
"Sayang? Kau di sini?" Sapa Alula saat melihat Kai tengah duduk di dalam mobilnya dengan tatapan kosong. Kai tampak tak menjawab, ia masih fokus dengan lamunannya.
"Sayang?" Sapa Alula sekali lagi.
Kai pun terbuyar dari lamunannya. Ia segera keluar dari dalam mobil.
"Kau tidak bekerja?" Alula heran melihat Kai ada di depan kampusnya.
"Tidak. Pikiranku sungguh sedang kacau," Kai pun menarik Alula ke dalam pelukannya.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Kai masih dengan memeluk Alula.
"Sudah mendingan."
"Sayang, lepaskan ! Aku malu, ini lingkungan kampus," Alula berusaha melepaskan pelukan suaminya.
"Ayo kita pulang ke rumah kita!" Kai melepaskan pelukannya dan membukakan pintu mobil agar Alula segera masuk.
"Bukannya kita akan menginap di rumah mommy selama lima hari?" Tanya Alula saat mereka sudah di dalam mobil.
"Tidak usah ! Kita tidak usah pergi ke rumah itu lagi!" Ucap Kai penuh amarah.
"Mengapa? Kau tidak bertengkar dengan Daddy kan?" Tanya Alula khawatir. Kai hanya terdiam dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Tangannya tampak mencengkram setir mobil.
"Sayang, bisakah kau lebih pelan menyetir mobilnya?" Usul Alula dengan nada khawatir. Ia sungguh tahu suaminya sedang marah.
"Apa yang Daddy dan Kai bicarakan?" Alula bertanya tanya dalam hatinya.
Kai pun memelankan laju mobilnya. Suasana di mobil tampak hening karena baik Alula mau pun Kai hanya diam dan tidak mengobrol seperti biasanya.
Setelah 15 menit, mereka pun sampai di rumah. Kai turun terlebih dahulu dari dalam mobil, dan bergegas masuk tanpa berkata sepatah kata pun kepada Alula.
"Sepertinya moodnya benar-benar sedang buruk," gumam Alula. Ia pun ikut masuk ke dalam rumah.
Alula menyusul Kai ke dalam kamar. Ia melihat suaminya sedang berdiri di depan jendela kamar sembari melamun.
Alula mendekati Kai dan memeluk tubuhnya dari belakang. Alula pun menciumi punggung suaminya dengan lembut.
"Apa pun yang terjadi, aku tidak akan pernah pergi darimu. Aku berjanji," ucap Alula lirih. Sepertinya Alula tahu apa yang dibicarakan William kepada Kai.
Kai segera membalikan tubuhnya menghadap Alula. Kai mengusap pipi istrinya lembut dengan kedua tangannya. Alula melihat mata Kai sedang menyimpan kesedihan yang besar.
"Sayang, ayo kita bersih-bersih rumah! Bibi May tadi pag imenghubungiku. Ia bilang harus pulang karena anaknya sedang sakit," Alula mencoba mengajak Kai untuk melakukan aktivitas, agar Kai dapat melupakan perkataan William. Walau sebenarnya Alula tidak tahu secara spesifik apa yang dibicarakan suami dan mertuanya.
Kai hanya mengangguk dan memaksakan untuk tersenyum. Mereka pun turun ke lantai bawah. Alula terlebih dahulu mencuci piring-piring yang ada di wastafel. Kemudian setelah selesai mencuci piring, Alula segera mengambil pel dan ember untuk mengepel lantai. Saat Alula sedang mengepel, Kai memeluknya dari belakang.
"Kalau seperti ini tidak akan beres mengepelnya," Alula tertawa melihat kelakuan Kai yang menghambat aktivitasnya.
__ADS_1
"Sayang, kau lap kaca saja ya?" Sambung Alula. Kai pun melepaskan pelukannya dan segera mengambil lap untuk mengelap kaca dari dalam rumah.
Setelah Alula beres mengepel, ia segera berjalan ke luar dan mengelap kaca dari luar. Sementara Kai mengelap dari dalam. Kini mereka berdiri berhadapan, Kai dan Alula saling bertatapan dari balik kaca.
"Aku sungguh tidak ingin kehilanganmu," bisik Kai dalam hatinya. Matanya tak lepas memandangi wajah wanita yang ia cintai.
Setelah beres beres rumah, Alula membuat makanan untuk suaminya.
"Kau ingin makan apa?" Tanya Alula ketika mereka mendudukan dirinya di meja makan.
"Tidak. Aku hanya ingin istriku," Kai tersenyum.
"Bagaimana jika aku buatkan spaghetti?"
"Boleh," Kai memperhatikan Alula yang tengah memasak dari kursinya.
Setelah 10 menit akhirnya Alula selesai memasak spaghetti untuk suaminya.
