Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Honeymoon to Switzerland


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan 3 jam lebih 40 menit, akhirnya Alula dan Kaivan sampai di Bandar udara International Zurich, Switzerland. Suhu udara mencapai 10 derajat celcius ketika mereka tiba. Waktu menunjukan tengah hari/ siang saat mereka tiba di bandara.


"I'm coming Switzerland!!!" Alula berteriak saat ia melihat pemandangan kota dari kaca bandara internasional Zurich.


Kai langsung membekap bibir Alula karena orang-orang langsung melihat ke arah mereka.


"Jangan kampungan!" Ucap Kai saat ia melepaskan tangannya dari bibir Alula.


"Biar saja, wlee," Alula menjulurkan lidahnya kepada Kai, lalu ia segera berjalan cepat ke arah pintu keluar bandara.


"Aku jadi ingin menciumnya lagi," Kai tersenyum dan segera menyusul Alula.


Saat mereka sampai di depan pintu bandara, Kai langsung dijemput oleh supir pribadi ibunya yang bertugas untuk mengantar jemput mereka selama berada di Switzerland. Alula dan Kai pun langsung naik mobil tersebut yang akan membawanya ke hotel.


Alula memperhatikan pemandangan kota Zurich dari kaca mobil yang ia tumpangi. Tampak kota Zurich di selimuti oleh salju. Walaupun kota ini diselimuti oleh salju, tetapi tidak mengurangi kecantikan kota yang mendapatkan predikat sebagai salah satu kota yang memiliki kualitas hidup terbaik di dunia. Alula melihat bangunan-bangunan tua khas eropa. Alula juga melihat sungai Limmat yang sangat terkenal di kota Zurich. Sungai Limmat dan sungai Shil adalah sungai yang membelah kota Zurich. Sungai Limmat terlihat tidak membeku, mungkin karena sekarang baru permulaan musim dingin.


"Kai, aku tidak percaya kita tengah berada di sini. Ini seperti di negeri dongeng," Alula terkagum kagum melihat pemandangan kota Zurich yang ia lihat.


"Aku sudah beberapa kali ke sini," ucap Kai datar.


"Enak sekali jadi dirimu, bisa pergi ke mana pun yang kau mau," Alula mengalihkan tatapannya kepada Kai.


"Kau pun bisa pergi ke mana pun yang kau mau, karena kau istriku sekarang," Kai tersenyum.


"Sejak kapan kau menganggapku sebagai istrimu?" Alula menyipitkan kedua matanya. Pandangannya terhenti di arah jemari Kai yang terlihat memakai cincin pernikahan mereka.


"Sejak kapan kau memakai ini?" Alula mengambil lengan Kai dan memperhatikan cincin pernikahan mereka.


"Sejak kita berangkat ke sini. Mana cincinmu? Berani-beraninya kau tidak memakai cincin itu," gerutu Kai saat melihat jari Alula tidak terpasang satu cincinmu.


"Nanti kalau kita sudah di rumah aku akan memakainya," Alula tersenyum kaku karena heran sejak kapan suaminya mengakui pernikahan ini.


Setelah 23 menit, akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai di sebuah hotel bintang lima yang merupakan hotel kelas atas abad ke 19. Kai segera check in ke hotel tersebut dengan mengambil satu buah kamar Presidential Suite.


"Waaaw," Alula takjub saat masuk ke dalam kamarnya.


Kamar yang Kai pesan terlihat sangat mewah dan langsung menghadap ke spot pemandangan kota. Alula segera membuka tirai kamarnya, ia semakin takjub dengan suasana kota yang ia lihat dari atas kamarnya. Terlihat pemandangan kota Zurich yang sedikit memutih.


Saat Alula tengah melihat pemandangan, tiba-tiba sepasang tangan melingkar di perutnya.


"Kai, a-apa yang kau lakukan?" Alula bertanya dengan terbata-bata. Ia bingung melihat sikap Kai yang menurutnya menjadi aneh beberapa hari ini.

__ADS_1


"Aku hanya ingin mencium aroma rambutmu," Kai mencium dalam-dalam rambut Alula, kemudian bibirnya turun ke leher istrinya.


"Berhentilah, Kai! Itu sangat menggelikan," Alula melepaskan lengan Kai dari perutnya.


"Ada apa denganmu? Kau sakit?" Alula menyentuh kening Kai. Tetapi suhu tubuhnya saat ini normal.


"Aku tidak sakit, memangnya kenapa?"


"Ya, aku heran saja. Kau mau menyentuh wanita rendahan dan bukan seleramu seperti diriku," jawab Alula menyindir kata-kata yang pernah Kai ucapkan padanya.


"Tapi wanita rendahan itu sekarang adalah istriku. Bukannya aku berhak atas dirinya?" Kai mendekat dan berbisik di telinga Alula.


"Kau sangat aneh," Alula mendorong tubuh Kai agar menjauh dari tubuhnya.


"Kai, ayo kita jalan-jalan keluar!" Pinta Alula kepada Kaivan.


"Kita diam saja di hotel. Besok kita baru jalan-jalan," Kai mendudukan dirinya di atas kasur.


"Aku tidak mau, Kai. Sayang sekali jika kita tidak jalan-jalan, aku ingin menikmati suasana kota ini," Alula merengek sembari menarik narik tangan suaminya.


