
Alula melepaskan mantel yang membalut tubuhnya setelah ia sampai di kamar hotel. Alula mengganti bajunya dengan piyama di dalam kamar mandi dan segera keluar setelah piyama itu melekat sempurna di tubuhnya.
"Kau sangat menyukai bunga itu?" Tanya Kai saat melihat Alula kembali menciumi bunga rose pink yang ada di tangannya.
"Iya, aku sangat menyukainya. Dulu papa selalu memberikan bunga ini untuk mama. Jadi setiap melihat bunga ini, aku selalu teringat kepada kedua orang tuaku," papar Alula selagi ia masih memperhatikan cantiknya bunga rose pink itu.
"Karena kau begitu senang dengan bunga pemberian dariku, maka kau harus memberikanku imbalan yang sepadan dengan bunga itu," Kai mendekatkan dirinya ke tubuh Alula. Kini tubuh jangkungnya berdiri tepat di hadapan tubuh Alula.
"Aku tidak mempunyai apa pun sekarang, jadi aku tidak bisa memberikanmu imbalan," jawab Alula apa adanya.
"Kau mempunyai imbalan yang ku inginkan," Kai tersenyum penuh maksud.
Dengan cepat Kai merengkuh leher Alula dan mencium bibir gadis itu. Ciumannya kini tidak hanya sekedar menempel. Kai memberikan kecupan-kecupan lembut di bibir Alula.
Sementara Alula memelototkan kedua matanya, karena ini merupakan kedua kalinya Kai mencium dirinya.
"Buka bibirmu!" Kai menjeda ciumannya.
Alula hanya diam tak bergerak, ia masih belum menguasai keterkejutannya karena kedua kalinya dicium secara tiba-tiba.
Kai kembali membenamkan bibirnya di bibir Alula. Kai berusaha membuka bibir Alula dengan lidahnya. Setelah bibir Alula terbuka, Kai segera mengeksplor bibir berwarna merah jambu itu dengan lidahnya. Alula begitu kaget merasakan sesuatu menjelajahi bibirnya, bunga rose yang ia pegang kemudian terjatuh dari kedua tangannya. Alula meremas baju Kai yang ada di depannya. Sementara Kai masih sibuk dengan aktifitasnya saat ini. Bahkan kini terdengar deruan nafas dari Kai yang begitu menikmati ciumannya, walaupun Alula tak membalas ciuman panas itu.
Kai memangku tubuh Alula ke arah spring bed saat ia benar-benar sudah tidak bisa menguasai nafsunya lagi. Sementara bibirnya masih menciumi bibir Alula begitu dalam. Kai menjatuhkan tubuh Alula di atas kasur dan segera menindih tubuh kecil itu dengan tubuhnya.
Alula tampak baru sadar dengan apa yang Kai lakukan padanya.
__ADS_1
"Kai, lepaskan aku!" Alula menggerakan kepalanya dan melepaskan ciuman Kai dari bibirnya.
Kai menatap Alula yang saat ini tengah berada di bawah tubuhnya.
"Tidak seharusnya kita bersikap seperti ini!" Alula berkata lirih.
"Kenapa? Kau tidak mau melakukannya denganku?" Kai tampak kecewa.
"Aku tidak bisa melakukannya, Kai. Kita sama sama saling tidak mencintai. Bahkan kita menikah pun karena sebuah kesalahpahaman," Alula mendorong tubuh Kai yang saat ini berada di atas tubuhnya.
"Apa karena laki-laki itu?" Kai berdiri dan menatap tajam ke wajah Alula.
"Bukan, ini tidak ada hubungannya dengan Cleon. Kita akan bercerai setelah tujuh bulan. Aku hanya ingin diriku utuh, agar kelak ketika kita bercerai ada yang mau menerimaku," jawab Alula seraya mendudukan tubuhnya dan merapikan rambutnya yang berantakan.
"Agar ada yamg mau menerimamu? Haha, sungguh gadis bodoh!" Kai tertawa mengejek sembari menunjuk kening Alula dengan jarinya.
"Aku benar-benar tidak bisa melakukannya. Aku belum siap, Kai. Terlebih kau tidak mencintaiku," Alula menundukan wajahnya.
"Aku men-" Kai menghentikan perkataannya dan mendengus kesal.
Kai segera berjalan ke arah kamar mandi dan menutup pintu itu dengan sangat keras. Kai menyalakan shower dan mengguyur tubuhnya dengan air. Ia ingin menetralkan tubuhnya yang sudah memanas dan sangat bergejolak ketika tadi ia ingin memiliki Alula seutuhnya.
"Berani-beraninya kau menolakku! seumur hidup aku tidak pernah ditolak oleh seseorang. Bahkan Arabella pun selalu memaksa melakukan hal itu denganku, tetapi aku tidak ingin melakukannya. Sekarang, setelah aku yakin dan ingin melakukannya denganmu, mengapa kau menolakku?" geram Kai dalam hatinya kemudian ia meninju dinding kamar mandi.
Alula menghembuskan nafasnya pelan. Lalu ia memungut bunga rose yang terjatuh dari tangannya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Kai! Aku sungguh tidak ingin melakukan hal itu," Alula menyimpan bunga itu di atas nakas dan merebahkan dirinya di atas kasur. Alula memiringkan tubuhnya, lalu air mata tampak menetes dari kedua sudut matanya.
Alula menangis karena mengingat ucapan Kai saat berkelahi dengan Cleon di depan Canon Hill Park. Waktu itu Kai berkata jika ia akan menjadikan Alula sebagai pemuas nafsunya saja, dan setelah tujuh bulan Kai akan membuang Alula seperti sampah.
"Aku tidak ingin kau menjadikanku sebagai pemuas nafsumu, lagi pula aku menyukai Cleon. Aku tidak bisa melakukannya denganmu," Alula menyeka air matanya yang berjatuhan.
Kai keluar dari kamar mandi yang ada di dalam kamar itu. Ia tampak sudah mengganti bajunya dengan piyama. Alula memejamkan matanya dan pura-pura tertidur. Kai merebahkan dirinya di atas kasur. Ia memperhatikan tubuh Alula yang membelakanginya.
"Kemarilah!" Kai merengkuh tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.
"Kai, Ja-"
"Diamlah, aku hanya ingin memelukmu. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang lebih," Kai mengeratkan pelukannya.
Alula pun menghadapkan tubuhnya ke arah Kaivan.
"Kau menangis?" Kai mengusap air mata yang terjatuh dari mata Alula.
"Kai, maafkan aku!" Alula menangis tersedu.
Walau pun Alula kesal saat mengingat Kai berkata akan menjadikannya pemuas nafsu saja, tetapi hatinya tidak bisa di bohongi. Terlepas dari alasan mereka bisa menikah, bagaimana pun Alula adalah seorang istri yang sah dari Kai. Alula seharusnya memang berkewajiban melayani suaminya di atas tempat tidur.
"Tidak apa-apa," Kai merengkuh tubuh Alula dan membenamkan wajah wanita itu di dadanya.
Entah mengapa Alula sangat nyaman berada di pelukan Kai. Kebencian yang ia sematkan kepada Kai perlahan menghilang karena sikapnya yang berbeda belakangan ini. Tak lama, Alula pun tertidur.
__ADS_1
Dear para readers : Tolong tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment dan vote untuk mendukung author. Terima kasih š¤š¤