Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Pelaku Sebenarnya


__ADS_3

Hari sudah menjelang malam dan jam menunjukan pukul 22.00. Alula masih bertahan di teras rumah mertuanya. Alula pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya dan Kai. Alula berharap setelah dirinya pulang, Kai pun mau pulang ke rumah mereka.


Setelah 15 menit, Alula sampai di rumahnya yang berada di Boston Villages.


"Nona, kau kenapa?" Bibi May tampak kaget melihat Alula pulang ke rumah dengan keadaan yang sangat kacau. Matanya sangat sembab dan air mata tampak masih membasahi pipinya.


"Bi," Alula segera memeluk bibi May, asisten rumah tangganya. Alula menangis pilu di pelukan bibi May.


"Tenanglah Nona!" Bibi May mengusap punggung Alula lembut.


"Bi, Kai menuduhku menusuk ayahnya," gumam Alula lirih. Bibi May mendengar gumaman itu.


"Mengapa bisa, Nona?" Bibi May tampak sangat terkejut.


"Tadi aku bersama Daddy. Aku bertemu dengannya untuk mengobrol. Tetapi, aku malah yang dituduh melukai Daddy," Alula semakin mengencangkan tangisnya.


"Nona, tenanglah! Bibi percaya padamu!" Bibi May mencoba menghibur Alula.


"Bibi percaya padaku, tetapi suamiku tidak mempercayaiku," dada Alula semakin sesak mengingat tuduhan Kai kepadanya.


"Tuan Kai sedang sangat emosi dan ia begitu terpukul atas kejadian yang menimpa tuan William. Nona berikan waktu kepada tuan Kai supaya hatinya tenang terlebih dahulu. Sekarang ia tidak bisa berfikir dengan tenang. Setelah tenang, tuan Kai akan mendengarkan kata-kata Nona," bibi May mencoba menenangkan Alula.


"Aku harap begitu bi," Alula melepaskan pelukannya. Bibi May segera mengambil tisu dan memberikannya kepada Alula.


"Sebaiknya Nona segera beristirahat!"


"Baik, bi. Alula masuk dulu ke kamar," Alula menghapus air matanya dengan tisu yang diberikan oleh bibi May. Kemudian ia segera berjalan menuju kamar.


Alula membuka pintu kamar. Belum genap satu hari, ia sudah sangat merindukan kehadiran Kai. Alula mengambil ponselnya. Terlihat beberapa panggilan tak terjawab dari Chelsea.


Alula segera menelfon Chelsea.


"Chel?" Jerit Alula saat Chelsea mengangkat sambungan telfonnya.


"Al, kau kenapa?" Chelsea terlihat panik saat mendengar suara Alula.


"Chel, Kai menuduhku yang menusuk Daddy," Alula menangis kembali.


"Mengapa dia bisa menuduhmu, Al?" Chelsea berkata dengan cemas.


"Karena aku orang yang ditemui terakhir oleh Daddy dan ada video yang memperlihatkan aku berjalan di depan mobilnya. Setelah 12 menit aku keluar, Daddy ditemukan sudah terluka," Alula semakin terisak.


"Aku bersumpah tidak melakukan semua itu, Chel. Untuk apa aku melakukannya? Terlebih setelah aku memperlihatkan foto hasil USG, daddy merestuiku," lanjut Alula.


"Aku percaya padamu, Al. Aku tahu siapa kau. Sekarang Kai masih shock. Berilah waktu padanya! Setelah itu bicaralah kembali padanya," Chelsea menenangkan sahabatnya.


"Aku tidak tahu, Chel. Kai benar-benar sangat marah padaku."


"Tenanglah Al! Ingatlah ada anakmu di perutmu. Kasian dia," Chelsea mengingatkan. Alula teringat kembali jika ia sedang mengandung sekarang.


"Bagaimana jika Kai meninggalkanku? Bagaimana apabila anak ini hidup tanpa seorang ayah?" Alula menangis sesenggukan.


"Tidak akan. Berfikirlah yang positif! Sekarang kau istirahatkan tubuhmu. Kau butuh istirahat sekarang. Besok aku akan menemuimu."


"Baiklah, Chel. Terima kasih karena sudah percaya padaku," Alula lagi-lagi merasa beruntung ada Chelsea di hidupnya.


"Iya. Segeralah tidur, Al! Kasihan bayimu."


"Baiklah, aku tutup telfonnya."


"Iya. Tidur yang nyenyak! Berfikirlah positif!" Tutup Chelsea. Alula pun segera mematikan sambungan telfonnya.


