Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Final Chapter


__ADS_3

Hari ini Kai dan Alula akan pergi ke Switzerland untuk berlibur.


"Sayang, sama grandma ya?" Alula mencium pipi putranya lembut.


"Sayang, Jasper bawa saja ya?" Pinta Alula kepada suaminya.


"Sayang, kita berlibur berdua saja. Lagi pula akan ada Daddy dan Mommy yang menjaga Jasper," jawab Kai kepada istrinya.


"Pergilah, Al! Daddy dan Mommy akan menjaga Jasper," tutur William, ia segera memangku cucu pertamanya itu.


"Kau jangan khawatir! Mommy dan Daddy akan siaga menjaga Jasper. Kalian pun pasti membutuhkan liburan untuk refreshing setelah berbulan bulan ini sibuk mengurus Jasper," ujar Sofia.


"Baiklah. Mama pergi ya sayang?" Alula mencium wajah anaknya. Ia seakan berat meninggalkan Jasper ke luar negeri.


"Papa berangkat ya, Nak! Doakan pulang dari Switzerland mamamu memberikan adik untukmu," Kai menciumi gemas wajah Jasper.


"Adik? Jasper masih kecil!" Alula mengingatkan.


"Apa salahnya? Jasper sudah berusia 9 bulan!" Kai berkata dengan enteng.


"Nah kalau itu mommy setuju! Jadi, nanti mommy tidak usah berebut Jasper lagi dengan Daddy," Sofia menyetujui.


"Tuh mommy saja menyetujui," Kai mencubit pipi Alula.


"Kai? Kan aku yang mengandungnya, bukan dirimu!" Alula mencebikan bibirnya.


"Ya, terus? Kan aku juga kebagian susah saat kau mengidam."


"Itu kan keinginan Jasper bukan keinginanku."


"Sudah, mengapa kalian jadi berdebat? Nanti kalian ketinggalan pesawat lho!" William mengingatkan.


"Kalau begitu, Kai dan Alula pergi dulu Mom, Dad?" Kai berpamitan kepada kedua orang tuanya, Alula pun ikut berpamitan.


William dan Sofia mengantarkan Alula sampai ke depan halaman rumahnya.


"Nikmati bulan madu kedua kalian!" William dan Sofia melambaikan tangan saat Kai dan Alula masuk ke dalam mobil.


"Kai? Aku akan merindukan putra kita!" Alula masih menatap Jasper yang tengah di gendong oleh kakeknya.


"Tenang saja, Jasper akan baik-baik saja!" Kai menangkup tangan Alula seolah menenangkan.


Setengah jam kemudian mereka sampai di bandar udara kota Birmingham. Kai dan Alula segera masuk ke dalam pesawat yang akan membawa mereka ke negara Switzerland.


Kai dan Alula menjelajahi pikirannya masing-masing saat pesawat mereka take off dari landasan. Alula menoleh ke arah Kai yang terduduk di sampingnya.


"Sayang, mengapa kau tersenyum seperti itu?" Alula mengelus pipi suaminya lembut.


"Aku seolah merasakan De Javu. Aku mengingat bulan madu kita," Kai mengambil tangan istrinya dan menciuminya dengan lembut.


"Waktu itu kita belum saling mencintai kan?" Alula menerka-nerka.


"Tidak. Aku sudah jatuh cinta padamu saat kita berangkat ke Switzerland," jawab Kai dengan senyum yang tidak pudar dari wajahnya.


"Benarkah?" Alula menyipitkan matanya.


"Tentu saja. Jika aku tidak jatuh cinta denganmu, aku tidak akan berusaha untuk menyentuhmu," jawab Kai kembali.


"Kai, aku pun sudah menyukaimu saat kita berangkat ke Switzerland. Hanya aku tidak merasakan perasaanku itu. Sejak kapan kau menyukaiku?" Alula bertanya dengan penuh keingin tahuan.


"Entahlah. Saat kita SMA, saat aku melihatmu dan Cleon di pinggir danau ketika kita camping, entah mengapa hatiku berdesir. Saat aku melihat Cleon menjemputmu di halte bus saat kita pulang camping, hatiku pun terasa panas," jelas Kai.


"Bukankah dulu kau begitu membenciku?" Alula mengernyitkan dahinya heran.


"Iya. Saat SMA aku begitu membencimu setelah peristiwa di kantin itu, tetapi entah mengapa dadaku panas melihat kau dan Cleon. Apakah saat itu aku sudah menyukaimu?" Kai bertanya tanya.


"Aku tidak tahu, tuan menyebalkan! Mengapa kau bertanya padaku? Kan kau yang merasakannya," Alula menciumi pipi Kai lembut.


"Saat bulan madu saja kau benar-benar menolakku. Sekarang kau begitu agresif. Sudah tergila gila padaku?" Kai menggoda Alula.


"Ya, aku memang sudah tergila gila kepada ayah dari anakku," Alula memencet hidung Kai sampai memerah.


"Kalau aku tidak usah ditanya. Aku sudah tergila gila padamu saat kita berbulan madu dulu," Kai tidak mau kalah.


