
Hari ini adalah hari pernikahan Chelsea dan Cleon. Mereka menikah di kastil yang ada di kota Birmingham. Semua orang tampak hadir di pesta itu. Pesta ini pun mengusung Garden Party, akan tetapi pengantin membaur kepada para tamu. Pernikahan ala ala orang Eropa pada umumnya.
"Chel, selamat ya? Aku harap kau dan Cleon berbahagia," Alula memeluk Chelsea yang tengah menjadi pengantin.
"Terima kasih, Al untuk semuanya!" Chelsea membalas memeluk Alula dengan erat.
Tak lama Alula pun berjalan ke arah Cleon. Pandangan Alula dan Cleon bertemu. Cleon dan Alula berpandangan cukup lama.
"Al, terima kasih sudah datang!" Ucap Cleon membuyarkan lamunan Alula.
"Sama sama. Tolong jaga Chelsea! Dia wanita yang sangat baik," pesan Alula kepada Cleon.
"Tentu saja aku akan menjaganya," Cleon mengelus pipi Alula lembut.
Tak lama Alula bergeser dan kini giliran Kai yang mengucapkan selamat.
"Ini untukmu karena telah mengusap pipi istriku!" Kai meninju pelan bahu Cleon. Mereka pun tertawa bersama.
"Kai?" Panggil Cleon.
"Iya, ada apa pengantin baru?"
"Aku mempunyai satu janji kepada Alula. Tolong gantikan aku untuk melaksanakan janji itu! Aku wakilkan kepadamu!" Mata Cleon menatap mata Kai dengan serius.
"Katakan apa janji itu!" Jawab Kai dengan tidak sabar.
"Aku pernah berjanji akan membawa Alula ke Switzerland dan mengajak dia untuk makan Hasta Es Krim sambil naik kereta dan mengitari gunung Jungfrau. Aku wakilkan janji itu kepadamu!" Cleon menepuk bahu Kai pelan.
"Baiklah, aku akan mewakilkanmu untuk melaksanakan janji itu," Kai pun tersenyum.
Kini hati Cleon sudah sangat lega. Dari tadi ia memikirkan janji itu. Janji yang pernah ia buat saat dirinya dan Alula makan Hasta Es Krim saat pertemuannya dengan Kai pertama kali setelah 6 tahun mereka lulus SMA.
Kai pun turun dari pelaminan dan giliran orang lain yang memberikan selamat untuk Chelsea dan Cleon.
"Cium, cium!" Pinta para tamu kepada Chelsea dan juga Cleon.
Cleon membuka kain yang menutupi wajah Chelsea. Ia menatap wajah wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu.
"Aku akan membahagiakanmu dengan sekuat tenaga dan aku tidak akan pernah menyakitimu," ucap Cleon yang membuat Chelsea langsung berkaca-kaca. Ia pun mencium bibir Chelsea dengan lembut.
Semua tamu yang datang pun langsung bertepuk tangan dengan meriah.
"Sini Jasper! Sama mama lagi!" Alula mengambil Jasper dari tangan Beverly. Tadi saat ia menyalami pengantin, Alula memang menitipkan dulu Jasper kepada Beverly. Alula, Jasper dan Kai pun mendudukan dirinya di kursi yang ada.
Alula menatap terus kepada pengantin yang berbahagia.
"Sayang, kau kenapa?" Tanya Kai sembari menangkup tangan Alula.
"Akhirnya mereka menikah. Aku harap Cleon dan Chelsea selalu berbahagia," Alula tersenyum ke arah Kai.
"Aku juga berharap mereka bahagia."
Jam terus berputar, tak terasa pernikahan Chelsea dan Cleon sudah selesai. Semua tamu sudah membubarkan dirinya masing-masing. Cleon dan Chelsea pun langsung pulang ke kediaman rumah orang tua Cleon.
"Pokoknya kau dan istrimu harus tinggal bersama mama," Alice memberikan keputusan kepada anak bungsunya.
"Ma, tapi Cleon ingin mandiri!" Ucap Cleon kepada ibunya.