"Ini makanlah!" Alula menyimpan sepiring spaghetti dengan saus Bolognese di atas meja.
Kai tidak langsung memakan makanannya. Ia menatap wajah Alula dengan sedih.
"Sayang kau kenapa?" Alula merasa bingung Kai menatapnya dengan mata yang sayu.
Kai berdiri dari duduknya. Ia menghampiri Alula.
"Tidak apa-apa. Itu sudah berlalu," Alula balas mendekap suaminya.
"Andai waktu bisa aku putar. Aku tidak akan pernah memperlakukanmu dengan buruk."
"Sayang, sudahlah! Yang terpenting sekarang kita bersama-sama dan aku bahagia di sini, di sisimu."
"Aku benar-benar mencintaimu," Kai semakin mengeratkan pelukannya.
Alula hanya tersenyum dan mengelus punggung suaminya lembut.
"Kalau begitu cepat makan spaghettinya. Nanti dingin," Alula melepaskan pelukan suaminya dan mendudukan dirinya di kursi makan. Kai pun ikut terduduk.
"Suapi aku!" Ucap Kai dengan manja.
"Kau manja sekali!" Alula tertawa. Alula pun segera menyuapi Kai dengan spaghetti yang ia masak.
****
Malam hari, Alula mengajak Kai untuk berkemah di halaman belakang rumahnya yang luas. Kai mendirikan tenda dan membuat api unggun seperti sedang berkemah yang sebenarnya.
"Kai, ini marshmellow nya?" Alula memberikan sebungkus marshmellow kepada Kai.
__ADS_1
Kai pun segera mengambil marshmellow itu dan mulai membakarnya di atas api unggun.
Alula terduduk di samping suaminya yang sedang terduduk di depan api unggun. Kai pun mengubah posisi duduknya. Ia terduduk di belakang tubuh Alula dan memeluknya dari belakang.
"Kai, apa kau masih ingat ketika kita pertama menikah?" Alula menyenderkan tubuhnya di tubuh suaminya.
"Teringat tentang apa?" Kai menciumi rambut Alula.
"Ketika kau menyuruhku untuk membersihkan daun-daun di sini," Alula mengenang masa lalu nya saat Kai memperlakukannya dengan buruk di awal pernikahan.
"Kau ini pendendam sekali," Kai tertawa.
"Aku lebih mengingat saat kita camping di Ridding Wood Lodges. Saat itu kau hampir di cium oleh Alden," Kai merekatkan pelukannya.
"Oh iya. Kau yang menolongku kan?"
"Iya. Jika saat itu Alden berhasil menciummu, aku akan menghajarnya habis habisan sekarang."
"Kau ini berlebihan sekali! Nyatanya kau yang menciumku pertama kali," Alula mendongkakan kepalanya untuk melihat wajah Kai.
"Iya. Aku harus jadi yang pertama dan satu satunya untukmu. Sayang?" panggil Kai. Suaranya begitu mendayu-dayu di telinga Alula.
"Iya?"
"Mengapa dulu kau dan Cleon tidak berpacaran? Padahal saat kita bertemu di cafe, kalian seperti tengah berkencan," tanya Kai. Ia mengingat saat dirinya bersama Arabella, Nino dan Alden bertemu Alula dan Cleon di dalam Cafe. Itu adalah pertemuan pertama mereka setelah enam tahun lulus dari SMA.
"Aku dan Cleon hampir saja berpacaran, tetapi kau lebih dulu menikahiku."
"Kau menyesal menikah denganku?" Tanya Kai dengan nada yang serius.
"Iya. Aku menyesal. Tidak hanya menyesal tapi sangat menyesal," jawab Alula mantap.
Kai segera melepaskan pelukannya dan masuk ke dalam tenda.
"Yah, dia marah," Alula tertawa melihat wajah suaminya yang masam. Alula pun segera menyusul Kai ke dalam tenda.
"Sayang?" Panggil Alula dengan wajah usilnya.
"Hhmmm !!" Kai hanya berdehem.
"Aku belum selesai berbicara."
Kai tak menyahuti istrinya.
"Aku sangat menyesal karena menikah denganmu di usia 24 tahun. Mengapa kita tidak menikah saat SMA saja agar kita bisa bersama dan saling mencintai lebih awal?" Alula tertawa.
Kai tampak gemas akan perkataan Alula yang mengecohnya. Kai segera menarik tubuh Alula ke dalam dekapannya. Kai pun merengkuh leher Alula dan mencium bibirnya lembut. Semakin lama, ciuman itu berubah menjadi ciuman yang menuntut. Alula pun membalas ciuman suaminya. Kai membaringkan tubuh istrinya. Perlahan tapi pasti, tangannya membuka seluruh pakaian Alula dan seluruh pakaian miliknya untuk menghabiskan malam.
__ADS_1