"Ya, ya, aku tahu!" Alula menyenderkan kepalanya di bahu Kai.


Setelah 4 jam di dalam pesawat, Kai dan Alula sampai di kota Interlaken, Switzerland. Seperti biasa, mereka sudah disambut oleh Leo yang akan mengantar jemput honeymoon kedua mereka hari ini.


"Leo, diamlah di hotel! Aku ingin berdua saja dengan istriku," pinta Alula kepada Leo.

__ADS_1


"Baik, tuan," Leo memberikan kunci mobilnya kepada Kai.


Alula dan Kai pun segera pergi ke stasiun Eigergletscher untuk menikmati keindahan gunung Jungfrau dari dalam kereta. Setelah sampai stasiun, Kai terlebih dahulu membeli hasta es krim untuk mereka nikmati di dalam kereta.


"Sayang?" Panggil Kai saat mereka sudah ada di dalam kereta.


"Ya?"


"Apa kau sekarang senang sudah memakan es krim di dalam kereta ini?" Kai memeluk Alula dari belakang sembari mata mereka menjelajahi keindahan gunung Jungfrau dari kaca kereta.


"Iya, aku sangat senang."


"Aku sekarang sedang membayar janji seseorang kepadamu. Sepertinya kau tahu siapa yang aku maksud?" Kai menciumi rambut Alula dari belakang.


"Emm.. Cleon?" Tanya Alula hati-hati.


"Iya. Aku menggantikan Cleon untuk membawamu naik kereta mengitari gunung Jungfrau," jawab Kai dengan lembut. Alula pun segera membalikan badannya menghadap suaminya.


"Sayang, terima kasih. Aku sangat senang. Setelah aku menikah denganmu, aku sudah tidak pernah berharap datang bersama Cleon ke negara ini," Alula mengelus pipi Kai dengan lembut.


"Aku percaya padamu!" Kai menarik Alula ke dalam dekapannya dan tidak memerdulikan orang-orang yang juga ada di dalam kereta.


****


Setelah naik kereta mengitari gunung Jungfrau, Alula dan Kai pulang ke hotel, mereka pun mengajak Leo untuk segera berangkat ke kota Zurich. Mereka ingin mendatangi tempat mereka berbulan madu dulu. Kai dan Alula check in di hotel yang sama seperti mereka dulu berbulan madu.


"Sayang, ayo kita pergi ke jembatan cinta!" Ajak Alula kepada Kai. Kai pun langsung melajukan mobilnya ke arah gembok cinta tempat mereka dulu singgah. Sementara Leo berdiam diri di hotel.


"Sayang, kau menemukan gembok kita tidak?" Tanya Alula saat mereka sampai di atas jembatan.


"Belum, sayang," Kai masih mencari tumpukan gembok miliknya dan Alula.


"Nah, ini aku dapat!" Alula mendapatkan gembok miliknya.


"Ini gembok ku kan?" Kai menunjuk gembok miliknya yang ada di sebelah gembok Alula. Gembok dengan tulisan K Love A.


"A di sini Arabella kan?" Tanya Alula dengan senyum kecil.


"Siapa bilang? Tentu saja A di sini adalah Alula," jawab Kai dengan jujur.


"Kau tidak perlu membohongiku!"


Alula pun langsung menatap mata cokelat suaminya.


"Benar? Kau tidak berbohong?" Alula menatap sendu mata Kai.


"Tentu saja. Untuk apa aku berbohong kepadamu? A yang aku maksud adalah dirimu," Kai tersenyum. Kemudian ia segera menarik leher Alula dan mencium bibirnya lembut.


Alula pun membalas ciuman Kai yang ia rasa sangat memabukan untuknya. Alula selalu suka bagaimana cara Kai mencium dirinya.


"Bernafas!" Seru Kai saat ia melepaskan tautan bibirnya.


"Kau ini menyebalkan!" Alula memukul pelan dada Kai.


"Kalau begitu, ayo kita pergi ke atap restoran itu lagi?" Kai menadahkan tangannya kepada Alula.


Setelah beberapa menit, mereka sampai di restoran itu. Alula memperhatikan rasi bintang yang terhampar di atas langit.


"Kai, aku tidak pernah berfikir kita akan kembali datang ke sini," ucap Alula dengan senyum yang terlukis di wajahnya.


"Aku juga. Sayang, aku suapi ya?" Kai menyuapi Alula dengan makanan yang mereka pesan.


"Ayo kita berdansa!" Ajak Alula saat Kai sudah selesai menyuapi dirinya.


"Ayo!" Kai berdiri dan langsung merangkul pinggang istrinya lembut.


Sesekali tangan Kai merapikan rambut Alula yang tergerai ke depan wajahnya.


"Sayang?" Panggil Kai dengan suara yang mendayu dayu.


"Iya?" Jawab Alula sembari melingkarkan tangannya di leher Kai.


"Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu," ungkap Kai dengan suara yang begitu lembut.


"Aku tahu," Alula tersenyum.