Alula mengganti bajunya dengan piyama. Ia merebahkan dirinya di atas kasur. Sesekali Alula berjalan ke arah jendela, berharap melihat suaminya pulang ke rumah.

__ADS_1


"Kai, kamar ini sepi tanpamu!" Air mata kembali merembes dari mata Alula.


Alula ke luar dari kamarnya. Ia berjalan ke luar rumah.


"Nona mengapa di sini? Nanti Nona sakit. Anginnya sangat kencang," bibi May mendatangi Alula.


"Alula sedang menunggu Kai pulang, bi. Bibi masuklah dan tidur duluan!"


"Bibi di sini saja temani Nona."


"Tidak usah, bi. Bibi di dalam saja," Alula kasihan jika bibi May berada di luar bersamanya. Alula khawatir bibi May akan sakit karena usianya sudah cukup senja.


"Baiklah. Nanti nona juga segera masuk ya?"


"Iya bi," Alula mengangguk.


Bibi May masuk kembali ke dalam rumah dan membiarkan pintu terbuka.


"Aku mohon pulanglah! Mari kita selesaikan masalah ini dengan kepala dingin!" Alula berbicara sendiri. Alula berjalan ke arah pagar rumahnya. Ia melihat jalanan yang sudah sepi, berharap mobil Kai datang.


Sudah pukul 2 malam, Alula masih berdiri di depan pagar menunggu kedatangan suaminya.


"Kai?" Alula memanggil nama suaminya lirih.


Alula pun merebahkan tubuhnya di kursi yang ada di halaman rumah. Tak lama kemudian ia pun tertidur.


****


Flashback...


"Kai, mengapa kau meninggalkanku?" Arabella menatap fotonya dan Kai saat mereka berpacaran dulu.


"Sayang, lupakanlah Kai!" Perintah Julia lembut.


"Tapi nak-"


"Diamlah Mom! Mommy tahu apa tentang perasaanku?" Arabella segera berlalu meninggalkan ibunya dan bergegas meninggalkan rumah.


"Ini semua gara-gara wanita murahan itu!" Arabella mengumpat di dalam mobilnya.


"Aku sangat membencimu Alula Claire!!" Pekik Arabella. Saat mobilnya melewati Cadbury World, ia melihat Alula turun dari dalam mobil.


"Kebetulan sekali aku bertemu denganmu di sini," Arabella tersenyum licik saat ia melihat Alula. Alula tampak terduduk di depan Cadbury World.


"Jika aku tidak bisa memiliki Kai, maka tidak ada seorang pun yang bisa memilikinya," Arabella tersenyum sinis.


"Aku harus melalukan apa padamu wanita tidak berguna? Aku harus menabrak mu atau apa?" Arabella menyeringai jahat.


Tak lama, sebuah mobil yang ia kenali tampak berhenti di depan Alula. Seseorang yang Arabella kenal keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu mobilnya untuk Alula.


"Daddy William?" Arabella heran melihat William menjemput Alula.


Tak lama kemudian, mobil dari ayah pria yang dicintainya melaju meninggalkan Cadbury World. Arabella segera membuntuti mobil itu. Kemudian, mobil William berhenti di depan sebuah toko bunga yang tampak tutup, di sebelah toko bunga itu adalah halte bus. William maupun Alula tak terlihat turun dari mobil.


"Ah aku mendapatkan dua lalat sekaligus. Aku tabrak mobil itu atau?" Arabella menggantung kata-katanya saat Alula keluar dari dalam mobil.


"Aku punya ide yang lebih baik," Arabella tersenyum licik. Ia tampak mencari sesuatu di dalam mobilnya. Arabella mengambil sebuah pisau buah dari dalam kotak yang ada di jok penumpang. Ia memang selalu membawa pisau itu untuk mengupas buah di dalam mobil saat tidak sempat sarapan di rumah.


Setelah bus yang dinaiki Alula melaju, Arabella segera keluar dari dalam mobil dan masuk dengan cepat ke dalam mobil William. Ia masuk tepat di samping William.


"Bel, sedang apa-"


Belum sempat William meneruskan perkataannya, Arabella menancapkan pisau itu di perut bagian kirinya.

__ADS_1


"Itulah akibatnya jika kau bermain main denganku!!"


"Bell?" William menghardik sembari memegangi perutnya yang mengeluarkan banyak darah. Arabella segera mengambi cctv yang ada di dalam mobil dan segera keluar. Arabella berlari dan masuk ke mobilnya yang ada di belakang mobil William.


