
"Pagi sayang!" Kai menyapa Alula yang baru ke luar dari rumah. Saat ini, Kai membawa nampan berisi makanan dan juga susu.
"Kau lagi!" Alula berdecak pelan.
"Kau mau ke mana pagi ini?" Kai mencoba seramah mungkin untuk menarik perhatian istrinya.
Alula tak menjawab pertanyaan Kai, ia langsung berjalan menuju bangku yang ada di halaman rumah. Alula segera terduduk untuk menikmati sinar matahari di pagi ini. Alula memang harus rajin berjemur untuk kesehatan dirinya dan bayi yang ia kandung.
"Sebentar!" Kai menyimpan nampan berisi makanan yang ia bawa di samping Alula. Kemudian Kai segera berlari ke arah rumah yang ia tinggali. Rumah itu tepat di samping rumah kakek dan nenek Alula yang sengaja ia beli agar berdekatan dengan istrinya.
Tak lama, Kai keluar kembali dengan membawa sebuah buket bunga rose pink yang menjadi kesukaan istrinya.
"Ini untukmu!" Kai memberikan bunga itu kepada Alula.
"Aku tidak suka bunga itu!" Jawab Alula dengan tidak memandang wajah suaminya.
"Kau berbohong! Jelas jelas ini bunga kesukaanmu. Ambilah!" Kai menyodorkan bunga itu ke tangan Alula.
"Aku bilang aku tidak suka bunga itu!" Alula meninggikan suaranya.
"Biasanya kau sangat senang jika aku memberikan bunga ini untukmu," Kai masih mencoba agar bunga yang baru ia beli tadi di terima oleh Alula. Kai berharap, dengan mencium bunga itu, Alula bisa mengingat dan mengenang kembali masa-masa romantis mereka saat dulu.
"Itu dulu, sekarang tidak!" jawab Alula dengan ketus.
"Kau yakin tak mau mengambilnya?" Kai masih mencoba membujuk Alula.
"Kau tidak bisa mendengar? Aku bilang tidak ya tidak!" Alula mengambil buket bunga itu dari tangan Kai dan membuangnya ke tanah. Alula pun menginjak bunga itu dengan kakinya.
"Sabar, Kai. Sabar! Ini tidak sebanding dengan yang telah kau lakukan padanya," Kai mencoba menyabarkan hatinya dan mencoba untuk tidak emosi.
"Kalau begitu makanlah! Aku sengaja bangun pagi-pagi sekali untuk membuat Cheese Fondue. Saat kita berbulan madu di Switzerland, kau begitu menyukai makanan ini," Kai membawa mangkuk yang berisi lelehan keju dan buah-buahan segar untuk di cocolkan ke dalam mangkuk berisi keju itu.
"Buka mulutmu!" Kai mendekatkan sendok berisi keju dan buah ke bibir istrinya.
"Aku tidak mau," Alula masih memandang ke depan dan tidak memandang Kai yang ada di sampingnya.
"Kau yakin? Aku sudah mencobanya. Ini enak sekali!"
"Aku bilang tidak ya tidak. Aku sudah makan."
"Baiklah, jika kau tidak mau makan. Minumlah susu ini! Ini susu khusus ibu hamil yang baru aku beli semalam untuk mencukupi nutrisimu," Kai menyimpan mangkuk berisi Cheese Foundue yang ia buat dan mengambil segelas susu khusus untuk ibu hamil.
"Aku sedang tidak berselera untuk minum susu," Alula kembali menolak.
"Setidaknya minumlah susu ini untuk bayi kita! Dia butuh nutrisi," Kai berbicara selembut mungkin.
"Ada apa dengan dirimu? Mengapa kau senang sekali memaksaku?" Alula menatap tajam ke arah Kai yang terduduk di sampingnya.
"Aku tidak memaksa. Aku hanya ingin kau memperhatikan asupan gizi tubuhmu. Untuk kesehatanmu dan anak kita."