"Mari kita menua bersama! Mari kita bertemu dan saling mencintai kembali di kehidupan yang lain!" Pinta Kai kembali.


"Kau mencintaiku?" Tanya Kai kepada Alula yang tak juga membalas ucapan cintanya.

__ADS_1


"Tentu saja. Sedetik pun aku tidak pernah tidak mencintaimu. Terima kasih karena sudah menikahiku dan memberikan kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya," Alula merebahkan kepalanya di dada Kai. Tubuh mereka masih bergerak sesuai dengan alunan musik alami yang mengalun, ia angin di malam hari.


Setelah makan malam, Kai dan Alula segera kembali ke hotel. Ya, hotel tempat menginap dulu saat mereka berbulan madu. Alula dan Kai sudah berganti baju dengan piyama.


Saat Alula sedang menikmati indahnya pemandangan kota dari kaca kamarnya, sepasang tangan melingkar di pinggangnya.


"Sayang?" Panggil Alula lembut saat melihat tangan suaminya.


"Aku cinta padamu," bisik Kai sembari memeluk Alula dari belakang. Ia menciumi rambut istrinya. Wangi rambut yang tak pernah berubah sejak dari dulu.


"Aku sangat suka ketika mendengar kau mengatakan kau mencintaiku. Itu sangat seksi!" Alula membalikan badannya dan berjinjit mencium bibir Kai lembut. Kai pun memejamkan matanya dan menekan leher Alula untuk memperdalam ciumannya. Kai memangku tubuh Alula menuju tempat tidur, sementara Alula melingkarkan kakinya di pinggang Kai dengan tidak melepaskan cium*nnya. Untuk sementara hanya suara angin yang dapat mereka dengar dan suara hembusan nafas mereka masing masing yang saling bersahutan untuk mencari oksigen di keheningan malam.


"Aku harap pulang dari sini kau segera hamil lagi!" Kai mengusap perut istrinya di sela sela percintaan mereka.


"Kau ingin memiliki anak perempuan atau laki-laki lagi?" Alula menempelkan tangannya di dada Kai yang penuh dengan keringat.


"Perempuan saja. Aku sudah menyiapkan namanya!"


"Siapa namanya?" Tanya Alula penasaran.


"Kimberly Allen," jawab Kai kembali. Kemudian Kai melanjutkan kembali aktifitas percintaan mereka.


****


1 bulan kemudian...


"Bagaimana hasilnya, sayang?" Tanya Kai kepada Alula yang baru ke luar dari kamar mandi.


"Bagaimana hasilnya, Al?" Tanya Sofia , William yang tengah memangku Jasper pun tak kalah deg degan.


"Aku hamil lagi!" Alula memperlihatkan tespack yang ada di tangannya.


Kai segera memeluk tubuh Alula dan memutar mutarkannya di udara.


"Aku akan punya anak lagi?" Kai berkata dengan girang.


"Tentu saja, sayang!" Alula menciumi wajah suaminya dengan penuh kasih sayang.


"Al, Kai selamat ya? Mommy sangat bahagia," Sofia berkata dengan senyuman yang tak memudar.


"Cucu grandfa bakal punya adik!" Ucap William kepada Jasper.


"Aku berjanji akan membahagiakanmu dan anak anak kita selalu!" Mata Kai berkaca-kaca.


"Kau tidak perlu berjanji, kau sudah membahagiakanku sekarang ini!" Alula menitikan air matanya bahagia.


William dan Sofia pun segera ke luar dari kamar anak dan menantunya dengan membawa Jasper.


Cukup lama Alula dan Kai saling berpandangan. Saling merasakan kehadiran masing-masing. Tak lama terdengar suara ponsel Alula berbunyi.


"Sebentar, sayang!" Alula melepaskan dirinya dari pelukan suaminya dan segera mengangkat telfonnya.


"Siapa sayang?" Tanya Kai saat Alula menyimpan ponselnya kembali di atas nakas.


"Chelsea mengabari jika dia hamil," Alula tersenyum bahagia.


"Benarkah? Aku turut berbahagia," jawab Kai kembali.


Suasana hening kembali, Kai mendekatkan wajahnya ke wajah Alula dan memejamkan matanya. Tiba-tiba terdengar ponsel milik Kai berbunyi sebagai tanda adanya panggilan masuk.


"Iya, Hallo Alden? Apa? Nino akan menikah minggu ini?" Kai berteriak.


"Ada apa, Kai?" Tanya Alula saat Kai menutup telfonnya.


"Nino akan menikah," jawab Kai masih dengan raut wajah yang terkejut.


"Ya, bagus dong. Siapa wanitanya?"


"Ya, aku juga tidak tahu," Kai tampak kebingungan.


"Lupakan dulu masalah Nino! Sekarang buatkan aku kue Muffin!" Pinta Alula dengan nada manja.


"Sayang, ngidammu sudah di mulai?" Kai bertanya dengan was-was.


...TAMAT...


...Scroll ke bawah masih ada satu episode lagi readers ā¤šŸ˜...


Ā 

__ADS_1


__ADS_2