
Tak terasa, pernikahan Alula dan Kai sudah memasuki usia tujuh bulan. Dari hari ke hari, mereka sangat dekat dan seperti tidak dapat dipisahkan. Walaupun baru tujuh bulan menikah, tetapi Kai dan Alula sudah merasakan asam manisnya berumah tangga. Masalah-masalah yang mereka hadapi membuat ikatan batin mereka semakin kuat. Hari ini Kai mengantar Alula yang akan pergi bekerja. Alula sekarang sudah mengajar di sebuah universitas negeri atas usahanya sendiri.
"Ingat jangan dekat-dekat dengan para mahasiswa pria!" Kai memperingati Alula di dalam mobilnya. Setiap hari Kai selalu mengucapkan kata itu sebelum Alula beranjak masuk ke area kampus.
"Iya, sayang. Mengapa kau sangat menggemaskan jika sedang cemburu?" Alula mencubit pipi suaminya dengan gemas.
"Istriku kan sangat cantik. Aku takut para mahasiswamu mendekati dan merayumu," Kai mengerucutkan bibirnya.
"Benar aku cantik? Tidak aneh?" Alula menggoda suaminya.
"Tentu saja tidak! Siapa yang bilang istriku ini aneh? Aku akan menghajarnya!"
"Bukankah kau yang sering memanggilku gadis aneh?" Alula terkekeh melihat tingkah suaminya.
"Kau ini pendendam sekali. Itu kan sudah berlalu ! Lagi pula kan sekarang kau bukan seorang gadis lagi!" Kai tersenyum. Ia melepas safety belt yang melingkar di tubuhnya, sembari mencodongkan tubuhnya ke arah Alula yang masih terduduk di sampingnya.
"Jangan mulai! Ini area kampus!" Alula memperingati suaminya yang gerak geriknya sudah mencurigakan.
"Habisnya kau selalu membuatku ingin melakukannya!" Kai mencium pipi istrinya dan menggosok-gosokan hidung mancung miliknya.
"Setiap malam kita selalu melakukannya. Apa kau tidak bosan?" Alula menjauhkan wajah Kai dari wajahnya.
"Mana mungkin aku bosan! Aku tidak akan pernah bosan padamu," Kai mengusap pipi Alula lembut.
"Ya sudah, aku pergi mengajar dulu. Kau hati-hati berangkat ke kantor ya? Dan semangat untuk persentasimu hari ini. Doaku selalu menyertaimu, sayang," ucap Alula lembut.
"Terima kasih, sayang. Kau juga! Semoga harimu menyenangkan!"
"Tunggu! Kau tidak menciumku?" Kai menghentikan niat Alula yang akan segera keluar dari dalam mobil.
"Aku lupa," Alula segera mencium pipi suaminya.
"Di sini tidak?" Tunjuk Kai kepada bibirnya.
"Baiklah," Alula mencium bibir Kai lembut. Kemudian ia segera turun dari dalam mobil. Kai tersenyum senang. Ia memperhatikan istrinya yang masuk ke gerbang kampus. Setelah Alula tidak terlihat, Kai segera melajukan mobil menuju kantornya.
"Seumur hidup aku belum pernah merasakan kebahagiaan seperti ini. Alula adalah kebahagiaanku," sebuah senyuman masih merekah di bibir Kai. Sementara matanya fokus mengemudikan mobil menuju ke kantor.
Kai sampai di kantor dan segera masuk ke dalam ruangan pribadinya. Tanpa sepengetahuan dirinya, di dalam sudah ada William yang sedang menunggunya.
"Dadd?" Panggil Kai saat ia melihat William tengah duduk di kursi kerja miliknya.
"Tumben daddy ke sini?" Kai menyimpan tas kerjanya di atas meja. Raut wajah William tampak dingin.
"Daddy ingin berbicara padamu!" Tutur William tegas.
"Jangan bilang daddy menyuruhku untuk menceraikan Alula!" Kai menatap tak ramah kepada William.
__ADS_1
"Bukankah kau sudah berjanji untuk menikahinya tujuh bulan saja?" William berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Kai.
"Siapa yang berjanji, Dadd? Bukankah daddy dan momny yang memberikan ide itu?" Kai tersenyum sinis.
"Tapi kau setuju dengan ide daddy dan mommy waktu itu."
"Aku tidak akan menceraikan Alula, Dadd. Aku mencintainya!" Kai berkata dengan penuh penekanan.
"Tahu apa kau tentang cinta? Bagaimana dengan Arabella? Daddy ingin kau menikah dengannya. Arabella sampai harus bolak-balik ke psikiater karena kau mencampakannya. Daddy malu sekali dengan orang tuanya!" William berkata dengan tajam.
"Aku tidak mencampakannya. Dari awal aku menikah dengan Alula, aku sudah memutuskannya. Jadi, dia tidak ada hubungannya denganku lagi. Aku tidak peduli dia bolak-balik ke psikiater atau ke mana pun. Itu bukan urusanku!"
"KAIVAN!!!!" William berteriak dan membentak anak tunggalnya itu.
"Karena wanita itu kau jadi tidak memiliki hati seperti ini?" Nafas William tampak cepat karena menahan emosi.
"Bukankah aku sudah seperti ini jauh sebelum aku menikah dengan istriku? Bukankah daddy yang mengajariku?" Kai menaikan sebelah sudut bibirnya ke atas.
