Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Satu Kamar


__ADS_3

Henry tengah mondar mandir di dalam kamarnya. Hari ini, ia sangat ingin pergi ke Aquarium Ripleys yang ada di kota Toronto, Kanada. Selama bermukim di Kanada, Henry belum pernah mengunjungi aquarium yang terletak di dekat CN 288 Bremner Boulevard tu.


"Apa aku ajak Bev saja ya?" Henry berbicara kepada dirinya sendiri.


"Ah, tidak-tidak. Dia pasti akan kepedean jika aku mengajaknya pergi bersama. Tapi jika aku pergi sendiri, aku sungguh bosan. Terlebih dari kota Ottawa ke Toronto menghabiskan waktu 4 jam."


"Baiklah, aku akan mengajak Bevery saja," Henry memutuskan dan segera packing untuk check out dari hotel.


Setelah selesai mempacking semua barangnya, Henry segera berjalan ke arah kamar hotel Beverly.


"Bev?" Henry mengetuk pintu kamar Beverly.


Tidak terdengar sahutan dari dalam.


"Bev, buka pintunya!!" Henry kembali mengetuk pintu kamar hotel Beverly.


Tak lama pintu terbuka.


"Huaaaa, ada apa?" Beverly menguap sembari mengucek matanya yang masih penuh dengan kotoran.


"Kau ini mengapa selalu membuatku ilfeel," Henry bergidik ngeri melihat penampilan Beverly.


"Kau mengganggu tidurku!" Beverly menggerutu.


"Ya ampun, Bev!! Kau masih tidur jam segini? Ini pukul 5 pagi!"


"Ini masih sangat pagi. Aku harus tidur kembali," Beverly bergegas akan masuk kembali ke dalam kamarnya.


"Bev, tunggu!" Henry menahan tangan Beverly yang akan menutup pintu.


"Ada apa lagi?"


"Ayo temani aku ke kota Toronto!" Ujar Henry dengan raut wajah gengsinya.


"Tuh kan, apa aku bilang!! Kau memang menyukaiku. Akuilah!" Tuduh Beverly.


"Enak saja! Aku mengajakmu karena aku malas pergi sendiri. Kau kan tahu jarak dari kota Ottawa ke Toronto menghabiskan waktu sekitar 4 jam," jelas Henry.


"Aku tidak mau ikut denganmu. Aku masih mau di kota ini."


"Memangnya kau akan pergi ke mana hari ini?" Tanya Henry penasaran.


"Aku juga tidak tahu," Beverly menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Dari pada kau menetap di kota ini dengan tujuan yang tidak pasti, lebih baik kau ikut saja bersamaku. Bagaimana?" Henry masih belum menyerah menawari Beverly untuk ikut dengannya.


"Emm. Lalu, bagaimana dengan hotel ini? Aku masih memiliki waktu 4 hari lagi."


"Kau tidak perlu khawatir, aku akan membayarimu makan, masuk ke tempat wisata dan hotel di kota Toronto," ucap Henry kemudian.


"Nah kalau itu aku setuju," Beverly tersenyum senang.


"Baiklah, tunggulah sebentar! Aku harus packing barang-barangku," Beverly masuk dan menutup pintu dengan keras.


"Ya ampun, gadis ini benar-benar menyebalkan! Jika saja aku mempunyai teman yang bisa aku ajak, aku tak akan mengajakmu. Dasar gadis menyebalkan!" Henry menggerutu di depan pintu kamar Beverly.


Setelah 30 menit....


"Bev, kau di dalam sedang packing atau sedang memindahkan air ke dalam bak dengan sendok?" Henry menggedor pintu kamar Beverly.


"Aku sudah berlumut di luar sini," Henry berteriak di depan kamar Beverly.


"Iya, ini aku keluar. Mengapa kau sangat cerewet sekali?" Beverly mendelik kesal.


"Ambilah koperku!" Beverly memberikan koper miliknya ke arah Henry.


"Enak saja! Kau bawa saja sendiri!" Henry bergegas untuk pergi ke arah lift.

