
Malam hari, Cleon baru saja tiba di rumahnya. Ia baru saja pulang dari butik milik Chelsea. Saat ia masuk ke dalam rumahnya, mama dan papanya sedang melihat-lihat contoh undangan.
"Pa, kalian memilih kartu undangan untuk apa?" Cleon merasa heran kedua orang tuanya asik membandingkan kartu undangan yang satu dengan yang lainnya.
"Cleon, kebetulan kau pulang, Nak. Mama ingin memberi tahukan info penting. Kakak mu akan menikah tiga minggu lagi," Alice berkata dengan sangat antusias kepada putra bungsunya.
"Me-menikah? Maksud Mama?" Cleon tampak kebingungan, karena yang ia ketahui, kakaknya sedang tidak menjalin hubungan dengan siapa pun.
"Iya, Henry akan menikah dengan Beverly tiga minggu lagi," Ron menjawab.
"WHAT?? Be-Beverly?" Cleon terkejut untuk yang kedua kalinya.
"Iya, sayang. Beverly tetangga kita akan menjadi menantu mama. Mama sangat senang, akhirnya bisa berbesan dengan Kate," Alice berkata dengan senyum yang semakin menghiasi bibirnya.
"Mama tidak sedang bercanda kan?" Cleon kembali bertanya mengenai berita yang ia pikir sangat mustahil itu.
"Tanya saja kepada kakakmu!" Ujar Ron yang masih asyik memilah undangan yang pas untuk anaknya.
Cleon segera berlalu dan masuk ke dalam kamar Henry. Saat Cleon masuk, Henry tengah melamun di atas kasur.
"Kak?" Cleon mendudukan dirinya di kasur Henry.
"Kau sudah pulang?" Tanya Henry dengan lembut. Ia memang sangat menyayangi Cleon sebagai adiknya.
"Iya. Apa benar kakak akan menikah dengan teman SMAku?"
"Iya. Kakak akan menikah dengan Beverly."
"Kak, kau masih sadar kan?" Cleon menepuk pipi kakaknya pelan.
"Tentu saja."
"Mengapa kau bisa menikah dengan Beverly?"
Henry menghembuskan nafasnya kasar, kemudian ia segera bercerita.
"Saat di Kanada, kakak bertemu dengan Beverly. Dia sedang berlibur di sana. Kakak mengajaknya ke kota Toronto karena kakak tidak mau melakukan perjalanan sendirian. Kami check in ke hotel dan kebetulan hampir semua kamar sudah penuh dan hanya menyisakan satu kamar lagi," Henry menjeda ceritanya.
"Jangan bilang kalian menginap di satu kamar yang sama!" Cleon menyipitkan kedua matanya.
"Kau benar! Kakak dan Beverly menginap di satu kamar yang sama. Orang tua Beverly dan papa mama kita tahu. Padahal kakak dan dia tidak melakukan apa pun."
"Aku percaya padamu, kak."
Henry langsung menatap Cleon tidak percaya, karena semua orang menyangka jika ia sudah tidur dengan Beverly.
"Bagaimana bisa kau langsung percaya kepada kakak?"
"Ya, karena temanku pun pernah mengalami hal seperti kakak. Hanya keadaan yang menjebak mereka di waktu yang salah," Cleon teringat mengenai asal muasal pernikahan Alula dan Kai.
__ADS_1
"Ah, kau memang adik kesayangan kakak. Andai saja mama dan papa seperti dirimu!"
"Kak, jika kau tidak mau menikahi Beverly, mengapa kau setuju untuk menikahinya? Kasihan dia, harus terperangkap pernikahan dengan pria yang tidak mencintainya."
"Sepertinya kau peduli dengan Beverly?" Henry menatap Cleon penuh curiga.
"Aku bukan peduli dengannya, kak. Aku hanya kasihan dengan wanita-wanita yang menikah dengan orang yang tidak mencintai mereka. Jangan sakiti dia, kak! Bagaimana pun Beverly adalah teman SMA ku," Cleon mengingat bagaimana masa awal pernikahan Kai dan Alula. Ia melihat bagaimana tangan Alula lecet karena disuruh oleh Kai untuk mencuci baju-bajunya. Cleon takut Henry akan memperlakukan Beverly seperti itu.
Henry tersenyum mendengar penuturan adiknya.
"Kelemahanmu hanya satu, mengapa kau sangat baik terhadap siapapun?" Henry menepuk pelan bahu adiknya.
"Aku hanya membayangkan saja hidup dengan orang yang tidak kita cintai."
"Kau jangan khawatir! Kakak sudah memikirkannya dengan matang. Kakak akan belajar untuk mencintai Beverly dan tentu saja kakak akan memperlakukannya dengan baik sesudah menikah nanti," Henry menenangkan kekhawatiran adiknya.
"Baiklah. Aku pegang janjimu, kak!"
