
Alula dan Kai sampai di kediaman William dan Sofia.
"Sayang?" Sofia segera berlari memeluk Alula yang baru masuk ke dalam rumah.
"Mom, bagaimana kabarmu?" Alula balas memeluk ibu mertuanya.
"Mommy baik-baik saja, sayang. Bagaimana keadaanmu dan cucuku?" Sofia melepaskan pelukannya dan mengelus rambut Alula lembut.
"Aku dan cucu mommy sehat," Alula tersenyum. Tak lama, ia mengalihkan matanya ke arah William.
"Kemarilah!" William membentangkan tangannya untuk memeluk Alula. Alula segera berjalan dan memeluk ayah mertuanya.
"Dad, maafkan Alula yang tidak menjenguk Daddy ketika di Rumah Sakit," ucap Alula sembari memeluk William.
"Tidak apa-apa, Nak. Terima kasih karena sudah mau menerima suamimu kembali. Daddy minta maaf atas perlakuan Kai terhadapmu," William mengelus punggung Alula lembut.
"Alula sudah memaafkan Kai, Dad," Alula melepaskan pelukannya dan melihat sudut mata William basah.
"Daddy menangis?" Alula menatap sendu wajah William.
"Daddy hanya tidak percaya kau mau menerima suamimu kembali setelah apa yang dia lakukan."
"Daddy jangan menangis! Alula baik-baik saja." Alula mengusap lembut tangan ayah mertuanya. Kai dan Sofia hanya tersenyum melihat adegan itu.
"Jangan sakiti lagi istrimu! Jika kau menyakitinya lagi, Daddy yang akan menghukummu," William mengarahkan tatapannya kepada putra tunggalnya.
"Iya, Dadd. Maafkan Kai!"
"Kalau begitu, cepat bawa istrimu ke kamar! Dia harus istirahat," titah William kepada Kai.
"Kai, kamarmu ada di lantai dua. Bagaimana jika kalian tidur di kamar yang ada di lantai satu? Mommy hanya khawatir jika Alula setiap hari naik turun tangga. Dia sedang hamil muda sekarang," usul Sofia kepada putranya.
"Kai pun sudah memikirkan ini. Kai dan Alula akan tidur di kamar bawah," Kai menyetujui.
"Ayo bawa barang istrimu ke kamar barunya!" Tutur Sofia.
"Ayo sayang!" Kai pun segera mengambil koper Alula dan membawanya ke kamar yang ada di dekat tangga.
"Kau duduklah! Biar aku yang memindahkan barang-barangku," Kai menuntun lengan Alula ke tempat tidur.
Kai segera mengambil barang-barang miliknya yang ada di kamar lantai dua.
"Biar bibi saja tuan yang membereskan!" Bi Esther menawarkan.
"Tidak usah. Biar Kai saja. Bibi istirahat saja!" tolak Kai dengan ramah.
Sofia yang melihat anaknya berprilaku lain hanya tersenyum. Dari kecil, Kai sangat manja dan segala kebutuhannya harus diladeni. Untuk memasukan buku ke dalam tas pun harus dilakukan oleh asistennya.
"Sayang, Alula membawa pengaruh yang positif untuk anak kita," Sofia menggenggam tangan suaminya.
"Putra kita tidak salah memilih istri," William mengamini.
1 jam kemudian...
"Sayang, kau lelah?" Alula menghapus keringat yang ada di kening suaminya.
"Sedikit," Kai tersenyum.
"Pria yang berkeringat memang keren," Alula menelan ludahnya saat memperhatikan wajah suaminya.
"Mengapa kau melihatku seperti itu?" Kau terpesona kan kepadaku?" Kai menyubit pelan pipi istrinya.
"Siapa bilang?" Alula tertawa.
"Duduklah di sini!" Kai membimbing tangan Alula dan mendudukannya di sofa yang ada di dalam kamar.
Kai kemudian berlutut di hadapan Alula dan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Sayang, apa yang kau lakukan?" Alula heran melihat Kai berlutut.
Kai mengeluarkan sebuah cincin dari dalam saku celananya.
"Pakailah kembali cincin pernikahan kita," Kai memakaikan cincin itu di jari manis istrinya.
"Mengapa cincin ini ada kembali padamu? Aku sudah melemparnya ke got," Alula merasa kaget bisa melihat cincin itu kembali.
"Aku mencari dan mengambilnya dari got," bibirnya tak henti merekah dengan senyuman.
"Maafkan aku! Waktu itu aku hanya sedang emosi," Alula mulai menangis.