__ADS_1


"Kau bawa kopernya atau aku tidak jadi ikut!"


Henry menghembuskan nafasnya dan segera membalikan tubuhnya ke arah Beverly. Henry segera mendorong koper milik gadis berambut blonde itu ke arah lift.


"Nah, itu namanya pria," seru Beverly sambil mengekori Henry ke arah lift.


Setelah Check out, mereka langsung masuk ke dalam mobil Henry untuk melakukan perjalanan ke kota Ottawa.


"Ganti lagunya, aku kurang suka dengan lagu perpisahan!" Beverly memprotes ketika mendengar lagu milik Wiz Khalifa Feat Charlie Puth yang berjudul When I See You Again.


"Aku tidak mau," tolak Henry.


Beverly langsung mengambil ponsel milik Henry yang menghubungkannya dengan tape mobil. Beverly segera melihat daftar lagu di ponsel milik pria yang ada di sampingnya.


"Apa ini? Kau mengoleksi semua lagu Masha And The Bear?" Beverly langsung tertawa terpingkal-pingkal begitu melihat daftar musik di ponsel milik Henry.


"Diamlah! Memangnya ada yang salah? Aku hanya mengkoleksi lagu Masha and The Bear bukan mengkoleksi film panas," Henry menggerutu sembari terus menyetir.


"Kau benar-benar lucu! Seorang pria dewasa masih menonton Masha And The Bear," Beverly masih tertawa. Sudut matanya tampak basah karena terlalu lepas tertawa.


"Diamlah!" Ucal Henry dengan wajah yang kesal.


"Kenapa tidak kau koleksi juga lagu, Sifa Sifa... Sifa Sifaaaaa.... Aku bukan anak kecil paman," Beverly menirukan kartun yang berasal dari negara India sembari tertawa dengan sangat keras.


"Hey, kau tahu kartun itu? Aku tidak menyangka kau mengetahuinya. Itu film kartun dari negara Asia," Henry terlihat kaget.


"Aku hanya pernah mendengar original soundtracknya di yout*be," Beverly menghapus air mata di sudut matanya karena terlalu lepas tertawa.


"Sudahlah, lebih baik aku tidur cantik dulu. Kau mengemudi yang benar ya?" Beverly menepuk bahu Henry, kemudian ia segera berbenah untum tidur di jok mobil. Tak lama kemudian, Beverly benar-benar tertidur.


Henry melirik ke arah Beverly yang tengah tertidur.


"Dia sangat cantik tetapi sikapnya sungguh sangat bar-bar," Henry melirik Beverly sembari menggelengkan kepalanya ketika mengingat kembali sikap Beverly.


Setelah menempuh perjalanan selama empat jam dari kota Ottawa, mobil yang dikendarai Henry akhirnya sampai di kota Toronto. Hujan deras menyambut ketika mereka memasuki gerbang kota Toronto.


"Mengapa berisik sekali?" Beverly menggeliat pelan saat mendengar suara hujan yang sangat deras.


"Mengapa hujan?" Beverly menatap jalanan kota Toronto dengan kecewa.


"Jadi, kita tidak bisa berjalan-jalan hari ini?" Lanjut Beverly.


"Mau bagaimana lagi? Memangnya kau mau berjalan jalan sembari hujan hujanan?" Jawab Henry.


"Lalu, kita akan ke mana?"


"Lebih baik kita check in terlebih dahulu ke hotel terdekat," usul Henry yang di iyakan oleh Beverly.


Mereka sampai di sebuah hotel mewah yang ada di kota Toronto. Henry segera mengeluarkan koper miliknya dan koper milik Beverly. Henry dan Beverly segera datang ke staff hotel yang ada di depan untuk memesan kamar hotel.


"Kamar hotelnya dua, tipe Deluxe Room," Henry memesan.


"Kau benar-benar pria yang pelit! Ku pikir kau akan memesan Presidental Suit," Beverly menggerutu.


"Sama saja. Kita hanya menumpang tidur, siang harinya kan kita berkeliling ke kota ini."