"Anak kita? Anakku bukan anak kita," Alula berkata dengan sangat ketus.
__ADS_1
Kai masih mencoba menahan emosinya.
"Kalau begitu ayo minum!" Kai menyodorkan kembali susu itu ke arah bibir Alula. Dengan cepat, Alula menepis gelas yang di sodorkan oleh Kai, sehingga gelas yang berisi susu itu jatuh dan pecah. Alula kaget dengan apa yang baru saja ia lakukan. Pagi ini moodnya memang benar-benar sangat buruk.
Kai langsung berdiri dari duduknya.
"Walau pun kau sedang marah padaku, apakah kau pantas memperlakukan suamimu seperti ini?" Mata Kai tampak memerah.
"Kai, maksudku-"
Kai langsung pergi dan masuk ke dalam rumahnya.
"Kai?" Alula memanggil suaminya.
"Dia marah padaku? Biarkan saja!" Alula masuk kembali ke dalam rumah kakek dan neneknya.
Malam harinya...
"Apa aku keterlaluan?" Alula berguling guling di atas kasur mengingat perlakuannya tadi kepada Kai. Ia juga heran mengapa bisa lepas kontrol seperti tadi pagi.
Alula keluar dari dalam rumahnya. Ia memperhatikan rumah yang ada di samping neneknya.
"Apa dia sudah tidur?" Alula memperhatikan rumah tempat bernaung suaminya.
"Mengapa aku memikirkannya? Sikap dia padaku jauh lebih kejam," Alula berusaha menepis perasaan bersalahnya dan segera masuk kembali untuk tidur.
****
"Kai, kau ke mana?" Alula menatap rumah Kai dari jendela kamarnya. Rumah itu tampak kosong dan seperti tidak berpenghuni.
Alula kecewa karena hanya sebatas itu Kai memperjuangkannya. Karena terlalu banyak memikirkan Kai, Alula menjadi tidak berselera makan dan tidur. Ia merasakan kecewa yang amat besar kepada suaminya.
"Kai, mengapa saat aku akan memberikanmu kesempatan kedua, kau malah mengecewakanku kembali?"
Sudah 4 hari, Kai tidak menampakan hidungnya. Pagi ini, Alula muntah-muntah hebat. Ia mengalami morning sickness yang lumayan parah, ditambah dengan tidak masuknya makanan dan minuman semakin memperparah keadaannya.
"Panasnya sudah reda," Anne menyentuh kening Alula.
Alula pun memejamkan kedua matanya untuk tertidur agar mengalihkan rasa mual dan juga pusing di kepalanya. Tengah hari Alula baru bangun dari tidurnya. Ia mengerjap ngerjapkan matanya ketika mendengar alat makan berdentingan.
"Kai?" Panggil Alula. Ia sungguh berharap Kai ada di sini.
"Ini kakek. Minumlah! Agar tubuhmu membaik. Jangan siksa anakmu! Kau harus makan dan minum," Charlie menyimpan segelas susu dan makanan di atas nakas.
"Kakek dan nenek pergi dulu ke kebun ya?" Kau jangan pergi ke mana-mana."
"Iya kek," jawab Alula singkat.
Charlie pun segera pergi menuju kebunnya dan tentu saja dengan ditemani oleh Anne, istrinya. Biasanya mereka akan berangkat pagi hari. Akan tetapi karena Alula sedang sakit, Charlie dan Anne memutuskan untuk berangkat siang hari.
Alula mencoba untuk berjalan ke luar dari rumah. Ia ingin mengalihkan perhatiannya karena terus menerus memikirkan Kai. Alula menatap dan perlahan berjalan menghampiri rumah yang Kai tinggali.
__ADS_1
"Apakah kau pulang kembali ke kota Birmingham?" Air mata terjatuh dari kedua kelopak matanya dengan deras.
Alula menyentuh pintu rumah itu. Saat Alula tak sengaja mendorongnya, pintu rumah Kai terbuka.