"Baiklah, ayo!" Kai pun berdiri dan berjalan ke luar kamar, ia menghembuskan nafasnya pelan lalu segera keluar dari hotel. Sementara Alula terlihat berjalan di belakangnya.


Kai mengambil kunci mobil dari sopir ibunya yang ditugaskan untuk mengantarkan mereka kemana pun pergi. Kai menyuruh supir itu untuk pulang saja, karena ia hanya ingin berdua dengan Alula tanpa ada yang mengganggu.


"Kai, coba buka rooftop mobilnya!" Perintah Alula.


Kai pun membuka rooftop mobil yang sedang dikemudikan olehnya. Alula langsung berdiri dari duduknya.


"Ini benar-benar keren," Alula berteriak di atas mobil.


Kai hanya tersenyum mendengar teriakan dari Alula. Entah mengapa hatinya terasa menghangat. Alula terlihat menadahkan wajahnya ke atas langit dan memakan salju-salju yang berjatuhan.


"Hey, mengapa kau memakannya?" Tanya Kai seraya mengemudi dengan pelan, karena jalanan mulai di tutupi oleh salju.


"Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasa salju Switzerland," jawab Alula riang.


"Tapi kau bisa sakit perut jika memakan salju-salju itu. Salju itu pasti kotor dan telah terkontaminasi polusi udara," papar Kai.


"Tuan Kaivan Allen, kau sungguh lupa kalau Switzerland adalah negara terbersih di dunia," Alula berkacak pinggang di sisi Kai. Kai hanya tertawa melihat tingkah istrinya itu. Alula pun kembali menadahkan wajahnya ke atas langit dan mulai memakan salju-salju itu lagi.


"Terserah kau saja," sahut Kai dengan senyum yang belum memudar dari bibirnya.

__ADS_1


"Saat bersama Arabella aku tidak pernah sesenang ini. Mungkin karena sifatnya yang selalu jaga image di depan orang lain. Sedangkan bersama gadis bodoh ini, aku merasakan kenyamanan yang belum pernah aku dapatkan dari siapapun," batin Kai dalam hatinya.


****


Kaivan dan Alula akhirnya sampai di danau Zurich yang berada di sebelah tenggara kota Zurich. Danau itu terlihat sangat bersih dan memiliki air yang sangat bening.


"Kai, aku ingin naik perahu," pinta Alula kepada Kai.


"Udaranya dingin. Lebih baik kita di sini saja!"


"Tapi Kai, aku ingin naik perahu. Lagi pula salju nya baru turun sedikit, ya?" Alula menarik narik tangan Kai.


"Baiklah, ayo!" Kai terpaksa mengiyakan permintaan dari istrinya itu.


Alula dan Kaivan berjalan ke dermaga Bahnhofstrasse untuk naik kapal. Mereka pun menaiki sebuah kapal untuk menikmati keindahan danau Zurich. Untuk naik kapal, Kai dan Alula harus menggunakan Zurich card yang harus mereka beli sebelumnya. Untuk mengelilingi danau dengan perahu diperlukan waktu 90 menit. Terlihat hanya mereka berdua di kapal itu karena di saat musim dingin seperti ini jarang ada turis yang mau menaiki perahu.


"Kai, lihatlah!" Tunjuk Alula kepada sebuah pegunungan.


"Itu pegunungan Alpen, cantik bukan?" Kai melihat pegunungan itu, lalu matanya beralih memperhatikan pipi Alula yang memerah, mungkin sekarang ia sedang kedinginan.


"Pipimu memerah. Kau tidak apa-apa?" Kai mengusap pipi Alula.


"Tidak, aku baik-baik saja," Alula tersenyum paksa. Sejujurnya saat ini ia begitu kedinginan, tetapi karena keingin tahuannya untuk menjelajah danau ini membuat Alula mengesampingkan fakta bahwa dirinya tidak kuat dengan dingin.


"Kemarilah!" Kai menyodorkan tangannya kepada Alula.


"Ke mana?" Alula menyambut lengan laki-laki yang ia benci saat SMA itu.


"Duduklah di sini!" Kai menepuk tempat duduk yang ada di hadapannya.


Alula pun terduduk di depan Kaivan. Dengan cepat, Kai langsung memeluk tubuh Alula erat.


"Kai, apa yang-"


"Diamlah! Aku hanya ingin membuatmu hangat," potong Kai.


Alula pun tampak kikuk dengan suasana itu. Tetapi karena dirinya kedinginan, ia pun mengusir rasa canggungnya dan merebahkan kepalanya di dada Kai. Kai pun tersenyum dan mulai menciumi kepala Alula dan merekatkan pelukannya lebih erat.


"Mengapa aku menjadi begitu candu seperti ini? Aku sangat suka wangi rambutnya," gumam Kai.


"Apa yang terjadi dengannya? Aku jadi takut dia tiba-tiba baik seperti ini kepadaku. Apa dia merencanakan untuk menenggelamkanku di danau ini?" resah Alula di dalam hatinya.

__ADS_1


Dear para readers : Tolong tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment dan vote untuk mendukung author. Terima kasih šŸ¤—šŸ¤—


__ADS_2