"Aku tidak akan pernah menceraikannya, Dadd. Bahkan mommy sudah memberikanku restu untuk selalu bersama dengan Alula. Daddy tanya saja mommy. Dengar baik-baik, Dadd! Aku tidak akan membiarkan seorang pun merusak hubunganku dengan Alula, termasuk itu ayahku sendiri!" Kai menatap tajam ayahnya.
"Kau jangan kurang ajar terhadap ayahmu!!!!" William berteriak hingga membuat karyawan yang berlalu lalang di depan ruangan Kai kaget dan tampak mengintip dari balik celah pintu.
"Daddy selalu mengajariku untuk tidak melepaskan apapun yang sudah menjadi milikku. Dan aku tidak akan melepaskan Alula yang sudah menjadi milikku. Aku akan selalu bersama istriku apapun yang terjadi!"
Tangan William terkepal mendengar penuturan anaknya. Wajahnya sudah memerah menahan emosi. Ia segera berjalan ke luar dari ruangan pribadi Kai tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
***
Malam ini Chelsea dan Cleon tengah berjalan-jalan di sebuah mall. Setelah makan bersama di foodcourt mall, Chelsea dan Cleon segera berjalan menuju bioskop yang ada di lantai empat.
"Chel, kau mau nonton apa?" Tanya Cleon saat mereka sudah berada di lantai 4.
"Sebentar! Aku lihat-lihat dulu!" Chelsea mengedarkan pandangannya ke arah daftar film yang akan diputar malam ini.
"Bagaimana jika nonton itu?" Tunjuk Chelsea ke arah film Captain Marvel.
"Sebenarnya aku kurang menyukai film dengan genre super hero," keluh Cleon dalam hatinya.
Saat Cleon tengah berfikir. Ia melihat Beverly yang masuk ke dalam area bioskop sendirian. Beverly melihat Cleon dan langsung melambaikan tangannya.
"Cleon, kau di sini juga?" Tanya Beverly antusias.
"Oh, kau ke sini dengan Chelsea?" Tanyanya kemudian dengan raut wajah yang kecewa.
"Hei, Bev. Lama tak jumpa!" Chelsea menyapa Beverly seperti biasanya.
"Oh, hai Chel!" Beverly membalas sapaan Chelsea.
__ADS_1
"Kalian mau nonton?" Tanya Beverly dengan menatap Cleon. Sudah jelas jika ia hanya mengajak berbicara kepada Cleon saja.
"Iya, kami akan menonton," timpal Cleon.
Diam-diam Beverly kecewa mengetahui Cleon dan Chelsea sudah sedekat ini. Sejak malam Cleon menolongnya. Beverly mencari tahu mengenai diri Cleon lebih dalam. Ia sangat kagum dengan Cleon yang sudah sukses di usia muda. Beverly lebih kagum karena kebaikan hati Cleon.
"Kalian akan menonton apa?" Tanya Beverly lagi.
"Kami akan menonton Captain Marvel," Chelsea menimpali. Ia tidak ingin diacuhkan karena datangnya Beverly.
"Kau mau nonton apa, Bev?" Tanya Cleon.
"Aku akan menonton film How to Train Your Dragon: The Hidden World yang hari ini rilis."
"Wah kau juga menyukai film itu?" Cleon bertanya dengan antusias. Cleon sendiri memang lebih suka menonton film kartun/ film dengan genre animasi.
"Kau juga?" Beverly menimpali dengan antusias.
"Iya, aku sudah lama menunggu rilisnya."
Chelsea merasa terasingkan dengan percakapan Beverly dan juga Cleon.
"Ehem!" Chelsea berdehem dengan sengaja.
"Tapi Bev, malam ini kami akan menonton Captain Marvel dulu," Cleon tampak mengerti ketidak nyamanan yang dirasakan oleh Chelsea.
"Ya, sayang sekali!! Ku pikir kita bisa menonton bersama," ujar Beverly.
"Iya. Maaf ya, Bev! Aku mau antri dulu untuk membeli tiket," Cleon berpamitan kepada Beverly.
"It's oke. Ku harap kita bisa menonton film Dumbo yang akan rilis bulan depan bersama-sama!" Harap Beverly.
"Selera Beverly sama denganku. Aku pun ingin menonton film Dumbo juga bulan depan," batin Cleon. Kemudian Cleon segera pergi ke arah antrian pembelian tiket.
"Kau menyukai Cleon?" Chelsea memberanikan diri bertanya kepada mantan sahabatnya itu.
"Kalau iya?"
"Kau jangan mendekatinya! Cleon sebentar lagi akan menjadi kekasihku," timpal Chelsea dengan ekspresi wajah yang serius.
"Kau belum berpacaran dengannya. Jadi, Cleon masih bebas dekat dengan siapa pun. Kita lihat saja siapa yang akan mendapatkan hati Cleon! Aku atau kau? Kita bersaing secara sehat saja!" papar Beverly.
Beverly memang sudah tidak mau menggunakan cara-cara kotor untuk mendapatkan pria yang ia inginkan. Beverly ingin mendapatkan pria yang murni jatuh cinta dan menerima dirinya apa adanya.
"Baiklah. Kita lihat saja!" Tantang Chelsea. Ia pun segera pergi ke arah Cleon yang tengah mengantri tiket.
Jangan lupa untuk memberikan like, komen, vote dan rate 5 untuk mendukung Author. Terima kasih š¤
__ADS_1