"Mengapa tidak di kunci? Apakah saat Kai berangkat dia lupa untuk menguncinya?" Alula menghapus air matanya.
Perlahan Alula masuk ke dalam rumah Kai. Di dalam rumah terdapat perabotan yang lengkap. Kai memang terlihat berniat sekali pindah ke rumah ini. Alula tersenyum ketika melihat foto pernikahannya bersama Kai terpajang di dinding ruang tamu.
"Uhuk uhuk," terdengar seseorang batuk dari lantai atas. Tak lama terdengar suara gelas pecah.
"Suara siapa itu?" Alula merinding mendengar suara batuk tadi. Tetapi ia mencoba memberanikan diri untuk naik ke lantai 2. Alula takut ada maling di rumah suaminya.
Saat Alula sampai di lantai dua, ia sangat kaget dengan apa yang dilihatnya.
"Kai?" Alula berteriak dan berlari ke arah Kai yang tengah telentang di atas keramik.
"Kai, kau ada di sini?" Alula mengguncang pelan tubuh suaminya.
"Badanmu panas sekali!" Alula menyentuh kening Kai yang terasa sangat panas.
"Ayo berdirilah!" Alula membangunkan tubuh Kai dan memapahnya menuju kasur.
"Al? Kau ada di sini?" Kai berkata dengan lemah. Bibirnya terlihat sangat pias.
"Iya. Ke mana saja kau 4 hari ini?" Alula terisak kembali.
"4 hari ini aku sakit. Tetapi hanya flu dan batuk. Mungkin karena aku belum beradaptasi dengan cuaca di kota ini. Di sini sangat panas, tetapi anginnya begitu kencang. Aku tidak menemuimu karena aku takut kau tertular dengan flu dan batukku. Aku tidak ingin kau dan anak kita sakit," Kai berkata dengan mata yang terpejam.
"Bodoh! Mengapa kau tidak memberi tahuku jika kau sedang sakit?" Alula semakin tersedu. Ia khawatir akan kesehatan suaminya. Kai tidak menjawab pertanyaannya.
"Kai? Bangunlah!" Alula menepuk pelan pipinya.
"Kepalaku sangat pusing. Al, aku mencintaimu, kembalilah padaku!" Kai mulai melantur. Mungkin efek dari demamnya yang sangat tinggi.
Alula segera membawa baskom kecil yang berisi air panas dan lap untuk mengompres tubuh suaminya.
"Demamnya sudah lumayan turun," Alula menatap termometer yang baru ia gunakan untuk mengecek suhu Kai.
Alula bergegas menuju dapur, ia memasak makanan yang bisa di makan oleh Kai saat bangun nanti. Setelah memasak, Alula kembali ke atas untuk menyimpan makanan dan juga untuk mengecek keadaan suaminya.
Waktu sudah menunjukan pukul 12 malam dan saat ini Alula masih berada di dalam kamar Kai.
"Kai, aku pulang dulu!" Alula menyelimuti tubuh suaminya dengan selimut yang tebal.
Alula berjongkok di hadapan wajah Kai yang tengah tertidur dengan posisi memiringkan tubuhnya ke kanan. Alula mengacak ngacak rambut Kai yang terlihat berantakan.
"Ini bukan kemauanku, tapi kemauan anakmu. Sejak aku melihatmu di kota ini, aku ingin sekali mengacak rambutmu. Anakmu yang menginginkannya," Alula tersenyum puas setelah mengacak-ngacak rambut suaminya sampai berantakan.
"Cepat sembuh tuan menyebalkan! Jika kau sakit, siapa yang akan menyakitiku?" Alula segera bediri dan beranjak pergi dari rumah Kai menuju ke rumah nenek dan kakeknya untuk beristirahat.
Terima kasih kepada para readers yang sudah berkenan mampir, membaca, memberikan like, memberikan komen, rate maupun vote. Semoga kalian semua sehat selalu dan selalu dalam kebahagiaan. ❤❤
__ADS_1