
Kai terbangun dari tidurnya. Matanya menyapu ke seluruh ruangan kamar. Tidak terlihat Alula disana, karena gadis itu sudah bangun sejak subuh tadi.
"Kemana gadis bodoh itu?" tanya Kai dalam hatinya, lalu ia segera masuk ke kamar mandi dan bersiap siap untuk pergi bekerja.
"Alulaaaaaa," panggil Kai.
"Ada apa?" Alula masuk ke dalam kamar yang berdesain futuristik itu.
"Tumben sekali tadi dia menyebut namaku."
"Kenapa denganmu?" tanya Kai saat melihat Alula menggerak gerakan badannya.
"Badanku sakit karena semalam tidur di sofa itu," Alula menunjuk sofa yang ia tiduri semalam.
"Lama lama nanti juga kau akan terbiasa," sahut Kai enteng.
"Tapi, Kai-"
"Kau berani membantahku?" Kai menatap Alula tajam.
Alula hanya menghela nafasnya pelan. Ia sangat malas untuk berdebat dengan Kai sepagi ini.
"Pakaikan dasi ini kepadaku," Kai menyerahkan dasi berwarna abu kepada Alula.
"Kau kan bisa memakainya sendiri !" tolak Alula.
"Aku tidak bisa. Jika di rumah, bi Esther yang memakaikan dasi ini kepadaku. Dan kau lihat kan kemarin? Aku tidak memakai dasi saat ke kantor," Kai memelototkan matanya.
__ADS_1
"Baiklah," Alula mengambil dasi itu dari tangan Kaivan. Alula berjinjit dan dengan hati-hati ia memakaikan dasi di leher laki-laki jangkung yang ada di depannya.
Saat Alula sibuk membuat sampul dasi di dada Kai, Kai melirik wajah wanita yang kini telah menjadi istrinya itu.
"Hmmmm, gadis bodoh ini ternyata cantik juga," batin Kai saat kedua matanya menjelajahi wajah Alula. Kemudian matanya berhenti di bibir Alula yang berwarna merah muda.
"Ah, tidak-tidak. Mana mungkin gadis bodoh ini cantik. Lihatlah bibirnya ! Aku jadi teringat saat ia memainkan permen karet saat masa SMA dulu, sangat mengerikan," batin Kai kembali.
"Sudah," kata Alula saat ia sudah selesai memasangkan dasi itu di tubuh suaminya.
Kai pun berjalan keluar dari kamar yang berukuran luas itu dan segera turun kebawah. Alula pun mengikuti langkah suaminya.
"Kau masak apa hari ini?" tanya Kai saat ia mendudukan dirinya di meja makan.
"Aku hanya memasak telur mata sapi dan susu," Alula menyimpan piring berisi telur dan segelas susu di meja makan.
"Kau kan tidak memberiku uang, jadi aku tidak bisa belanja. Jadi, aku hanya bisa menyajikan makanan itu saja," sahut Alula polos.
Kaivan membuang nafasnya kasar.
"Ya sudah, aku minta uang untuk belanja agar aku bisa menyajikan makanan enak untuk esok hari !" tangan Alula menadah seperti anak kecil yang meminta uang kepada orang tuanya.
"Tidak ada uang untukmu sebelum pekerjaan di rumah ini selesai !" bentak Kai.
Sebenarnya Kai sengaja tidak memberikan Alula uang, karena Kai ingin membuat Alula tersiksa hanya makan roti, telur dan susu saja. Ia akan memberikan Alula uang, jika roti, telur dan susu dirumahnya telah habis.
"Aku kan sudah menyetrika semua baju-bajumu, jadi ku rasa pekerjaan ku sudah selesai," timpal Alula.
__ADS_1
"Apa? Selesai katamu?"
Kai menarik tangan Alula kasar ke kamar mandi belakang.
"Lihatlah ! Semua baju-bajuku perlu di cuci," Kai menunjuk cucian yang sangat menumpuk di keranjang baju kotor.
Alula kaget saat melihat baju-baju yang memenuhi kamar mandi itu. Ia berjalan ke dalam kamar mandi dan memegang baju-baju milik Kai.
"Dari mana datangnya baju-baju ini?" tanya Alula heran.
"Semalam saat kau sedang menyetrika, aku menyuruh asisten rumah tangga yang ada di rumah mommy untuk mengantarkan baju-baju tambahanku kesini. Aku ingin kau mencucinya terlebih dahulu sebelum baju-baju ini masuk ke dalam lemariku," tandas Kai.
"Tapi Kai, hari ini aku akan keluar untuk melamar ke universitas yang ada di kota ini," Alula memasang wajah memelas.
"Aku tidak peduli dengan urusanmu, kau hanya boleh keluar jika tugas rumahmu telah selesai."
"Cuci pakaianku dengan tanganmu ! Kau tidak boleh menggunakan mesin cuci saat mencuci. Itu adalah baju-baju mahal yang di rancangkan khusus dari rumah mode daddy. Harganya lebih mahal dari tubuhmu itu."
"Dan satu lagi," Kai menatap Alula dan ia kembali menarik tangan wanita itu ke halaman belakang.
"Bersihkan halaman belakang ini dari daun daun yang berjatuhan."
"Kau tidak waras? Banyak sekali daunnya, aku rasa tidak akan sanggup membersihkannya hari ini, kau kan tahu sekarang sedang musim gugur. Jadi, bila aku membersihkannya daun-daun itu akan terus berguguran," Alula menggerutu.
"Aku tidak mau tahu, sore nanti semua pekerjaanmu harus beres," perintah Kai tegas. Kemudian ia segera berlalu untuk pergi bekerja. Sementara Alula hanya menggerutu kesal dan segera memulai pekerjaannya mencuci baju-baju milik Kai dengan tangannya.
Kepada para Readers:
__ADS_1
Jika kalian menyukai novel ini harap like, komen dan vote ya untuk mendukung Author. Terimakasih š