!" Harapnya kepada Kai. Kai hanya memandangi nya dengan geram.
Polisi segera memborgol tangan Arabella karena ia terus meronta dan berusaha untuk kabur. Kemudian kedua polisi itu segera pergi dengan membawa Arabella. Julia dan Alex mengejar polisi yang membawa anaknya sampai halaman rumah.
"Ayo kita pergi dari sini!" Ajak Nino kepada Kai dan Alden.
Mereka bertiga pun segera keluar dari rumah Arabella dan bergegas masuk ke dalam mobilnya.
"Kai, ku mohon bantu Arabella!" Julia mengejar Kai yang berlalu masuk ke dalam mobilnya. Kai tidak mendengar apa yang Julia katakan, ia segera menancap gas untuk pergi ke rumah orang tua istrinya. Nino dan Alden pun mengikutinya dari belakang.
Saat Kai mengendarai mobil menuju ke rumah Halbert, Sofia menelfonnya. Sofia memberitahukan jika William sudah sadar dari dini hari tadi. Mau tak mau Kai pun menunda kepergiannya ke rumah Alula. Ia harus melihat bagaimana kondisi ayahnya terlebih dahulu.
Setelah belasan menit, Kai sampai di rumah sakit. Ia segera berlari menuju kamar perawatan ayahnya. Alden dan Nino pun ikut masuk ke dalam ruang perawatan William. Tampak Sofia tengah duduk di kursi yang ada di sebelah kasur William.
"Dadd?" Panggil Kai kepada William yang sudah membuka matanya.
"Kai?" William tersenyum lemah. William mengedarkan pandangannya, mencari seseorang.
"Di mana istrimu?"
Kai tidak menjawab pertanyaan ayahnya.
"Daddy merindukannya. Bagaimana kehamilannya? Apakah selama Daddy tidak sadar, kau memperhatikan istrimu? Dia tengah hamil cucu Daddy," William berkata dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
Kai bak tersambar petir di siang hari mendengar penuturan ayahnya. Jangankan menjaga dan memperhatikan Alula, Kai malah membuang istrinya dan menyakitinya dengan begitu dalam.
"Daddy sudah tahu dia sedang hamil?" Bibir Kai tampak bergetar.
"Iya. Daddy sengaja bertemu dengannya untuk memberi tahu jika Daddy merestui kalian. Alula memberi tahu Daddy kehamilannya saat kami berada di dalam mobil. Daddy mengajak Alula bertemu, karena Daddy tak kunjung bisa menemuimu. Setelah Alula pergi, Bella tiba-tiba masuk ke dalam mobil dan menusuk Daddy," jelas William.
Kai tak bisa berkata apa-apa lagi mendengar penuturan ayahnya. Ia merasa sangat bodoh karena tidak mempercayai istrinya.
"Kai? Ada apa denganmu?" William menatap wajah Kai yang sepertinya tengah shock hebat.
Kai tidak menjawab, ia segera keluar dan berlari untuk menuju rumah Alula. Ia sangat berharap istrinya masih ada di rumah Halbert.
"Ada apa ini?" William menatap Nino dan Alden bergantian. Sofia pun sama herannya dengan William. Sofia pun tidak mengetahui mengenai Kai yang menuduh Alula sebagai orang yang mencelakai suaminya.
"Tidak ada apa-apa. Kami pamit dulu," tutur Nino. Dia pun segera keluar dari ruang perawatan Halbert untuk mengejar Kai. Alden pun mengikuti Nino.
"Ada apa dengan mereka?" Tanya William kepada Sofia.
"Aku tidak tahu," Sofia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih š¤