
"Aku sangat bosan sekali berada di rumah," Alula bergumam di atas kasurnya.
Alula berguling ke sana ke mari untuk mendapatkan posisi yang membuatnya nyaman.
"Aku sangat ingin sekali membaca novel. Tapi di sini tidak ada satu pun novel," Alula menghembuskan nafasnya pelan.
Alula kemudian membuka laptop miliknya dan segera membuka internet. Alula mencari alamat toko buku terdekat di mana ia bisa mendapatkan novel di kota ini.
"Jauh sekali. Itu pun harus naik kereta. Tapi aku benar-benar bosan di rumah," Alula menutup kembali laptopnya dan menyimpannya di atas nakas.
"Lebih baik aku pergi saja. Kakek dan nenek pun masih lama berada di kebun," Alula melirik jam dinding di kamarnya yang menunjukan jika waktu masih pukul 9 pagi.
Alula segera bersiap untuk pergi ke toko buku yang ada di kota York. Untuk mencapai toko buku itu, Alula harus naik kereta karena toko buku itu terletak di dekat York Station.
Sebelum pergi, seperti biasanya Alula akan mengunci pintu rumah. Saat ia tengah mengunci pintu rumah neneknya, seseorang menyapanya dari belakang.
"Al?" Sapa orang itu.
"Kau lagi," Alula menatap tajam pria yang ada di hadapannya.
"Kau mau ke mana?" Kai tersenyum menatap wajah Alula.
"Bukan urusanmu," jawab Alula ketus. Kemudian ia segera berjalan untuk sampai di stasiun kereta Poppleton yang tak jauh dari rumahnya.
Alula berdecak pelan ketika ia melihat suaminya itu mengikutinya dari belakang.
"Mengapa kau mengikutiku? Kau seorang pengangguran sekarang?" Tanya Alula pedas.
"Pekerjaanku di handle oleh Daddy dan sekarang aku adalah tetanggamu," Kai tersenyum seribu watt.
"Daddy sudah pulang?"
"Iya. Dia sudah pulang," Kai melihat raut lega dari wajah istrinya.
"Apa maksudmu kau adalah tetanggaku?" Alula mengernyit heran.
"Iya itu adalah rumahku!" Kai menunjuk rumah yang ada di sebelah rumah nenek Alula.
"Kau berbohong!"
"Aku tidak berbohong! Aku baru saja membeli rumah itu untuk ku tinggali selama aku berada di sini," jelas Kai masih dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
"Kau gila?" Alula menatap tajam suaminya.
"Tidak. Aku hanya ingin tinggal di dekatmu."
"Terserah kau saja. Aku tidak peduli," Alula segera berjalan kembali untuk menuju stasiun kereta Poppleton.
Sementara Kai terus membuntutinya dari belakang.
"Berhentilah mengikutiku!" Bentak Alula kepada Kai yang masih berjalan di belakangnya.
"Siapa juga yang mengikutimu. Aku kan memang akan pergi ke arah yang sama denganmu," Kai berkilah, padahal ia memang mengikuti Alula.
Alula melihat rambut suaminya yang tersibak angin. Ia ingin sekali mengacak-ngacak rambut itu agar terlihat lebih berantakan.
"Mengapa aku jadi ingin menyentuh rambutnya ?" Alula menepis pikiran gila yang ada di kepalanya.
"Sepertinya ini kemauan anak ini untuk menyentuh rambut ayahnya," batin Alula kembali.
Alula pun memutuskan untuk melanjutkan kembali langkahnya ke arah stasiun. Setelah 15 menit berjalan, akhirnya Alula sampai di stasiun kereta Poppleton. Tujuannya kini adalah stasiun kereta York Station. Toko buku yang akan menjadi tujuan Alula memang berada di dekat York Station. Sementara itu, Alula masih melihat Kai mengekor di belakangnya.
"Katakan ! Katakan mengapa kau mengikutiku?" Alula menatap wajah Kai dengan tidak bersahabat.