"Mama akan kesepian, sayang. Apalagi kau adalah anak bungsu. Tinggalah bersama mama, kau tega membiarkan wanita tua ini kesepian?" Alice masih berdebat dengan Cleon perihal tempat tinggal baru untuk anaknya.
"Chelsea dan Cleon akan tinggal bersama mama," jawab Chelsea yang menghentikan perdebatan ibu dan anak itu.
"Sayang, kenapa?" Tanya Cleon kepada istrinya.
"Aku tidak masalah jika tinggal bersama mama."
"Benarkah?"
"Iya. Lagi pula mama tidak memiliki anak lagi," jawab Chelsea.
__ADS_1
"Terima kasih, sayang. Kau memang menantuku yang sangat baik," Alice mencium pipi Chelsea lembut.
"Ya sudah kalau begitu," Cleon menghembuskan nafasnya pelan.
****
Beberapa bulan kemudian...
Kandungan Beverly kini sudah memasuki usia 9 bulan dan telah mendekati hari perkiraan lahir.
"Henry, aku ingin es krim!" Pinta Beverly kepada Henry.
"Apa tidak apa-apa es krim terus Bev?" Tanya Henry ragu.
"Tidak apa-apa," jawab Beverly kemudian.
"Sebentar aku ambil dulu," Henry turun dari kasurnya dan bergegas untuk pergi ke dapur.
Saat ia sedang di dapur terdengar teriakan Beverly dari dalam kamar.
"Henry, sakit!" Beverly mengerang.
Henry yang mendengar langsung berlari menuju kamar dan melihat Beverly tengah memegangi perutnya.
"Bev, kau akan melahirkan!" Teriak Henry.
"Iya, cepat bawa aku ke rumah sakit!" Pinta Beverly dengan wajah yang sangat kesakitan. Henry pun langsung mengangkat tubuh istrinya dan langsung membawanya ke rumah sakit terdekat.
"Henry, ini sangat sakit!" Beverly memejamkan matanya. Kini mereka sudah ada di ruangan untuk melahirkan.
"Peganglah tanganku, Bev!" Henry memberikan tangannya kepada Beverly. Beverly pun meremas tangan Henry sekuat tenaga.
"Aaa, Bev sakit!" Henry berteriak.
"Kau ini sangat berlebihan, itu tidak ada apa apanya dengan sakit yang aku rasakan!" Beverly menggerutu.
Beverly kemudian menjambak rambut Henry untuk menetralkan sakit yang ia rasakan.
"Bev, sakit! Mengapa jadi aku yang disiksa?" Henry mencoba melepaskan tangan Beverly dari rambutnya. Perawat yang sedang mempersiapkan perlengkapan untuk melahirkan hanya menggelengkan kepalanya mendengar teriakan dari sepasang suami istri itu.
"Ayo nyonya Beverly! Mengejan lah!" Dokter mulai memberikan aba-aba.
Beverly pun mengejan sekuat tenaga agar anaknya bisa segera lahir.
"Bev, semangat! Kasihan anak kita di dalam!" Henry memberikan semangat.
"Bev, ayo dorong!" Ucap Henry lagi.
"Dorong dorong, kau kira anakmu Patrick yang mendorong kota Bikini Bottom saat episode cacing besar Alaska? Kau sungguh tidak merasakan!" Beverly menjawab perintah Henry dengan wajah yang meringis.
"Mengapa jadi spongebob sih?" Tanya Henry kebingungan.
"Ayo nyonya! Rambutnya sudah kelihatan," ujar Dokter itu lagi.
"Ayo, Bev! semangat!" Henry bertepuk tangan.
"Aku sedang melahirkan bukan sedang bermain volly!" Beverly membentak suaminya.
"Ayo anak Daddy segera lah ke luar!" Ucap Henry lagi.
"Ayo nyonya, mengejan lagi!" Ucap Dokter yang menanganinya.
Beverly mun mengejan dengan sekuat tenaga.
"Henry, aku tidak kuat!" Beverly memejamkan matanya.
"Ayo kau pasti bisa! Aku akan memberikanmu satu set perhiasan yang kau inginkan jika berhasil melahirkan!" Henry memberikan semangat.