"Jadi pesan atau tidak tuan?" Tanya staff hotel tersebut.


"Jadi."


"Tetapi mohon maaf, di sini hanya tersedia satu kamar karena semua kamar sudah terisi oleh tamu hotel yang sebagian besar adalah wisatawan."


"Hanya ada satu?" Henry memastikan.


"Iya, tuan."


"Apa sungguh tidak ada lagi? Kamar tipe apapun itu akan aku sewa," sahut Henry kembali.

__ADS_1


"Mohon maaf tuan! Semua kamar benar-benar sudah penuh."


"Bev, tidak apa apa kita satu kamar?" Ucap Henry kepada Beverly yang dari tadi hanya terdiam.


"Kau gila?" Beverly memelototkan kedua matanya.


"Kita cari hotel lain saja!" Usul Beverly kepada Henry.


"Maaf Nona! Sepertinya semua hotel yang ada di kota ini sama ramainya dengan hotel ini, karena kita memasuki libur musim panas," Staff hotel menyela.


"Bagaimana, Bev? Tidak akan terjadi apa-apa, aku akan tidur di sofa," Henry memberikan penawaran. Beverly tampak berfikir.


"Baiklah. Asal kau jangan macam-macam!"


"Iya. Aku berjanji."


****


Henry dan Beverly sudah berada di dalam kamarnya. Mereka jadi memesan satu kamar hotel untuk di pakai berdua. Saat ini, Henry sedang memainkan ponselnya di atas sofa yang ada di dalam kamar.


"Henry?"


"Apa?"


"Kau sedang apa?" Tanya Beverly penasaran.


"Aku sedang bermain game," Henry masih asik dengan ponselnya.


"Boleh tidak aku meminjam ponselm? Aku sungguh bosan. Aku ingin membaca berita."


"Memangnya ke mana ponselmu?" Tanya Henry masih dengan asyik memainkan ponselnya.


"Ponselku 0 persen. Aku baru menchargernya. Ayolah pinjamkan aku ponselmu! Please!" Beverly merajuk.


"Tidak. Aku tidak mau."


"Kau sungguh pria yang pelit. Kau tega sekali melihat aku tidak melakukan apa pun di sini."


"Ada televisi. Nonton tv saja!!"


"Aku tidak mau. Ayolah pinjamkan ponselmu!" Beverly masih terus memaksa.


"Aku bilang tidak mau ya tidak mau."


Beverly hanya menggeram kesal melihat kelakuan Henry yang tak mau meminjamkan ponsel padanya. Tak lama, Henry terdengar mengangkat telfon yang masuk ke dalam ponselnya.


"Mama? Henry sedang berada di hotel yang ada di kota Toronto," Henry menjawab telfon ibunya.


"Sendirian, Mah," Henry berkata dengan canggung. Tak mungkin ia mengatakan jika tengah berdua dengan Beverly di dalam kamar hotel.


Beverly pun tersenyum jahil dan segera mendekati Henry. Beverly langsung merebut ponsel Henry.


"Henry bohong tante! Henry sedang bersama Bev di kamar hotel. Henry memaksa Bev untuk satu kamar dengannya. Huhu. Marahi saja dia tante!" Beverly berakting menangis.


"Kau ini apa-apaan?" Henry segera merebut ponsel itu kembali dari tangan Beverly.


"Hallo, Ma! Ma dengarkan penjelasan Henry dulu. Ini tidak seperti yang mama bayangkan," Henry berusaha menjelaskan.


"Pulang dan jelaskan semuanya kepada mama!!" jawab Alice, ibunya dari sebrang telfon.


"Bev, kau keterlaluan!" Henry menggeram kesal.


"Salah siapa kau tidak mau meminjamkan ponselmu," Beverly membaringkan tubuhnya di kasur.


"Ini gawat, Bev. Bisa-bisa mama menikahkan kita!!"


"APPAAAA?" Beverly seketika terbangun.

__ADS_1


Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih šŸ¤—


__ADS_2