****
Hari ini, Beverly dan Henry melakukan sesi foto prewedding. Foto prewedding Beverly dan Henry mengusung tema indoor dengan mengset lokasi di dapur.
"Yu, 1, 2, 3 cekrek!" Fotografer mengambil foto Beverly dan Henry yang tengah berpose di dapur.
"Nona, anda pegang pipi calon suami anda! Berpura-puralah kau sedang mengoleskan terigu di pipinya!" Asisten fotografer memberikan aba-aba.
Beverly pun tersenyum memamerkan giginya dan berpura-pura mengoleskan terigu di pipi Henry.
"Benarkah?" Beverly segera membersihkan gigi depannya dengan menggunakan lidahnya.
"Kau ini sangat menggelikan!"
"Walau pun menggelikan aku adalah calon istrimu. Terimalah kenyataan itu!"
"Nona, tuan! Tolong jangan berbicara dulu!" Fotografer menengahi.
"Yo, 1, 2, 3," Fotografer mengambil kembali foto Henry dan Beverly.
"Ayo kalian bergaya senatural mungkin! Ekspresi bebas!"
"Rasakan ini!" Henry mengambil mentega dan mencolekannya di pipi Beverly.
Beverly tak tinggal diam, dia mengambil terigu dan menaburkan nya di rambut Henry.
"Rasakan itu!" Beverly tertawa melihat rambut Henry yang memutih.
"Bagus!" Fotografer girang melihat pose Henry dan Beverly.
"Mereka sangat romantis!" Puji sang asisten. Mereka tidak tahu jika Beverly dan Henry tengah saling menjahili satu sama lain.
__ADS_1
"Nona, coba anda ambil barang yang ada di dapur!" Suruh asisten fotografer.
Beverly langsung mengambil mixer.
"Aku sungguh ingin mengaduk kepalamu dengan mixer ini!" Beverly berbisik sambil menyentuhkan mixer itu di kepala Henry.
"Makanlah ini!" Henry mengambil jeruk lemon dan menjejalkannya di bibir Beverly.
"Wow, perfect!" Fotografer terus memotret Beverly dan juga Henry.
"Yo, kita ambil pose lain!" Seru asisten fotografer.
Dua orang MUA yang menangani mereka langsung berjalan ke arah Henry dan Beverly. Mereka membersihkan rambut Henry dari terigu dan membersihkan pipi Beverly dari mentega.
"Nona, sekarang anda berpura-puralah sedang memasak! Tuan, tolong peluk calon istri anda dari belakang!" Fotograger memberi aba-aba kembali.
Beverly segera memegang spatula dan berpura-pura tengah memasak, Henry memeluknya dari belakang.
"Rambutmu mengapa baunya seperti bau bulu kucingku? Kau memakai sampo untuk kucing?" Henry berbisik di telinga Beverly.
Beverly segera menyikut perut calon suaminya itu.
"Aww, kau benar-benar menyebalkan!" Henry mencubit pipi Beverly dengan tangannya.
"Woww, fantastis! Aku belum pernah memotret calon pengantin senatural ini!" Sang fotografer kegirangan melihat hasil foto prewedding Henry dan Beverly yang ia rasa begitu epik.
"Ayo kita lakukan foto prewedding di sesi kedua!" Seru fotografer sambil berjalan ke luar dari dapur. Asistennya langsung membereskan semua peratan untuk dipindahkan ke taman yang ada di depan.
Henry dan Beverly sudah berganti baju untuk sesi foto prewedding mereka. Kali ini temanya adalah outdorr dengan setting tempat di halaman rumah/taman rumah.
"Berpura-puralah kalian sedang menyiram tanaman. 1, 2, 3!"
"Peluk calon istri anda dari belakang, tuan!" Seru sang asisten fotografer.
Henry segera memeluk Beverly yang tengah memegang selang dan menyiram bunga. Mereka tersenyum simpul ke arah kamera.
Beverly mengarahkan selang yang ia bawa ke arah Henry.
"Rasakan ini!" Beverly terus menyiram tubuh Henry dengan air yang mengucur dari selang.
Henry mengambil selang yang menganggur dan balas mengguyur Beverly dengan air dari keran yang ia bawa.
Beverly menaruh selang yang ia genggam. Beverly langsung meloncat ke arah tubuh Henry hingga pria itu terjungkal.
"Rasakan ini!" Beverly duduk di perut Henry. Ia segera mengambil tanah basah dan mengoleskannya pada pipi calon suaminya itu sembari tertawa.
"Gadis menyebalkan!" Henry mencubit pipi calon istrinya pelan sambil ikut tertawa.
"Amazing!!" Fotografer langsung memotret pose mereka terus menerus. Sang asisten dan MUA yang ada di sana pun bertepuk tangan melihat sepasang calon pengantin yang ada di depannya.
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke novel author yang satunya lagi ya? Silahkan langsung klik profil author.š¤š¤
Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih š¤