__ADS_1
"Sayang, jangan menangis! Aku tidak pernah marah dengan yang kau lakukan itu," Kai menangkup pipi Alula dengan kedua tangannya.
"Itu tidak sebanding dengan sikapku yang sudah menyakitimu dengan dalam. Tolong maafkan aku!" Kai menghapus air mata istrinya.
"Aku sudah memaafkanmu, makanya aku kembali padamu."
"Terima kasih," Kai menutup matanya dan mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir istrinya.
"Kai, aku lapar!" Keluh Alula dengan suara manjanya. Kai pun membuka kembali matanya.
"Merusak momen saja," Kai tertawa saat merdengar suara kelaparan dari perut Alula.
"Aku akan menyuruh bi Esther untuk masak," Kai berdiri dari duduk bersimpuhnya.
"Kai?" Alula menahan lengan suaminya yang akan keluar dari kamar.
"Aku ingin kue Muffin."
"Aku akan menyuruh bi Eshter untuk membuatnya."
"Tidak, aku ingin kue muffin yang ada di SMA kita. Aku jadi teringat kue Muffin yang ku makan saat kau membayari Beverly dulu," Alula merengek.
"Sayang, SMA kita sedang libur. Ini libur musim panas. Ibu kantin pun pasti libur hari ini," Kai memberikan penjelasan yang masuk akal. Sekolah memang libur saat musim panas.
"Siapa yang menyuruhmu untuk membelinya ke SMA. Aku ingin kau yang membuatnya," Alula kembali merengek.
"Sayang, jangankan kue. Masak air pun aku tidak bisa. Biar bi Esther yang membuat ya?" Kai menolak dengan halus.
"Kau ini mengapa begitu kejam? Anakmu ingin makan kue buatan ayahnya. Saat SMA kau begitu mudahnya mentraktir Beverly, mengapa saat ini kau tidak bisa membuatkanku kue?" Alula mulai menangis kembali.
"Bahkan Beverly lebih spesial dariku. Aku tidak ada apa-apanya di matamu," Alula semakin mengencangkan tangisnya.
"Sayang, jangan menangis! Aku akan membuatkan kue itu untukmu!" Kai menunduk dan menghapus air mata istrinya.
"Nah begitu dong dari tadi. Ayo segeralah buat kue itu dan pastikan kau yang membuatnya!"
"Iya sayang," Kai berusaha tersenyum semanis mungkin padahal hatinya sudah ingin berteriak.
Kai segera pergi ke dapur. Ia mencari resep membuat kue khas Inggris itu dari ponselnya.
"Tuan, mengapa tuan ada di dapur?" Bi Esther kaget melihat Kai berada di dapur dengan memakai celemek dan juga topi ala chefnya.
"Biar bibi saja yang membuat kuenya," Bi Esther hendak mengambil alih.
"Tidak. Alula ingin aku yang membuatnya, bi. Tapi aku sungguh pusing," Kai memijit keningnya.
"Bagaimana jika Bibi yang membantu, tuan? Bibi yang akan mengarahkan tuan untuk membuat kue," Bi Esther memberikan ide.
"Nah kalau itu Kai setuju," perlahan senyuman mengembang di bibir Kai.
Bi Esther segera menyiapkan bahan-bahan untuk membuat kue Muffin.
"Kocok adonannya dengan mixer tuan!" Perintah bi Esther kepada Kai.
"Bagaimana memakainya, bi?" Kai tampak tidak mengerti dengan cara kerja mixer yang ada di hadapannya.
Bi Esther segera mengambil mixer itu dan memberikan contoh sebentar. Tak lama, Kai segera mengambil alih mixer tersebut dan mengocok adonan dengan kecepatan tinggi.
Sofia yang akan mengambil minum ke dapur kaget melihat penampilan putranya. Kini Kai tengah mengocok adonan, pipinya penuh dengan tepung dan juga mentega. Tak hanya itu, celemek yang ia pakai pun penuh dengan pasta vanilla.
"Kalian sedang apa?" Sofia benar-benar merasa heran anaknya ada di dapur.
"Aku sedang membuat kue untuk istriku, mom," Kai menjawab sambil terus memusatkan matanya ke arah baskom adonan.
"Anak mommy membuat kue?" Sofia langsung tertawa dengan sangat keras.
Kai segera mematikan mixernya setelah adonan terlihat halus dan menyatu.
"Sepertinya ini permintaan cucu mommy," Kai memasukan choco chips atas perintah dari Bi Esther ke dalam adonan.