"Aku hanya ingin naik kereta hari ini dan aku tidak mengikutimu," elak Kai.
Alula pun segera berjalan cepat menuju loket tiket untuk membeli tiket kereta.
"Tuan, kereta yang akan melaju ke York Station berangkat jam berapa?" Alula bertanya kepada petugas loket.
"15 menit lagi Nona," jawab petugas loket itu.
"Kalau begitu saya ingin pesan dua tiket 1st Class (kelas bisnis) untuk menuju York Station," Kai tiba-tiba menyahuti dan mengeluarkan kartu miliknya untuk melakukan pembayaran.
"Baik, tuan," petugas loket itu memberikan dua tiket kepada Kai setelah Kai menyelesaikan transaksi pembayaran.
__ADS_1
"Kau membeli dua tiket untuk siapa?" Alula mengernyit heran.
"Tentu saja untukmu. Kebetulan tujuan kita sama," Kai tersenyum kembali.
Alula memutar bola matanya melihat sikap suaminya itu.
"Tuan, saya pesan satu tiket kereta ekonomi menuju York Station," Alula memesan tiket untuknya.
"Hey, mengapa kau mengambil kelas ekonomi?" Kai protes mendengar pesanan istrinya. Sedangkan Alula tidak menjawab dan memasang headset di telinganya.
"Ini Nona," petugas loket memberikan satu buah tiket kelas ekonomi kepada Alula. Alula pun membayar dengan uang cash yang ada di dompetnya.
"Terima kasih, tuan."
Setelah mendapat tiket itu, Alula bergegas pergi ke dekat rel kereta untuk terduduk di kursi yang telah disediakan oleh pihak stasiun.
"Saya pesan satu tiket kelas ekonomi satu," Kai ikut memesan tiket kelas ekonomi seperti istrinya.
"Ba-baik tuan," petugas loket merasa heran melihat tingkah pria yang di depannya.
Setelah mendapatkan tiket ekonomi yang ia pesan, Kai mendudukan dirinya di samping Alula. Alula berpindah ke kursi lain untuk menghindari Kai. Kai pun ikut pindah mengikuti tempat duduk istrinya. Alula benar-benar merasa sikap Kai sangat kekanakan hari ini.
Saat kereta yang ia tunggu sudah muncul, Alula segera berdiri dan segera masuk ke dalam kereta. Kai pun mengikuti istrinya.
Alula membulatkan matanya saat melihat gerbong kereta itu sudah disesaki oleh penumpang yang banyak. Di musim panas seperti ini, pengguna kereta memang melonjak karena masih dalam suasana libur musim panas. Bagi para pekerja, libur memang berkisar sekitar dua minggu. Akan tetapi bagi anak sekolah dan mahasiswa, libur musim panas berlangsung selama tiga bulan.
Alula melihat tempat di pojokan gerbong yang kosong. Lumayan bisa menyender, begitu pikirnya. Alula segera menyenderkan tubuhnya saat ia sudah sampai di pojokan. Kai pun mengikutinya.
"Jika kita naik kelas bisnis, mungkin kita tidak akan berdiri seperti ini," ucap Kai yang berdiri di samping Alula.
"Siapa juga yang menyuruhmu naik kelas ekonomi bersamaku?" Tanya Alula dengan kesal.
"Perutmu baik-baik saja kan? Kau memakai heels sekarang," Kai memandang sepatu heels yang dikenakan istrinya. Alula tidak menyahuti pertanyaan Kai dan masih memperhatikan sekitarnya.
Para penumpang semakin banyak yang masuk ke dalam kereta, terdapat segerombolan pria yang datang ke tempat Alula menyender sekarang. Suasana kereta yang penuh dan sesak membuat baju para pria itu menempel dengan tubuh Alula.
"Hey, minggirlah!" Kai berteriak kepada penumpang pria yang ada di dekat istrinya.
"Minggir ke mana tuan? Kereta ini sangat penuh," jawab pria itu.