Tangan Arabella dan pisaunya penuh dengan darah. Tak lama, suara sirine mobil polisi berbunyi cukup nyaring yang menandakan polisi akan segera melewati jalan ini.


"Sial!!" Arabella segera memutar kembali mobilnya dan berlalu dari sana.


Polisi yang sedang patroli tampak heran melihat mobil William terparkir di pinggir jalan dengan pintu di samping driver yang terbuka. Salah seorang polisi memutuskan untuk turun.


"Permisi, tuan! Ini bukan kawasan parkir! Polisi itu mengetuk kaca mobil William. Merasa tidak ada jawaban, polisi itu mengintip kaca mobil William. Betapa terkejutnya polisi itu saat melihat William bersimbah darah dan tidak sadarkan diri.


"Tolong panggil ambulance! Ada orang yang terluka!" Polisi itu berteriak kepada rekannya yang berada di dalam mobil. Tak lama kemudian 2 orang polisi segera turun.


"Kita bawa dengan mobil ini saja! Aku khawatir nyawanya tidak terselamatkan jika kita menunggu ambulance," ucap salah seorang polisi yang turun dari dalam mobil. Mereka pun segera mengeluarkan tubuh William dan membopongnya ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit.


Arabella pulang kembali ke rumahnya. Jujur ia sangat shock dan menyesali perbuatannya mengapa ia menusuk William. Arabella membawa pisau yang sudah berlumuran darah ke dalam rumahnya.


"Bel, ada apa denganmu?" Tanya Julia yang panik melihat tangan Arabella. Ayahnya pun yang ada di rumah ikut mendatangi Arabella.


"Aku menusuk Daddy William!!" Bibir Arabella bergetar. Ia baru tersadar akan perbuatannya.


Julia tampak terkejut mendengar apa yang dikatakan anaknya begitu pun dengan ayahnya yang bernama Alexander.


Plaakk


Alex menampar pipi Arabella.


"Kau mengapa mencelakainya? Kau ingin masuk penjara??" Alex berteriak kepada Arabella.


"Aku gelap mata, Dadd. Maafkan aku!" Arabella menangis.


"Gelap mata? Kau sudah dua kali mencelakai orang. Saat kau mabuk di klub malam kau mencelakai seorang wanita. Bagaimana jika orang lain tahu kau yang menusuk William? Perusahaanku akan hancur!!" Berang Alex.


"Tenanglah sayang!" Julia menenangkan suaminya. Ia pun menyetel televisi yang ada di ruang tengah. Di televisi sedang di siarkan langsung mengenai penusukan yang dilakukan kepada seorang pengusaha terkenal.


"Di mana otakmu, hah?" Alex menjambak rambut Arabella.


"Sayang, jangan kasar padanya!" Julia menangis melihat suaminya memperlakukan Arabella kasar.


"Jika dia mati, kau akan menjadi seorang pembunuh!! Mengapa kau tidak berfikir ke arah sana? Dasar anak tidak berguna!!!" Umpat Alex kembali. Sementara Arabella hanya menangis.


"Apa William melihatmu?" Tanya Alex kembali.


Arabella pun mengangguk.


"Dasar anak sial*n!!" Alex mendorong tubuh anaknya hingga tersungkur.


"Aku rasa Daddy William tidak akan selamat, Dadd, dan pasti orang lain akan menuduh seseorang yang menusuknya," Arabella berkata dengan sesenggukan.


Alex segera memanggil orang-orang kepercayaannya.


"Segera musnahkan semua CCTV yang ada di sekitar tempat ditemukannya tuan William!" Perintah Alex kepada orang-orang yang merupakan kaki kanannya. Mereka tampak mengerti dan segera pergi ke TKP.


Saat mereka datang, polisi tidak ada di sana karena mereka belum menggelar olah TKP. Anak buah Alex segera mengambil semua CCTV yang ada di sekitar tempat ditemukannya William.


"Semua sudah diambil?" Tanya seseorang yang bertugas memantau dari dalam mobil.


"Sudah, tuan," jawab orang-orang yang mengambil CCTV.


Orang yang ada di dalam mobil pun segera menelfon Alex jika semua CCTV di sekitar TKP sudah mereka ambil.


Tanpa mereka sadari, mereka melewatkan satu CCTV milik toko bunga yang sedang tutup. CCTV itu tidak mereka temukan karena disimpan di dalam sebuah hiasan vas bunga yang digantung dengan amat cantik.

__ADS_1


Dear para readers : Tolong tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment dan vote untuk mendukung author. Terima kasih šŸ¤—šŸ¤—


__ADS_2