"Benarkah? Baiklah kalau begitu," Beverly mengejan kembali. Tak lama, terdengar suara tangisan bayi memecah keheningan kamar bersalin tersebut.
__ADS_1
Dokter segera mengangkat bayi Beverly yang berjenis kelamin perempuan dan segera membersihkannya.
"Bev, kau berhasil!" Henry menciumi seluruh wajah istrinya.
"Jangan lupa satu set perhiasannya!" Tutur Beverly dengan suara lemah.
"Iya, aku tidak akan lupa!" Henry menghapus keringat yang membasahi wajah Beverly.
Tak lama, Dokter pun memberikan bayi Beverly. Beverly memangku putrinya dengan perasaan haru.
"Henry, ini anakku?" Tanya Beverly kepada suaminya yang juga tengah memperhatikan anak mereka.
"Tentu saja masa anak tetangga."
"Anak mommy cantik sekali!" Mata Beverly berkaca kaca menatap anak pertamanya.
"Kita namakan siapa?" Tanya Henry.
"Kita namakan Aurora Zeuch," jawab Beverly sembari terus memandangi wajah anaknya.
"Bailklah, Aurora," Henry tersenyum.
***
Rumah Beverly sudah dipenuhi oleh orang-orang yang ingin melihat bayinya sedari mereka sampai di rumah.
"Sekarang aku sudah menjadi Grandma?" Tanya Kate dan Alice saat melihat cucu mereka.
"Iya, Mom. Kalian sudah jadi nenek-nenek," Beverly tertawa.
"Mengapa dia sangat mirip sekali dengan kak Henry?" Cleon memperhatikan wajah keponakannya.
"Tentu saja mirip dengan kaka, masa iya mirip denganmu?" Chelsea menyenggol pelan tangan Cleon.
"Bev, bayimu cantik sekali!" Seru Alula saat melihat Baby Aurora pertama kali.
"Al, nanti kita berbesan ya? Kita jodohkan Aurora dan Jasper!" Pinta Beverly kepada Alula.
"Bayimu masih merah, kau sudah merencanakan untuk menjodohkannya," jawab Kai kemudian.
"Tak apa. Aku ingin berbesan dengan kalian. Pokoknya Jasper nanti harus menikahi Aurora," Beverly memberikan keputusan.
"Jasper lihatlah! Ini calon istrimu kelak!" Beverly memperlihatkan Aurora kepada Jasper.
Alula hanya tertawa mendengar ucapan sahabatnya itu.
Setelah menjenguk Beverly, kini Kai dan Alula pulang kembali ke rumah William. Mereka belum juga memberikan izin kepada Alula dan Kai untuk pulang ke rumahnya walaupun kini Jasper sudah berusia 9 bulan.
"Sayang?" Panggil Kai kepada Alula.
"Iya?"
"Besok mari kita pergi ke Switzerland! Aku ingin mengajakmu untuk memakan Hasta Es Krim di dalam kereta sambil melihat pegunungan Jungfrau!" Ajak Kai kepada istrinya.
"Kai, benarkah kita akan jalan-jalan?" Alula bertanya dengan tidak percaya.
"Iya, sayang."
"Bagaimana dengan Jasper?"
"Kita titipkan kepada Mommy dan Daddy."
"Kau yakin tidak apa-apa?"
"Aku yakin. Mari kita berbulan madu kembali!"
"Kai?" Alula mencubit pipi Kai yang tengah menyetir.
Terima kasih buat readers yang kemarin sudah menjawab pertanyaan author ya. Author akan membuat Novel baru khusus Nino dan tentunya author akan bebaskan novel itu dari embel-embel novel lanjutan. Jadi, author akan memperkenalkan semuanya dari 0 agar pembaca yang tidak membaca novel Alula dan Kai pun bisa menikmati jalan ceritanya. Dan nantikan ya, besok adalah episode terakhir dari novel ini, besok novel Nino pun rilis. Terima kasih kepada para readers yang masih membersamai novel ini sampai dengan hari ini. Novel ini bukan apa-apa tanpa kalian semua. š¤š¤
__ADS_1