"Hey, jauh-jauh dariku!" Alula mendorong dada Kai dengan keras.
"Diamlah! Kau mau para pria itu yang menempel padamu?" Kai menaikan suaranya. Alula pun tidak menjawab pertanyaan dari suaminya. Ia memang tidak mau para pria itu bersentuhan dengan tubuhnya.
Kai memandangi wajah Alula yang sangat dekat. Biasanya Alula akan sepantaran dengan bahu Kai. Tetapi karena kini ia memakai heels, kini tubuh Alula sejajar dengan hidung suaminya.
Alula hanya menunduk dan menatap leher Kai. Sementara Kai tersenyum menikmati raut wajah istrinya yang kini tengah salah tingkah.
Kereta semakin penuh dengan penumpang, Kai pun menempelkan tubuhnya, karena orang lain pun membutuhkan ruang di kereta ini. Tak lama, kereta pun segera melaju meninggalkan stasiun Poppleton.
"Kau bisa mengambil jarak sedikit?" Alula menggigit bibir bawahnya. Merasa tidak nyaman ketika tubuh Kai menempel dengan tubuhnya.
"Tidak. Kereta ini penuh. Aku tidak bisa mundur," ucap Kai dengan raut wajah yang senang. Ia seperti mendapatkan berlian yang sangat langka. Kai semakin gembira merasakan denyut jantung istrinya yang berdetak lebih cepat.
"Harum sekali," batin Alula saat mencium aroma parfum yang biasa Kai gunakan.
"Wanginya sangat menyenangkan," Alula menghirup dalam wangi maskulin dari tubuh suaminya.
"Mengapa aku terbuai? Semoga kereta ini segera sampai," harap Alula dalam hatinya. Ia tidak ingin berlama-lama berada di posisi seperti ini. Tubuh mereka kini benar-benar menempel. Orang lain pun tidak memperhatikan karena keadaan kereta memang sedang penuh sesak.
Pikiran Kai terbang ke mana mana. Ia memutar memorynya saat mencecapi sejengkal demi sejengkal tubuh istrinya.
"Apa yang kau pikirkan?" Alula berteriak saat merasakan sesuatu yang terasa keras menonjol di bawah sana.
"Hehe," Kai hanya terkekeh.
"Dasar mesum!" Alula memelototkan kedua matanya.
Setelah 20 menit, akhirnya kereta mereka berhenti di York Station. Para penumpang segera turun dari kereta.
"Minggirlah!" Alula mendorong tubuh Kai. Alula pun segera keluar dari gerbong kereta dengan wajah yang bersemu merah. Kai mengikutinya dengan senyum yang tidak pudar di wajahnya.
Alula berjalan ke luar dari stasiun York dan bergegas untuk sampai di toko buku yang berada di dekat stasiun.
Setelah sampai, Alula langsung memilih novel yang ingin ia baca. Alula mengambil sebuah novel yang berjudul The Notebook karya Nicholas Spark.
__ADS_1
"Aku belum menonton filmnya. Akan lebih menyenangkan bila membaca novelnya terlebih dahulu," Alula bergumam sendiri.
"Bukankah novel ini sudah di filmkan?" Kai merasa heran Alula mengambil novel yang sudah lumayan lama.
"Suka suka aku dong," jawab Alula ketus.
"Atau jangan jangan kau belum menonton film ini? Sayang, ini film romantis yang melegenda yang pernah di nobatkan sebagai film teromantis sedunia."
"Aku sudah tahu dan satu lagi, jangan memanggilku sayang!!" Alula melengos pergi ke tempat pembayaran.
"Kalau begitu, aku akan memanggilmu my love atau babe. Ah tidak, lebih baik honey? No, itu seperti panggilan mommy kepada daddy. Ma cherry atau my apples in my eyes? Ah kepanjangan, atau ini saja-"
Alula langsung pergi menjauh dari Kai yang terlihat konyol hari ini.