"Sayang, kau jangan pernah berkata tidak untuk permintaan istrimu, ya? Mommy pun saat mengandungmu ingin sekali banyak hal yang aneh," Sofia memberikan nasehatnya.
"Iya, Mom. Terima kasih karena sudah memenuhi keinginan Kai saat di dalam kandungan," Kai tersenyum.
"Bukan maumu tapi itu permintaan mommy sendiri. Mommy hanya mengkambing hitamkanmu agar ayahmu mau menuruti semua permintaan mommy," seru Sofia di dalam hatinya. Ia pun segera berlalu dari dapur meninggalkan Kai yang masih berjibaku dengan adonan yang ia buat.
Setelah 65 menit berjibaku di dapur, akhirnya Kai selesai dengan maha karyanya.
"Akhirnya!!" Kai tersenyum senang sembari menatap kue yang baru ia buat. Tentu saja dengan campur tangan bi Esther.
__ADS_1
"Aku benar-benar hebat," Kai masih memandang kue yang ada di hadapannya.
"Bi, terima kasih," Kai berucap tulus kepada bi Esther. Kai segera mengambil kue itu ke dalam kamar untuk di perlihatkan kepada istrinya.
"Sayang, aku datang!" Kai tersenyum dengan bangga seperti baru saja pulang dari perang dunia kedua dan berhasil memenangkan pertempuran.
"Mengapa kau lama sekali? Anakmu sudah kelaparan," Alula menggerutu.
"Maaf sayang, kan aku membuatnya bukan membelinya makanya lama," Kai mendatangi Alula yang tengah menonton tv.
"Jadi, kau tidak ikhas membuatnya untukku?"
"Salah lagi."
"Bukan, sayang. Sudahlah, ayo segera makan kue buatanku!" Kai menekankan di kata buatanku.
Alula mengambil kue itu dan memakannya perlahan.
"Bagaimana?" Tanya Kai dengan wajah berbinar. Ia seperti seorang peserta masterch*f yang sedang menunggu juri untuk memberikan afron biru.
"Lumayan," Alula kembali menyimpan kue itu ke atas piring.
"Mengapa kau menyimpannya kembali?" Kai terlihat kecewa.
"Itu untuk nanti malam saja. Sekarang aku ingin minum jus alpukat."
"Baiklah, aku buatkan!" Kai pergi kembali ke arah dapur.
***
Malam hari...
"Sayang, peluk aku!" Perintah Alula kepada Kai yang baru mengganti bajunya dengan baju piyama.
Kai segera merebahkan tubuhnya di samping Alula dan memeluk tubuh istrinya erat.
"Sayang, singkirkan kakimu! Itu sangat berat," Alula berusaha menyingkirkan kaki suaminya yang tengah melingkar di tubuhnya.
"Tadi bilang kau ingin dipeluk?"
"Iya, tapi kakinya tidak. Itu berat," protes Alula kembali.
Alula berguling mencari posisi yang membuatnya nyaman. Kai pun melepaskan tangannya agar Alula bisa berguling dengan bebas.
"Sayang, kau tidak mau berdekatan denganku?" Tanya Alula saat Kai melepaskan pelukannya.
"Aku melepasnya agar kau bisa bergerak bebas, sayang."
"Kau bohong! Kau tidak mau kan memelukku?" Alula segera membelakangi tubuh suaminya.
"Sayang, jangan marah! Ini aku peluk lagi!" Kai memeluk kembali istrinya dari belakang.
"Tidak. Jauhkan tanganmu! Aku tidak mau di peluk lagi olehmu."
"Tidak, aku mau memelukmu."
"Lepaskan tanganmu!" Pinta Alula kembali.
"Ya sudah!" Kai menjauhkan tangannya.
"Kau benar-benar tidak mau berdekatan denganku?" Alula merengek kembali saat Kai menarik tangannya.
"Kemarilah!" Kai membalik tubuh istrinya untuk menghadap ke arahnya. Kini wajah mereka saling bertatapan.
Alula membenamkan wajahnya ke dada suaminya. Kai tidak mengancing semua kancing piyamanya dengan sempurna karena malam ini udaranya begitu membuatnya gerah.
"Bulu dadamu membuat wajahku gatal," Alula menjauhkan wajahnya.
"Bukannya biasa seperti ini?"
"Itu membuatku gatal!"
"Besok aku cukur, kalau perlu aku cukur semuanya dengan rambutku supaya kau senang."
"Awas saja jika kau berani mencukurnya!" Alula kembali membenamkan wajahnya di dada Kai.
"Ya tuhan! Tolong tambahkan kadar kesabaran di dalam diriku!"
Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih š¤
__ADS_1