"Sayang, tunggu!" Kai segera berlari mengejar Alula.
Saat Alula berjalan, ia melewati kedai es krim. Alula meneguk liurnya ketika melihat seseorang memakan es krim di dalam kedai. Alula memutuskan untuk membelinya untuk di jalan. Kai pun ikut membeli es krim di sana.
"Aku yang membayar," Kai menyerahkan beberapa lembar uang kepada kasir kedai es krim itu.
"Aku bisa membayar sendiri," Alula menolak.
"Anggap saja ini untuk anakku bukan untukmu."
Alula pun mengambil es krim miliknya dan segera bergegas berjalan ke arah York station untuk pulang. Kai mengejar langkah Alula yang kecil-kecil.
"Tunggu!" Kai menghentikan langkah istrinya.
"Ada apa? Kau menghambatku untuk pulang!"
Kai berdiri di depan tubuh Alula. Tiba-tiba ia mencondongkan tubuhnya dan mengapit pipi Alula dengan tangannya. Dengan cepat, Kai menjilat bibir Alula yang berlumuran es krim.
"Apa yang kau lakukan?" Teriak Alula geram.
"Aku hanya membersihkan es krim dari bibirmu. Salahku apa?" Kai bertanya dengan wajah tanpa dosanya.
"Kau menyebalkan!" Alula segera berjalan kembali.
Kini, Alula dan Kai sudah berada di dalam kereta yang akan membawa mereka kembali ke stasiun Poppleton. Suasana kereta tidak seramai tadi. Tetapi tetap saja, Alula dan Kai tidak mendapatkan tempat duduk.
"Aku menyesal sekali memakai heels, kakiku benar-benar sakit," Alula mengeluh di dalam hatinya. Apalagi ia melihat semua kursi sudah terisi dengan penumpang.
"Tuan, apakah istri saya boleh duduk? Dia sedang hamil sekarang," Kai berkata kepada pria yang sedang terduduk.
"Hamil? Aku lihat dia tidak sedang hamil," pria itu memperhatikan perut Alula yang masih datar.
"Dia benar-benar sedang hamil. Kau tidak melihatnya??" Kai berteriak kepada pria itu sehingga membuat penumpang lain menoleh kepadanya.
"Kai sudah! Tidak apa-apa, aku berdiri saja," Alula menarik tangan Kai dari hadapan pria itu.
"Tapi-"
"Aku baik-baik saja."
"Baiklah. Jika sakit bilang padaku!"
Kereta pun terus melaju menuju stasiun Poppleton. Alula memejamkan matanya, sakit yang ia rasakan karena sepatu heelsnya benar-benar menjalar sampai pahanya. Kai melihat raut wajah kesakitan istrinya. Ia segera berjongkok dan menarik tangan Alula.
"Duduklah di pahaku!" Perintah Kai.
"Aku tidak mau."
"Kau jangan menolak! Aku tahu kau tengah kesakitan. Jangan membantahku!" Ucap Kai dengan nada yang sangat tegas.
Alula pun terpaksa mengiyakan permintaan Kai. Kakinya benar-benar sakit dan pegal. Perlahan ia terduduk di paha suaminya. Alula begitu canggung dengan keadaan yang memerangkapnya kembali untuk berdekatan bersama Kai. Kai tersenyum saat Alula duduk di pahanya.
Setelah kereta sampai, Alula segera turun tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Kai.
"Sayang? Terima kasih hari ini," ucap Kai saat mereka sudah di depan pintu rumah Anne dan Charlie. Alula tidak menyahuti ucapan Kai, ia langsung masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.
"Penolakanmu membuatku semakin bersemangat untuk mendapatkanmu kembali. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku untuk yang kedua kali," Kai tersenyum menatap pintu rumah yang telah tertutup.
Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih š¤
Author ucapkan Selamat tahun baru 2021. Semoga di tahun ini lebih baik dari tahun 2020. Enjoy your holiday š¤
__ADS_1